Dibuang Setelah Melahirkan

Dibuang Setelah Melahirkan
Bab 67 - Selamat tidur calon istri


__ADS_3

Kini semuanya berada di ruang tamu, Gaza pun menjelaskan apa yang terjadi padanya.


"Waktu aku sedang menunggu pesawat di ruang tunggu. Aku teringat sesuatu yang aku lupakan di hotel. Jadi aku memutuskan untuk kembali ke hotel tempat aku menginap. Setelah menemukan barangnya, aku bergegas kembali ke bandara. Tapi di tengah perjalanan ada kecelakaan mobil beruntun yang menghalangi jalan. Sampai akhirnya ketika aku sudah sampai di bandara. Rupanya aku ketinggalan pesawat. Aku merasa sedih saat itu, aku pun mencari lagi jadwal penerbangan di hari itu sambil terus menunggu di bandara. Namun, setelah beberapa jam menunggu. Aku menonton berita terjadinya kecelakaan pesawat yang seharusnya aku naiki. Aku shock seketika seraya bersyukur juga masih diberikan waktu untuk hidup. Kalau sampai aku benar-benar naik pesawat itu, mungkin aku juga akan seperti korban yang lainnya. Entah itu meninggal atau terluka."


"Terus kenapa kamu nggak kabarin mama, kalau kamu nggak jadi naik pesawat itu Ga? Bahkan kamu mama telpon pun nggak aktif. Mama jadi berpikiran aneh-aneh saat itu."


"Maaf ma, ponselku kehabisan daya," jawab Gaza.


"Kan kamu bisa mengecas nya dulu di bandara."


"Setelah aku mendapatkan berita itu, aku langsung pergi dari bandara ma. Aku tidak jadi naik pesawat karena takut akan kejadian itu. Makanya aku memilih untuk naik bus saja. Meskipun lama sampainya, yang penting aku bisa ada di rumah dengan selamat."


"Ya, tapi karena ponselmu mati, mama jadi khawatir Gaza."


"Maaf ya Ma. Tapi sekarang kan aku sudah kembali ke rumah dengan selamat. Mungkin ini cara Allah untuk menolongku dari kemalangan pesawat itu dengan membuatku ketinggalan pesawat."


Mama Hani mengangguk kemudian memeluk putranya lagi. Ia benar-benar bersyukur Gaza baik-baik saja. Papa Geovani pun merasa lega begitu juga dengan Gea.


"Ya sudah, sana ke kamar dan mandi. Pasti selama tiga hari ini kamu tidak mandi di perjalanan."


"Iya Ma iya."


Gaza pun pergi ke kamarnya. Mama Hani bisa bernapas lega sekarang.


"Alhamdulillah, Ya Allah. Terima kasih Engkau sudah menolong putraku."


*


*


Di tengah malam, selesai mandi, Gaza keluar dari kamarnya untuk mencari makanan di dapur karena lapar. Selama di dalam bus, ia hanya makan roti saja.


Tak sengaja keduanya pun bertemu di dapur, Gea sedang mengambil minum dan Gaza yang ingin memasak mie.


"Kamu lapar?" tanya Gea.


"Iya, tiga hari di bus aku cuma makan roti," jawab Gaza.


"Mau aku masakan sesuatu?" tawar Gea.


"Boleh."


Gea pun mulai memasak kwetiaw untuk Gaza. Sementara Gaza menunggu di meja makan sambil melihat Gea yang fokus memasak. Ia jadi senyum-senyum sendiri mengingat Gea yang tadi langsung memeluknya ketika ia pulang.


"Apa kamu sekhawatir itu padaku? Apa itu artinya kamu menerimaku?"


Tak lama kemudian, makanan telah siap dan Gea hidangkan di depan Gaza. Ketika Gea akan kembali ke kamarnya, Gaza melarangnya.

__ADS_1


"Bukannya kamu punya hutang jawaban padaku?"


Gea pun menelan ludahnya. Ia tak menyangka Gaza akan menagihnya sekarang. Padahal kan masih ada hari esok.


Gea pun ikut duduk di hadapan Gaza. Gaza sudah mulai menyiapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Kamu takut kan kalau kehilangan aku?" tanya Gaza.


"Takutlah, kamu kan sahabat terbaikku."


"Ralat, status kita sebagai sahabat digantung dulu. Karena aku masih menunggu jawaban darimu. Seminggu sudah berlalu Ge."


Gea menarik napasnya sebelum menjawab.


"Apa aku harus menjawabnya sekarang? Nggak besok aja?"


"No, aku ingin sekarang. Aku sudah menunggu terlalu lama."


"Setelah pertimbangan panjang dan sudah berdiskusi dengan kedua orang tuaku. Aku menerima ajakanmu untuk menjalin hubungan ke jenjang pernikahan."


"Benarkah? Kamus serius?" tanya Gaza lagi memastikan.


Gea mengangguk pelan. Gaza pun jadi tersenyum senang. Akhirnya penantian panjangnya terbayarkan. Akhirnya ia bisa bersama dengan wanita yang dicintainya.


"Aku menginginkan pernikahan kita diadakan secepatnya," ucap Gaza.


"Iya, aku akan menurutimu."


Gea mengangguk saja membalasnya. Karena ia merasa malu juga. Rasanya aneh saja, tiba-tiba ia mencintai sahabatnya sendiri dan akan menikah dengan sahabatnya.


Gaza jadi senyum-senyum lagi.


"Aku jadi ingin menciummu. Tapi, aku takut kelepasan. Jadi, aku tunda saja sampai malam pertama kita nantinya."


Gea tersenyum lagi. Karena Gaza memang laki-laki yang baik.


"Besok aku akan beritahukan jawabanmu ke mama dan papaku dan secepatnya aku akan datang ke rumahmu untuk memintamu secara resmi dari orang tuamu."


Gea mengangguk lagi.


"Aku ke kamar dulu ya, takut Alwin menangis karena terlalu lama ditinggalkan."


Gaza membiarkan Gea kembali ke kamar. Sementara dirinya masih senyum-senyum sendiri. Bahkan kwetiaw saja rasanya sudah seperti daging sapi, saking bahagianya hatinya.


Setelah makan, Gaza kembali ke kamarnya dan memainkan ponselnya lalu memberikan pesan manis ke Gea.


Selamat tidur calon istri ❤️

__ADS_1


*


*


Paginya Gaza benar-benar memberitahukan berita bahagia ke kedua orang tuanya. Keduanya merasa senang akan jawaban Gea itu. Mereka pun mulai merencanakan acara lamaran dan acara pernikahan yang akan dilakukan di kampung tempat tinggal Gea.


"Jadi seminggu lagi kita akan pergi ke kampung. Kamu jangan kerja terus Ga. Cuti sebulan. Biar sekretaris mu yang handle semuanya bersama papa nantinya," ucap Mama Hani.


"Iya Ma iya."


"Bagus. Udah lama juga mama tidak bertemu dengan nenekmu. Sekalian kita silaturahmi ke kampung halaman mama."


Gaza mengangguk.


Setelah perbincangan selesai, para lelaki kembali bekerja dan para wanita berkumpul di ruang keluarga.


"Tante senang sekali, kamu menerima lamaran dari Gaza. Tante sudah takut-takut kalau kamu menolaknya."


"Aku memang sempat ragu karena status sosialku Tante. Tapi mengingat kebaikan kalian. Aku sadar betul, kalian bukan orang yang seperti itu. Maka akhirnya aku memutuskan untuk menerima."


"Tapi kamu tidak terpaksa kan? Bukan untuk balas Budi atau semacamnya kan Ge? Tante ingin penerimaan mu ini dari hatimu sendiri yang benar-benar ingin membangun rumah tangga berdua dengan Gaza. Yang artinya kamu pun mencintai Gaza."


"Mungkin, awalnya aku belum sadar akan rasa cinta itu Tante. Tapi aku jadi sadar sesadar-sadarnya karena peristiwa kemarin. Aku benar-benar takut kehilangan Gaza."


"Alhamdulillah."


Mama Hani jadi ikut bahagia juga. Ia bahkan memeluk Gea saking bahagianya akan memiliki menantu seperti Gea.


"Nanti Tante akan memberitahukan ini ke Tamara dan Giandratama."


Gea mengangguk.


*


*


"Wah, selamat ya, akhirnya anakmu sebentar lagi sudah bukan bujang lagi. Aku turut bahagia mendengarnya, Han. Apa aku boleh ikut ke acara lamaran dan pernikahan Gaza? Karena selama ini aku tak pernah merasakan itu. Kamu sendiri pasti tahulah. Walaupun David pernah menikah dan mengadakan acara resepsi. Aku tidak pernah melihat secara langsung gimana akadnya. Aku ingin melihat mantan menantuku bahagia karena aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri."


"Boleh, boleh sekali. Nanti aku akan kirimkan alamatnya. Atau kamu mau datang bersama?"


"Kirimkan saja alamatnya Han."


"Oke baiklah."


Sambungan telepon pun berhenti. Tamara menangis terharu. Meski ia sudah tak memiliki kesempatan untuk menjadikan Gea sebagai menantunya lagi. Ia ikut senang karena Gea akan bersama orang yang baik seperti Gaza.


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2