
Kehadiran Alwin di tengah keluarga Gaza menjadikan rumah itu jadi ramai dan ada tangisan bayi di malam harinya. Tapi, tak ada yang merasa terganggu sama sekali. Malah mereka jadi ingin cepat-cepat punya cucu sendiri.
Begitu juga di pagi harinya, meja makan jadi penuh keceriaan karena ketambahan satu personil yang ikut makan di meja makan. Apalagi bayi gembul itu makan dengan lahap dari suapan sang mama. Melihatnya makan saja sudah membuat semua orang yang melihatnya jadi kenyang.
Gea sangat bersyukur Alwin bukan anak yang susah makan. Ia malah sangat lahap dan mudah makan. Bahkan digendong siapapun tidak menangis. Kecuali oleh Selena. Mungkin bayi itu tahu siapa yang baik dan jahat.
Mama Hani jadi gemas sendiri dibuatnya. Ia benar-benar sudah tidak sabar ingin punya cucu sendiri.
"Ge, apa rencana kamu setelah ini? Alwin kan sudah ada di tanganmu. Apa kamu akan menetap di Jakarta?" tanya Mama Hani.
"Aku belum tahu Tante. Kemungkinan aku akan tetap disini karena aku masih ada kontrak dengan toko yang menjual kue ku. Aku tidak bisa meninggalkan itu begitu saja. Karena ada denda yang harus aku bayarkan jika memutuskan kontraknya. Tapi, mungkin aku tidak bisa tinggal di rumah ini lagi Tante. Aku tidak enak jika terus-terusan menumpang. Apalagi selama ini aku tidak membantu apapun kecuali menyiapkan sarapan."
"Hih, jangan tidak enak begitu. Tante malah senang kamu disini. Lagipula itu juga lebih aman untuk kamu dan Alwin. Siapa bilang kamu menumpang, Tante kan sudah menganggap kamu seperti anak sendiri. Lagian papanya Gaza juga tidak melarang. Pokonya Tante tidak mengizinkan kalau kamu keluar dari rumah."
Mama Hani melarang keras jika Gea ingin keluar dari sana. Lalu Gea bisa apa? Ia hanya bisa menurut saja, karena percuma jika ia tetap ngotot, pastinya Gaza pun akan ikut melarang juga. Mungkin memang jalan terbaik saat ini adalah tetap berada disana.
*
*
David masih berjalan-jalan sambil melihat-lihat kertas-kertas yang menempel di sepanjang jalan dan tiang yang ia lewati. Begitu juga dengan baliho besar yang mengiklankan perusahaan investasi yang katanya bisa membuat uang para nasabah berlipat ganda dalam jangka waktu kurang lebih dari 3 bulan. David yang gelap mata jadi mencatat alamat kantor perusahaan itu juga nomor telepon yang tertera disana.
Hari itu juga, David mendatangi perusahaan investasi itu dan berniat untuk menginvestasikan seluruh uangnya agar berlipat ganda.
Ternyata ketika ia datang ke perusahaan investasi, pemilik investasi itu adalah Yoga, teman SMA nya dulu yang pernah David bully. David agak sedikit shock tapi tetap melanjutkan keinginannya untuk menginvestasikan uangnya.
"Kenapa kamu sampai mau menginvestasikan uangmu? Bukankah kamu anak dari Tuan Giandratama yang punya perusahaan besar? Aku sampai shock ketika melihat kedatanganmu ke perusahaan ku. Karena biasanya yang datang adalah para pengusaha baru, para pedagang dan pejabat tingkat kabupaten ke bawah. Kamu dibuang oleh papamu?"
Kalimat sindiran keras dari Yoga membuat David mengepalkan tangannya. Kalau saja ia tidak butuh, ia pasti tidak akan menahan emosinya. Ia mungkin saja bisa langsung memukul wajah Yoga dengan membabi buta seperti jaman dulu.
"Katakan saja apa syaratnya. Jangan tanyakan apapun yang tidak relevan dengan apa yang ingin aku lakukan sekarang. Aku lihat-lihat dari testimoni yang pernah investasi di perusahaanmu mereka selalu mendapatkan untung."
"Tidak semuanya mendapatkan untung, ada yang buntung juga."
__ADS_1
"Tapi kebanyakan berhasil kan? Jadi, aku minta kamu harus bisa membuat uangku berlipat ganda."
"Kalau maumu begitu, minta saja sana sama papamu!" kesal Yoga.
David yang sudah hilang kesabaran jadi menarik kerah Yoga dengan keras.
"Kalau tidak bisa membantu, jangan sok-sokan buat perusahaan investasi."
Setelahnya David melepaskan tangannya dari kerah Yoga, ia pergi dari sana dengan raut wajah yang masih berapi-api. Bahkan ketika ia keluar dari perusahaan itu, ia sesekali mengumpat untuk Yoga.
Baru juga beberapa langkah jauh dari perusahaan Yoga, ada orang yang menghampirinya dan menawarkan investasi yang keuntungannya lebih besar dari yang perusahaan Yoga tawarkan. David yang gelap mata langsung mengajak orang itu bicara di tempat yang lebih enak untuk bicara.
Setelah perbincangan yang dilangsungkan hampir satu jam. Akhirnya David setuju untuk berinvestasi di perusahaan itu. Kesepakatan pun sudah terjalin dan tanda
tangan kontrak pun sudah dibubuhkan di atas kertas.
David pulang dengan riang gembira menunggu uangnya berlipat ganda dalam waktu 3 bulan.
*
*
Di kala ia beristirahat itu, ada seorang model pria yang mendekatinya. Kalau dilihat dari wajahnya, laki-laki itu sangat tampan dan terlihat masih sangat muda. Tapi ketika keduanya saling bicara, rupanya mereka seumuran dan obrolan mereka terasa saling nyambung dan sudah seperti teman lama yang bertemu kembali.
"Haha, aku tidak menyangka ternyata kamu punya jiwa humoris juga. Padahal awalnya aku kira, kamu itu orangnya kaku dan tidak mudah mengobrol dengan orang lain, Steve."
"Makanya, kalau lihat orang itu jangan dari luarnya saja. Aku dengar-dengar kamu sudah menikah dan punya anak. Tapi, kalau dilihat-lihat, kamu hebat sekali ya bisa mudah menurunkan berat badanmu seperti masih gadis saja," puji Steve pada Selena.
Selena hanya bisa tersenyum menanggapinya lalu berucap, "Ya baguslah kalau masih terlihat seperti gadis. Itu artinya aku awet muda,"
"Haha, iya benar juga. Pasti suami mu sangat mencintaimu ya?" tanya Steve lagi.
"Ya begitulah," jawabnya.
__ADS_1
Obrolan itu harus terhenti karena Steve harus melakukan pemotretan lagi.
"Kapan-kapan kita mengobrol lagi ya."
Selena mengangguk.
Setelah kepergian Steve, Selena tersenyum senang.
"Jangan-jangan Steve suka sama aku," ucap Selena dengan percaya dirinya. Seakan-akan ia lupa kalau sudah memiliki suami. Bahkan ia jadi kecentilan sendiri dengan senyum-senyum di depan cermin.
"Kalau Mas David tidak bisa lagi memenuhi kebutuhanku, mungkin Steve bisa jadi targetku," ucapnya lagi.
*
*
Alwin sudah Gea tidurkan di kamarnya. Meski lelah karena Alwin aktif seharian, Gea merasa sangat senang karena bisa berperan sebagai seorang ibu yang sesungguhnya. Bahkan terkadang ia merasa seperti semuanya hanyalah mimpi. Tapi melihat Alwin yang ada di kamarnya, ternyata semuanya adalah nyata.
Gea mengambil minuman dingin di dalam kulkas. Ia menutup kulkas itu dan langsung meminumnya.
"Mau minum juga?" tawar Gea ketika melihat Gaza yang akan membuka kulkas.
Gaza mengangguk. Gea pun mengambilkan minuman dingin berwarna orange untuk Gaza. Gaza menerimanya dan langsung meneguk minuman itu.
"Bagaimana perasaanmu hari ini? Ini pertama kalinya kamu bersama anakmu seharian," tanya Gaza.
Gea tersenyum membalasnya. Senyuman Gea itu sudah bisa Gaza simpulkan apa yang dirasakan oleh Gea.
*
*
TBC
__ADS_1