
Sarapan di hari itu adalah sarapan terakhir sebelum Gaza berangkat ke luar kota untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dengan kliennya. Meski Gea dan Gaza tak tampak banyak bicara seperti biasanya, tapi suasana meja makan masih terasa ramai karena Alwin yang selalu heboh kalau makan.
Mama Hani membantu Gaza untuk mendorong kopernya. Rencana Gaza akan berada disana sekitar 5 harian. Intinya ketika Gaza pulang ke rumah, waktu yang diminta Gea telah habis. Artinya Gea harus menjawab di hari itu.
"Jangan lupa untuk beri aku jawaban, setelah aku sampai lagi di rumah," ucap Gaza kemudian berjalan masuk ke dalam mobilnya dan melambaikan tangannya ke mama, papa dan juga Gea.
Papa Geovani sudah masuk ke dalam, sementara Mama Hani menghampiri Gea dan merangkul pundak Gea.
"Tante sudah tahu semuanya. Tante pun tidak akan memaksa kehendak mu. Kalau kamu memang tidak menyukai Gaza, tidak apa-apa. Jangan sungkan menolaknya. Tapi sebelum menolaknya, Tante harap kamu memikirkan semuanya matang-matang. Kalau kamu memang menyukai Gaza, Tante akan senang sekali. Intinya, jawaban ada di tangan kamu. Kami sekeluarga, sudah siap dengan apapun yang akan kamu jawab," ucap Mama Hani yang malah membuat Gea semakin kepikiran.
Gea pun pergi ke ruangan yang ada di dekat dapur, ia akan membuat kue disana. Pikirannya tak karuan. Sisi baiknya mengatakan, "Coba lihat hatimu! Jujurlah, sebenarnya kamu juga mulai mencintai Gaza tanpa sadar. Hanya saja, kamu terlalu takut untuk bersamanya. Jika terus-menerus kamu merasa takut. Sampai kapan? Sampai dia direbut orang?"
Lalu sisi jahatnya pun ikut memprovokasi Gea juga.
"Tolak saja dia. Bukankah kamu pernah mengatakan kalau kamu hanya ingin fokus pada Alwin? Kamu juga pastinya masih memiliki rasa takut jika dikhianati untuk kedua kalinya. Laki-laki itu semuanya sama aja. Jangan mau dibohongi. Jadi single mom lebih baik."
"Argh!"
Gea menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan isi kepala otaknya. Ia berusaha untuk fokus saja membuat kue. Masih ada waktu untuk memikirkannya lagi.
*
*
Keesokan harinya, Gea mencoba menelpon orang tuanya di kampung. Sebenarnya ia bingung mau mengatakannya mulai darimana. Pastinya ibu dan bapa pun akan terkejut ketika mendengarnya.
"Bu, Pa, Gea mau cerita sesuatu."
"Cerita apa Ge? Katakan saja, jangan ditahan-tahan," ucap Ibu.
__ADS_1
"Gea dilamar Gaza Bu. Gaza bilang dia menyukai Gea. "
"Alhamdulillah," ucap ibu dan bapa bersamaan.
"Kenapa ibu dan bapak kedengerannya senang sekali?"
"Ya, kalau punya mantu seperti Gaza pasti ibu senang lah. Orang baik anaknya ya. Ibu dan Bapa juga tahu dia gimana sikapnya. Kamu udah jawab kan Nduk?" tanya ibunya.
"Belum Bu. Gea masih bimbang."
Kali ini bapak yang mulai bicara.
"Kenapa harus bimbang? Kamu kan sudah tahu sendiri gimana perilakunya kepada orang tuanya dan kepada ibu dan bapa. Apalagi yang kamu cari Nak? Asal kamu tahu Nak, Gaza itu sudah suka sama kamu dari lama. Kamunya saja yang tidak menyadari itu. Makanya bapa dulu awalnya tidak merestui kamu dengan David. Karena bapak menunggu Gaza yang melamar mu duluan. Terus juga bapak kan nggak tahu apa-apa tentang David dulu. Tiba-tiba kamu datang bawa dia dan mengatakan sudah dilamar."
"Jadi, selama ini bapak tahu kalau Gaza menyukai aku?"
"Berarti memang aku yang bodoh ya Pa? Orang terdekatku menyukai aku saja aku tidak sadar. Apa aku pantas bersamanya pa? Aku takut, aku ragu."
Suara Gea mulai lirih, ia beneran takut, ia belum siap dengan kondisi ke depannya yang akan ia hadapi. Sudah berasal dari keluarga biasa, janda beranak satu pula. Ia takut tidak bisa beradaptasi, ia takut tidak dianggap lagi. Ia takut keluarga besar Gaza banyak yang tidak setuju. Pokoknya semuanya ia takutkan.
"Nduk, dengarkan bapa baik-baik. Rasa takut itu emang wajar. Tapi jangan terlalu berlebihan. Apa yang kamu takutnya sebenarnya bisa kamu hadapi dengan tenang. Jangan terlalu memikirkan gimana ke depannya. Karena ke depannya nanti kamu tidak sendiri kalau sudah menerima lamaran Gaza. Kalian sudah menjadi satu kesatuan. Sekarang bapa mau tanya, kamu menyukai Gaza apa tidak?"
Gea terdiam sejenak lalu menjawabnya.
"Gea sayang sama Gaza dari dulu Pa, tapi sebagai sahabat. Cuma, setelah lama tinggal di rumah Gaza, perhatian Gaza ke Gea, membuat Gea jadi merasakan perasaan yang aneh. Tapi Gea selalu menyangkalnya kalau itu cinta."
"Jangan disangkal terus Nduk. Kamu memang sudah jatuh cinta. Jawablah kalau kamu menerima lamarannya. Bapak dan ibu setuju. Kalau kamu menolaknya, berarti kamu bodoh Ge. Orang sebaik dan sebertanggungjawab seperti Gaza kamu sia-siakan. Lalu apa bedanya kamu dengan David? Yang menyia-nyiakan istri penurut dan penyayang seperti kamu?"
Seketika Gea jadi terdiam dan berusaha menyerap kata-kata yang diucapkan oleh bapaknya.
__ADS_1
"Baik pak, Gea akan menerimanya. Gea akan mengatakannya sepulangnya Gaza dari luar kota. Terima kasih pa, Bu, kalian berdua sudah membuka mata hati Gea."
"Sama-sama Nduk! Kalau sudah ada jodoh di depan mata yang baik jangan ditolak Nduk. Takutnya kualat!"
"Iya Bu. Kalau begitu Gea tutup ya. Gea mau kasih makan Alwin dulu. Suara tangisnya udah kedengeran."
"Iya, salam dari ibu dan bapa untuk keluarganya Gaza."
"Iya bu. Nanti Gea sampaikan."
Sambungan telepon pun berhenti. Gea kelaut dari kamarnya dan pergi ke rumah keluarga. Disana sudah siaga Mama Hani yang menenangkan Alwin. Gea yang melihat itu menjadi terharu. Pasalnya, Alwin bukanlah cucu dari Mama Hani, tapi dia begitu menyayangi Alwin seperti cucunya sendiri. Seketika Gea jadi tersadar. Dia akan menjadi orang terbodoh di dunia jika menolak Gaza. Apalagi, belum tentu nantinya ia memiliki mertua yang sebaik Mama Hani dan Papa Geovani. Bahkan selama tinggal disana, Gea tak pernah diizinkan untuk membayar sewa kamarnya, biaya makannya atau sekedar bantu-bantu membersihkan rumah. Mama Hani hanya mengizinkan Gea untuk memasak saja, hanya itu.
"Makasih ya Tante sudah menenangkan Alwin. Kalau begitu Gea mau ke dapur dulu, buatkan makan siang untuk Alwin. Minta tolong jagain Alwin dulu sebentar ya Tante."
Mama Hani mengangguk. Gea pun pergi ke dapur dan langsung mengambil bahan-bahan di dalam kulkas. Ia mulai bereksperimen. Setelah selesai, Gea membawakan semangkuk kecil makanan untuk Alwin. Ketika Gea mau menggendong Alwin, Alwin malah menggeleng, seolah menjawab kalau ia ingin sama Mama Hani saja.
"Sudah, nggak papa, biar Tante yang suapin Alwin makan. Mending kamu istirahat aja. Pasti cape kan seharian buat kue."
"Makasih ya Tante, maaf ya kalau nantinya Alwin rewel dan bikin Tante kerepotan."
"Nggak papa. Tante malah suka."
Gea pun memilih pergi dari ruang keluarga. Ia pun menoleh sebelum melangkah jauh, ia kira Alwin akan menangis, rupanya Alwin malah anteng-anteng saja dan tidak rewel. Sepertinya anaknya pun telah memilih Mama Hani sebagai omanya.
*
*
TBC
__ADS_1