
David mendapatkan laporan dari anak buahnya kalau ia gagal mengikuti Gea. Ia kehilangan wanita itu ketika di lampu merah. David semakin marah dan terus melemparkan barang yang ada di kamarnya.
Selena yang baru saja masuk kamar dibuat terkejut dengan kondisi kamarnya yang sudah berantakan bak kapal pecah.
"Mas! Kenapa berantakan kamar kaya gini! Memangnya siapa yang mau membereskannya!" kesal Selena.
David menoleh ke sumber suara dan menatap datar wajah istrinya.
"Gea ada di Jakarta. Tadi dia ke rumah. Ia sudah mulai beraksi untuk menghancurkan kita dan sepertinya ia ingin mengambil Alwin dari kita," ucap David.
"APA!!!!"
Selena dibuat terkejut untuk kedua kalinya. Kali ini rasa terkejutnya semakin menjadi dibarengi rasa amarah dan kesal.
"Kenapa bisa sampai Gea ada di Jakarta sih Mas! Katanya, Mas selalu mengawasi Gea, kenapa bisa kecolongan begini? Pokoknya aku nggak mau tahu, kita harus singkirkan Gea. Kalau sampai semuanya terbongkar, tamat riwayat kita Mas!"
"Aku sudah menyuruh anak buahku untuk mengikuti Gea tadi, tapi kehilangan jejak," ucap David lagi.
"Ck! Kenapa kamu punya anak buah bodoh sekali sih Mas! Harusnya cari mata-mata itu dari geng mafia. Pasti bisa diandalkan!" saran Selena.
"Diam kamu! Andai saja kamu tidak usah bekerja lagi, pastinya mama tidak akan kenal dengan Gea karena tidak ada celah untuk Gea kenal mama!"
"Kenapa jadi nyalahin aku sih, Mas! Ini semua gara-gara kamu yang salah pilih istri kedua! Sudah aku bilang, cari yang bodoh dan polos, kalau bisa yang paling miskin sekalian, supaya tidak bisa berkutik jika kita ancam!"
Karena terus disalahkan oleh sang istri, David jadi kesal dan marah sampai-sampai ia mencengkram pergelangan tangan Selena dengan kuat.
"Mas, sakiiiiit ...." rintih Selena.
Seolah tak mendengar rintihan itu, David malang mencengkram semakin kuat. Namun, lama-lama kemudian, David pun melepaskan cengkeraman tangannya.
Ada bekas merah di pergelangan tangan Selena. Selena langsung meraih tangannya yang merah itu lalu menatap sang suami dengan marah. Kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
David mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia tidak bisa mengendalikan emosinya sendiri karena terlalu kesal dengan situasi sekarang ditambah istrinya bukannya mencarikan solusi malah ikut menyalahkannya. David melempar bantal di atas ranjangnya. Kemudian menendang high heels Selena yang ada di lantai.
__ADS_1
*
*
Esok harinya, Gea mengantarkan kuenya ke toko di ujung jalan. Sudah sebulanan ini, Gea selalu mengantarkan kue nya kesana. Hari ini adalah penentuannya, apakah Gea bisa lanjut menitipkan kue disana atau harus mencari tempat lain lagi.
Si kasir memberikan laporan omset penjualan dari kue milik Gea. Lalu menjelaskannya. Di minggu pertama, omsetnya masih sedikit, bahkan jumlah kue yang dititipkan Gea tiap harinya hanya habis setengahnya saja. Di minggu kedua, omsetnya naik jadi yang habis tiga per empat dari kue yang diantarkan Gea. Di minggu ketiga, kue itu habis, dan di minggu itu juga banyak permintaan pelanggan. Oleh karena itu, Gea diminta untuk membuat kue dalam jumlah yang lebih banyak lagi. Lalu di minggu keempat, kue Gea dinobatkan jadi kue yang paling banyak dicari. Bahkan karena Gea membuat kue dengan rasa varian baru, membuat pembeli meminta rasa yang lain lagi.
"Jadi, karena setiap minggunya omset kue Mba terus mengalami peningkatan, kue Mba akan terus ada di toko kami. Dan untuk itu juga, Mba akan jadi supplier resmi disini. Oh iya, besok manager toko mau bertemu mba dan melakukan tanda tangan kontrak resmi untuk 6 bulan pertama," jelas si kasir.
"Alhamdulilah, terima kasih ya Mba. Besok saya pasti akan datang. Karena ini berita baik untuk saya. Besok saya juga akan menambah jumlah kue yang biasanya saya antar."
Si kasir mengangguk. Gea pun pamit dari sana dengan rasa syukur dan senang. Bahkan Gea tak henti-hentinya tersenyum.
Gea berjalan pulang untuk ke rumahnya, di jalanan, ia merasa ada seseorang yang mengikutinya. Kalau orang suruhan Gaza, dia ada di jalanan seberang. Gea pun bisa melihat orang itu. Tapi, ini, bahkan bulu kuduk Gea saja jadi berdiri saking takutnya. Apalagi jalanan yang ia lewati sekarang, terlihat sepi, motor pun tak ada yang lewat satu pun. Rasanya ingin menoleh ke belakang, tapi Gea terlalu takut untuk itu. Namun, demi kebaikannya sendiri, Gea pun memberanikan dirinya untuk menoleh ke belakang. Ternyata tidak ada siapa-siapa disana.
"Loh nggak ada orang? Apa ini cuma firasat ku saja ya?" pikir Gea.
Ketika Gea akan dibawa pergi, orang suruhan Gaza langsung menghajar orang itu hingga tak berkutik lagi. Namun, ketika ada kesempatan, orang itu langsung berlari dari sana sebelum ia lebih babak belur lagi.
Orang suruhan Gaza pun menepuk pipi Gea agar cepat sadar. Tapi Gea tak sadar juga. Laki-laki itu pun mencari cara agar membaut Gea sadar lebih cepat. Ia pun mengeluarkan minyak angin yang ada di dalam tas kecilnya lalu mendekatkannya ke hidung Gea.
Gea tersadar. Kemudian memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing. Ia pun kemudian berubah posisi menjadi duduk dan bersandar ke pagar milik tetangga.
"Sepertinya tadi aku dibius seseorang ya?" tanya Gea.
"Iya Nona. Tapi untung saja, saya berhasil mengalahkannya. Hanya saja, saya tidak tahu, penjahat itu suruhan dari siapa. Ia sudah kabur duluan."
"Tidak apa-apa, sepertinya aku tahu siapa yang menyuruhnya. Terima kasih ya, kau sudah membantuku."
"Ini adalah tugas saya untuk menjaga anda, Nona. Tuan Gaza memerintahkan saya seperti itu."
Gea pun mengangguk. Kemudian berusaha berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Perlu bantuan Nona?" tawar laki-laki itu.
"Tidak usah, aku bisa sendiri. Ngomong-ngomong siapa namamu? Aku hanya tahu selalu dijaga olehmu tanpa tahu siapa kamu."
"Panggil saja Ken, Nona."
"Oke."
Gea pun sudah berdiri dan berjalan lagi. Ken masih mengikutinya dari belakang. Kalau dilihat-lihat, wajah Ken terlihat lebih muda darinya. Entah kenapa Gea jadi penasaran juga. Ia pun membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Ken.
"Ada apa Nona?" tanya Ken.
"Berapa usiamu?" tanya Gea.
"Tidak penting berapa usia saya Nona," jawab Ken.
"Aku hanya tidak suka dipanggil Nona. Aku kan bukan majikanmu. Majikanmu itu ya si Gaza itu."
"Tetap saja anda adalah orang yang harus saya jaga. Lanjutkan berjalan Nona."
Gea pun membalikkan badannya lagi dan lanjut berjalan. Nanti sesampainya di rumah ia akan protes ke Gaza. Ia tidak suka seolah dijadikan putri seperti ini.
*
*
TBC
Jangan lupa vote, like sama komentarnya ya. Supaya aku lebih semangat lagi update ceritanya.
#CuapCuap
Aku nggak menuntut semua orang untuk suka sama karya-karyaku. Tapi bisa nggak? Hargai karya orang? Kalau udah nggak suka jangan tinggalkan kesan buruk didalamnya. Cukup tinggalkan ceritaku saja.
__ADS_1