Dibuang Setelah Melahirkan

Dibuang Setelah Melahirkan
Bab 66 - Berita di Televisi


__ADS_3

Seminggu pun telah berlalu, Gea merasa gugup karena Gaza akan pulang di hari ini. Ia bahkan tak bisa tidur dengan tenang di dua hari terakhir. Meski sudah mempunyai jawabannya, tetap saja ia gugup untuk bilangnya nanti ke Gaza.


Kegugupan Gea jadi buyar, ketika mendengar teriakan Mama Hani yang sepertinya sedang khawatir akan seseorang. Gea pun keluar dari kamarnya dan menanyakan apa yang terjadi.


"Gaza Ge, dia naik pesawat yang sekarang mengalami kecelakaan dan jatuh di lautan. Tante khawatir, Tante takut hal buruk terjadi padanya. Apalagi Tante sudah menghubungi pihak penerbangan sejak tadi tak mendapatkan informasi apapun. Tante benar-benar takut."


Gea terkejut dan ikut merasakan takutnya juga. Tapi ia tidak mau menunjukkan itu, karena ingin memberikan semangat ke Mama Hani. Kalau Gaza pasti akan selamat.


"Percayalah Tante, Gaza pasti akan selamat."


"Ya, Tante berharap begitu. Karena kebanyakan penumpangnya ditemukan sudah tewas mengambang di lautan, huhu."


Mama Hani malah jadi menangis sambil terduduk di lantai. Mata Gea pun sudah berair. Ia jadi ikut ketakutan dan khawatir berlebih seperti Mama Hani. Kenapa ketika ia sudah sadar akan perasaannya, Gaza justru mengalami hal seperti ini? Seolah-olah ia tak layak untuk bahagia.


Keduanya pun saling berpelukan sambil terduduk. Gea mengajak Mama Hani untuk duduk di sofa. Sementara Papa Geovani bergegas keluar untuk mencari informasi tentang anaknya.


"Mama jangan nangis terus. Papa akan keluar untuk mencari Gaza. Papa yakin Gaza selamat," ucap Papa Geovani.


Tapi yang ada Mama Hani malah menangis semakin histeris.


*


*


Sudah 8 jam berlalu sejak berita kecelakaan pesawat itu disiarkan di televisi. Namun, Gaza belum ditemukan fisiknya. Bahkan Papa Geovani sampai ikut bersama tim SAR untuk mencari anaknya.


24 jam telah berlalu, Mama Hani masih terus menunggu kepulangan Gaza di ruang tamu. Ia bahkan tak mau tidur maupun makan. Gea jadi ikut merasakan kesedihan Mama Hani, karena ia pun merasa sedih juga.


Gea menggenggam tangan Mama Hani untuk memberikan dukungan.


Papa Geovani pun pulang dari pencarian. Mama Hani langsung bangkit dari duduknya dan meraih tangan Papa Geovani.


"Pa, gimana? Gaza udah ketemu kan? Dia masih hidup kan?" tanya Mama Hani.


Papa Geovani hanya diam. Karena ia tak menemukan Gaza. Tapi ia tak mampu untuk bicara. Apalagi melihat istrinya yang begitu bersedih. Ia hanya bisa memeluk istrinya saja. Mama Hani kembali menangis histeris lagi.


*

__ADS_1


*


Dua hari telah berlalu, Mama Hani masih berada di depan televisi. Ia selalu menonton berita kecelakaan itu tanpa menskip nya. Sementara Papa Geovani pun masih terus mencari informasi dan membantu tim sar.


Gea mencoba tegar di depan Mama Hani. Ia selalu menemani Mama Hani agar tak pergi keluar, itulah pesan dari Papa Geovani.


"Ge, Gaza pasti masih hidup kan? Dia pasti sudah tidak sabar juga mendengar jawaban dari kamu. Dia pasti akan berjuang kan?" tanya Mama Hani yang membuat Gea meneteskan air matanya.


"Iya, Tante. Gaza pasti masih hidup. Maka dari itu, kita harus terus berdoa. Karena ada beberapa korban kecelakaan pesawat itu yang masih hidup meski lebih banyak yang meninggal dunia."


Tiba-tiba pelayan membawakan makan untuk Mama hani.


"Tante makan dulu ya?" pinta Gea.


Mama Hani menggeleng.


"Gaza juga pasti belum makan. Tante nggak nafsu makan sebelum melihat Gaza."


Gea hanya bisa menghela napasnya, kemudian memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Liat nih Tante, aku juga makan. Tante juga harus makan. Karena Tante butuh tenaga untuk terus bisa menonton televisi dan menyambut kedatangan Gaza nantinya. Kalau Tante jadi sakit. Pasti Gaza pun akan ikut khawatir. Mau ya Tante?" bujuk Gea.


Sore harinya, Papa Geovani pulang lagi ke rumah dan tentunya Mama Hani langsung menanyakan kondisi anaknya. Lagi-lagi Papa Geovani hanya diam. Itu artinya Gaza memang belum ditemukan.


*


*


Di malam harinya, Gea menangis di dalam kamarnya. Ia benar-benar takut kalau Gaza akan ditemukan dalam keadaan sudah meninggal. Apalagi selama dua hari ini belum ada tanda-tanda apapun mengenai pencarian Gaza.


Ponsel Gea berdering. Rupanya ibunya yang menelpon.


"Nduk? Ibu lihat diberita nama-nama penumpang yang ikut dalam pesawat yang kecelakaan beberapa hari lalu. Ada nama Gaza disana. Apa Gaza benar naik pesawat itu?" tanya Ibu.


Terdengar suara tangisan Gea yang membuat ibu pun tahu kalau itu memang benar.


"Astaghfirullah, Ya Allah," ucap ibu sambil mengelus dadanya.

__ADS_1


"Terus gimana Nduk perkembangannya? Gaza sudah ditemukan?" Kini gantian bapak yang bertanya.


"Belum Pak, Bu," jawab Gea dengan Isak tangisnya.


"Berdoalah Nak. Serahkan semuanya sama Yang Maha Kuasa. Mungkin, Gaza belum ditemukan, karena sudah ditolong oleh tim penyelamat lain. Berpikir positif saja. Soalnya hampir seperempat dari korban sudah banyak yang ditemukan."


"Iya Pak. Gea juga masih terus berdoa. Semoga Gaza masih hidup dan kembali dengan selamat. Gea nggak tega liat Tante Hani yang jadi nggak nafsu makan. Nggak mau beranjak juga dari televisi. Bahkan selama dua hari ini, Tante Hani memilih untuk tidur di depan televisi sambil memeluk jas milik Gaza."


"Ya Allah, ibu bisa merasakan gimana keadaannya sekarang Ge. Karena dulu, ibu pun kelimpungan saat mencari kabar dari kamu yang tiba-tiba nggak bisa dihubungi. Ya sudah, lebih baik kita sudahi obrolan ini. Kamu temani saja mamanya Gaza. Kasihan dia. Kalau nanti sudah ada kabar, jangan lupa kabari ibu dan bapa juga ya Ge."


"Baik Bu."


Gea meletakkan ponselnya di atas meja. Ia menghapus air matanya dan melihat ke arah cermin. Kemudian beralih melihat ke arah Alwin yang sudah tertidur dengan pulas. Gea mencium kening Alwin lalu keluar dari kamarnya.


Ia mengelus dadanya ketika melihat Mama Hani tak beranjak sedikit pun dari depan televisi.


"Ya Allah, aku pasrahkan semuanya padamu. Jika Engkau memang sudah mengambil Gaza dari kami, tunjukkan jasadnya. Jika Engkau masih memberikan kesempatan untuk kami bersamanya, tunjukkan juga raganya supaya kami bisa lebih kuat lagi."


*


*


Sampai di hari ketiga pun, Gaza masih belum ditemukan. Mama Hani sampai terus menangis hingga tak mengeluarkan air matanya. Gea tak bisa melihat itu, rasa sedih yang dirasakan Mama Hani seolah tertransfer ke dirinya.


Sampai ketika di pukul 9 malam, rumah dikejutkan dengan ketukan pintu. Gea berjalan untuk membuka pintu itu. Ketika dibuka, ia begitu terkejut, karena melihat orang yang selama tiga hari ini ia khawatirkan. Tanpa aba-aba Gea langsung memeluk Gaza dan menangis di pelukan Gaza dan melepas pelukan Gaza setelah beberapa saat. Kemudian ia meraih wajah Gaza. Ia takut kalau yang dilihatnya hanyalah khayalan semata.


"Hey, ini aku. Aku baik-baik saja."


Gea kembali menangis dan memeluk Gaza.


Mendengar suara yang mirip anaknya, Mama Hani langsung menoleh ke pintu. Ia terkejut karena anaknya sudah pulang. Ia pun langsung berjalan ke arah Gaza.


"Gaza?" ucap Mama Hani.


Gea langsung melepas pelukan Gaza. Gaza langsung memeluk mamanya yang terlihat sangat lelah dan matanya yang sembab.


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2