Dibuang Setelah Melahirkan

Dibuang Setelah Melahirkan
Bab 48 - Gea jujur


__ADS_3

Sarapan pagi di rumah Gaza terasa berbeda karena kehadiran Gea dan juga menu sarapan yang dibuatkan langsung oleh Gea. Meski sarapan itu diam tanpa kata, tapi raut wajah orang-orangnya terlihat sangat menikmati sarapannya.


Selesai sarapan, Gea pun membantu bibi untuk membersihkan bekas piring yang kotor itu. Meski sudah dilarang, Gea tetep kekeh ingin membantu. Jadilah, si bibi membiarkannya saja.


Suara dering ponsel Gea terdengar nyaring di telinganya. Ia pun menghentikan aktivitasnya.


"Bi, minta tolong lanjutin ya. Gea mau angkat telpon dulu."


ime


Gea pun pergi menjauh dari dapur ke ruang tamu dan duduk disana.


"Hari ini kamu sibuk, Run?" tanya Tamara.


"Tidak sih Tante. Cuma karena habis pindahan, badan aku jadi pegal-pegal aja," jujur Gea.


"Ah begitu, ya sudah tidak jadi deh. Tadinya Tante mau ajak kamu ke mall. Biar Alwin juga main-main disana."


Mendengar hal itu, Gea yang memang masih pegal-pegal langsung jadi semangat. Karena Alwin lah penyemangat dirinya.


"Kalau kesana nya agak siangan, sepertinya aku bisa Tante," ucap Gea yang berubah pikiran.


"Oke, kalau begitu nanti kita ketemu di tempat saja ya."


"Oke Tante."


Senyum Gea pun mengembang. Sudah beberapa hari terakhir ini Gea memang belum bertemu dengan anaknya lagi. Kalau sering-sering kesana, ia masih agak sedikit takut, kalau pulangnya akan diikuti dan mendapatkan perlakuan buruk dari David.

__ADS_1


*


*


Waktu berlalu, Gea, Tamara dan Alwin pun sudah ada di Timezone anak-anak. Tamara membiarkan Alwin bermain mandi bola bersama bayi yang lainnya. Cukup mengawasinya dari jauh.


"Kamu tahu Run, baik Selena maupun David, keduanya melarang Tante untuk bertemu sama kamu. Alasannya takut Tante tertipu sama sikap baik kamu katanya. Entah kenapa Tante jadi curiga sama mereka. Run, tolong katakan yang sejujurnya. Apa kamu benar-benar mengenal anak Tante sebelumnya?"


Gea bungkam. Ia memang ingin mengatakan yang sejujurnya. Tapi tidak di tempat ramai begini. Gea takut mamanya David akan shock dan tiba-tiba pingsan. Akan lebih baik, jika ia menceritakannya di rumah mamanya David saja nanti.


"Em, Tante, boleh tidak aku menjawabnya nanti saja?"


"Ya sudah, kalau kamu maunya seperti itu. Berarti nanti kamu mampir ke rumah Tante kan?"


Gea mengangguk.


Lalu keduanya pun jadi fokus ke Alwin yang sedang aktif-aktifnya bermain dengan merangkak. Apalagi bayi itu terlihat bahagia bisa bermain bersama bayi yang lainnya.


Sesampainya di rumah Tamara, rupanya Alwin sudah tertidur dengan pulas nya. Tamara pun mengantarkan Alwin dulu ke ranjang bayinya baru setelah itu melanjutkan pembicaraan yang tertunda di Timezone tadi.


"Tante," panggil Gea.


"Sebelumnya aku mau minta maaf dulu karena aku tidak berkata jujur siapa aku sebenarnya. Bukan maksudku untuk membohongi Tante. Tapi, kalau aku jujur diawal, aku takut, Tante tidak akan percaya padaku," ucap Gea lalu menghela napasnya. Menyiapkan hati akan tanggapan apa yang diberikan oleh mantan mertuanya ini.


"Hei, memangnya kamu bohong apa sama Tante?" tanya Tamara yang malah jadi penasaran.


"Semua yang aku ceritakan selama ini ke Tante. Orang yang yang sudah menyakiti aku, memanfaatkan aku untuk melahirkan seorang anak adalah Mas David anak Tante. Dan itu, direncanakan oleh Mas David dan Selena."

__ADS_1


Tamara terkejut bukan main. Ia tidak menyangka putra yang selalu ia banggakan itu malah menjadi laki-laki jahat yang memanfaatkan wanita polos dan baik seperti Gea. Tapi ia tidak ingin memotong pembicaraan Gea lebih dulu. Ia pun diam dan terus mendengarkan, meski buliran-buliran air mata sudah menumpuk matanya.


"Aku tidak tahu, alasan mereka apa hingga kejam sekali padaku. Padahal aku selalu melakukan yang terbaik semampuku selama menikah. Maaf Tante, aku mendekati Tante awalnya memang ingin membuat Tante percaya padaku dan aku ingin mengambil hak asuh Alwin. Tapi, melihat bagaimana Tante menyayanginya dengan tulus dan terus menjaganya dengan baik, ada sedikit rasa tidak enak hati di hatiku pada Tante. Tapi, aku tidak akan mengurungkan niatku untuk mengambil Alwin dari kalian," ucap Gea dengan matanya yang kini sudah berkaca-kaca.


Kini air mata pun jatuh juga dari mata Tamara. Ia tidak bisa marah ke Gea meski ia kecewa Gea membohonginya. Tapi ia pun sadar, apa yang dilakukan Gea adalah demi mendapatkan anaknya. Tamara pun jadi sadar, kenapa selama ini Alwin selalu ingin bersama Gea ketika ada Gea dan tak pernah menangis ketika ada Gea. Karena rupanya Alwin merindukan mamanya.


Tamara juga baru menyadari ucapan-ucapan sahabatnya yang mengatakan kalau Alwin tidak ada kemiripan dengan Selena. Karena memang benar Alwin bukanlah anak dari Selena. Sekarang semuanya sudah jelas. Tamara paham dan mengerti. Tapi, ketika Gea akan mengambil hak asuh dari Alwin, hatinya seakan teriris. Kehadiran cucunya di hidupnya, membuat ia jadi lebih bahagia. Namun, sepertinya Gea lebih membutuhkan Alwin.


"Maafkan aku Tante, sekali lagi aku minta maaf. Aku mohon, setelah ini Tante jangan membatasi pertemuan aku dengan Alwin. Aku sudah cukup menderita selama ini jauh dari Alwin. Bahkan ketika tidur pun aku selalu membayangkan Alwin tidur bersamaku di sebelahku."


Gea mulai terisak dengan tangisnya. Ia benar-benar berharap Tamara bisa mengabulkan permintaannya.


Tamara langsung memeluk Gea dan mereka pun sama-sama menangis. Tamara merasa sangat bersalah ke Gea atas kelakuan David padanya. Tapi ia jadi memiliki sedikit harapan untuk menjadikan Gea sebagai menantunya karena ada Alwin di tengah-tengah mereka.


Pelukan itu terlepas. Tamara menggenggam erat telapak tangan Gea.


"Kamu tidak usah terus-menerus minta maaf ke Tante, karena seharusnya Tante lah yang meminta maaf. Tante tidak bisa mendidik David dengan baik. Hingga ia bisa menyakitimu sehebat itu. Tapi, apa kalian tidak bisa rujuk?"


Gea menggeleng.


"Sedari awal, Mas David tidak pernah mencintai aku Tante. Dia hanya bersandiwara. Lagipula rasa cintaku padanya sudah pupus karena luka yang ia torehkan. Aku juga tidak ingin berada di situasi yang sama. Jadi, apa aku bisa memohon pada Tante, untuk membiarkan aku mengambil Alwin?"


Tamara terdiam. Ia tidak ingin mengatakan iya, tapi mengatakan tidak pun, ia iba pada Gea.


Sebelum menjawabnya, tiba-tiba saja Tuan Giandratama pulang dari kantor dan menatap heran ke dua wanita yang sedang menangis sambil tangannya saling menggenggam. Ia dibuat terkejut ketika melihat wanita yang bersama istrinya adalah wanita yang tadi ia lihat di kantor dari berkas informasi yang ia dapatkan dari anak buahnya.


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2