
Sarapan pagi di kediaman Giandratama terasa sedikit mencekam karena sorotan mata Tuan Giandratama terlihat tidak bersahabat pada David maupun Selena.
David yang ditatap seperti itu jadi heran sendiri. Pasalnya, ia merasa tidak berbuat kesalahan. Apalagi perusahaan kini pun sedang baik-baik saja tidak ada kendala. Tapi rasanya, tatapan itu terlalu mengintimidasi baginya.
Papa kenapa ya?
Berbeda dengan Selena yang biasa saja. Sebab ia memang tahu kalau papa mertuanya memang belum bisa menyukai dirinya. Jadi, ia tidak ingin pusing memikirkannya.
Selesai sarapan, Tuan Giandratama langsung pamit ke kantor begitu juga dengan David. Di rumah tinggallah Selena dan Tamara.
"Tumben kamu nggak pergi? Nggak ada jadwal pemotretan?" tanya Tamara.
Selena menggeleng.
"Hari ini libur Ma, besok baru mulai pemotretan lagi."
"Oh, kalau begitu baguslah. Kamu bisa bantu mama menjaga Alwin. Alwin pasti juga rindu sama kamu. Apalagi kamu jarang banget main sama dia. Coba tengok ke kamarnya, kayanya udah bangun deh. Kamu bawa Alwin turun ya. Mama tunggu di ruang keluarga."
Ingin menolak, tapi mama mertuanya sudah pergi terlebih dulu ke ruang keluarga. Selena pun menaiki tangga dengan terus menggerutu kesal.
"Aih, mana bisa aku menggendong Alwin, didekati sedikit aku sedikit saja langsung nangis. Argh! Dasar bayi tidak tahu diuntung! Sudah bagus aku bawa dia kesini. Kalau bukan anaknya Mas David, mungkin sudah aku buang ke jalanan."
Selena masuk ke kamar Alwin yang dijaga oleh suster. Benar saja dugaan mama mertuanya, Alwin sudah bangun, bahkan sudah dimandikan. Bau bayi tercium sangat jelas oleh indra penciumannya.
Tapi, baru juga mendekat, Alwin sudah menangis histeris seperti melihat setan ketika bertemu Selena.
"Argh! Sial! Kenapa sih kamu selalu menangis kalau melihat aku! Harusnya kamu itu nurut dan anteng-anteng saja. Kalau begini terus, lama-lama mama bisa curiga," kesal Selena.
"Sus, tenangkan dia! Lalu bawa turun ke ruang keluarga!" perintah Selena lalu keluar dari kamar Alwin.
Ia pun sengaja tidak turun ke ruang keluarga dan memilih untuk pergi ke kamarnya Saja.
Sementara Alwin sudah dibawa ke ruang keluarga oleh suster dan diserahkan ke Tamara.
"Sus, dimana Selena? Kenapa bukan Selena yang membawa Alwin kesini? Aku kan tadi memintanya untuk datang."
__ADS_1
"Maaf nyonya. Tapi tadi, Nona Selena langsung keluar dari kamar Alwin, saya kira Nona langsung ke bawah," jawab suster.
"Tidak, sudah kamu lanjutkan saya pekerjaanmu yang lain, atau kamu bisa istirahat dulu sebentar. Aku tahu kamu pasti cape."
"Terima kasih Nyonya."
Selepas kepergian suster itu, Tamara mulai bermain dengan Alwin dan mengajak mengobrol bayi itu.
"Jadi, selama ini kamu suka menangis karena mama Selena tidak pernah menyayangi kamu dengan tulus ya? Oma pikir, itu karena kamu yang rewel. Maaf ya sayang. Oma terlambat menyadarinya. Mulai sekarang oma janji akan sering mempertemukan kamu dengan mamamu yang sesungguhnya sebelum kamu benar-benar dibawa pergi olehnya."
Alwin mengangguk-anggukkan kepalanya seolah mengerti apa yang diucapkan omanya.
*
*
Di kantor, Tuan Giandratama sengaja memanggil David untuk memasuki ruangannya.
"Ada apa Pa? Tidak biasanya papa memanggil aku seperti ini. Pasti kalau aku dipanggil, aku telah melakukan kesalahan, tapi aku rasa semua yang aku kerjakan baik senja. Bahkan tidak ada kendala sedikit pun."
Tuan Giandratama tidak menjawab, ia malah memberikan sebuah berkas yang isinya semua informasi mengenai David dan Selena selama dua tahun tidak tinggal di rumah.
"Papa dapat informasi hoaks ini darimana? Aku tidak pernah menikah kecuali dengan Selena. Papa jangan mudah dibodohi dengan informasi bohong begini," ucap David yang tidak terima dengan informasi yang diterimanya.
"Apa benar informasi itu bohong? Lalu apa kamu mau menjelaskan, kenapa satu tahun sebelum kelahiran Alwin kamu tidak pernah tinggal bersama Selena? Kalau seperti itu jadinya, bukankah Alwin itu bukan anak Selena?" tanya Tuan Giandratama lagi.
David terdiam. Ia tidak pernah menyangka, papanya akan mencari informasi sedetail ini. Ia hanya bisa menerka-nerka. Apa papanya tahu ini semua dari Gea?
"Papa memangnya siapa yang bilang aku tidak tinggal bersama Selena? Papa ini jangan mudah termakan sama berita palsu."
David masih terus menyangkalnya.
"Jadi, kamu lebih memilih untuk tetap bungkam dan berbohong ya, Vid. Baiklah, jika itu maumu."
Tuan Giandratama kemudian memperlihatkan salinan buku nikah milik Gea ke hadapan David.
__ADS_1
"Mau menyangkal yang bagaimana lagi kamu? Tega ya! Kamu membohongi papa dan mama, hanya karena kamu ingin warisan. Harusnya, papa memang tidak pernah memberikan syarat apapun pada kamu. Seharusnya papa membiarkan kamu hidup berdua saja dengan Selena dan tidak melibatkan orang ketiga di antara kalian. Sehingga tak ada orang yang tersakiti."
David masih bungkam. Seingatnya ia sudah menghilangkan semua buktinya, tapi kenapa buku nikah milik Gea masih ada.
"Kamu masih tetap mau diam dan tidak bicara?" tanya Tuan Giandratama sekali lagi.
"Pa, itu semua pasti editan, mana mungkin aku menduakan Selena. Selena juga pasti tidak akan mau dimadu."
"Rupanya kamu masih memilih untuk tetap berbohong. Papa kecewa Vid."
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi David. Tuan Giandratama sejak tadi hanya berusaha menahan amarahnya. Tapi, lama-lama ia kesal juga karena anaknya tidak bersikap seperti laki-laki yang gentle dan bertanggungjawab.
"Katakan sekali lagi kalau kamu memang masih menyangkalnya!"
"Aku memang tidak pernah melakukan apapun seperti apa yang papa dapatkan informasinya."
Plak!
Lagi-lagi tamparan mendarat di pipi David yang satunya.
"Tamparan itu mungkin tak akan bisa membuat kamu sadar! Tapi bisa membuat kamu merasakan sakit walau sedikit. Setelah ini papa akan memberikan Alwin ke ibu kandungnya. Papa tidak peduli mau kamu mengizinkan atau tidak, papa tetap akan membawa Alwin ke Gea."
"Pa! Aku ini papanya! Papa tidak berhak membawa Alwin pergi dan membiarkannya bersama dengan orang lain!"
"Orang lain apa maksudmu? Bukannya Selena lah yang orang lain itu? Selama ini papa diam bukan karena tidak mengamati kalian. Tapi papa sengaja diam agar papa bisa mengamati kalian tanpa kalian curigai. Papa tahu semuanya, bahkan papa juga tahu Selena tak pernah sekalipun mengasuh Alwin. Bahkan berdekatan sedikit saja dengan Selena, Alwin selalu menangis. Kamu pasti tidak tahu akan itu kan? Akan lebih baik jika Alwin tidak ada di antara kamu dan Selena."
"Pa! Papa tidak bisa seperti ini padaku!"
"Memangnya kenapa tidak bisa? Kamu saja bisa membohongi papa! Memangnya papa tidak sakit hati apa!"
"Pa, papa!" teriak David ketika Tuan Giandratama malah keluar dari ruangannya begitu saja setelah memarahi David.
*
__ADS_1
*
TBC