Dibuang Setelah Melahirkan

Dibuang Setelah Melahirkan
Bab 51 - Diusir dari rumah


__ADS_3

David keluar dari ruangan papanya. Ia merasa heran dengan tatapan orang-orang terhadapnya. Ia merasa jadi pusat perhatian.


"Apa sih mereka? Kenapa menatap aku begitu? Apa mereka mau aku pecat ya!" gumam David dengan kesalnya.


Tatapan seperti itu terus ia dapatkan hingga ia sampai di ruangannya. Namun, di ruangan itu bukan lagi nama David yang ada di meja kerja melainkan nama orang lain.


"Dimana papaku!" teriak David di dalam ruangan.


"Maaf Tuan Muda, Tuan Besar sedang ada rapat di ruang meeting."


"Sial! Siapa yang mengganti papan namaku disana!"


"Maaf, itu saya Tuan Muda. Saya hanya diperintahkan oleh Tuan besar," ucap si sekretaris.


"Argh! Papa apa-apaan sih! Seenaknya saja mengganti aku begini!"


David terus berteriak-teriak tapi tidak mau keluar dari ruangannya. Ia ingin segera meminta penjelasan setelah papanya selesai meeting.


Setelah menunggu hampir 1 jam, Tuan Giandratama akhirnya selesai meeting juga. David pun sudah menghadap ke ruangan kerja papanya lagi.


"Pa, maksud papa apa main ganti jabatan CEO tanpa pemberitahuan begitu? Papa tidak bisa begini dong!"


"Coba kamu ingat-ingat lagi. Perusahaan ini milik siapa?"


Tuan Giandratama mencoba mengingatkan David tentang kepemilikan perusahaan.


"Sudah ingat? Ini milik papa kan? Dan masih belum papa wariskan ke kamu. Jadi, semua wewenang ada di papa. Papa juga berhak untuk menggantikan kamu dengan yang lain, kalau kamu tidak layak untuk duduk di kursi itu. Lagipula, papa sudah memberikan kamu banyak kesempatan untuk jujur. Tapi, kamu sendiri yang memilih untuk berbohong. Jadi, terima saja semuanya. Oh, iya, satu lagi. Kamu harus ingat satu hal kalau persyaratan papa dulu kamu harus punya anak dari Selena setelah dua tahun bukan dari wanita lain. Jadi, bersiap-siap lah untuk keluar dari rumah."


"Papa! Aku ini anak papa lho! Kenapa papa begitu jahat padaku!"


"Papa juga papa kamu loh! Tega-teganya kamu bohongi papa! Lalu apa bedanya kita berdua? Sama-sama jahat kan?"


Ucapan Tuan Giandratama itu membuat David terdiam lama dan tak berkutik. Ia bingung harus bagaimana lagi sekarang. Jika papanya sudah memutuskan sesuatu, maka terjadilah. Membuat David gelisah saja.

__ADS_1


"Karena kamu sudah tak memiliki wewenang apapun di perusahaan, lebih baik kamu pulang dan kemasi saja barang-barang mu. Jangan lupa bawa istrimu juga sekalian. Papa harap ketika papa pulang kerja nanti, kamu sudah tak ada lagi di rumah."


"Papa jahat!"


Tuan Giandratama seolah tidak memperdulikan ucapan David, ia malah fokus membaca berkasnya dan tak menanggapi ucapan anaknya itu hingga membuat David kesal sendiri dan keluar dari sana.


Kini ia tahu, kenapa semua orang menatapnya dengan begitu mengintimidasi. Rupanya karena ia bukan lagi atasan mereka. David kesal dan ingin sekali menumpahkan amarahnya. Tapi, ia tidak bisa menumpahkan semuanya disana. Bisa-bisa papanya semakin marah.


David pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia akan meminta bantuan mamanya untuk meluluhkan hati papanya. Ia yakin papanya pasti belum menceritakan semuanya ke sang mama.


Sesampainya di rumah, David mencari keberadaan mamanya. Namun, tak kunjung ditemukan. Pergi ke kamar Alwin pun, anaknya tak ada disana. Bisa dipastikan mamanya sedang keluar dengan membawa Alwin.


Hampir dua jam menunggu, akhirnya Tamara pulang juga. Ia sendirian, tanpa menggendong Alwin. David yang sedari tadi menunggu di ruang tamu pun langsung bertanya karena penasaran.


"Ma, Alwin kemana? Kenapa di kamar pun tidak ada? Aku kira dibawa jalan-jalan sama mama. Tapi kenapa mama pulangnya malah sendirian?"


"Mama memang membawa Alwin keluar tapi sengaja tidak membawa Alwin pulang."


"Ke mama kandungnya," ucap Tamara membuat mata David membulat sempurna. Ternyata papanya sudah bergerak lebih cepat dari dugaannya.


"Kenapa mama tidak minta izin dariku dulu? Alwin kan anakku ma," ucap David yang sedikit kesal.


"Memangnya dulu kamu saat membawa Alwin pergi saat masih di usia kecil minta izin dulu ke Gea? Tidak kan? Jadi anggap saja impas," ucap sang mama kemudian masuk ke dalam rumah.


"Ma, mama!" teriak David hingga membuat Tamara menoleh.


"Oh, iya. Tadi mama sudah minta bibi untuk merapihkan semua pakaian kamu dan Selena. Mungkin sekarang sudah selesai dimasukkan ke dalam koper. Turuti saja semua keinginan papa kamu. Salah kamu sendiri yang bermain api duluan. Mama tidak bisa membantu, karena mama pun sakit hati oleh kelakuanmu. Mama harap, kamu bisa belajar dari kesalahan kamu ini."


Tamara pun kembali berjalan ke kamarnya.


David hanya bisa terdiam karena masih tidak percaya. Biasanya sang mama akan selalu membantu dan membela mati-matian jika papanya memarahinya atau ketika ia dalam masalah besar. Tapi sekarang, ia benar-benar dalam masalah, karena tak ada yang membantunya. Harapan terakhirnya sudah hilang.


Bahkan untuk bersuara pun sepertinya ia sudah tak mampu. Lidahnya terasa kelu. Ia harus menerima kenyataan bahwa ia harus segera pergi dari rumah itu. Lalu apa yang harus ia katakan pada Selena? Haruskah ia bilang jika semuanya sudah terbongkar? Dan mereka harus pergi dari sana tanpa membawa satu harta pun?

__ADS_1


Pas sekali, Selena malah menghubunginya lewat telepon.


"Mas, kenapa kartu kreditnya tidak bisa digunakan? Apa kamu yang memblokirnya?" tanya Selena.


Glek!


Papa benar-benar menutup semua akses keuangan yang dia berikan. Oh Tuhan!


"Lebih baik kamu pulang sekarang! Nanti aku jelaskan di rumah!" pinta David.


"Tidak bisa Mas, aku masih ada sedikit pekerjaan. Makanya tolong aktifkan lagi kartunya Mas. Aku butuh sekali. Lagian apa-apaan sih kamu Mas, main blokir-blokir segala."


"Selena! Kalau aku bilang pulang ya pulang! Tolong kali ini cukup turuti aku! Dan jangan membantah! Kita dalam keadaan genting sekarang! Kalau kamu tidak pulang sekarang! Jangan salahkan aku kalau kamu tidak bisa masuk ke dalam rumah!"


"Apa sih mas! Kamu itu aneh banget! Ya mana bisa aku pulang sekarang Mas."


Sambungan telepon langsung ditutup oleh David begitu saja karena kesal Selena susah sekali untuk menurut. Walau begitu, ia pun tidak tega untuk meninggalkan Selena sendirian jika ia pergi duluan.


Alhasil, untuk mempersingkat waktu dan mempersingkat penjelasannya nantinya. David memberikan sebuah pesan singkat yang isinya bahwa mama dan papanya sudah mengetahui rahasia mereka dan kini mereka diusir dari rumah itu.


Beberapa menit kemudian, Selena menelpon lagi karena merasa terkejut dengan apa yang diterimanya.


"Bagaimana bisa Mas? Apa kamu benar-benar sudah menghilangkan semua buktinya? Mas!"


"Aku rasa, seharusnya hal ini tidak akan terjadi. Tapi, ternyata dugaanku salah. Aku lupa papaku memiliki banyak koneksi dan kekuasaan. Ia bisa melakukan apapun yang diinginkannya. Jadi tolong, sekarang kamu cepat pulang! Sebelum papa berbuat lebih kejam lagi dari ini!"


"Iya Mas."


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2