
Beberapa hari telah berlalu, Gea kini tengah bersiap untuk menemui pria yang akan dikenalkan oleh Mama Hani padanya di sebuah restoran. Awalnya ia hanya akan memakai setelan pakaian atasan dan bawahan. Tapi ketika Mama Hani melihatnya, wanita paruh baya itulah yang memulai mendandani Gea kembali dari rambut hingga kaki.
"Nah, begini baru cocok untuk kencan buta. Kalau penampilan seperti kamu tadi, cocoknya untuk ketemu sama klien."
"Apa ini tidak terlihat berlebihan Tan? Kan cuma mau kenalan doang? Itu pun belum tentu cocok."
"Jangan pikirin itu. Tapi katanya kesan pertama bertemu seseorang itu akan selalu terkenang. Oh, iya. Tante sudah siapkan mobil dan supir buat anterin kamu ke tempat ketemuan. Sayang kan udah dandan cantik begini kalau kamu nya naik motor. Bisa-bisa luntur semua di jalan."
"Terserah Tante aja deh."
"Bagus."
*
*
Di sebuah restoran mewah, Gaza tengah duduk menunggu klien penting yang ingin menjalin kerja sama dengan perusahaannya. Mamanya tidak memberikan foto orang tersebut melainkan hanya memberikan ciri-cirinya saja. Katanya orang itu adalah wanita, memakai dress warna pink, rambutnya digerai, masih muda dan cantik. Tapi sedari tadi ia menunggu, ia hanya melihat wanita tua, anak kecil, anak remaja dan pelayan yang terus mondar-mandir melayani pelanggan.
"Lagian mama aneh-aneh saja. Kenapa nggak ngasih foto orangnya sih? Kalo begini jadinya kan aku yang bingung sendiri. Gimana kalau nantinya salah orang? Kan bisa gawat! Hadeh!"
Di saat Gaza fokus pada ponselnya dan terus berkirim pesan dengan mama karena orangnya tak kunjung datang. Mamanya malah menelpon.
"Orangnya baru aja sampai di bawah. Paling dua sampai 5 menit lagi ada di hadapanmu. Cantik banget orangnya. Kalau bisa kamu gombalin supaya kamu bisa mengajaknya bekerjasama. Pokoknya mama nggak mau tahu. Kamu harus berhasil."
"Hih! Mama! Gimana bisa berhasil coba, mama aja nggak ngasih tahu aku apapun tentang perusahaannya. Detail kecilnya aja nggak? Kalau nanti gagal gimana coba?"
"Harus berhasil pokoknya. Kalau gagal, kamu mama pecat jadi anak!"
"Sadisnya mama!"
"Ya gimana lagi, soalnya dia orang penting, menyangkut kelangsungan hidup keluarga kita. Kalau sampai gagal bisa-bisa tak ada kesempatan lagi. Nanti kamu akan menyesal di kemudian hari."
"Iya, iya, iya Ma. Aku akan berusaha sebaik mungkin supaya dia mau bekerja sama dengan perusahaan kita."
"Bagus, sudah 3 menit berlalu, katanya dia sudah sampai di lantai dua. Jangan fokus sama hp terus. Liat ke depan dan lihat betapa cantiknya dia. Mama harap kamu tidak mengecewakan kesempatan yang mama berikan. Semoga berhasil putraku!"
Sesuai dengan ucapan sang mama, Gaza pun melihat ke arah depan dan mendapati seorang wanita cantik mengenakan dress berwarna pink. Pokonya sesuai dengan apa yang mamanya bicarakan ciri-cirinya. Namun ketika semakin mendekat, ia jadi terkejut mengetahui kalau wanita itu adalah Gea.
__ADS_1
"Halo! Sudah lihat kan? Cantik kan hasil karya mama? Selamat berkencan!"
Tut!
Sambungan telepon terputus sepihak dari sang mama. Gaza mengumpat di dalam hatinya.
Ya Tuhan mama! Ternyata ini maksudnya. Aku bahkan nggak tahu harus berkata apa sekarang. Gea terlihat seperti bidadari yang turun dari langit.
Gea terus melihat ke sekeliling, mencari tempat duduk yang dijelaskan oleh pelayan untuk pertemuannya dengan pria yang entah siapa. Tapi, disana ia hanya melihat satu meja yang ada pria mudanya. Gea pun berjalan kesana. Namun ketika sudah dekat, ia merasa terkejut karena laki-laki itu adalah Gaza, sahabatnya sendiri. Antara mau menghampiri atau pergi. Namun, mengingat bagaimana antusiasnya Mama Hani ketika mendandaninya, Gea memutuskan untuk menghampiri.
"Gaza, jadi kamu pria yang mau dikenalkan Tante Hani untuk kencan buta denganku?"
"Hah?" Gaza amat sangat terkejut mendengarnya. Rupanya mamanya benar-benar tidak main-main dengan apa yang diucapkannya tadi.
"Ah, iya, duduk Ge."
Gaza mempersilahkan Gea untuk duduk. Tapi matnaya tak bisa berpaling dan berkedip sedikit pun karena kecantikan Gea yang paripurna.
"Aku tidak menyangka, mama kamu akan meminta anaknya sendiri untuk kencan buta denganku. Apa kamu tahu ini semua?"
Gaza menggeleng.
"Jujur, awalnya aku agak gugup, karena ini pertama kalinya akan bertemu dengan pria yang tak aku kenal. Tapi ternyata pria itu adalah kamu, aku lega."
Gaza tersenyum senang.
Apa memang ini sudah saatnya aku menyatakannya? Suasananya sudah sangat pas sekali.
"Katanya kamu belum kepikiran untuk memiliki pasangan lagi. Kenapa kamu mau mengikuti perintah mamaku?"
"Aku tidak enak jika menolak, mama kamu sangat bersemangat ketika ingin mengenalkan ku pada seorang pria. Jadi, ya seperti itulah."
"Em begitu, jujur aku sempat tidak sadar kalau ini adalah kamu. Benar-benar berbeda."
"Haha, iya sih, biasanya kan aku buluk, sekarang aku disulap jadi cantik gini oleh mamamu."
"Sedari dulu kamu cantik Ge. Tapi sekarang sempurna. Bahkan aku sampai terpesona," ucap Gaza.
__ADS_1
"Apaan deh! Kamu tuh nggak pandai gombal Ga. Jangan aneh-aneh deh! Bilang aja, dulu aku buluk."
Gaza menggeleng.
Pelayan datang membawa pesanan yang telah dipesankan oleh Mama Hani.
"Makan dulu, Ge. Habis itu ada hal yang mau aku bicarakan."
"Baiklah."
Keduanya makan dalam diam. Gea fokus pada makannya sendiri. Sementara Gaza malah curi-curi pandang ke arah Gea. Untungnya, Gea tidak sadar itu.
Setelah makanan sudah habis, Gea pun menanyakan tentang obrolan yang akan dibahas oleh Gaza.
"Em ... "
Gaza tampak gugup untuk memulainya. Tapi kalau ia terus menerus jadi pengecut, benar apa kata sang mama. Bagaimana jika nantinya Gea malah jadian sama yang lain. Gaza tidak mau itu.
"Aku yakin setelah kamu mendengarkan ini. Kamu akan terkejut dan tidak percaya. Tapi aku harap, kamu tak akan menjauh. Tetaplah seperti kita yang sekarang."
Gea tampak menaikan alisnya, karena ucapan Gaza barusan agak ambigu dan tak ia mengerti.
"Katakan saja."
"Sebenarnya aku menyukaimu sudah dari lama Ge. Bahkan sebelum kamu mengenal mantan suamimu."
Mata Gea membulat dengan sempurna. Ia benar-benar tidak percaya itu.
"Jangan becanda Ga! Nggak lucu!"
"Aku lagi nggak sedang bercanda, Ge. Ini kenyataan."
"Kumohon, jangan katakan lagi! Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana."
"Tidak bisa, aku mau mengutarakan semuanya. Aku ingin kamu tahu. Sebenarnya dulu ketika aku pulang ke kampung nenek, aku ingin mengajakmu untuk menjalin hubungan. Rupanya aku kalah, karena kamu sudah dekat dengan pria lain. Apalagi kamu mengatakan kalau pria itu telah melamar mu. Hatiku sakit saat itu Ge. Aku jadi mengurungkan niatku. Karena aku takut kamu akan menjauh dariku. Apalagi ketika melihatmu bahagia di hari pernikahanmu dulu, aku semakin rapih Ge. Tapi aku bisa apa? Hanya mampu memandang mu yang tak bisa aku gapai. Sampai akhirnya kita hilang kontak selama setahun dan kamu mulai memberikan pesan padaku. Sejak itu, aku jadi semangat lagi dan berharap bisa bersamamu. Sampai akhirnya kamu selalu ada bersamaku, tinggal di rumahku, bahkan selalu mengisi hari-hariku. Tapi kita masih dalam hubungan persahabatan, aku tidak mau. Aku ingin lebih Ge. Aku ingin menjadikan kamu sebagai satu-satunya wanita pemilik hatiku."
*
__ADS_1
*
TBC