Dibuang Setelah Melahirkan

Dibuang Setelah Melahirkan
Bab 69 - Maunya liat kamu terus


__ADS_3

Waktu terus berputar begitu cepat, acara lamaran antara Gea dan Gaza pun digelar seminggu sebelum acara pernikahan. Semua keluarga Gaza datang untuk meminang Gea untuk Gaza. Acara terjadi begitu hikmat sampai pemasangan cincin yang dipasangkan oleh ibu dari keduanya.


Gaza tampak tak bisa berhenti untuk tersenyum karena merasakan senang yang teramat sangat. Ia bahkan merasakan jantungnya yang berdegup sangat cepat ketika melihat kecantikan Gea yang dibalut dengan baju kebaya.


"Cie, cie, yang bentar lagi jadi suami dan papa sekaligus," ledek sang nenek.


"Ih, nenek, apaan sih! Jangan buat aku jadi tersipu dong! Kan malu kalau dilihat orang."


Nenek tertawa kecil mendengar ucapan jujur dari cucunya.


Acara lamaran Gaza pun, sekaligus mempertemukan kedua orang tua Gea dengan orang tua David. Disana orang tua David secara resmi meminta maaf atas kesalahan anaknya yang dilakukan ke Gea. Mereka juga mengucapkan selamat atas lamaran Gea juga.


"Yang berlalu biarlah berlalu. Meski saya sebagai orang tuanya merasa sakit hati dan terluka mendengar anak saya satu-satunya dibuang oleh suaminya sendiri. Tapi, karena kalian berbesar hati mau meminta maaf. Saya akan coba mengikhlaskannya tapi saya tidak akan pernah melupakan rasa sakit anak saya kala itu," ucap Bapak.


"Ya saya mengerti. Saya berjanji akan selalu memberikan hak untuk cucu saya yang seharusnya diberikan oleh David."


Bapak Gea hanya mengangguk saja. Tak lama Mama Hani mendekati mereka dan mengajak semua orang untuk berfoto bersama.


*


*


Setelah acara lamaran selesai, Gea dan Gaza harus dipingit selama seminggu. Tidak boleh bertemu, tidak boleh video cal, dan tidak boleh berkirim pesan. Intinya keduanya tidak diperbolehkan untuk berkomunikasi.


Gaza menggerutu kesal di rumah neneknya. Padahal jaman sudah modern tapi kenapa tradisi pingit seperti ini masih sama saja. Harusnya kan dihilangkan. Itulah pikir Gaza.


"Nek, apa cuma berkirim pesan saja tidak boleh?"


Nenek menggeleng dengan cepat.


"Orang cuma seminggu ini. Nanti kan setelah kamu sudah menikah, kamu bahkan akan bersama setiap harinya. Jadi jangan menggerutu dan manyun seperti itu. Jelek tahu!"


Gaza jadi tambah manyun. Ia merasa seluruh tubuhnya lemas seketika. Karena selama ini ia selalu melihat Gea setiap harinya.


Sementara untuk keperluan semua acara pernikahan, Mama Hani lah yang mengurus semuanya. Dari mulai dekorasi, catering, hingga make-up dan souvenir nya. Ia sangat antusias sekali karena hal yang ditunggu-tunggu nya tiba, akan melihat anaknya menikah dan segera memiliki mantu sekaligus cucu.


*


*

__ADS_1


Dua hari sebelum acara pernikahan, Gaza mencuri ponselnya yang disita oleh sang mama di dalam kamar mamanya. Untungnya, mamanya masih sibuk untuk mengurus acara pernikahan.


Dengan hati-hati dan sambil lirik sana-sini, takut neneknya melihat, Gaza mengambil ponselnya dan masuk ke dalam kamar lalu menguncinya.


Gaza langsung menghubungi Gea melakukan panggilan video.


Untuk panggilan video pertama tak terjawab sama sekali.


Gaza pun memberikan pesan ke Gea untuk mengangkatnya, karena ia tak memiliki waktu. Ia pun kembali menelpon dan akhirnya diangkat juga.


"Akhirnya, bisa lihat juga," ucap Gaza dengan leganya.


"Kok kamu bisa hubungin aku? Kata Tante Hani, hp kamu disita."


"Hehe, aku diam-diam masuk ke kamar mama dan ambil hp sebentar. Tenang, nanti aku kembalikan lagi supaya mama tidak curiga."


Gea hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Rupanya apa yang dibilang Mama Hani benar. Kalau Gaza pasti akan mencoba cara apapun untuk menghubungi Gea. Makanya ponsel Gaza disita. Sementara Mama Hani percaya ke Gea kalau Gea tidak akan mungkin menghubungi Gaza duluan.


"Tante Hani lagi pergi sama ibu ke tempat catering. Katanya sih cuma pergi dua jam. Itu berarti sekitar 30 menit lagi mereka akan pulang," ucap Gea memberitahu.


"Aih, kenapa cepat sekali sih!? Aku kan ingin mengobrol banyak sama kamu, Ge."


"Kata siapa? Aku tidak tahan Gea. Rasanya setiap hari badanku lesu. Yang aku liat cuma mama, papa, nenek aja terus setiap hari. Maunya kan liat kamu terus."


"Gombal," ucap Gea sambil tersipu malu. Yang biasanya ia merasa geli mendengar gombalan Gaza. Entah kenapa ia pun kini tersipu juga. Atau karena Gaza tak bisa menggombalinya selama dipingit. Em, mungkin seperti itu.


"Itu jujur dari hati loh."


"Iya, iya, iya."


Tiba-tiba wajah panik Gea terlihat oleh Gaza.


"Ga, aku matikan ya? Mama dan ibu sudah pulang. Dah."


Gaza manyun lagi. Tapi dia pun segera membuka kunci kamarnya dan mengendap-endap masuk ke kamar mamanya sebelum ketahuan. Kemudian ia pura-pura duduk di ruang tamu sambil menonton televisi.


Tak lama kemudian Mama Hani pulang dengan membawa sampel makanan yang akan disajikan saat acara pernikahan nantinya.


"Coba deh Ga, ini sotonya enak banget. Mama sama ibunya Gea sudah coba tadi di tempat catering nya. Kebetulan mereka sedang membuat pesanan untuk acara hajatan orang lain."

__ADS_1


"Kalau nggak enak, aku boleh pergi ke rumah Gea ya ma?" ucap Gaza.


Mama Hani langsung melotot mendengarnya.


"Nggak bisa! Kamu itu lagi dipingit nggak boleh kemana-mana. Awas kamu!" ancam Mama Hani lalu pergi ke dapur untuk menuangkan satu bungkus soto ke mangkuk dan akan diberikan ke Gaza.


"Cobain," pinta Mama Hani yang menaruh semangkuk soto di atas meja.


"Boleh ya, ketemu Gea ma? Please!" pinta Gaza dengan memohon.


"Nggak!"


Mama Hani masih menolak, membuat Gaza mengerucutkan bibirnya. Tapi melihat makanan lezat dan aromanya yang sangat wangi, Gaza pun mencoba menyuapkan sesendok soto dulu. Karena enak, Gaza pun mengabiskan sotonya dengan cepat.


*


*


Beberapa jam sebelum hari pernikahan, Gaza tampak gugup sekali di dalam kamarnya. Ia bahkan tidak bisa tidur saking gugupnya. Jantungnya terus jedag-jedug seperti ada disko di dalamnya. Sampai suara mamanya pun terdengar yang menyuruh Gaza tidur supaya bangun-bangun dalam keadaan yang segar di hari pernikahannya.


"Iya Ma, ini juga mau tidur."


"Baguslah. Selamat tidur mantan bujang," ucap Mama Hani.


Jadilah, Gaza yang semakin gugup karena mendengar kata mantan bujang. Ia jadi membayangkan adegan yang tidak-tidak di kepalanya.


"Arghhh! Bisa gila aku!" teriak Gaza pelan agar mamanya tidak mendengar.


"Kalau aku tidak bisa tidur gimana? Duh! Gugup sekali!"


Gaza menyentuh dadanya yang masih berdegup kencang. Lalu mencoba merebahkan dirinya di kasur. Tapi ketika memejamkan matanya, yang terlihat adalah wajah Gea yang tersenyum begitu manis padanya.


Gaza jadi terbangun lagi. Ia tidak sabar menunggu hari esok sekaligus gugup bersamaan. Andai saja ia tidak gugup, mungkin semuanya akan terasa mudah.


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2