Dibuang Setelah Melahirkan

Dibuang Setelah Melahirkan
Bab 64 - Meminta Waktu


__ADS_3

Hari telah berganti, Gaza bangun dari tidurnya dengan perasaan lega karena telah mengungkapkan isi hatinya. Meski perasaannya masih digantung, ia harus yakin kalau Gea pasti akan menerimanya.


Memang sulit untuk memutuskan untuk menikah lagi atau tidak, apalagi Gea pun harus meminta pendapat kedua orang tuanya dulu. Katanya sih tidak mau kejadian yang lalu terulang kembali.


Mama Hani mengetok pintu kamar anaknya dengan cepat.


"Ini mama. Kamu sudah bangun?"


"Masuk aja Ma," ucap Gaza.


Mama Hani langsung duduk di tepi ranjang anaknya, sementara Gaza masih ada di ranjang dengan posisinya yang sudah duduk.


"Gimana semalam? Lancar kan? Kamu ngomong apa aja sama Gea? Udah jadian belum? Atau kamu langsung ajak dia nikah? Cerita dong! Mama penasaran nih!"


Gaza geleng-geleng kepala mendengarkan pertanyaan mamanya yang bertubi-tubi.


"Satu-satu Ma nanya nya. Aku kan nggak bisa jawabnya."


"Iya deh! Semalam ngomong apa aja sama Gea?"


Ingatan semalam pun terputar di pikirannya. Gaza menceritakannya ke sang mama. Tentang ia yang menyatakan isi hatinya juga mengajak Gea untuk menjadi wanita istimewa di hidupnya.


"Terus, jawabannya gimana?"


Jawaban Gea semalam teringat lagi dipikirannya. Gaza menceritakan lagi seperti apa yang Gea ucapkan.


*


*


" ... Sampai akhirnya kamu selalu ada bersamaku, tinggal di rumahku, bahkan selalu mengisi hari-hariku. Tapi kita masih dalam hubungan persahabatan, aku tidak mau. Aku ingin lebih Ge. Aku ingin menjadikan kamu sebagai satu-satunya wanita pemilik hatiku. Aku ingin mengajak kamu untuk ke hubungan yang serius, bukan untuk pacar-pacaran tapi ke pernikahan. Apa kamu mau?"


Gea terpaku dengan ucapan jujur dari Gaza. Ia tak pernah menyangka hal ini akan terjadi padanya. Sahabatnya, orang terdekat dan ia percayai, akan mencintai dirinya lebih dari sekedar sahabat.


"Ga,"


"Ya?"

__ADS_1


"Aku ... aku nggak tahu gimana jawabnya. Ini terlalu mengejutkan untukku. Kamu, orang yang paling aku percayai lebih dari siapapun. Kamu orang yang selalu ada untukku di kala aku susah dan terluka. Tapi, aku nggak pernah menyangka kalau kamu menyukai aku yang seperti ini."


"Kamu yang seperti ini gimana maksudnya?" tanya Gaza yang tidak mengerti.


"Kamu seharusnya paham Ga. Aku dan kamu sangat-sangat jauh berbeda. Kamu lajang dan aku janda beranak satu."


"Emang masalahnya apa kalau lajang sama janda beranak satu?"


Bukannya menjawab pertanyaan Gaza, Gea malah melanjutkan lagi poin-poin perbedaan keduanya.


"Kamu kaya raya, aku orang biasa. Kamu berpendidikan dan punya jabatan yang tinggi, sementara aku cuma tamatan SMA dan hanya tukang kue. Perbedaannya kontras sekali Ga. Bagaikan bumi dan langit jauhnya."


"Kalau kamu hanya melihatnya dari segi itu semua, pikiran kamu terlalu sempit Ge. Aku juga bisa menyebutkan poin-poin perbedaan aku dan kamu dari versiku."


"Kamu baik, aku tak cukup baik. Kamu penyayang dan lemah lembut, aku sedikit membangkang dan kadang mudah emosi. Kamu berpengalaman berumahtangga, aku belum. Kamu kaya hati, sementara aku tidak. Sangat jauh juga kan perbedaannya. Aku mencintai kamu karena kepribadianmu Gea. Kamu yang ceria, murah senyum dan baik hati. Itulah kesan pertamaku ketika bertemu denganmu dulu. Sampai sekarang pun aku masih menganggap kamu seperti itu. Meski terkadang senyummu ada yang terlihat palsu dan keceriaan mu hanya sebuah topeng. Tapi, aku ingin ada bersamamu."


Gea terlihat menghela napasnya sejenak.


"Poin-poin perbedaan yang aku dan kamu sebutkan tidak sebanding Ga."


"Kenapa harus sebanding? Bukannya perbedaan itu lebih indah jika disatukan? Kamu melengkapi aku dan aku pun melengkapi mu. Kita saling melengkapi kekurangan masing-masing."


"Jujur deh Ge. Aku ingin mendengar jawaban terjujur dari kamu. Gimana perasaan kamu sama aku? Aku mohon hilangkan perbedaan di antara kita dulu. Bicara sesuai kata hati kamu sendiri."


Gea tampak terdiam. Ia mencoba menanyakan pada hatinya yang entah sudah mencair atau belum. Yang pasti ia selalu merasa aman, nyaman ketika bersama dengan Gaza. Tak pernah ada sedikit pun kekhawatiran di dalam dirinya ketika bersama Gaza. Kepercayaan yang ia berikan ada laki-laki itu pun tak pernah sekalipun diingkari olehnya. Jujur saja, Gea mungkin sudah menyukai Gaza, hanya saja ia sadar diri siapa dirinya. Ia hanya bongkahan batu kecil yang tak berharga.


"A-aku a-ku nyaman," jawab Gea.


Meski cuma jawaban singkat, Gaza tersenyum. Setidaknya dari rasa nyaman, sedikit-sedikit akan timbul rasa cinta.


"Boleh kasih aku waktu? Aku nggak bisa jawabnya sekarang."


"Baiklah, aku kasih kamu waktu 3 hari."


"Seminggu ya?"


"Baiklah seminggu. Aku harap kamu memikirkan baik-baik semua ini. Aku tidak sedang becanda. Jadi kamu juga harus serius memikirkan jawabannya. Masa depan dan hidupku tergantung kamu."

__ADS_1


Gea menaikan alisnya mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Gaza.


"Kan emang bener, jawaban kamu menentukan hidupku. Kalau kamu menerima tentunya aku akan bahagia. Kalau kamu menolak, aku pasti terluka untuk kedua kalinya. Dan dari terlukanya hatiku, semua akan terasa hambar, tak baik-baik saja."


Gea menggigit bibir bawahnya. Lalu meminum minuman yang ada di depannya dengan sekali tegukan.


*


*


"Huftt!"


Mama Hani menghela napasnya.


"Gea memang seperti itu. Terlalu merasa rendah diri. Padahal dia tidak sadar kalau dirinya kaya hati dan kesabaran. Yang itu tidak mama miliki, begitu juga dengan kamu. Mama cuma bisa mendoakan semoga Gea memberikan jawaban yang terbaik. Yang mama dan kamu harapkan tentunya. Semangat putraku! Sana mandi! Kamu harus siap-siap untuk berangkat ke kantor."


"Oke mama!"


Mama Hani keluar dari kamar anaknya. Ia berjalan menuruni tangga dan pergi ke arah dapur. Disana ia melihat Gea yang sedang membantu bibi memasak di dapur. Benar-benar menantu idaman. Mana ramah pula.


Mama Hani pun hanya melihat saja tanpa mau mengganggu kegiatan Gea di pagi hari. Ia malah pergi ke ruang keluarga. Rupanya disana sudah ada Alwin yang sedang bermain dengan salah satu pekerja rumahnya.


Hidupnya akan terasa sempurna dan bahagia, jika ada cucu yang nantinya menemani di masa tua.


*


*


David masih terus jadi tukang parkir di pasar karena ketika ia melamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan ternama, ia selalu ditolak. Pasti semua itu kerjaan papanya. Yang menginginkan David berjuang dari nol.


Terkadang ia marah akan keadaannya yang berbanding terbalik. Ia merasa cape dan ingin pulang ke kehidupannya yang serba ada dan dilayani. Tapi, tidak bisa. Karena ia sendiri juga yang sudah berjanji akan sukses dengan kerja keras sendiri.


"Aku akan buktikan ke papa, kalau aku bisa. Mungkin sekarang aku cuma tukang parkir. Tapi setahun, dua tahun kemudian, aku pasti akan punya usaha sendiri. Aku juga akan buktikan kalau aku layak untuk kembali dengan Gea."


*


*

__ADS_1


TBC


__ADS_2