
Bug!
Seseorang memukul laki-laki itu dari belakang dengan sikunya hingga membuat cengkeraman tangan ke Gea mengendur dan kemudian terlepas begitu saja. Laki-laki itu adalah Ken. Ia lalu menghajar preman itu habis-habisan. Sampai wajah si preman babak belur dan jalannya sempoyongan.
Gea masih menangis, tapi ia mencoba berpikir jernih. Ia pun membereskan belanjaannya yang berserakan ke dalam kantongnya selagi ada waktu.
Tak lama kemudian, si preman itu pun pergi dari sana dengan keadaan buruk. Ken menatap ke arah Gea kemudian menundukkan kepalanya.
"Maaf Nona, saya datang sedikit terlambat. Tadi saya ketiduran," ucap Ken.
Gea mengangguk.
"Yang terpenting kamu tetap datang dan menolongku."
"Tapi tetap saja Nona, ini sebuah kesalahan. Apalagi kalau sampai saya tidak datang. Kesalahannya akan fatal sekali. Tuan Gaza pasti akan murka," balas Ken lagi.
"Ya sudah, berarti kamu jangan laporkan tentang yang terjadi malam ini. Beres kan?" ucap Gea dengan gampangnya.
Ken menggeleng. Ia tidak mungkin berbohong pada Tuan nya. Karena Gaza sudah banyak membantunya.
"Ya sudah lah, terserah kamu saja."
Gea pun berjalan menjauh dari sana dengan menenteng dua kantong plastik belanjaannya lagi diikuti Ken di belakang.
Sesampainya di kontrakan, Ken pun kembali ke tempat persembunyiannya yang ada disana.
Setelah memasuki rumah, Gea terus mengucap syukur karena ia masih diberikan keselamatan. Mungkin, jika tidak ada penolong tadi, Gea sudah jadi korban pemerk*saan.
"Terima kasih Ya Allah, terima kasih."
*
*
__ADS_1
Setelah mendapatkan kabar yang kurang mengenakan dari Ken, Gaza terus kepikiran tentang Gea bahkan sampai tidak tidur dibuatnya. Ia jadi gelisah dan khawatir berlebihan. Bagaimana jika ia tidak memerintahkan seseorang untuk menjaga Gea? Mungkin sudah banyak kejadian buruk yang menimpa wanita itu.
Gaza menghela napasnya. Memikirkan cara terbaik yang bisa ia bantu untuk Gea. Keselamatan Gea adalah yang utama. Baru setelah itu, apa yang Gea inginkan.
Pagi menjelang, Gaza, Mama Hani dan Tuan Geovani sedang duduk bersama untuk sarapan. Suasana di meja makan tampak hening yang terdengar hanyalah gesekan sendok dan garpu dengan piringnya.
Gaza memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.
"Eum, Ma, Pa, kalau semisal Gea tinggal di rumah kita apa boleh?" tanya Gaza agak sedikit gugup.
Kalau mamanya sih pasti setuju, tapi papanya? Masih belum bisa diprediksi.
"Memangnya kenapa dengan rumah kontrakannya?" tanya Mama Hani.
"Ya tidak apa-apa. Cuma terlalu berbahaya saja karena tidak bisa diawasi terus menerus. Kemarin malam saja, Gea hampir mau diperk*sa. Aku takut kalau kejadian buruk akan menimpanya lagi. Aku tidak tahu, apa kejadian semalam itu suruhan orang atau memang benar disana rawan dengan preman malam."
"Astaghfirullah, malang sekali wanita itu. Mama mah kalau Gea mau tinggal disini ya boleh-boleh saja. Mama malah senang jadi ada temannya. Tapi, kalau Gea nya sendiri tidak mau, kamu jangan terlalu memaksa Ga."
Gaza mengangguk karena ia pun meminta izin dulu supaya ketika Gea mau. Ia akan langsung membawa Gea ke rumah.
"Terserah kamu. Kalau tujuan kamu untuk menjaganya, ya lakukan saja," jawabnya kemudian memasukan satu sendok makanan ke dalam mulut.
Gaza mengangguk. Kini ia telah mengantongi izin dari keduanya. Tinggal bagaimana caranya ia membujuk Gea supaya mau. Gaza hapal betul, Gea tipe wanita yang keras kepala.
*
*
Semalaman Selena gelisah menunggu hasil dari orang suruhannya. Ia ingin sekali mendengar berita baik kalau Gea sudah diperk*sa oleh orang suruhannya. Namun, sampai pagi menjelang tak kunjung ada kabar. Bahkan Selena terus menghubungi pun tak ada jawaban.
"Aih, kemana sih si preman itu?" kesal Selena di dalam kamar. Ia bahkan terus berjalan mondar-mandir sudah seperti setrikaan saja.
"Kalau sampai gagal, aku akan merencanakan sesuatu yang lebih nekat lagi," tekad Selena.
__ADS_1
Tak lama kemudian si preman menghubungi Selena. Dengan cepat Selena 0un langsung menjawab panggilan itu.
"Heh! Kamu kemana saja? Aku hubungi kenapa tidak diangkat? Kamu belum memberikan laporan tentang kerjamu semalam! Bagaimana? Apa wanita itu sekarang sedang menangis ketakutan?"
Selena langsung menyemprot preman itu dengan emosinya dan beberapa pertanyaan.
Si preman jadi emosi juga. Karena ulah Selena ia seorang jadi babak belur dan susah untuk menggerakkan tangan kanannya karena semalam dipelintir oleh orang yang menolong Gea.
"Heh! Kau! Aku tidak mau menuruti keinginanmu lagi. Cari saja orang lain untuk melancarkan rencanamu. Gara-gara perintahmu! Aku jadi babak belur dan tidak bisa makan pakai tangan kanan karena sakit!"
"Heh! Bodoh! Apa maksudnya ucapanmu itu? Apa artinya kau gagal? Aish! Dasar bodoh! Kembalikan uangku kalau kamu tidak mau lagi membantuku!" marah Selena.
"Enak saja, uang ini sebagai biaya perawatan untuk luka yang aku terima."
Sambungan telepon pun terputus karena si preman mematikannya secara sepihak. Selena memukul-mukul ranjang di kamarnya karena kesal. Seharusnya kalau berhasil Gea pasti akan menangis histeris, dan merasakan trauma dan psikisnya terganggu karena adanya pemerk*saan itu. Tapi karena gagal, Selena jadi marah.
"Sial! Sial! Sial! Kenapa sih Gea selalu ada yang menolongnya? Aku jadi penasaran, seperti apa sih Gaza, temannya Gea itu? Sampai-sampai ia bisa menyewakan penjaga untuk Gea."
Selena pun mencari-cari data diri tentang Gaza di internet. Setidaknya ia harus tahu dulu seperti apa wajah Gaza untuk membuat rencana selanjutnya.
Selena tampak sedikit terpesona dengan Gaza. Laki-laki itu memiliki paras yang tampan dan berkharisma. Jika disandingkan dengan wajah David, sebelas dua belas lah ketampanannya. Apalagi laki-laki itu pun berasal dari keluarga kaya raya seperti David.
Satu ide cemerlang pun muncul di kepala Selena. Jika ia tidak bisa menghancurkan Gea lewat orang suruhannya. Ia akan membuat Gaza membenci Gea. Karena dengan begitu, Gaza pasti tidak akan membantu Gea lagi. Dan Selena akan mudah untuk menyakiti Gea.
Selena memikirkan rencananya itu sambil tersenyum miring.
"Tunggu saja Ge. Aku tidak akan membiarkan rencanamu berhasil untuk mendapatkan Alwin. Aku akan membuatmu menangis bahkan kalau perlu menangis darah sekalipun."
Selena mulai melancarkan aksinya dengan mencari-cari informasi tentang Gaza dari orang-orang yang sekiranya pernah bertemu dengan Gaza atau pun pernah menjadi klien dari laki-laki itu. Namun, tidak semuanya berjalan dengan lancar, karena memang tetap saja ada yang menolak. Kalau tiba-tiba Selena datang ke kantor Gaza, dia sendiri yang malu karena memang keduanya tak pernah saling mengenal apalagi bertemu.
Selena pun akhirnya berhasil mendapatkan informasi tentang perusahaan Gaza yang sedang membuat iklan untuk perusahaan mereka dan membutuhkan artis untuk jadi model di dalam videonya. Selena tersenyum senang. Kini ia memiliki celah untuk masuk kesana dan melancarkan aksinya.
*
__ADS_1
*
TBC