Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!

Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos!
53 : Kita Sudah Menikah


__ADS_3

Ibu Fiola menjadi orang yang langsung kegirangan ketika mengetahui Devano memohon izin untuk langsung menikahi Zee. Ibu Fiola yang tidak tahu bahwa Rayyan juga menginginkan Zee, menjadi orang pertama yang memberikan restu, walau orang tua Devano maupun Zee masih diam kebingungan saking terkejutnya.


Dalam diamnya, ibu Arnita dan pak Restu berpikir, apakah alasan Devano minta langsung dinikahkan karena keadaan Zee makin mengkhawatirkan? Namun jika dilihat, Zee terlihat sehat bahkan semringah. Keduanya yakin Zee menjalani pengobatan dengan baik apalagi Devano juga selalu mengawasi.


Mengangguk-angguk, ibu Arnita yang sempat bingung akhirnya memberikan restu. Ia menoleh sekaligus menatap sang suami yang juga langsung memberinya anggukan. Pak Restu segera memohon izin kepada pak Samsudin yang detik itu juga langsung memberikan restu di tengah kedua mata pak Samsudin yang sudah basah. Pak Samsudin terlihat begitu terharu, dan tangisnya pecah ketika Devano merangkulnya. Tak beda dengan Devano, Zee juga memilih untuk merangkul ibu Arnita yang berkaca-kaca menatapnya dengan senyum yang begitu hangat.


“Aku janji aku akan sembuh, Mah! Aku akan segera sehat dalam waktu dekat!” yakin Zee berbisik-bisik kepada ibu Arnita.


Ibu Arnita menengadah hanya untuk menatap Zee yang memang sedikit lebih tinggi darinya. Ia mengangguk-angguk, optimis Zee akan segera sembuh.


Suasana haru mendadak menyelimuti kebersamaan di sana. Sekelas ibu Fiola yang paling tidak bisa diam sampai ikut menangis, walau wanita itu tetap membingkai gemas wajah Devano. Sembari menangis ibu Fiola menguwel-nguwel wajah Devano hingga wajah putih bersih itu menjadi merah. Barulah setelah Devano terpaksa memeluk ibu Fiola, tangis ibu Fiola pecah dalam dekapan seorang Devano. Untuk pertama kalinya akhirnya Devano memeluk sang musuh bebuyutan!


“Aku juga sayang Aunty, tapi aku enggak suka orang rese, berisik, enggak kenal aturan seperti Aunty!” ucap Devano cool.


“Wah, itu kan aku banget!” batin Zee merasa bahwa apa yang Devano sebutkan dan pria itu bilang sebagai tipikal yang tidak disukainya, malah ada semua dalam diri Zee. “Tipikal yang paling enggak disukai, tapi bakalan dinikahi!” batin Zee menertawakan calon suaminya sendiri.


Kini giliran Rayyan yang akhirnya memilih menyerah. Rayyan duduk di kursi kosong yang ada di sana, menyaksikan kebahagiaan dari keluarga besar Devano yang juga merupakan keluarganya. Semuanya masih kompak berpelukan di antara air mata yang berlinang sebagai wujud dari rasa saking menyayangi satu sama lain.


“Menyingkirkan Cheryl merupakan hal yang sangat mudah. Aku akan segera menjebaknya, lalu kembali mengirimnya ke penjara.” Itulah yang Rayyan katakan ketika akhirnya, Zee dan Devano bersiap untuk menjalani ijab kabul.


Acara ijab kabul masih dilangsungkan di acara resepsi pertunangan. Mereka hanya mengundang penghulu dan pihak terkait yang langsung bisa datang setelah membuat mereka menunggu hampir dua jam lamanya.


Devano dan Zee refleks menoleh, membuat mereka bertatapan. Mereka apalagi Devano belum bisa pecaya kepada apa yang baru saja Rayyan ucapkan.


“Aku tahu kalian belum bisa percaya kepadaku, tapi lihat saja besok. Aku benar-benar akan melakukannya!” yakin Rayyan.

__ADS_1


“Semoga saja bukan kamu yang malah terjebak olehnya!” balas Zee.


“Kamu bilang gitu jadi bikin aku takut,” ucap Rayyan sambil menunduk.


“Sebuah keajaiban jika mereka yang dengan sengaja bermain api, tidak sampai terbakar!” tegas Devano yang malah makin membuat Rayyan takut.


Zee menghela napas pelan dan merasa prihatin pada Rayyan. Kedua tangannya tergerak, meraih kedua lengan Rayyan dan bermaksud menenangkannya. Namun Devano yang cemburu, dengan sigap meraih tangan Zee, membuat Zee tak lagi menahan lengan Rayyan melainkan lengan Devano.


“Coba pasang kamera tersembunyi di ruang kerja kalian,” ucap Zee.


Tak lama kemudian, ijab kabul Devano dan Zee akhirnya digelar. Suasana menjadi sangat khidmat di antara rasa tegang yang tampak jelas menyertai wajah-wajah mempelai sekaligus keluarga. Berkaca-kaca mata ibu Arnita mengawasi sang putra yang dengan lantang melafalkan ijab kabul di saksikan tamu undangan. Kata Sah langsung Devano dapatkan melahirkan rasa haru yang dibarengi dengan air mata.


“Jaga Zee. Papah percaya kepadamu. Kalian akan menjadi pasangan yang bahagia!” ucap pak Samsudin ketika Devano sungkem kepada Zee.


Zee yang ada di sebelah Devano, sudah sembam karena terlalu banyak menangis. Kenyataan yang juga membuat Devano khawatir, imun wanita yang baru resmi ia nikahi itu menjadi turun.


“Sebenarnya Papah lebih betah di kontrakan, tapi sekali-kali tidak ada salahnya ikut saran kalian,” ucap pak Samsudin sembari menyeka sekitar matanya yang memang basah.


“Bagaimana kalau aku beli kontrakan yang Papah tempati biar Papah lebih leluasa di sana?” balas Devano yang sukses membuat papah mertuanya tersipu.


Kemudian, giliran Zee yang tak kuasa berkata-kata. Malahan setelah bertatap muka cukup lama, Zee memilih merebahkan kepalanya di pangkuan sang papah.


“Ingat kesehatan kamu,” bisik Devano sengaja merengkuh tubuh sang istri dari pangkuan pak Samsudin.


Terakhir, Zee dan Devano sungkem pada pak Lukman yang sudah Devano anggap sebagai papahnya. Ibu Fiola yang sebelumnya sudah sampai Devano dan Zee salami, sampai iri karena sekeras-kerasnya Devano, Devano masih memiliki hati yang benar-benar lembut sekaligus tulus.

__ADS_1


Sekitar satu jam kemudian, suasana sudah sangat hening lantaran Devano dan Zee hanya melangkah berdua. Kedua sejoli yang sangat jarang akur, tapi sekali akur langsung saling sayang itu masih sulit mempercayai kenyataan.


Devano dan Zee baru masuk lift untuk menuju kamar mereka menginap. Keduanya masih bergandengan. Tak lama setelah pintu lift menutup, Devano menoleh menatap wajah Zee yang kini sangat sendu. Nyaris tak ada rias yang tersisa tapi kenyataan tersebut tak membuat kecantikan Zee luntur karena tanpa rias pun, Zee sudah terlihat cantik apalagi bagi Devano yang telanjur bucin.


Zee yang awalnya masih larut dengan rasa harunya setelah mendadak harus mengambil keputusan besar yang juga telah membuat kehidupannya sangat berubah, refleks terusik karena di sebelahnya, Devano berdeham. Zee merasa, alasan Devano berdeham karena suaminya itu terlalu tegang. Lebih tegang dari ketika pria itu harus melafalkan ijab kabul dan membuat semua mata menjadikannya sebagai pusat perhatian.


Tersenyum lembut, Zee memandangi wajah Devano yang walau hanya dilihat dari samping, sudah terlihat sangat tampan. “Tegang, yah, Pak?”


“Iya. Soalnya lagi dapat tamu bulanan!” balas Devano berusaha sesantai mungkin lantaran ia yakin, sang istri sengaja menggodanya. Lihat saja, Zee yang awalnya sendu dan wajahnya seperti diselimuti mendung, langsung tertawa.


“Yang benar saja, Bapak sedang mens?” ujar Zee masih kesulitan mengendalikan tawanya.


“Sumpah, enggak sangka kalau kita sudah menikah!” ujar Devano yang jadi salah tingkah.


Zee yang memberanikan diri mendekap lengan kanan Devano menggunakan kedua tangan kanannya, berangsur mengangguk-angguk. “Iya, ... aku juga enggak menyangka banget!”


Dalam benak Zee dan Devano mendadak dihiasi pertemuan pertama mereka hingga akhirnya mereka sampai berakhir menikah. Paling tidak terlupakan, tentu ketika Devano bertindak layaknya kompeni hingga Zee selalu bekerja pontang-panting. Jam kerja pertama, penampilan Zee masih tapi. Jam kerja selanjutnya, Zee hanya memakai satu heels. Selanjutnya, Zee sampai tak memakai alas kaki selain penampilan Zee yang sudah sangat amburadul. Yang mana ketika itu sudah terjadi, Devano akan melayangkan kritik pedas, menuding Zee tidak pernah mandi karena warna kulit Zee yang lebih gelap dari rata-rata wanita di kantor, selain Zee yang kerap bau keringat.


Padahal, bekerja kepada manusia setengah kompeni layaknya Devano tak hanya membuat rias termasuk parfum saja yang luntur dari Zee. Sebab jika benar-benar tak kuat mental, kewarasan pun bisa melayang.


“Zee ...?”


“Hmmm ...?”


“Kamu capek? Pusing? Atau malah mual?” Keluar dari lift, Devano tak lantas melangkah. Ia menatap dalam kedua mata Zee yang menjadi berbinar-binar menatapnya.

__ADS_1


“Aku bahagia. Bahagia banget!” Yakin Zee sambil tersenyum ceria dan langsung mendapatkan senyum yang begitu lembut dari seorang Devano. Senyum lembut yang mengalahnya kelembutan es krim yang perlahan meleleh. Terlebih, Devano sampai memeluk lembut sekaligus mesra Zee. Mereka berpelukan di depan lift sangat lama.


__ADS_2