Dibuang Setelah Melahirkan

Dibuang Setelah Melahirkan
Bab 54 - 50 juta


__ADS_3

Tuan Giandratama sudah sampai di rumahnya. Ia melihat-lihat ke sekeliling rumah, memastikan apakah Selena dan David sudah pergi atau belum. Lalu tiba-tiba Tamara datang dan langsung angkat bicara karena paham dengan apa yang ada di pikiran Giandratama.


"Mereka sudah pergi dari beberapa menit lalu."


"Baguslah," balasnya kemudian memilih untuk duduk di sofa sambil menyandarkan kepalanya ke ujung sofa.


"Pa, apa papa benar-benar memblokir semua kartu dan mencabut fasilitas yang papa berikan ke David seperti dulu lagi?" tanya Tamara ingin memastikan sekali lagi.


Tuan Giandratama mengangguk.


"Bukan hanya restu yang mereka langgar, tapi sekarang mereka membuat anak orang menderita dan memanfaatkan kepolosan anak itu. Papa tidak bisa kalau hanya diam. Papa memang mengajarkan David agar bisa mencapai kesuksesan dengan caranya sendiri. Tapi, tidak dengan cara licik seperti ini. Sepanjang papa berbisnis dan mencari kekayaan, papa selalu pakai cara yang jujur. Selama ini papa selalu terlihat bermusuhan dengan Geovani karena sadar dia jauh lebih di atas papa. Makanya papa ingin mengalahkannya. Tapi, tentu saja tidak dengan cara licik."


Tamara mengangguk-angguk mengerti. Kemudian ia bertanya lagi soal Alwin yang dibawa oleh Gea.


"Kalau semisal Gea malah membawa Alwin pergi dari kota ini bagaimana Pa?"


"Ya, biarkan saja. Itu justru lebih baik. Supaya Alwin jauh dari pandangan David. Kalau bisa papa juga akan mengirimkan beberapa penjaga untuk melindungi Gea dan Alwin jika mereka berdua pergi dari kota ini," jawab Tuan Giandratama dengan lugas.


"Tapi kalau kita kangen gimana Pa? Mama dengar-dengar kampung halaman Gea agak lumayan jauh."


"Tidak masalah, selagi ada uang semuanya akan jadi mudah. Mama tidak usah khawatir. Yang paling utama sekarang adalah keselamatan Alwin dan Gea. Papa yakin David pasti tidak sepenuhnya menerima perintah papa. Bahkan mungkin, yang kali ini ia bisa saja berbuat nekat."


Tamara menghela napasnya kasar. Anak satu-satunya yang ia bangga-banggakan justru jadi bumerang untuknya sendiri. Sebisa mungkin, ia harus menutup rapat-rapat semua informasi ini dari orang luar. Apa kata mereka, kalau David ternyata pernah punya istri dua dan tega meninggalkan istri keduanya setelah istrinya itu melahirkan. Ditambah dengan diambilnya sang bayi menjadikan David sebagai orang yang sangat kejam dan jahat.


"Pa, kalau semisal David nantinya berubah. Apa papa akan mengizinkan dia kembali ke rumah?" tanya Tamara yang sedikit berharap David benar-benar berubah.


"Anak itu sudah melakukan kesalahan dua kali. Sudah tidak ada lagi kesempatan untuknya. Kalau ia benar-benar mau berubah, papa akan berikan dia jabatan, mulai dari nol di perusahaan. Tapi, rasanya itu tidak akan mungkin ma. David sudah cinta buta dengan wanita itu."


"Lalu untuk apa papa membesarkan perusahaan keluarga kalau nantinya bukan untuk diwariskan ke anak kita?"


"Masih ada cucu kita Ma. Papa akan mewariskan semuanya untuknya. Tentunya bukan cuma untuk cucu kita saja, papa juga akan mewariskannya untuk Gea. Biarlah David merasakan kerasnya kehidupan di luar sana."


Lagi-lagi Tamara mengangguk-angguk mengerti. Meski Gea bukan lagi menantunya, ia sudah terlanjur suka dengan sikap Gea. Ia bahkan sudah menganggap Gea seperti anaknya sendiri.


*

__ADS_1


*


Keesokan harinya, sekitar pukul 09.00 pagi, David sudah bangun dari tidurnya, bahkan ia sudah mandi. Ketika melihat ke meja makan, semuanya tampak kosong tak ada makanan disana. Ia menghela napas kemudian pergi ke dalam kamar.


Rupanya Selena masih berbalut selimut sambil memeluk guling di atas ranjang.


David menggoyang-goyangkan tubuh Selena agar wanita itu bangun.


"Ada apa sih Mas?" tanya Selena dengan mata yang setengah terbuka. Ia juga merubah posisinya jadi bersandar ke ujung ranjang.


"Kamu tidak menyiapkan sarapan untukku?"


"Tinggal beli aja Mas. Kan di sekitar apartemen ada yang jualan makanan. Kenapa aku harus repot masak pagi-pagi. Lagipula aku masih mengantuk Mas. Semalam kita beres-beres hingga jam dua dini hari."


"Kalau tinggal beli, seharusnya kamu juga yang beli Sel. Kamu kan seorang istri. Kamu harus melayani suami kamu."


"Mau beli gimana? Memangnya Mas kasih aku uang kemarin? Nggak kan?" timpal Selena yang sekarang sudah membuka matanya dengan sempurna.


"Kan bisa pakai uangmu dulu Sel," balas David lagi.


Ingin rasanya David berkata kasar saat itu juga. Tapi ia tahan.


"Tapi kalau buat makan tidak banyak Sel. Masa nggak bisa? Memangnya kamu tidak lapar?"


"Ya tetap aja nggak mau Mas. Harusnya kamu cari uang dong. Masa minta sama istri. Gara-gara kamu yang ceroboh sih Mas. Makanya rahasia kita terbongkar dan kita harus hidup susah seperti ini lagi."


Daripada terus berdebat tanpa menemukan titik terangnya. David memilih keluar dari kamar dan pergi dari apartemen.


Kelakuan Selena membuatnya jengah dan frustasi. Apalagi ketika ia mengecek saldo yang ada di rekeningnya. Hanya tinggal 50 juta saja.


Uang yang segitu banyaknya bagi David masih terbilang kecil nominalnya. Bagaimana tidak? Dulu sehari saja ia bisa habis puluhan juta. Tapi, karena sekarang situasinya berbeda ia harus berhemat. Apalagi sifat Selena yang terlalu hedonisme, belanja tas dan sepatu tiap harinya membuatnya pusing.


Sampai-sampai ketika sudah ada di depan warung makan pun, David jadi tidak berselera dan malah memilih untuk terus berjalan.


Waktu satu sampai dua Minggu tidak akan cukup untuk membuat pemikiran papanya berubah. Waktu dua tahun saja, papanya masih belum bisa menerima Selena. Sebenarnya David sadar akan hal itu, tapi ia sengaja mengabaikannya.

__ADS_1


Kini ia harus memutar otaknya, menjadikan uang 50 jutanya berlipat ganda. Tapi dengan cara apa? Kalau ia bekerja seperti dulu lagi, dapat 50 juta mungkin harus ditempuh sekitar 1 tahunan. Kalau ia berbisnis, ada kemungkinan ia akan rugi besar dan malah buntung.


David duduk di kursi di dekat taman. Ia menatap ke arah langit sambil terus menarik napasnya berkali-kali.


*


*


Berbeda dengan Selena di apartemen. Wanita itu kini sudah rapih dan siap untuk pergi pemotretan. Barang-barang yang dikenakannya pun memiliki harga yang fantastis.


"Enak saja Mas David mau minta uang aku. Harusnya dia yang ngasih uang. Huh!"


Selena keluar dari apartemen dan turun naik lift. Ia menunggu taksi yang lewat sambil menunggu kabar dari managernya.


Setelah mendapatkan kabar tentang pemotretan dan tempatnya. Selena langsung mengucapkannya ke sang supir taksi agar mengantarkannya ke lokasi.


Sesampainya di lokasi, semua orang menatap ke arah Selena yang datang tidak membawa mobil mewahnya.


"Tumben naik taksi? Mobil kamu kemana?" tanya salah seorang rekan kerjanya.


"Lagi di bengkel, kemarin ada masalah sama mesinnya. Terus suamiku juga tidak bisa mengantar karena sibuk kerja. Jadi, ya mau tidak mau aku harus naik taksi," jawab Selena.


Padahal yang sebenarnya terjadi bukanlah seperti itu. Selena memang ratunya dalam hal bersandiwara.


"Oh, begitu. Ya sudah, cepat ganti pakaian, sebentar lagi pemotretan akan dimulai."


Selena pun mengangguk dan pergi ke ruang ganti. Sebelum masuk ke dalam ruangan, tepatnya di depan pintu, sayup-sayup ia mendengar obrolan model lain tentang CEO dari perusahaan papa mertuanya yang diganti. Hal itu membuat suasana hati Selena buruk dan kesal. Ia bahkan mengepalkan tangannya. Ingin sekali ia membungkam mulut-mulut berbisa itu satu per satu.


"Beraninya mereka membicarakan aku dan suamiku. Awas saja! Aku tidak akan tinggal diam!" geram Selena.


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2