
David yang sudah dikuasi oleh amarah jadi tak bisa mengontrol emosinya. Ia menampar pipi Selena berkali-kali sampai menimbulkan bekas kemerahan disana.
"Dasar wanita murahan! Tidak tahu diri! Selama ini aku selalu membelamu, selalu memilihmu, selalu menentang perintah orang tuaku! Tapi kamu malah mengkhianati ku?!"
Selena menangis dengan air mata yang terus mengucur dengan derasnya. Ia sangat-sangat tidak menyangka, David yang cinta mati padanya bisa berbuat kasar seperti ini. Tapi, ia tak bisa hanya diam saja. Selena pun bersuara.
"Salah siapa kamu menjadi laki-laki bodoh yang lebih memilih wanita! Itu semua karena kebodohanmu sendiri! Kamu tidak pantas menyalahkan aku juga!"
Plak!
Tamparan lagi-lagi melayang ke pipi Selena. David benar-benar muak dengan Selena. Di saat seperti ini, di pikirannya justru terlintas senyuman Gea, dan tingkah manis Gea.
"Argh!"
David berteriak karena frustasi lalu mendorong tubuh Selena sampai terlentang di atas ranjang. Laki-laki itu mengacak-acak rambutnya saking marahnya. Dengan sorotan mata yang tajam, David menalak Selena.
Selena menganga tidak percaya. Meski David sekarang tak mendapatkan fasilitas dari ayahnya, tapi David adalah anak orang kaya. Yang pastinya, akan selalu ada tempat untuk kembali. Selena menangis meraung-raung tak ingin diceraikan oleh David. Ia bangun dari posisinya dan berlutut di hadapan David. Bahkan dengan tak tahu malunya, Selena malah menanggalkan pakaiannya dan memperlihatkan lekuk tubuhnya ke David, berharap David mengajaknya rujuk kembali.
Bukannya terbujuk dan ingin kembali, David malah merasa jijik. Sekarang mereka sudah bukan suami istri lagi tapi Selena malah berusaha menggodanya. Wajar saja jika Steve tidak mengakui anak yang dikandung Selena. Mungkin memang benar anak itu anak dari laki-laki yang lainnya.
David mendorong Selena dan melemparkan pakaian yang Selena tanggalkan.
"Pakai bajumu! Aku sudah tidak selera dengan tubuhmu! Aku jijik melihatnya. Apalagi perutmu yang sudah terlihat buncit hasil perselingkuhan mu! Aku beri waktu 10 menit untuk membereskan barang-barang mu dan pergi dari apartemenku!"
Selena masih menangis. Tapi, ia tak bisa berbuat apapun, David terlihat sangat menyeramkan. Dengan terpaksa dan langkah yang lemas, Selena memasukkan semua barang-barangnya ke dalam koper-kopernya.
David menunggu di luar kamar sambil mengingat kenangan indah bersama Gea. Entah kenapa di saat tersakiti sekarang, ia malah jadi memikirkan Gea dan menginginkan Gea kembali padanya. Ia juga rindu dengan bayi kecilnya.
*
*
Di lain tempat, Gea terlihat sangat bahagia ketika melihat anaknya yang sudah bisa berjalan meski satu, dua tiga langkah saja. Saking bahagianya, Gea malah membuatkan kue untuk semua pekerja di rumah Gaza.
Semua pekerja disana jadi ijut merasakan kebahagiaan itu juga. Mereka bahkan mendoakan yang terbaik untuk Gea dan anaknya.
Tak hanya pekerja yang diberikan kue, tapi keluarga Gaza pun demikian. Mama Hani selalu merasa, kedatangan Gea di rumahnya selalu memberikan suasana hangat, ceria dan bahagia di keluarganya yang dulu terkesan kaku dan dingin. Ia benar-benar ingin segera menjadikan Gea sebagai menantunya. Mama Hani tak peduli dengan status Gea yang janda. Yang terpenting adalah Gea anak yang baik dan dicintai oleh anaknya.
Mama Hani menghampiri Gea dan duduk di sebelah Gea. Tangannya terulur untuk meraih tangan Gea lalu menggenggamnya.
Gea merasa bingung dan keheranan.
__ADS_1
Rasanya Mama Hani ingin sekali membocorkan tentang perasaan anaknya ke Gea. Tapi, ia urungkan karena menghormati keputusan anaknya.
"Semoga kamu akan terus bahagia setelah ini Ge. Yakinlah setelah hujan badai pasti akan ada pelangi. Setelah kesedihan pasti ada kebahagiaan."
Gea mengangguk dan mengaminkan ucapan Mama Hani.
Karena ia pun tak bisa melalui ini semua tanpa dukungan dari Mama Hani dan keluarga. Gea jadi ikut menggenggam tangan Mama Hani juga.
Keduanya saling tersenyum.
*
*
Selena sudah pergi dari apartemen David. Tapi, David tetap saja merasa tidak tenang dan rasanya hatinya selalu dipenuhi amarah.
Tiba-tiba ia mendapatkan kabar dari rekan nasabah yang ikut berinvestasi di perusahaan yang sama. Katanya perusahaan tersebut membawa kabur semua uang mereka dan sekarang sedang dicari oleh polisi.
Seketika David langsung membanting ponselnya, dan membanting semua barang-barang yang ada di dekatnya.
Masalah terus datang bertubi-tubi setelah ia menelantarkan Gea. Ia jadi yakin kalau Gea adalah pembawa keberuntungan untuknya. Dengan tak tahu malunya, David pergi menuju ke kediaman Gaza. Ia beralasan ingin menemui Alwin. Namun, untuk masuk ke area rumah pun, David tak diizinkan karena Gaza telah melarang David untuk memasuki rumahnya.
David mengacak-acak rambutnya frustasi lalu pergi dari sana. Ia ingin memastikan kabar yang ia dapatkan dari rekannya itu. Rupanya benar, perusahaan itu kini tengah diselidiki oleh polisi karena penipuan yang dilakukannya.
"Argh!"
Sudah diusir dari rumah, dikhianati istri dan ditipu orang, lalu apa lagi yang akan menimpanya? David tak bisa menerima ini semua. Apalagi, sewa apartemennya pun akan berakhir dalam beberapa hari ke depan. Ia jadi pusing sendiri dan terus melampiaskan amarahnya ke kaleng yang ada di depannya. Untungnya kaleng itu melayang ke tempat yang tak ada orangnya. Jadi ia tak dimarahi.
*
*
Selena terus menekan bel apartemen Steve, berharap laki-laki itu membuka pintu dan mengizinkannya menginap untuk beberapa hari. Namun apa yang ia terima?
Seorang wanita dengan mengenakan kaos singlet terbalik lah yang membuka pintu apartemen itu. Apalagi rambutnya terlihat acak-acakan dan terlihat tanda merah di leher wanita itu. Selena langsung naik pitam dan masuk tanpa dipersilahkan.
Steve terlihat sangat lelah dan hanya memakai celana pendek terbaring di atas sofa. Ketika melihat Selena, ia pura-pura tidak tahu apa yang terjadi.
"Steve aku hamil! Aku minta kamu nikahi aku sekarang juga! Lalu siapa wanita itu!? Kenapa kamu bersama dengannya di apartemen?"
Sebelum menjawab pertanyaan Selena, Steve mengganti posisinya jadi duduk lalu memberikan kode ke wanitanya untuk mendekat dan naik ke pangkuannya. Dengan tak tahu malunya, Steve malah memperlihatkan kemesraannya dengan sang wanita di hadapan Selena.
__ADS_1
"Steve!"
Selena kesal karena tingkah laku Steve.
"Steve! Aku hamil!"
"Lantas kenapa? Kamu kan yang hamil? Kenapa minta pertanggungjawabannya padaku? Kamu kan punya suami?" balas Steve yang masih asik dengan dua benda kenyal milik wanitanya.
Selena yang geram dengan tingkah Steve langsung mendorong wanita itu dari pangkuan Steve dan menampar wanita itu berkali-kali.
"Nikahi aku!" pinta Selena.
Steve tersenyum miring.
"Aku tidak mungkin menikahi orang yang sudah bersuami dan tengah mengandung," jawabnya.
"Aku sudah bercerai, dan anak ini adalah anakmu!" jawab Selena dengan nada tingginya.
"Oh, benarkah?" tanya Steve dengan memperlihatkan wajah tidak percayanya.
"Tapi aku tidak percaya. Kamu saja bisa mengkhianati suami sendiri. Bisa saja kamu juga bermain dengan laki-laki lain selain aku," ucapnya lagi.
"Tidak, tidak, ini anakmu Steve! Aku Bernai bersumpah! Aku cuma berselingkuh denganmu!"
"Aku tidak percaya! Lebih baik kamu keluar dari apartemenku Selena! Kamu sudah menganggu kesenanganku! Harusnya tadi milikku sudah masuk ke dalam miliknya dan kita sedang mend*sah sama-sama."
Steve mengucapkan kalimat itu dengan vulgar di hadapan Selena. Laki-laki itu bahkan membantu wanitanya untuk bangun dan melanjutkan lagi kegiatan mereka yang tertunda di hadapan Selena.
"Steve!"
Selena marah dan terus memukul-mukul tubuh Steve yang berada di atas tubuh wanita itu. Namun ia tak lantas beranjak dan malah mendorong Selena hingga terjatuh.
"Lebih baik kamu pergi dari apartemenku! Aku tidak mau punya istri bekas orang! Apalagi yang suka berselingkuh sepertimu!"
Selena menangis dengan rasa amarah. Ia pun pergi dari sana dan terus memukul-mukul perutnya. Harusnya ketika ia terjatuh tadi keluar darah saja supaya janinnya keguguran. Tapi rupanya tidak.
Di jalanan yang sepi, Selena masih menarik kopernya tanpa arah dan tujuan. Bahkan hari telah berganti menjadi malam. Selena tak tahu kalau jalanan yang ia lewati saat ini rawan perampokan dan pemerk*saan.
*
*
__ADS_1
TBC