
Selesai acara bakti sosial, Selena melihat Tamara dan Gea yang asik mengobrol bersama dan ada Alwin di antara mereka. Selena mengepalkan tangannya, merasa iri karena keakraban mama mertuanya dengan Gea. Ia jaga merasa takut kalau Gea tiba-tiba membongkar semuanya.
Selena pun datang kesana dan duduk di samping mama mertuanya. Bersikap senatural mungkin padahal di dalam dirinya ia sangat marah dan kesal.
"Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau kamu kenal sama Aruni, Sel?" tanya sang mama mertua membuat Selena menaikan alisnya.
"Aruni tadi bilang, kalau dulu kalian pernah tinggal bersama. Bahkan seperti kakak dan adik," tambah Tamara lagi.
Selena menatap wajah Gea. Namun, Gea hanya tersenyum membalasnya.
"Aku tadi bahkan sangat terkejut, rupanya menantu Tante adalah orang yang aku kenali. Tapi, kenapa kalau dilihat-lihat Alwin tidak mirip Selena ya, Tante? Hampir semua kemiripan mengarah ke Mas David. Namun, jika dilihat-lihat lagi, mata Alwin tidak mirip dengan Mas David, seperti mirip dengan seseorang yang aku kenali."
Ucapan Gea itu, membuat Tamara jadi mengamati mata cucunya itu. Dan memang benar apa yang dikatakan Gea. Namun, ia tak mau berpikiran buruk.
"Ya mungkin, sifat Alwin nanti yang menurun dari Selena."
"Ya bisa jadi sih Tante. Cuma rasanya aneh saja."
Selena masih diam tak mau ikut bicara karena takut salah berbicara jika ia sudah tersulut emosi. Lebih baik diam dan seolah tak tahu apapun untuk saat ini.
"Kalau kalian berdua saling mengenal, kenapa sekarang malah saling diam dan tidak mengobrol? Pasti kalian saling rindu karena sudah lama tak bertemu," ucap Tamara sambil menggendong Alwin.
"Ah, iya. Aku memang rindu masa-masa tinggal bersama Selena," jawab Gea.
Tamara pun pergi dari sana dengan menggendong Alwin dan membiarkan kedua wanita itu saling berbicara untuk melepas rindu.
Ketika Tamara jauh dari mereka bahkan tak terlihat lagi di mata Selena. Selena berdiri dari duduknya lalu mencondongkan badannya dan menarik kerah pakaian yang dikenakan Gea.
"Harusnya kamu tidak perlu mengatakan itu! Kamu mau membongkar semuanya? Hah?!" marah Selena.
Gea diam tak bergeming. Namun ia pun membalas tatapan tajam Selena sama tajamnya.
__ADS_1
"Memangnya kenapa kalau aku mau membongkar semuanya? Itu kan sangat menguntungkan bagiku!" jawab Gea.
"Cih! Kamu pikir semua yang akan kamu lakukan akan berjalan lancar? Percaya diri sekali! Aku akan jadi penghalang semuanya! Jadi, lebih baik kamu mundur dan anggap semuanya tidak ada dan tak pernah terjadi."
Gea mulai meraih cengkeraman tangan Selena di kerah bajunya dan melepaskannya agak kasar hingga membuat Selena terduduk.
"Menganggap semuanya tidak ada dan tak pernah terjadi, enak sekali mulutmu bicara, Selena. Aku tidak akan melakukan apa yang kamu katakan. Aku akan berjuang untuk anakku. Dulu, aku memang terlihat lemah di hadapanmu dan Mas David, tapi kini, aku sudah bukan Gea yang dulu lagi. Ingat itu! Akan aku pastikan kamu akan menderita. Bahkan lebih menderita daripada aku."
Gea pun kemudian pergi meninggalkan Selena dan menghampiri Mama Hani yang sedari tadi rupanya melihat adegan di antara keduanya. Mama Hani pun menggandeng tangan Gea dan masuk ke dalam mobil untuk pulang.
Di dalam mobil, Mama Hani mengelus tangan Gea seolah memberikan dukungan untuk Gea. Gea tahu, Mama Hani melihat semuanya, meski mungkin tak bisa mendengar dengan jelas apa yang dibicarakan oleh Gea dan Selena.
"Tante sudah tahu semuanya. Semua tentang kamu yang ke Jakarta untuk mengambil hak asuh anakmu dan siapa orang jahat yang membaut kamu menderita. Maaf, Tante tidak minta izin lebih dulu. Jangan salahkan Gaza juga karena Tante tahu. Tante yang memaksa Gaza untuk menceritakan semuanya," ucap Mama Hani.
Gea pun tak bisa marah atau kesal ke Mama Hani. Ia malah jadi merasa tenang karena genggaman tangan Mama Hani sama hangatnya dengan tangan ibunya.
"Kalau kamu tidak keberatan, Tante ingin bantu kamu supaya bisa lebih cepat mendapatkan hak asuh anak kamu."
"Baiklah kalau memang itu yang kamu inginkan. Tapi Tante mohon, kalau kamu dalam masalah atau butuh bantuan hubungi Tante, atau setidaknya ke Gaza."
Gea mengangguk lalu mengucapkan terima kasih. Karena lagi-lagi ia berada di lingkungan yang baik padahal berada di tempat yang bukan rumahnya.
*
*
Selena dan Tamara sampai di rumah. Selena membaurkan begitu saja Tamara yang terus menerus menggendong Alwin. Ketika akan menaiki tangga, Selena membalikan tubuhnya.
"Ma, aku tidak mau mama terus berhubungan dengan wanita itu lagi. Aku tidak suka kalau anakku disentuh olehnya," larang Selena.
"Kenapa? Memangnya kalian ada masalah apa sampai kamu terlihat tidak suka dengan Aruni? Padahal Aruni itu wanita yang sangat baik dan keibuan. Bahkan Alwin pun sangat senang jika bermain dengan Aruni. Dan juga kalian kan pernah tinggal bersama, seharusnya kamu lebih tahu banyak tentang Aruni."
__ADS_1
"Karena itu Ma, karena aku pernah tinggal bersama dengannya jadi aku tahu kalau dia bukan wanita baik-baik. Dia hanya berpura-pura baik di depan mama."
"Tapi mama tidak yakin. Apa motifnya coba kalau dia berpura-pura baik di depan mama? Kamu jangan menuduh temanmu yang tidak-tidak Selena. Itu tidak baik. Lalu soal Mama bertemu dan berhubungan dengan siapapun itu hak mama bukan hak kamu."
Tamara kemudian pergi ke kamar bayi Alwin dan meninggalkan Selena sendirian disana. Selena sedikit mengacak-acak rambutnya. Kesal karena mama mertua nya tidak mempercayai dirinya. Pokoknya ia harus membuat sang mama jadi tidak berhubungan lagi dengan Gea atau bahkan kalau bisa mama mertuanya harus membenci Gea.
Selena bertekad sambil mengepalkan tangannya kemudian pergi ke kamarnya untuk membersihkan tubuhnya yang sudah berkeringat pekat.
Di dalam kamar mandi, tepatnya di dalam bathtub, Selena memainkan busa sambil memikirkan Gea dan cara untuk menyingkirkan wanita itu.
Namun, rasa kesal justru menghantui dirinya. Ia pun jadi memukul-mukul air di dalam bathtub dan merubah posisi berendamnya.
"Mas David, terlalu lambat untuk menyingkirkan Gea. Aku tidak bisa kalau terus menunggu kabar dari Mas David. Aku juga harus bergerak dan menyewa seseorang."
Selena pun bangkit dari berendamnya dan meraih handuk kimono nya untuk menutup tubuhnya yang polos. Kemudian keluar dari kamar mandi, dan mendapati suaminya sudah pulang bekerja.
Selena menghampiri suaminya kemudian membantu David melepaskan jas, dasi kemudian kemeja yang dikenakan suaminya.
"Baru pulang dari bakti sosial sama mama?" tanya David.
Selena mengangguk lalu membantu David untuk melepas ikat pinggangnya. Kemudian mendekatkan tubuhnya ke David.
"Mas aku ingin," bisik Selena dengan suara seksinya ke telinga David.
David merasa merinding dan aliran darahnya jadi mengalir sangat cepat. Laki-laki itu pun langsung menurunkan celana panjangnya dan melepas tali handuk kimono Selena. Lalu keduanya menikmati surganya dunia di sore itu.
*
*
TBC
__ADS_1