Dibuang Setelah Melahirkan

Dibuang Setelah Melahirkan
Bab 68 - Tahanan tersayang


__ADS_3

Tak terasa satu Minggu pun telah berlalu. Keluarga Gaza beserta ia dan anaknya akhirnya akan pulang kampung juga untuk melakukan lamaran juga pernikahan disana.


Di sepanjang jalan, ada rasa gugup dan cemas yang Gea rasakan. Pasti semua orang akan membicarakan dirinya yang seorang janda dan menikah lagi dengan pria lajang. Apalagi berita perceraian antara dirinya dan David baru beredar beberapa bulan terakhir ini di kampung.


"Kamu kenapa? Kok kaya gelisah gitu?" tanya Gaza.


"Nggak papa, cuma kelewat rindu aja, sudah lama sekali aku nggak pernah pulang kampung," jawab Gea.


"Enggak bohong kan?"


Gea menggeleng.


"Ibu dan Bapa pasti senang melihat anak dan cucunya pulang ke kampung bawa calon suami. Apalagi calon suami adalah orang yang mereka kenali."


"Ih, pedenya kamu."


"Hahahah, bukan pede tapi pasti memang begitu," tebak Gaza.


"Iya deh."


Tak lama kemudian, Gea merasa mengantuk. Kepalanya pun terus bergerak ke kanan dan kiri mengikuti jalanan yang berkelok-kelok. Dengan pelan, Gaza menyandarkan kepala Gea ke bahunya agar tidak kemana-mana.


"Cuma seperti ini saja, rasanya jantungku mau meledak Ge. Kamu begitu menarik perhatianku sekali."


*


*


Akhirnya mereka telah tiba di rumah orang tua Gea. Gea dan Alwin turun dari mobil. Mereka langsung berpamitan tanpa mampir lebih dulu disana. Karena rasa lelah yang dirasakan.


"Alhamdulillah, kamu bisa pulang juga Nak. Ibu senang sekali. Apalagi pulangnya sama calon mantu. Gaza terlihat lebih tampan dan senyum terus sekarang."


"Iya ibu. Jangan memuji kalau di depan orangnya ya Bu, nanti dia kepedean."


"Huss! Kamu ini, ya nggak apa-apa toh. Lagian itu kenyataan. Ya sudah ayo masuk dulu. Kamu pasti cape habis perjalanan jauh. Sini biar Alwin ibu aja yang gendong."


Gea dan Alwin pun masuk ke dalam rumah.


*


*


Gaza sekeluarga pun telah tiba di rumah nenek dari Mama Hani. Mereka saling berpelukan melepas rindu yang sudah bertahun-tahun tak bertemu. Apalagi ketika melihat sang cucu, Nenek Ami jadi menangis karena rupanya cucunya sudah dewasa dan akan menikah.


"Ya Allah, cucu nenek sudah dewasa sekarang. Padahal dulu pas kecil makan aja pengen disuapin, tidur maunya ditemenin. Sekarang udah mau nikah aja. Semoga nanti kamu sama Gea bahagia ya Ga."


"Iya Nek, makasih ya doanya. Maaf kalau Gaza jarang nengok nenek ke kampung."


"Nggak papa. Nenek tahu, kamu pasti sibuk bantuin papa kamu di kantor. Ya sudah sana istirahat aja. Nenek udah siapin kamar untuk kalian semua."

__ADS_1


Mereka pun masuk ke kamar yang sudah disiapkan. Meski tak seempuk dan sebesar di rumah yang di kota. Tapi ini terasa nyaman. Gaza merebahkan tubuhnya di ranjang. Baru beberapa menit pisah dari Gea. Ia sudah merasa rindu. Ia pun berinisiatif untuk melakukan panggilan video dengan Gea.


Untungnya, panggilan video nya langsung diterima oleh Gea.


"Ada apa? Aku mau istirahat. Kamu juga istirahat gih!" ucap Gea.


Gaza mendengus sebal. Karena ia masih rindu dan belum ingin tidur meski lelah.


"Bentar dulu istirahatnya, baru beberapa menit berlalu aja, aku sudah ingin melihatmu lagi. Kenapa ya?"


"Idih, gombal. Kamu tuh nggak cocok Ga. Kaya bukan kamu tahu."


"Yeee, awas aja kalau aku gombalin lagi kamu tersipu. Aku cium juga kamu."


"Eh, enak aja. Mana boleh begitu. Belum sah, belum boleh cium-cium."


"Kalau udah sah kan boleh lebih dari sekedar ciuman. Ya kan Ge?"


"Ih, apaan sih! Jangan bahas kesana-kesana deh. Kamu tiba-tiba berubah jadi mesum."


"Hahahha, iya iya maaf. Alwin mana kenapa cuma sendirian di kamar?" tanya Gaza.


"Alwin sama ibu, tadi pas digendong dia kebangun dan sekarang lagi main sama ibu. Aku disuruh istirahat. Tapi malah diganggu sama kamu."


"Hehe," dibalas cengiran oleh Gaza.


"Baiklah, aku matiin ya."


"Bentar dulu elah. Buru-buru amat. Tidur mah tidur aja, jangan dimatiin ya? Mau ya?"


"Ih apaan kaya gitu. Jangan aneh-aneh deh Ga. Aku matiin ya, Dadah. Selamat istirahat."


Panggilan video pun langsung dimatikan oleh Gea. Gaza langsung kesal karenanya.


"Ih, cewek ini masih aja nggak peka. Aku kan beneran udah rindu. Huh! Awas aja kalau udah nikah kamu Gea. Aku bakalan bikin kamu cinta mati sama aku."


Gaza pun menempatkan kedua tangannya di belakang kepalanya. Ia melihat langit-langit kamar yang terbuat dari anyaman bambu. Tak lama kemudian, ia memejamkan mata dan tertidur.


*


*


Hari telah berganti, seperti apa yang dikatakan Gaza kemarin, kini keduanya sudah ada di minimarket tempat dulunya Gea bekerja. Disana lah mereka selalu jajan dan nongkrong setelah pulang sekolah.


"Masih sama seperti dulu. Nggak banyak yang berubah disini," ucap Gaza.


"Iya benar. Aku jadi merasa nostalgia."


"Bukan nostalgia kamu yang dekat dengan David di tempat ini juga kan?" tebak Gaza.

__ADS_1


"Enggak lah, meski hal itu dulu pernah terjadi. Tapi kenangannya seolah memudar dari ingatanku."


"Baguslah."


"Kamu ini orangnya cemburuan sekali ya?"


"Iya, makanya kamu jangan aneh-aneh. Aku bisa gila tahu."


"Maaf ya, aku enggak pernah sadar sama perasaan kamu."


"Nggak papa. Mungkin itu emang udah jalannya. Kita nikmati aja waktu yang sekarang Allah berikan untuk kita berdua."


Gea mengangguk. Keduanya makan mie instan cup yang sudah diseduh disana. Mereka bahkan terus bercerita tentang masa lalu, sampai lupa waktu.


Ketika malam telah tiba, Gea dan Gaza pun pulang berjalan kaki. Karena tangan keduanya yang berjauhan, Gaza mendekat ke Gea dan langsung menggenggamnya.


"Biar nggak ilang. Jadi harus digandeng," ucapnya.


"Emangnya aku kucing yang suka ilang-ilangan."


"Iya, semacam itu lah."


"Rasanya aneh ya, kita yang dulunya sahabatan bisa sedekat ini sekarang. Aku tidak pernah membayangkan ini sebelumnya."


"Aku sih pernah membayangkannya. Walau aneh, tapi kata orang hubungan yang seperti ini bisa awet sampai tua. Apalagi kita udah terbiasa saling curhat kalau ada masalah. Ya walau di awal memang terasa agak aneh, tapi setelah dijalani pasti nggak akan aneh."


Cup!


Tiba-tiba Gaza mengecup tangan Gea yang digenggamnya.


"Gaza."


"Karena cium bibir nggak boleh. Jadi aku cium punggung tangan kamu. Abis gemes banget. Pengen dikarungin terus aku bawa pulang dan aku kunci di kamar."


"Hih! Jahat banget kalau gitu mah, aku kaya tahanan dong."


"Iya tahanan tersayang aku."


"Gombalnya, ya ampun! Belajar dari mana sih Ga, hahaha."


Gea malah tertawa mendengar gombalan Gaza yang terdengar aneh di telinganya. Tapi ia tetap menghargai Gaza dengan menggenggam tangan Gaza dengan erat.


"Hih, ngeselin banget kamu."


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2