
Gea sampai di rumah Gaza dengan raut wajah yang ditekuk dan seperti tak bersemangat. Wanita itu duduk di sofa ruang tamu sambil melepas gendongan Alwin dan membiarkan bayi kecil itu bermain.
Pikiran Gea amburadul begitu juga hatinya yang menjadi tidak tenang. Entah kenapa tangisan David malah terngiang-ngiang di kepalanya. Apalagi senyuman tipis sebelum kepergian David dari rumah orangtuanya. Seperti mengisyaratkan sesuatu.
"Semoga saja Mas David tidak merencanakan hal buruk. Entah kenapa aku jadi berpikiran negatif terus. Huh!"
Gea menghela napasnya. Lalu menyandarkan kepalanya di sofa sambil memejamkan matanya. Untungnya Alwin anteng-anteng saja dibiarkan main sendirian. Jadi, Gea tidak terlalu khawatir.
Tak lama kemudian, Gaza menghampiri Gea dan duduk di sebelahnya. Bahkan Gaza menyampingkan tubuhnya dan kepalanya bertumpu di sikunya sambil terus menatap Gea yang menutup matanya.
"Tolong jangan bertanya apapun dulu Ga," ucap Gea.
"Wah, hebat sekali! Padahal matamu tertutup tapi kamu bisa menebak bahwa ini adalah aku. Jangan-jangan ukuran celana dalamku saja kamu tahu."
Gea membuka matanya lalu langsung memukul lengan Gaza.
"Sembarangan. Gimana mungkin aku tahu ukuran ****** ***** mu! Lagian sangat mudah aku menebaknya. Dari dulu sampai sekarang wangi parfum mu tak pernah berubah," ucap Gea sambil kesal ke Gaza.
Gaza tertawa kemudian meledek Gea.
"Jadi, kamu mau tahu ukurannya?"
"Gaza!" teriak Gea yang membuat Gaza tertawa lagi.
"Asal kamu tahu Ge, dari dulu sampai sekarang memang tak pernah ada yang berubah dalam diriku."
Termasuk juga perasaanku, lanjutnya di dalam hati.
__ADS_1
"Meski kamu bilang jangan tanyakan apapun padamu. Tapi aku tetap akan menanyakannya dan memaksa kamu untuk menjawabnya. Apa saja yang terjadi di rumah Tante Tamara? Kenapa sepulangnya kamu dari sana berubah jadi murung dan terlihat banyak pikiran?"
Gea pun menghela napasnya. Percuma saja ia diam. Pasti Gaza akan melakukan cara apapun untuk membuatnya bicara. Jadilah Gea pun akhirnya menceritakan apa saja yang terjadi disana. Tentang David yang meminta maaf padanya dan meminta untuk rujuk dan berjanji tak akan mengulangi kesalahan yang sama. Tapi Gea menolaknya. Lalu kedatangan David yang belum diterima oleh keluarganya. Gea pun tak tahu bagaimana kehidupan manta suaminya itu.
"Bagus, memang lebih baik kamu jangan pernah mau rujuk dengannya. Aku tidak akan setuju."
"Ya, aku pun memang tidak mau. Selama setahun lebih hidup dengannya, aku baru tahu sikap akhirnya di bulan terakhir kami bersama. Betapa bodohnya aku dulu karena cinta."
"Kamu tidak bodoh karena cinta. Hanya saja orang yang kamu cintai itu yang salah. Kalau saja orang itu adalah aku, pasti aku akan membahagiakan mu dan tak akan menyakitimu."
"Ih, apaan coba. Mana bisa aku mencintai kamu. Kamu itu udah seperti keluargaku sendiri, Ga."
"Ya ampun, itu cuma perumpamaan Gea. Serius banget nanggepinnya. Ya udah aku mau ke kamar dulu. Nanti kalau mau makan malam, tolong bangunin ya. Mama soalnya lagi pergi keluar sama temen-temennya. Katanya bakalan pulang telat."
Gea mengangguk.
Setibanya di kamar, yang niatnya ingin tidur, Gaza malah ngegalau nggak jelas di atas ranjang. Laki-laki guling-guling di atas ranjangnya sambil memukul-mukul bantalnya yang tidak bersalah.
"Apa sih yang membuat Gea dulu suka sama David? Tampan, ya aku tidak jauh beda darinya. Kalau kekayaan sih, aku tahu Gea tak melihat orang dari itunya. Kenapa rasanya Gea susah sekali untuk suka padaku? Padahal aku selalu memprioritaskan dia. Baru aja mau ngode-ngode. Eh, malah udah ditolak mentah-mentah. Ya Tuhan, apa salahku di masa lalu, kenapa Engkau buat aku jadi perjaka tua begini?!"
Gaza terus mengomel tentang yang disukai Gea dari David. Ia juga belum terima kenyataan bahwa cintanya masih ngambang dan abu-abu seperti ini.
*
*
Berhari-hari telah berlalu, David sudah menemukan tempat tinggal sewa murah bulanan. Meski kumuh dan sempit, tapi mau bagaimana lagi, ia tidak punya cukup uang untuk menyewa yang lebih bersih dan besar dari itu. Bahkan untuk biaya makan sehari-harinya saja, David bekerja serabutan di pasar jadi tukang parkir atau kuli panggul disana. Sebenarnya kalau tidak memikirkan ambisinya, ia sangat malu dan tak mau melakukan ini semua. Tapi, tidak ada jalan lain. Ia harus mengumpulkan uang dulu sambil memikirkan rencana ke depannya.
__ADS_1
"Terima kasih upahnya Bu. Semoga selamat sampai tujuan," ucap David ketika ia mengantarkan belanjaan ibu-ibu dan memasukannya ke dalam bagasi mobil.
Setelahnya, David menggerutu karena si ibu itu jutek dan hanya memberinya upah yang sedikit. Padahal belanjaan yang dibawakannya sangatlah banyak. Bahkan ia harus dua kali panggul dari dalam pasar.
"Dasar ibu-ibu pelit! Udah gitu jutek lagi! Awas saja kalau balik lagi kesini!" kesalnya.
Sambil menunggu di parkiran, mata David menyipit ketika melihat seorang wanita yang berpakaian lusuh dengan rambut acak-acakan duduk di emperan toko. Wajahnya mengingatkannya pada seseorang yang ia kenal. Ketika hendak kesana, ada ibu-ibu yang meminta bantuannya karena motornya parkir di tengah-tengah. David pun mengurungkan niatnya untuk menghampiri wanita itu.
*
*
Tatapan matanya kosong. Air matanya terus mengalir dengan derasnya. Bahkan ia sudah tak peduli lagi dengan penampilannya. Semua harta dan barang berharganya sudah menghilang karena dirampok oleh preman. Bahkan ia pun jadi korban pemerk*saan preman itu juga. Bukan satu orang saja, melainkan tiga.
Selena hanya berharap janin yang dikandungnya keguguran karena pemerk*saan yang terjadi padanya. Namun, janin itu ternyata lebih kuat dari dugaannya. Selena bahkan terus menangis sambil memukul-mukul perutnya karena tidak terima bahwa ia sedang hamil sekarang. Apalagi perutnya sudah terlihat buncit.
Setelah kejadian di malam itu, hidupnya jadi tak karuan. Ia hanya berjalan luntang-lantung kesana kemari. Bahkan untuk makan saja, Selena meminta-minta dari orang-orang. Bahkan tak jarang ia pun mendapatkan pelecehan dari orang yang memberinya uang. Entah orang itu menyentuh p*ntatnya atau pun dadanya. Tapi Selena sudah tak peduli itu semua. Bahkan rasanya ia sudah tak mau hidup lagi. Rasanya ia ingin mati saja karena hidupnya telah hancur seperti ini.
Selena sudah melakukan berkali-kali percobaan bunuh diri, tapi entah kenapa selalu gagal dan gagal. Alhasil ia jadi capek sendiri. Dan wanita yang sedang duduk di emperan toko itu adalah Selena. Wajar jika David merasa mengenali wanita itu.
*
*
TBC
Mampir ke ceritaku yang lain yuk, udah tamat nih.
__ADS_1