
"Akhirnya kamu sampai juga. Tante takut kamu salah rumah. Karena kan kamu masih baru di Jakarta. Apalagi rumah-rumah di dekat sini tuh, hampir sama semua desain bangunannya."
"Nggak kok Tante, kan ada maps, kalau maps nya kurang akurat, aku juga bisa tanya-tanya ke orang," jawab Gea santai. Padahal sebenarnya, ia sudah sering ke daerah ini untuk memata-matai keluarga David. Mana mungkin ia salah alamat. Yang ada ia malah hapal betul.
Waktu yang ia tunggu-tunggu untuk bisa masuk ke dalam rumah keluarga David. Untungnya, Tamara dengan senang hati mengajak Gea untuk berkunjung kesana karena katanya, ia selalu merasa kesepian di rumah. Menantu yang diidam-idamkannya akan menemaninya di rumah, malah sibuk bekerja dan tak pernah mengurus anaknya.
"Kamu menerima ajakan Tante main ke rumah, beneran tidak sibuk?" tanya Tamara.
"Tidak Tante. Lagipula kalau masih pagi begini biasanya aku juga tidak ngapa-ngapain. Kan biasanya aku mulai sibuknya dari sore hingga malam hari ini. Terus tadi juga aku udah antar kue ku ke toko. Jadi sudah santai nggak ada kesibukan lain. Makanya aku terima ajakan Tante untuk main. Aku juga udah rindu sama Alwin Tante," jawab Gea.
"Syukurlah kalau begitu, Run. Tante senang dengarnya. Mau minum apa? Biar Tante buatkan," tawar Tamara.
"Air putih aja Tante," jawab Gea.
Tamara pun mengangguk dan pergi meninggalkan Gea di ruang tamu sendirian. Sebenarnya Gea agak heran juga, kenapa Tamara harus repot-repot menjamunya. Padahal, pastinya di rumah sebesar ini pasti ada pembantunya. Tapi, ya sudahlah, lagipula ia pun meminta minuman yang pasti di setiap rumah pasti ada.
Di saat Tamara menyiapkan minum untuknya, Gea tampak memandangi sekelilingnya. Rumah ini tampak tak jauh beda besarnya dengan Rumah Gaza. Banyak sekali pajangan foto keluarga dan beberapa lukisan. Namun, ada yang aneh disana. Foto keluarga itu hanya ada Tamara, laki-laki tua yang pastinya adalah ayah David, dan David. Tidak ada Selena disana.
Gea mulai bertanya-tanya kenapa hal itu terjadi? Seolah-olah Selena adalah menantu yang tak diharapkan. Sama sepertinya yang menjadi istri yang tak diharapkan sehingga ia dibuang begitu saja ketika sang suami mendapatkan apa yang dia mau.
Tak lama kemudian, Tamara datang dengan membawa nampan yang berisi beberapa cemilan gurih dan air putih, serta sebotol air yang berwarna kuning. Sepertinya sih itu, sirup rasa jeruk.
"Duh, Tante. Aku jadi tidak enak kalau begini," ucap Gea yang merasa tidak enak.
"Apanya yang jadi tidak enak? Memang seharusnya begini kan? Tamu kan adalah raja, jadi kita harus memperlakukannya dengan baik dengan menyuguhkan makanan dan minuman. Silahkan dimakan dan diminum."
"Iya Tante," jawab Ge.
"Ngomong-ngomong Alwin nya kok nggak ada Tante? Masih tidur?" tanya Gea yang penasaran.
__ADS_1
Tamara mengangguk.
"Iya, dia masih tidur. Biasanya bangun agak siangan. Kalau kamu mau main sama Alwin, pulangnya sorean aja. Sekalian Tante mau kenalin kamu ke anak dan menantu Tante."
Gea mengangguk setuju. Karena itulah tujuannya menerima ajakan Tamara dan datang kesana. Ia ingin melihat bagaimana reaksi David dan Selena ketika ia datang kesana tanpa diusir bahkan diajak masuk ke dalam rumah. Benar-benar sudah tak sabar lagi.
Sambil menunggu Alwin bangun, kedua wanita beda usia itu saling mengobrol seperti sudah kenal lama. Tamara yang agak penasaran tentang Gea pun mulai menanyakan tentang Gea yang beberapa waktu lalu bertemu tak sengaja dengannya di restoran.
"Waktu di restoran kala itu, kamu datang bersama Hani dan duduk satu meja bersamanya dan juga anaknya yang namanya Gaza. Kamu mengenalnya?" tanya Tamara.
"Iya Tante. Gaza adalah sahabat baikku. Kami bertiga kesana habis belanja, karena waktunya pas untuk makan siang. Makanya kita mampir di restoran," jawab Gea.
Tamara pun hanya menjawabnya dengan ber-oh saja. Ia tak mau melanjutkan pembicaraan itu lagi. Tadi ia hanya penasaran saja.
"Gaza juga lah orang yang membantuku untuk menemukan dimana tempat tinggal mantan suamiku, Tante. Mungkin kalau bukan karena dia. Aku bisa depresi karena tak kunjung bisa menemukan keberadaan anakku," ucap Gea lagi.
"Syukurlah kalau begitu, Run. Lalu apa kamu sudah mengunjungi rumah mantan suami kamu?"
"Kenapa? Kok bisa? Terus kamu bisa masuk ke dalam rumah itu gimana caranya kalau bukan karena mantan suami kamu?" tanya Tamara lagi yang mulai antusias mendengar cerita Gea. Karena pada dasarnya, Tamara memang orang yang suka bercerita dns mendengarkan cerita. Ia bahkan bisa menanggapinya dengan respon yang berlebihan daripada orang biasa pada umumnya.
"Aku dekati mantan mertuaku Tante. Karena untungnya, ia tidak tahu kalau aku adalah mantan istri kedua dari anaknya," jawab Gea.
"Lalu apa kamu sudah jujur pada mantan mertuamu kalau kamu adalah mantan istri kedua dari anaknya?"
Gea menggeleng.
"Aku takut dia akan shock berat setelah mendengar semua kenyataan yang ada. Aku masih menunggu waktu yang pas hingga mantan mertuaku percaya sepenuhnya padaku, Tante. Sehingga ia tak mungkin lagi membela anaknya yang sudah berbuat salah."
"Tapi, menunggu waktu yang pas juga pasti membutuhkan waktu lama, Run. Apa tidak apa-apa seperti itu? Kamu akan semakin lama untuk bisa bersama dengan anakmu."
__ADS_1
"Ya, ucapan Tante memang benar sih. Tapi, itu lebih baik, daripada aku cerita ketika mantan mama mertuaku belum percaya padaku. Mungkin dia akan mengatakan kalau aku ini pembohong dan penipu."
"Ya, jika itu memang rencanamu. Tante hanya bisa mendukungnya. Semoga kamu cepat bisa berkumpul dengan anakmu. Semoga mantan mama mertuamu juga bisa menerima fakta yang sebenarnya dengan hati yang lapang nantinya."
"Makasih Tante atas doa baiknya. Aku juga berharap demikian."
Tamara pun mengangguk.
Waktu berputar begitu cepat. Gea merasa sangat bahagia karena bisa menghabiskan waktu lama dengan anaknya dari bangun tidur hingga bayi itu tidur lagi.
Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30. Harusnya David sudah pulang kerja, mungkin masih dalam perjalanan menuju ke rumah. Gea tak sabar menunggu laki-laki itu pulang dan melihatnya ada di dalam rumahnya.
Suara mobil sudah terdengar memasuki area halaman rumah dan hendak masuk ke garasi. Tak lama kemudian, David masuk ke dalam rumah.
"David, pulang Ma," teriak David lalu Tamara keluar dari ruang keluarga dan menyambutnya. David pun langsung mencium tangan mamanya.
"Syukurlah kamu sudah pulang. Mama mau kenalkan kamu ke seseorang. Dia lah yang beberapa minggu ini selalu menemani hari-hari mama."
"Siapa Ma? Teman sosialita mama?" tebak David.
"Bukan, dia masih muda, mungkin lebih muda dari Selena."
"Nanti aja deh ma dikenalinya. Aku mau ke kamar dulu," ucap David.
"Nggak boleh, soalnya di udah mau pulang."
Alhasil David pun hanya bisa pasrah saja dan mengikuti keinginan mamanya. Ia pun berjalan ke ruang keluarga mengekor sang mama. Dan ketika ia sudah diambang pintu, betapa terkejutnya ia ketika melihat Gea ada di rumahnya.
*
__ADS_1
*
TBC