
Di akhir pekan, Gaza mengajak Gea dan Alwin untuk pergi ke arena bermain anak di mall bagian atas. Keduanya terlihat seperti pasangan suami istri yang harmonis yang memiliki satu anak.
Disana, Gea membiarkan Alwin bermain dengan anak seusianya. Sementara Gea dan Gaza duduk sambil memperhatikan Alwin.
Para ibu muda yang menemani anaknya, terus menatap ke arah Gaza. Ya, wajar saja, wajah Gaza memang tampan nan rupawan. Siapa coba yang tidak akan meliriknya?
"Kamu dari dulu, selalu jadi pusat perhatian orang ya? Bahkan di area bermain anak sekarang ini."
Gaza terkekeh pelan. Sebenarnya ia sadar akan lirikan para ibu muda. Tapi, ia seolah-olah tidak tahu.
"Ya, mau bagaimana lagi. Namanya juga orang ganteng. Pasti akan jadi pusat perhatian. Hanya orang yang buta saja yang tidak bisa mengakui ketampananku."
"Cih! Pedenya kamu."
"Nggak papa. Yang penting itu fakta."
"Ya, ya, ya."
Mata Gea terfokus pada Alwin yang bermain mandi bola. Ia tersenyum senang karenanya. Meski orang tuanya berpisah, Alwin tak seperti anak yang kehilangan kasih sayang.
"Apa kamu tidak ingin menikah lagi?" tanya Gaza sedikit memancing.
"Tidak pernah sedikit pun terlintas di kepalaku untuk menikah lagi. Tujuanku saat ini dan ke depannya hanya untuk membahagiakan Alwin dan mendidiknya agar jadi pria yang baik."
"Kalau suatu saat nanti ada pria baik yang datang padamu dan mengajakmu menikah. Bagaimana?"
"Aku tidak tahu. Mungkin aku bisa saja langsung menolaknya," jawab Gea.
"Ge, kamu mungkin sanggup dan bisa membesarkan Alwin sendirian. Tapi, Alwin masih membutuhkan sosok seorang ayah. Kamu tidak bisa egois. Mungkin sekarang Alwin memang belum mengerti. Tapi, dua sampai tiga tahun kemudian setelah ia sudah pandai bicara, dia pasti akan bertanya-tanya soal ayahnya. Kalau kamu sudah berdamai dengan segala lukamu. Ya, mungkin kamu bisa mempertemukan dia dengan David. Tapi jika belum? Yang ada malah kamu yang terus sakit. Di saat itu, kamu perlu pendamping, Ge."
Gea tampak memikirkan apa yang diucapkan oleh Gaza. Ia paham dan mengerti. Tapi, ia masih belum siap. Sangat sulit untuk memulai sebuah hubungan lagi. Hubungan yang dulu ia anggap akan bahagia selalu saja bisa kandas dan tak berjalan lancar. Lalu bagaimana yang sekarang ia sudah memiliki anak? Gea hanya takut, pasangannya hanya mencintainya tidak dengan anaknya. Ia juga masih takut untuk menjalin hubungan yang baru.
"Entahlah Ga. Aku masih belum memikirkannya. Saat ini, aku hanya menjalani hidup mengalir saja seperti air."
Gaza hanya bisa menghela napasnya. Ia merasa sangat sia-sia. Padahal ia sengaja membicarakan topik itu supaya Gea bisa membuka hatinya untuk memulai hubungan yang baru. Karena kalau ia langsung menyatakannya Gea bisa terkejut.
Waktu pun terus berlalu, setelah dua jam bermain, Gea, Alwin dan Gaza mampir ke restoran. Gaza menggendong Alwin sementara Gea berjalan di samping Gaza.
__ADS_1
Orang-orang tampak melihat mereka. Bahkan ada yang bilang, mereka keluarga yang harmonis dan bahagia.
Mereka duduk di kursi dan memesan makanan. Ketika Alwin diminta untuk turun dari gendongan Gaza, bocah kecil itu menggeleng dan malah mempererat pelukannya ke Gaza.
"Sudah, tidak apa-apa. Aku juga tidak keberatan Ge."
"Tapi, kamu akan susah untuk makan Ga."
"Kan ada kamu. Kamu bisa suapi aku kan?"
"His! Kaya anak kecil aja."
Gaza tersenyum senang. Ia sangat beruntung, rupanya Alwin malah menempel padanya. Ia jadi punya alasan untuk bisa disuapi oleh Gaza.
Makanan yang dipesan pun tiba. Gea benar-benar menyuapi Gaza. Bahkan ia juga menyuapi Alwin. Rasanya Gea merasa seperti punya dua bayi. Satu bayi kecil dan satunya bayi besar.
Bisikan-bisikan pengunjung mulai terdengar di telinga Gea.
"Lihat, mereka romantis sekali ya. Aku juga ingin disuapi begitu."
Gea hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Kenapa Ge?"
"Apa kamu tidak dengar bisik-bisik pengunjung disini yang membicarakan kita?"
Gaza menggeleng. Padahal sebenarnya ia juga dengar, cuma pura-pura tidak dengar saja. Karena ingin Gea sendiri yang memberitahunya.
"Kita disebut pasangan yang serasi. Padahal kita kan sahabat. Terus Alwin juga bukan anak kamu."
"Wajar lah orang berkata begitu. Kan mereka tidak tahu. Mereka hanya melihat apa yang mereka lihat. Lagipula, hal itu bagus, daripada mereka membicarakan hal buruk tentang kita. Mungkin kita memang pasangan yang serasi."
"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Rasanya tidak enak sama kamu. Mana mau kamu dipasangin sama aku yang tidak ada apa-apanya."
Gea menyuapi Gaza lagi hingga piring kosong. Gaza menatap ke arah Gea dengan sedikit kecewa.
Kapan sadar Ge? Kapan peka? Kalau aku menyayangimu lebih dari sekedar sahabat. Sampai kapan aku harus menyembunyikan ini semua? Aku benar-benar tidak sanggup lagi Ge.
__ADS_1
*
*
"Kita pulang," ucap Gaza ketika sudah sampai di rumah.
Mama Hani menyambut kepulangan mereka bertiga. Alwin masih ada di gendongan Gaza. Bocah itu tertidur dengan pulas nya.
"Keliatannya Alwin capek sekali. Sampai pulas banget tidurnya."
"Iya Tante. Dia aktif banget tadi mainnya. Bahkan kalau tidak aku paksa, mungkin akan sampai sore disana. Aku mau bawa Alwin ke kamar dulu Tante," ucap Gea kemudian hendak meminta Alwin untuk berpindah ke gendongannya. Namun, Mama Hani malah menawarkan dirinya saja.
"Tidak usah, biar Tante saja. Kalian istirahatlah, pasti kalian juga cape. Oh, iya, tadi ada paket dari orang tua kamu Ge. Tante taruh di dapur."
"Oke, makasih ya Tante."
Mama Hani mengangguk lalu mengendong Alwin untuk masuk ke kamar Gea.
Sementara Gea langsung berjalan ke dapur dan melihat paket yang dikirimkan oleh kedua orangtuanya dari kampung.
"Wah, rambutan, manggis, pete, jengkol, mangga. Hm, harumnya."
Gea tampak antusias ketika melihat paket yang dikirimkan orangtuanya. Rupanya di kampung sedang musim panen buah. Sudah lama sekali Gea tak makan hasil panen buah dari hasil perkebunan bapaknya. Seketika Gea jadi rindu, tapi ia belum bisa pulang, karena masih memiliki kontrak kerja.
Gaza yang ada di dekatnya pun bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Gea. Pasti Gea rindu ke kedua orangtuanya. Apalagi terakhir bertemu sudah berbulan-bulan lalu. Itu pun tidak lama.
"Kamu mau pulang kampung? Kalau iya, aku bisa mengantarnya," tawar Gaza.
Gea menggeleng.
"Kalau aku pulang, aku tak ingin kembali lagi kesini. Aku ingin hidup bersama Alwin disana saja. Menghabiskan waktu bersama orang tua dan anakku. Sementara aku disini masih punya tanggung jawab. Aku tidak bisa mengesampingkan itu."
*
*
TBC
__ADS_1