
Walau tampangnya masih kaku, rata tak ubahnya tembok, Devano membingkai wajah Zee penuh sayang. Tatapan yang biasanya tajam kini juga menjadi sendu diliputi banyak kesedihan. Kedua mata itu fokus pada kedua mata Zee. Di hadapannya dan tengah duduk selonjor di tengah-tengah ruang ranjang pasien, Zee sudah memakai seragam pasien warna hijau tua yang menyerupai daster.
Di tengah keheningan yang menyelimuti lantaran kedua sejoli itu kompak bungkam, keduanya jelas tengah saling menguatkan. Zee yang meyakinkan pada Devano bahwa dirinya akan tetap baik-baik saja, juga Devano yang yakin wanita yang dicintai akan segera sehat.
Zee akan menjalani pemeriksaan lebih intensif setelah cek darah yang dijalani menunjukkan tanda-tanda ada kelainan. Semacam jaringan sel kanker yang mulai aktif, dokter menemukannya ada dalam tubuh Zee. Alasan yang juga membuat Zee kerap jatuh karena keseimbangan wanita itu memang terganggu.
Devano merasa sangat terpukul, tentu saja. Pria itu bahkan diam-diam marah kepada Tuhannya yang telah memberinya cobaan tiada henti. Untungnya, setelah Zee menjalani CT Scan, dari pemeriksaan mirip mesin penggal tersebut menunjukkan, kanker darah yang Zee idap baru stadium dua dan kemungkinan bisa sembuh masih sangat besar.
“Kita ke Singapura dan jalani pengobatan intensif!” lirih Devano yang lagi-lagi membingkai erat wajah Zee.
Zee yang kembali duduk selonjor di tengah ranjang pasien, menatap ragu wajah Devano yang ada persis di hadapan wajahnya. Saking dekatnya jarak wajah mereka, mereka bisa merasakan embusan napas dari hidung satu sama lain.
“Kalau papah tahu ...,” lirih Zee, dan memang hanya itu yang ia khawatirkan.
Devano menggeleng tegas. “Aku pastikan papah kamu enggak akan pernah tahu walau orang tua bahkan keluargaku tahu!” yakin Devano masih menatap kedua mata Zee penuh keyakinan. Tanpa menunggu tanggapan gamblang dari Zee, ia mendekap erat kepala dan juga tubuh Zee.
Dalam dekapan Devano, air mata Zee berlinang mengiringi hatinya yang juga langsung terenyuh. Kedua tangannya berangsur membalas dekapan erat Devano. “Ini romantis banget,” ucap Zee. “Lebih romantis dari apa pun!” Bagi Zee, rasa tanggung jawab sekaligus kepedulian Devano yang langsung sigap selalu menemaninya di saat ia jatuh, jauh lebih indah dari apa pun termasuk keindahan pelangi.
“Makanya melek! Hidup kok ngarepnya cuma rayuan gombal, apa malah terus cokelat sama kembang! Berasa kamu ini malah makam atau benda keramat yang wajib dikasih sesajen!” cibir Devano yang juga menangis.
Biasanya Zee akan merasa sebal bahkan marah kepada Devano bila pria itu sedang ceramah layaknya sekarang. Namun karena kali ini suara Devano sampai terdengar sengau bahkan pria itu terdengar sampai sesenggukan, yang ada tangis Zee malah pecah.
“Pantas selama ini kamu hobi meluk lantai, apalagi lantai lobi kantor, ya?” ucap Devano di tengah isaknya.
Sembari mengeratkan dekapannya, Zee mengangguk-angguk. “Iya. Terus ....”
“Apa?” balas Devano merasa sangat sesak. Rasa sesak yang begitu menyiksa dan ia baru kali ini merasakannya.
“Nanti kalau aku botak, atau malah gundul, bagaimana?” sedih Zee yang mulai sesenggukan.
__ADS_1
Air mata Devano makin mengalir deras mendengarnya. “Ya enggak apa-apa ... biar irit shampo!”
Terisak sedih, Zee membentu*r-bent*urkan keningnya ke dada Devano.
“Satu bulan kita di Singapura,” ucap Devano.
Zee langsung menengadah. “Lama banget! Papahku bagaimana? Papah pasti curiga.”
Devano menggeleng tegas beberapa kali. “Enggak, nanti aku yang urus. Sementara selama kita pergi, pak Lukman juga bakalan selalu jaga sekaligus temenin papah!” yakinnya.
“Sekarang cukup fokus ke kesehatan kamu saja. Selagi belum terlambat, daripada kamu terlalu banyak rencana apalagi hanya sibuk khawatir!” tambah Devano.
Zee yang menyimak di tengah air matanya yang terus berlinang, berangsur mengangguk-angguk. “Iya. Aku nurut!”
“Ya sudah, ayo kita cari makan. Pakai pakaianmu, aku urus administrasi dulu. Kita cari makan di restoran terdekat!” sergah Devano yang akan langsung pergi, tapi Zee buru-buru menahannya.
“Bantu aku turun!” rengek Zee.
“Aku kan sakit,” balas Zee masih merengek.
“Kalau aku sampai memanjakan kamu, yang ada kita melow terus!” balas Devano masih mengomel.
Zee mengangguk-angguk menurut sembari berusaha turun sambil berpegangan pada Devano. Devano yang kesabarannya lebih tipis dari helai tisu kering paling lembut, sengaja membopong Zee, membawa wanita itu masuk ke kamar mandi dengan cekatan. Kemudian, tas besar warna ungu yang ada di nakas sebelah ranjang rawat juga Devano angkut kemudian berikan kepada Zee lantaran di sana ada pakaian ganti Zee.
“Apa lagi? Aku perlu membantumu memakai pakaian juga?” tanya Devano memastikan.
Zee buru-buru menggeleng. “Enggak ... enggak perlu, ... beneran enggak perlu!” yakinnya.
Masalahnya, Devano justru merasa jauh lebih tertantang bahkan tertarik pada apa yang Zee larang, apalagi itu yang menyangkut membantu Zee.
__ADS_1
“Iiih ... wajahmu!” kesal Zee sembari mundur karena jujur saja, ia takut pada perubahan ekspresi Devano yang mendadak mesu*m.
“Semakin kamu menolak, semakin harus juga aku melakukannya!” balas Devano makin bersemangat dan sukses membuat Zee menjerit.
“Jangan macam-macam karena aku tidak mau menyakitimu!” kesal Zee sudah terpojok dan pasrah dipeluk Devano.
“Zee, ... makasih banyak sudah jadi wanita kuat. Makasih banyak juga sudah kasih aku kesempatan!” ucap Devano yang juga menjadi alasan Zee diam.
“Ke depannya, kamu hanya cukup sehat! Karena bersama kamu, aku yakin bisa lalui semuanya!” lanjut Devano.
“Iya, ... aku pasti sembuh. Aku akan selalu ada sekaligus membantu Pak Vano,” balas Zee jadi merasa sedih lagi.
“Ya iya ... gunanya pasangan kan begitu, harus berguna!” balas Devano enteng kemudian menempelkan bibirnya di kening Zee.
Zee yang awalnya dongkol dengan balasan Devano, malah menjadi mirip patung. Panas dingin mirip gejala ketika tifusnya kambuh. “Itu kenapa bibir nempel di situ?” keluhnya.
“Ada magnet kayaknya di sini. Kutub utara dan kutub selatan lagi ketemu!” balas Devano yang walau sempat menarik bibirnya untuk membalas Zee, bibir itu tetap kembali menempel di.kening Zee.
“Magnet ...? Kutub utara dan kutub selatan?” batin Zee yang kemudian tersenyum geli.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Zee yang sudah memakai dress lengan panjang warna ungu, digandeng Devano menelusuri lorong rumah sakit. Devano yang
sampai menenteng tas ungu milik Zee langsung mengurus adminitrasi. Mereka hanya berdua, tanpa kawalan termasuk itu kawalan pak Lukman.
“Potong gaji, ya?” tanya Zee memastikan setelah mereka meninggalkan tempat pembayaran.
“Hah ...?” Devano kebingungan karena tadi, dirinya kurang fokus. Namun setelah mencerna, ia menjadi berterima kasih dan berdalih akan memotong gaji Zee sebagai pengganti biaya pengobatan yang sudah ia bayar.
“Tahu gitu, tadi aku enggak tanya!” sesal Zee.
__ADS_1
“Makanya jangan banyak tanya!” balas Devano galak.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, kedatangan Zee dan Devano yang masih bergandengan, membuat seorang Rendan yang kebetulan ada di sana, ketar-ketir. Rendan yang baru berdiri menghadap kedatangan Zee dan Devano, buru-buru balik badan membelakangi kedua sejoli itu.