
Satu tahun kemudian, Gea tengah mengandung anak pertamanya dengan Gaza. Usianya sudah menginjak bulan kelahiran. Di masa-masa itu, Gaza selalu menuruti apapun yang Gea mau. Ia sudah menjadi suami siaga. Bahkan kedua orang tua Gea pun sudah dibawa untuk tinggal bersama keluarga Gaza. Katanya supaya banyak orang yang menjaga Gea jika dirinya ada keperluan di kantor.
"Hati-hati Nak. Jangan cepat-cepat jalannya. Ibu ngeri tahu. Apalagi kamu sedang hamil anak kembar," ucap ibu ketika Gea akan menghampiri dirinya yang ada di dekat kolam.
"Ini udah pelan kok Bu," sahut Gea.
"Gimana? Apa kata dokter? Apa jenis kelaminnya udah ketahuan?"
Gea menggeleng.
"Katanya mereka berdua masih malu-malu Bu. Jenis kelaminnya selalu ketutupan pas lagi di cek. Lagipula mau itu laki-laki atau perempuan sama aja Bu."
"Iya emang sih, cuma kan kita bisa siap-siap sebelum lahiran biar beli pakaian bayinya disesuaikan dengan jenis kelamin."
"Ya belinya yang warnanya netral Bu. Yang bisa dipakai untuk laki-laki dan perempuan. Terus baju-baju bekas Alwin juga masih banyak yang bagus-bagus. Ya walaupun itu untuk usia yang 1 tahunan ke atas sih."
"Iya sih. Ya sudah nanti ibu belinya warna-warna biru, kuning, hijau aja kali ya."
"Boleh Bu."
Gea pun masuk lagi ke dalam rumah dan bertemu dengan Mama Hani. Mama Hani meminta Gea untuk duduk di sampingnya. Ia mengelus perut Gea yang sudah buncit sekali.
"Oma sudah tidak sabar untuk bertemu kalian. Jadi anak baik ya sayang-sayangnya Oma."
"Siap Oma," jawab Gea sambil tersenyum.
"Oh, iya, Alwin tadi ikut sama Opanya pergi memancing. Nggak papa kan? Mama lupa izin sama kamu."
"Iya nggak papa Ma. Selagi Alwin nya senang."
"Syukurlah."
Tak lama kemudian, ada sebuah telepon dari dari satpam rumah. Gea pun langsung mengangkatnya.
"Halo Non. Ini ada laki-laki yang ingin bertemu. Katanya sih mantan suaminya Non. Boleh masuk tidak?"
__ADS_1
Gea langsung mengarahkan lirikannya ke mama mertuanya lalu berbisik sesuai dengan apa yang dikatakan oleh si satpam. Mama Hani pun mengizinkan David untuk masuk. Karena bagaimana pun, David adalah ayah dari Alwin juga anak dari temannya.
Tak lama kemudian, David mengetuk pintu dan Mama Hani pun mempersilahkan untuk masuk. Ketika membuka pintunya, ia tak bisa melihat dengan jelas kalau Gea sedang hamil karena jarak antara pintu dan ruang tamunya yang agak jauh. Tapi ketika sudah dekat, David tampak terkejut dan jadi terdiam.
"Duduk dulu Vid," ucap Mama Hani mempersilahkan untuk duduk.
"Terima kasih Tante."
David pun langsung duduk. Niatnya ingin memulai kisah kembali bersama Gea. Ia ingin menunjukkan bukti bahwa ia bisa berhasil tanpa bantuan papanya. Dalam setahun ini, David sudah memiliki satu restoran yang dikelolanya sendiri. Meski agak jauh berbeda dengan bidang yang ia kuasai sebelumnya. Tapi tetap saja itu adalah sebuah pencapaian untuknya.
Sayangnya, sepertinya niat itu tak bisa ia ucapkan karena kini Gea sedang mengandung. David bisa memastikan kalau itu adalah anak Gaza karena Gea masih tinggal di rumah ini. Awalnya ia berpikir kalau Gea dan Gaza tak mungkin bisa menikah karena ia berpikir Gea masih mencintainya dan keluarga Gaza sudah menganggap Gea sebagai anaknya sendiri. Yang artinya menganggap Gea sebagai saudara. Nyatanya, semua yang ia pikirkan berbeda dengan kenyataan yang ada.
"Ada apa Vid? Kenapa kamu datang kesini? Apa kamu sudah mengunjungi mama dan papa kamu?" tanya Mama Hani.
David menggeleng.
"Aku sengaja datang kesini dulu Tante. Awalnya aku berniat untuk meminta Gea kembali padaku. Rupanya aku sudah terlambat," ucapnya dengan tersenyum kecut.
"Iya kamu memang terlambat, Gea sudah jadi istri Gaza. Tapi Tante tidak akan melarang kamu jika kamu mau bertemu Alwin. Walau bagaimanapun juga, Alwin harus tahu siapa ayah kandungnya. Kamu boleh gagal jadi suami yang baik untuk Gea. Tapi kamu jangan gagal jadi ayah yang baik untuk Alwin. Semua yang sudah berlalu, biarlah jadi pelajaran untuk kamu ke depannya."
"Ge, semoga kamu bahagia dengan Gaza. Maafkan aku yang pernah menyakiti kamu. Kini aku benar-benar menyesal dan mengaku bersalah."
"Aku sudah memaafkan mu."
"Terima kasih Ge. Kalau begitu aku pamit Tante. Urusanku sudah selesai."
Mama Hani mengangguk.
"Kunjungi mama dan papamu, mereka merindukan kamu. Walaupun kamu sudah berbuat salah, mereka tetap menyayangi kamu dan menunggu kamu untuk kembali."
"Iya Tante."
David pun keluar dari rumah Gaza dengan perasaan sedihnya. Penyesalan memang selalu datang belakangan. Sudah tak punya istri, anak tidak terlalu dekat dengannya. Ia merasa hidupnya sungguh kesepian. Ingatannya jadi berputar kembali ke masa-masa dimana ia dan Gea bersama dalam keadaan sederhana. Saat itu David benar-benar merasa bahagia. Meski kebahagian itu semu karena pura-pura. Tapi kenangannya tetap abadi di kepalanya.
"Terima kasih Gea, terima kasih kamu sudah menyadarkan aku. Betapa bodohnya aku dulu yang menyia-nyiakan wanita sebaik kamu. Aku lebih memilih harta dan wanita yang aku cintai. Nyatanya wanita yang aku cintai justru malah wanita yang menyakiti hatiku. Mungkin ini semua memang karma untukku."
__ADS_1
David masuk ke dalam mobilnya. Ia menyelusuri jalanan untuk pergi ke rumah kedua orang tuanya. Tapi, di pinggiran jalan, ia melihat wanita yang memakai daster kusut, wajah tak terawat dan rambut yang acak-acakan. Ketika dilihat semakin dalam, rupanya wanita itu adalah Selena.
David memberhentikan mobilnya dan menghampiri Selena.
"Sel, kenapa kamu bisa begini?" tanya David yang tidak tahu kalau Selena sudah menjadi orang dalam gangguan jiwa.
"Kamu siapa? Apa kamu suami aku? Kamu Steve kan? Hihi, aku sudah melahirkan, perutku sudah tidak buncit lagi. Aku akan kurus dan cantik lagi. Aku bisa jadi artis lagi. hahaha."
David menggelengkan kepalanya saat tahu kejiwaan Selena terganggu. Ia pun tak jadi bicara dengan Selena dan langsung masuk mobil lagi. Ia merasa bersyukur, ia tak memiliki karma seburuk Selena. Meskipun di awal memang kehidupannya pun penuh dengan lika-liku yang hutangnya ada dimana-mana. Tapi sekarang semua itu sudah berputar.
David menjalankan mobilnya lagi sampai ke rumah kedua orang tuanya.
Kedatangannya disambut dengan baik oleh mama dan papanya. Bahkan Tamara sampai menangis karena sudah hampir setahun ini tak mengetahui kabar dari anaknya. Ya, meskipun Tamara semat cari-cari tahu apa yang dilakukan David. Tapi tetap saja beda rasanya kalau bukan anaknya sendiri yang ngasih tahu.
"Akhirnya kamu pulang juga Nak. Mama benar-benar merindukan kamu."
"Maafin David Ma. Maafin David Pa. Maafin semua kesalahan David. Maaf juga David baru muncul sekarang."
"Iya mama dan papa sudah memaafkan kamu. Biarlah semua masa lalu itu jadi pengalaman berharga untuk kamu."
"Iya Ma. David bersyukur David masih diberikan karma baik atas apa yang telah David perbuat dulu dengan menyakiti wanita baik. Di perjalanan mau ke rumah tadi, David melihat Selena yang sudah jadi orang tidak waras. David benar-benar bersyukur David tidak seperti Selena."
"Iya mama sudah tahu, dan sering melihatnya juga. Mama sangat prihatin dengan keadaan Selena sekarang. Maka dari itu, mulai sekarang, jadilah orang baik. Perbaiki sikap-sikap kamu. Mama sungguh berharap kamu bisa bahagia dengan pasangan hidup kamu yang baru."
"Apa aku berhak bahagia Ma?" tanya David.
"Semua orang berhak bahagia. Mau dia itu orang jahat atau baik. Mereka berhak bahagia dengan caranya masing-masing."
David memeluk mamanya kemudian menangis disana. Ia benar-benar menyesal telah berbuat salah selama ini. Kini ia hanya berharap hidupnya benar-benar akan jauh lebih baik dan ia bisa mengikhlaskan Gea dengan laki-laki pilihannya.
*
*
TBC
__ADS_1