Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!

Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!
57 : Terlalu Syok


__ADS_3

Devano tidak akan pernah lupa, Zee memiliki trauma melakukan aktivitas privasi seperti ganti pakaian di tempat umum. Dari sekedar mencoba pakaian yang dibeli di tempat ganti, termasuk itu memakai toilet umum untuk buang air kecil atau malah lebih. Zee selalu memilih menahannya, dan baru akan melakukannya jika sudah sampai kantor atau malah kontrakan.


Devano sempat menganggap keadaan tersebut sebagai hal kolot, terlebih Zee sudah mengenyam banyak pengalaman kehidupan maju. Namun pada kenyataannya, sepertinya tanpa sadar, Zee memang sudah merasakan bahwa seseorang pernah menaruh kamera pengawas di area yang sangat privasi tersebut, dan Zee menjadi salah satu korbannya. Persis seperti alasan Zee takut memakai fasilitas umum yaitu karena Zee takut, ada kamera pengawas yang diam-diam digunakan 0knum l4kn4t.


Kini, di hadapan Devano, tubuh sang istri gemetaran sementara air mata Zee tak hentinya berlinang. Zee terus menatap marah Rendan setelah ia tahu, apa yang telah mantan calon suaminya itu lakukan. Devano mengabarinya, dan Devano juga sampai membebaskannya dalam menghukum Rendan.


“Katakan kepadaku, ... hukuman apa yang pantas untuk s4mp4h sepertimu?!” lirih Zee dengan suara bergetar. Suara khas orang yang sangat emosional.


Rendan yang masih tertunduk di lantai tanpa perubahan berarti, tetap bungkam dan malah menunduk dalam.


“Aku mau air es! Tolong siapkan sebanyak-banyaknya, pastikan cukup untuk meneng9elamkan s4mpah ini!” Zee kian terisak pedih. Tubuhnya sudah terguncang pelan akibat tangis yang ditahan. Di hadapannya, Rendan menatapnya tak percaya.


“Kamu enggak mungkin melakukan itu!” yakin Rendan.


“Semua benar-benar akan menjadi mungkin jika aku sudah menghendakinya!” tegasnya benar-benar lirih saking emosinya.


Kedua mata Rendan kian bergetar menatap nanar Zee. Tak ada sedikit pun ampun dari cara Zee menyikapinya. Zee seolah akan melakukan apa yang baru saja wanita itu tegaskan. Dan semua itu benar-benar takut. Karena saat sendiri saja, Zee sangat bar-bar. Apalagi sekarang yang sampai diberi kuasa penuh oleh Devano dan juga Rayyan?


Si4lnya, Rendan baru tahu bahwa Rayyan memiliki hubungan khusus dengan Zee. Hingga benar saja, sekitar tiga puluh menit kemudian, dua ajudan Rayyan sudah langsung menyiapkan segala sesuatunya. Ada tabung penampung air setinggi nyaris dua meter. Juga, beberapa kantong besar es batu dalam aneka ukuran. Dari yang biasanya untuk campuran minuman, untuk membuat ikan tetap segar, dan juga yang balok besar. Semua itu dimasukkan ke penampung air warna biru tua di hadapan Rendan.


“Zee ... Zee, jangan, Zee!” ucap Rendan sudah tak karuan. “Aku mohon, Zee. Tolong!”


“Aku minta maaf, Zee!” Rendan terus berusaha meyakinkan Zee, tapi pada akhirnya, kedua ajudan Rayyan tetap mengangkat tubuhnya.

__ADS_1


Disaksikan oleh Zee yang masih berlinang air mata menatap Rayyan penuh benci, juga Rayyan dan Devano yang terus berdiri di sisi Zee, tubuh Rendan dimasukkan ke dalam wadah penampung air yang sudah diisi air sekaligus es batu dalam jumlah banyak.


“Zee!” teriak Rendan yang sudah langsung pucat. Teriakan yang juga perlahan menjadi tangis.


Meronta-ronta Rendan meminta tolong. Memohon agar hukumannya segera disudahi.


“Aku mohon ... t-tolong!”


“Kamu harus minta maaf ke papahku!” tuntut Zee dan yang ada di dalam penampung air sana, langsung mengangguk-angguk.


“I-yaaa ... aku akan melakukan apa pun. Aku janji!” yakin Rendan masih menangis.


Zee yang tetap geregetan, sengaja mendekat dengan langkah cepat kemudian menenggel4mkan kepala Rendan. Pria itu langsung kesulitan dalam bernapas.


“Kamu tahu bagaimana rasanya ketika jantung mendadak berhenti bekerja pada mereka yang memiliki kelainan jantung? Kamu tahu seperti apa yang papahku rasakan ketika kamu dengan sengaja memfitnahku dengan keji?!” lanjut Zee.


Rendan makin sibuk menggeleng. Bibirnya tak hentinya gemetaran hebat. “M-maaf!”


Zee yang masih menatap saksama kedua mata Rendan dari jarak yang begitu dekat, berangsur menggeleng. “Aku akan membuatmu tahu, ... aku benar-benar akan membuatmu merasakannya!” tegasnya yang kembali menggunakan kedua tangannya untuk menenggel4mkan kepala Rendan.


Sekitar setengah jam kemudian, tubuh Rendan sudah dibungkus banyak handuk. Sementara Devano, Rayyan, dan juga Zee yang masih terjaga di sana, tak lagi berdiri. Ketiganya duduk di kursi lipat berbeda. Kedua ajudan Rayyan masih ada di sana, terjaga di belakang punggung Rayyan. Sementara baru saja, kedatangan pak Samsudin bersama pak Lukman, menjadi alasan air mata Zee kembali berlinang.


Pak Samsudin kebingungan karena adanya Rendan di sana, pria yang nyaris menjadi menantunya itu sibuk menggigil kedinginan. Sedangkan di sebelahnya ada tempat penampungan air. Dan kenyataan lantai sekitar sana yang basah parah, pak Samsudin hubungkan dengan keadaan Rendan sekarang. Rendan baru saja direndam di penampung air tersebut. Namun, atas dasar apa? Dan kenapa juga, Zee yang sudah sampai memakai topi hangat khusus untuk melindungi kepala dan juga telinganya agar tidak kedinginan, sampai menangis.

__ADS_1


Zee terus memeluk erat pak Samsudin sambil meminta maaf. “Hei, Rendan! Cepat minta maaf kepada papahku!”


Devano yang hendak berdiri dari duduknya untuk menenangkan istri dan juga mertuanya, mendadak ditahan oleh Rayyan. Pria itu memamerkan ponsel Rendan yang masih digenggam menggunakan tangan kanan. Awalnya Devano tidak paham, tapi ternyata, Rayyan mengunggah koleksi video Cheryl yang sedang ‘melakukannya’ dengan Rendan.


Rayyan mengunggah tiga video sekaligus. Devano mengangguk-angguk, mengizinkan bahkan mendukung Rayyan melakukannya. Devano berangsur melanjutkan langkahnya, mendekat, menjadi bagian dari kebersamaan Zee dan pak Samsudin.


Pak Lukman yang ada di sana, sudah langsung menduga-duga, walau pria itu juga bungkam layaknya Devano dan Rayyan. Ia turut mendekat dan berdiri di sebelah Devano.


Kini, semua perhatian langsung tertuju kepada Rendan. Rendan yang kedinginan dan masih menggigil hebat jelas tengah susah payah bersuara.


“M-maaaf!” ucap Rendan benar-benar tidak jelas. Ia.mengerahkan tenaga yang masih tersisa untuk menatap sekaligus meminta maaf kepada pak Samsudin seperti yang Zee minta, sambil berderai air mata. Tampangnya benar-benar menyedihkan melebihi tampang peng3m1s yang berminggu-minggu tidak makan apalagi mandi.


Sementara itu di tempat berbeda, di gedung pencakar langit yang kini dipimpin Rayyan, Cheryl yang awalnya melangkah ceria sambil memegangi kaitan tas di bahu kanannya, refleks kebingungan karena sang satpam yang berdiri di depan pintu masuk yang ada di lobi, menahannya. Tak hanya satu, melainkan kedua satpam di sana. Keduanya memeriksa Cheryl secara paksa.


Disaksikan oleh karyawan lain, Cheryl menjalani pemeriksaan ketat. Tak hanya saku pakaian Cheryl yang diperiksa. Karena tas di bahu kanannya, isinya sampai dituang. Cheryl terdiam lemas ketika tiga gepok uang dolar yang ia ambil dari laci meja kerja milik Rayyan, menjadi benda paling mencolong dari isi tasnya yang lain.


“Ini tadi Ibu Cheryl nyuri di ruang kerja pak Rayyan, kan? Ibu pikir, kami tidak tahu?” ucap satpam di sebelah kiri Cheryl benar-benar galak.


“Kami sudah mengabarkannya kepada pak Rayyan, dan pak Rayyan meminta kami untuk meminta bantuan polisi dalam mengusutnya ...,” ucap satpam yang ada di sebelah kanan Cheryl.


Alasan Cheryl hanya diam kebingungan dan tak bisa sekadar berkata-kata karena memang wanita itu terlalu syok.


“Kenapa mereka bisa tahu? Atau jangan-jangan, ... jangan-jangan ternyata di ruang kerja Rayyan ada CCTV tersembunyi?” batin Cheryl langsung terkejut ketika kedua tangannya diraih, kemudian diikat menggunakan tali oleh kedua satpam yang menghadangnya. Ia tak ubahnya maling yang tertangkap basah dan siap diadili. Padahal langsung menjadi fokus perhatian di depan lobi saja, bagi Cheryl sudah mirip diadili. Benar-benar memalukan!

__ADS_1


__ADS_2