Dibuang Setelah Melahirkan

Dibuang Setelah Melahirkan
Bab 36 - GeAr


__ADS_3

Tamara telah tiba di rumah. Ia langsung memandikan cucunya itu dan menggantikan bajunya dengan yang baru.


David yang sudah pulang kerja pun, menghampiri sang mama.


"Mama habis dari mana? Kenapa membawa pulang Alwin malam sekali. Udara luar tidak bagus untuk bayi, Ma."


"Iya mama tahu, tapi kalau terus berada di dalam rumah, itu juga tidak bagus untuk bayi. Ia harus melihat dunia luar seperti apa. Lagian kalau di rumah pun, memangnya siapa yang menjaganya? Mama juga kan? Istrimu itu kerjanya cuma pergi-pergi aja dari rumah. Lihat! Sekarang saja batang hidungnya tidak kelihatan. Kemana dia?" tanya Tamara.


David hanya bisa menghela napasnya, kalau terus-terusan membalas ucapan sang mama. Pasti akan panjang urusannya. Ia pun langsung kembali ke kamarnya. Memang benar Selena belum pulang ke rumah. Katanya sih, tadi ada pertemuan dengan klien yang membutuhkannya sebagai model.


Hampa, kosong, itulah yang dirasakan oleh David. Ia pikir setelah ada Alwin di sisinya. Keluarga kecilnya akan bahagia dan harmonis. Ketika pulang ada istri yang menyambut dengan sang anak yang tersenyum bahagia. Namun, apa yang terjadi sekarang? Benar-benar di luar ekspektasi nya. Bahkan rumah seperti bukan tempat nyaman untuknya. Mamanya yang selalu ngomel-ngomel karena kelakuan Selena. Selena juga yang terus mengadu karena sering dimarahi mamanya. Untung saja, papanya terlihat sedikit cuek. Jadi ia tidak bertambah pusing. Padahal kalau David cari tahu, mungkin saja papanya tengah menyelidiki sesuatu.


*


*


Tempat pemotretan.


Selena duduk di kursi sambil melepaskan aksesoris yang melekat di tubuhnya. Salah seorang rekan model menyapanya.


"Harusnya kalau sudah punya anak, kamu jangan terus-menerus ambil job malam Sel. Kasian anakmu. Kasihan juga mertuamu yang menjaganya. Apa kamu sama sekali tidak pernah ditegur mertuamu?"


Selena mendengus sebal karena ditegur seperti itu. Memangnya kenapa kalau ambil job malam? Salahnya dimana? Dia hanya ingin mengejar karirnya. Lagian anak itu bukan anaknya. Kenapa harus repot-repot menjaganya.


"Jangan sukanya komentarin hidup orang. Hidupmu saja sudah berantakan. Kamu juga dulunya sering meninggalkan anakmu pada mertuamu kan sampai akhirnya kalian bercerai dan hak asuh anak berada di tangan suamimu. Kamu pikir aku tidak tahu?"


Wanita itu menghela napasnya.


"Aku mengomentari mu karena ingin kamu tidak mengalami pengalaman yang sama seperti aku, Sel. Jauh dari anak itu ternyata sangat menyiksa, aku merasakannya ketika sudah terpisah."


"Ya, ya, ya, ya, tapi maaf, suamiku sangat mencintaiku. Jadi kami pun tidak akan pernah bercerai," ucap Selena membuat rekan modelnya pergi menjauh darinya.


"Ck! Orang kalau bicara suka tidak sadar diri! Ngapain repot-repot mikirin hidup orang. Lebih baik mikirin hidup sendiri."


Selena melirik ke ponselnya yang terus berdering. Rupanya suaminya lah menelpon. Selena langsung mengangkatnya.


"Kapan pulang?" tanya David.


"Sebentar lagi Mas."

__ADS_1


"Mau aku jemput?" tanya David lagi.


"Tidak usah Mas. Aku bawa mobil sendiri. Tunggu kepulanganku saja di rumah."


"Baiklah."


Sambungan telepon pun berhenti. Setelah selesai melepaskan aksesoris. Selena bersiap-siap untuk pulang. Ia berpamitan pada kru dan karyawan yang ada. Lalu memasuki mobilnya dan melajukan nya.


*


*


Sesampainya di rumah, Selena langsung masuk ke dalam kamarnya. Disana ada David yang menunggunya duduk di atas ranjang dengan tubuh laki-laki itu yang sudah tertutup selimut setengahnya.


"Malam Mas, maaf ya aku pulang larut. Tadi benar-benar di luar dugaan Mas. Ternyata sesi pemotretan jam nya ditambah," alibi Selena. Padahal ia sendiri yang mengambil job malam.


David mengangguk.


"Sana bersih-bersih muka dulu terus mandi. Setelah ini kita harus mengobrol sayang."


"Iya Mas."


Satu jam kemudian, Selena sudah selesai mandi dan mengenakan pakaian seksi di hadapan David. Membuat David jadi lupa untuk berbicara empat mata, malah tergoda dengan kemolekan tubuh istrinya. Kedua manusia itu menghabiskan malam panas mereka dan meluapkan pembicaraan yang ingin dibicarakan. Ini semua memang rencana Selena. Ia malas kalau suaminya terus membahas tentang mama mertuanya dan juga pekerjaannya.


*


*


Jam demi jam telah berlalu, Gea sudah menyelesaikan manggang kuenya. Ia pun memotongnya agak kecil disesuaikan dengan harga jual yang sudah ia tentukan. Setelah semuanya usai dipotong, Gea memasukannya ke dalam kemasan plastik.


Setelah selesai, Gea mengganti pakaiannya lagi karena pakaian yang tadi penuh dengan tepung.


Gea keluar dari rumahnya sambil menenteng satu keranjang berisi kue. Ia sengaja menjualnya dengan berjalan kaki sambil mempromosikan kue buatannya.


"Kue nya Bu. Harga promo beli dua dapat gratis satu," ucap Gea.


Tiba-tiba penjual warung yang biasa Gea belanja disitu pun memanggilnya.


"Coba sini Ge. Aku mau coba. Kalau enak, kamu bisa titipin disini. Tapi kalau nggak enak, ya enggak bisa."

__ADS_1


Gea pun mendekat ke sana dan memberikan satu macam kue ke Bu Siti, pemilik warung itu.


"Eum, enak, Ge. Titip disini ya, pasti bisa habis dalam waktu sehari pun kalau rasanya seenak ini."


"Iya Bu. Makasih ya."


"Sama-sama. Kalau mau nitip-nitip juga di warung yang lain, kamu bisa ke warung yang deket jalan raya depan sana. Disana itu menerima titipan kue. Bahkan kalau nanti kue kamu bisa laku keras dalam sebulan disana. Mungkin kamu akan diajak kerja sama untuk jadi supplier tetap dan tentunya jumlah yang harus kamu buat pun akan bertambah. Coba saja Ge."


"Wah, terima kasih informasinya Bu Siti. Aku akan coba kesana deh."


Bu Siti pun mengangguk.


Gea berjalan menuju ke tempat yang dikasih tahu Bu Siti. Tokonya cukup besar. Disana ada berbagai macam kue dari mulai yang kering hingga basah. Bahkan ada juga cemilan renyah, seperti toko pusat pembelanjaan untuk oleh-oleh. Gea masuk ke toko itu lalu mulai mengucapkan niatnya pada si kasir yang menjaga.


"Em, begini, katanya disini bisa nitip kue atau cemilan gitu ya? Apa bisa kalau saya ingin nitip?" tanya Gea.


"Tentu saja bisa Mba. Silahkan isi data-data ini dulu."


Gea mengangguk lalu membaca formulir itu. Gea harus mencantumkan nama brand kue nya disana. Sementara Gea tak pernah memikirkan nama brand kue nya sendiri.


"Apa ya? Aku harus menamainya apa?"


Gea terus berpikir, hingga satu kata pun terbayang di pikirannya.


GeAr.


Nama brand itulah yang Gea pilih. Lalu ia pun mengisi data-data yang lain. Setelah mengisi semuanya. Si kasir menunjukkan tempat kosong untuk Gea menaruh kuenya.


"Terima kasih Mba."


"Iya, tapi Mba sudah membaca persyaratannya di belakang kan? Jadi sistem untung disitu itu 30 : 70. 70 untuk Mba nya dan 30 untuk toko. Terus kalau dalam sebulan permintaan pelanggan tidak ada atau sedikit atau barang milik Mba tidak terjual. Bulan depannya Mba tidak bisa menitipkan barang Mba disini lagi. Tapi kalau dalam sebulan nantinya banyak permintaan pelanggan atau barang mba jadi yang best seller, Mba akan ditawari kerjasama berkelanjutan oleh pimpinan toko."


"Baik, saya sudah membaca semua persyaratan itu tadi. Terima kasih sudah menjelaskannya kembali. Saya permisi."


Si kasir pun mengangguk.


Gea keluar dari toko itu dengan membawa keranjang kosong. Niatnya ingin menjual beli 2 gratis 1 malah tidak jadi, karena belum ada yang membeli. Tapi ia bersyukur karena sudah ada dua tempatnya bisa menitipkan kuenya saat ini. Meski yang satunya masih belum bisa dipastikan.


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2