Dibuang Setelah Melahirkan

Dibuang Setelah Melahirkan
Bab 56 - Kebohongan Selena


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, Alwin pun sudah genap berusia 1 tahun. Gea merayakan ulang tahun Alwin di taman rumah Gaza dengan menggelar tikar disana sebagai alasnya. Untuk makanannya sendiri, Gea memilih untuk membuatkan Alwin nasi kuning. Semuanya tidak ada yang pesan dari luar, melainkan buatan Gea. Dimulai dari makanan, dekorasi taman yang dihiasi oleh balon-balon juga tamu yang diundangnya.


Entah sejak kapan Tamara dan Mama Hani kini tampak akrab tak seperti dulu lagi yang terlihat bermusuhan. Bahkan keduanya jadi sering mengobrol. Begitu juga dengan Tuan Giandratama dan Geovani. Mereka terlihat seperti teman lama yang berjumpa kembali.


Suasana yang tercipta hanya ada keharmonisan, bahagia juga canda dan tawa. Gea yang melihat itu juga jadi bahagia. Karena di ulang tahun yang pertama Alwin dihadiri oleh orang-orang yang menyayangi Alwin. Meski papanya tidak hadir, itu tidak jadi masalah. Karena tidak akan mengurangi suasana bahagia ulang tahun itu.


Pemotongan tumpeng pun dilakukan, potongan pertama Gea berikan ke Tamara, sesuai dengan keinginan Alwin. Lalu potongan-potongan berikutnya diberikan ke satu per satu dari mereka yang ada di sana.


Alwin bertepuk tangan ketika semua orang makan dengan lahap. Bahkan ia berceloteh tak jelas membuat orang yang melihatnya jadi gemas karena tingkah lucunya.


Tamara yang melihat cucunya terlihat bahagia, jadi ikut merasakannya. Memang seorang anak itu lebih baik ikut mamanya jika masih diusia yang sangat kecil. Ia jadi merasa lega tidak salah mengambil keputusan.


"Anak kamu sungguh bodoh meninggalkan Gea yang berharga. Bahkan aku aja ingin sekali menjadikannya menantuku," ucap Mama Hani ketika duduk bersebelahan dengan Tamara.


"Entahlah, aku juga nggak ngerti gimana pikiran David. Dia sudah dibutakan oleh cintanya. Kalau boleh egois, aku juga menginginkan Gea jadi menantuku lagi. Tapi, rasanya aku terlalu jahat kalau seperti itu. Bahkan sampai sekarang, aku pun tidak tahu bagaimana kabarnya. Ia sama sekali tak menghubungiku setelah diusir dari rumah," ucap Tamara menanggapi ucapan Mama Hani diakhiri dengan helaan napas.


"Aku cuma bisa berharap, dia benar-benar berubah. Dan semoga saja rumah tangganya dan kebutuhan ekonomi keluarga kecilnya lancar meski tidak dibantu oleh fasilitas orang tuanya," tambah Tamara lagi.


"Ya, berdoa saja, semoga apa yang kamu doakan bisa dikabulkan oleh Tuhan."


Tamara mengangguk. Lalu beralih memandangi cucunya yang tertawa dengan kerasnya ketika bermain bersama Gaza. Kalau dilihat-lihat Gaza adalah kandidat terbaik untuk menggantikan posisi David sebagai papa sambung Alwin. Ia pun jadi melirik ke arah Mama Hani.


"Apa Gaza tidak menyukai Gea?"


Mama Hani menghela napasnya dulu sebelum menjawab pertanyaan Tamara.

__ADS_1


"Tanpa aku menjawab pun, pasti kamu bisa menebaknya Tam. Hanya Gea yang tidak bisa melihat cinta yang Gaza berikan."


"Wajar saja, mungkin ada sedikit trauma yang Gea rasakan. Lagi cinta-cintanya malah dikhianati dan ditinggalkan. Itu pasti meninggalkan luka yang sangat dalam. Bahkan aku pun kalau disuruh untuk memulai ruang tangga setelah mengalami hal seperti Gea, pasti akan berpikir ribuan kalian. Karena yang harus dibahagiakan bukan hanya dirinya sendiri tapi anaknya juga."


"Kamu benar, tapi kalau tidak dipancing duluan, orang seperti Gea tidak akan peka. Kalau begitu terus, bisa-bisa anakku jadi bujang lapuk."


Tamara tertawa mendengarnya. Tapi, ia merasa kasihan juga. Tapi mengingat anaknya, ia lebih kasihan lagi. Hingga ia pun menghela napasnya.


*


*


Selena tiba-tiba merasakan tubuhnya lemas, kepalanya pusing dan perutnya seolah diputar-putar lalu dipelintir dengan sangat cepat hingga membuatnya mual dan ingin muntah. Ia berlari ke kamar mandi membuat David yang melihat itu jadi panik akan keadaan Selena.


Di depan ruangan, David menaruh tangannya di depan dagu sambil berjalan mondar-mandir menunggu dokter yang menangani Selena keluar dari ruangan. Ia benar-benar khawatir, takut Selena terkena sakit parah. Apalagi Selena itu orangnya jarang sakit. Tapi sekalinya sakit akan lama.


Setelah menunggu hampir setengah jam, dokter pun keluar dan tersenyum sambil menepuk pundak David.


David yang awalnya khawatir dibuat bingung dengan tingkah sang dokter. Tapi, ia memilih untuk menghilangkan kebingungan itu dengan bertanya keadaan istrinya.


"Istri saya kenapa, Dok?" tanya David.


"Istri anda sedang hamil. Usianya sudah masuk ke trimester kedua, alias memasuki bulan keempat kehamilan. Kandungannya kuat, keadaan janin di dalamnya pun baik-baik saja. Pingsannya tadi, hanya karena ia kelelahan. Sebaiknya ketika kandungan istri anda mulai membesar mohon untuk mengingatkan agar tidak melakukan hal-hal berat yang bisa membuat istri anda kelelahan."


David yang mendengar penjelasan dari dokter dibuat ternganga. Ia tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter. Seingatnya, istrinya memiliki rahim yang lemah, kecil kemungkinannya bisa hamil. Kalaupun bisa, itu artinya Selena harus benar-benar istirahat dan tidak melakukan kegiatan apapun.

__ADS_1


"Dok, apa benar istri saya hamil?" tanya David memastikan ucapan dokter.


"Benar."


"Tapi, dulu dokter mengatakan kalau kemungkinan istri saya bisa hamil dan janin bisa berkembang sangat minim dok. Karena rahimnya lemah. Usia satu bulan saja sudah langsung keguguran. Tapi, tadi dokter mengatakan kalau kandungan istri saya kuat. Apa dokter tidak salah mendiagnosa?"


"Apa yang saya ucapan benar adanya. Rahim istri anda memang baik-baik saja. Tidak ada yang salah. Selamat ya, sebentar lagi anda akan menjadi seorang ayah. Jika nanti istri anda sudah sadar, bisa langsung dibawa pulang."


Si dokter pun lalu pergi dari hadapan David.


Awalnya David terharu karena mendengar berita baik itu, karena itu artinya ia akan mendapatkan keturunan dari Selena. Yang artinya Tuhan memberikan mereka kesempatan untuk merawat anak, buah cinta mereka. Namun, seketika David teringat ucapan dokter yang mengatakan rahim Selena tidaklah lemah dan usia kehamilan Selena yang memasuki bulan keempat. Seingatnya, ia baru menjamah tubuh Selena dalam dua bulan terakhir ini. Karena Selena yang selalu sibuk dan seringkali pulang malam di bulan-bulan sebelumnya.


Tangan David tiba-tiba mengepal, aura kemarahan dan kekecewaan mulai menguasai dirinya. Tapi, ia mencoba menahannya karena kini ia berada di rumah sakit, sangat tidak mungkin ia melampiaskan amarahnya disana.


Tak lama kemudian, Selena membuka matanya dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi padanya. David hanya diam dan tak menjawab lalu mengajak Selena untuk pulang ke rumah saja.


Di dalam mobil taksi pun, David mendiamkan Selena. Membuat Selena jadi bingung dengan apa yang terjadi padanya dan apa yang terjadi pada David.


Setibanya di apartemen, David menyeret Selena untuk ke kamar dan menjatuhkan Selena ke atas ranjang lalu menatap tajam wajah Selena membuat Selena jadi merinding dan ketakutan.


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2