Dibuang Setelah Melahirkan

Dibuang Setelah Melahirkan
Bab 49 - Fakta terungkap


__ADS_3

Tuan Giandratama terus memperhatikan wanita itu, memastikan apa yang dilihatnya tidak salah. Tamara pun meminta suaminya untuk duduk.


"Pa, anak kita telah menyakiti Aruni. Dia memanfaatkannya untuk melahirkan anak. Semua ini karena syarat dari papa yang meminta David punya anak dalam waktu 2 tahun. Dia sampai membuat rencana keji seperti ini."


Tamara menangis sambil memukul pelan dada suaminya. Tapi, ia terus menceritakan semua fakta yang ada. Tuan Giandratama yang memang sudah tahu, jadi ia tidak terlalu terkejut. Tapi, ia merasa kecewa pada anaknya sendiri karena telah melakukan hal keji seperti ini. Meski ia keras kepala dan gila kehormatan, tapi ia tidak pernah melakukan cara buruk untuk mewujudkan ambisinya.


"Papa sudah tahu Ma, papa sudah menyelidiki semuanya. Papa hanya tidak menyangka saja anak kita bisa berpikiran begitu. Pasti ini semua karena Selena. Papa yakin, karena sejak awal papa memang tidak pernah menyukainya. Dan itu pun berlaku hingga sekarang. Semenjak Selena bersama anak kita, David seperti menjadi orang yang berbeda."


Tamara pun mengangguk, ia pun menyadari hal itu. Tapi karena terlalu sayang pada anaknya. Ia membiarkan saja anaknya melakukan apa yang dia mau.


Setelah mengetahui kebenaran ini, baik Tamara maupun Tuan Giandratama tak mampu menyembunyikan rasa kecewa, rasa bersalah dan juga amarahnya.


"Karena Om dan Tante sudah tahu semua kebenaran ini. Aku mau mengaku namaku yang sebenarnya adalah Gea Arunika. Aku ingin mengambil Alwin dari kalian, karena Mas David dulu membawa Alwin ketika aku dikurung olehnya," pinta Gea dengan penuh harap dan memohon.


Tuan Giandratama mulai angkat bicara.


"Aku tidak akan melarang mu untuk membawa anakmu. Tapi, kamu pasti tahu kalau secara hukum Alwin adalah anak David dan Selena. Biarkan Alwin beberapa hari disini sampai aku menyelesaikan masalah ini dan mendisiplinkan anakku sendiri. Setelah itu aku akan membantumu mengambil hak asuh anakmu. Tapi, tolong jangan batasi pertemuan kami dengan cucu kami juga."


Gea mengangguk. Ia menyetujui ucapan Tuan Giandratama. Karena itu juga sangat menguntungkan baginya.


Pembicaraan itu pun usai. Gea pulang ke rumah Gaza dengan perasaan lega karena sudah menceritakan fakta yang sebenarnya. Meski agak sedikit takut dibohongi juga oleh janji Tuan Giandratama. Tapi, ia mencoba untuk percaya bahwa anak dan ayah itu tidaklah sama.


*


*


Tamara masih terus menangis selepas kepulangan Gea. Ia masih begitu terkejut akan semuanya.


"Sudah Ma. Jangan terus menangis begini. Kita harus memberikan anak kita itu pelajaran. Dia tidak bisa menyakiti wanita begini. Itu artinya dia tidak menghargai wanita."


"Tapi, mama masih tidak menyangka pa. Bahkan David tega membohongi kedua orang tuanya sendiri. Sekarang mama mengerti kenapa Selena tak pernah peduli pada Alwin. Karena Alwin memang bukanlah darah dagingnya. Mama hanya tidak habis pikir kenapa mereka berdua merencanakan ini cuma karena harta dan ingin kembali ke rumah ini. Padahal mama rasa, mama membesarkan David jadi anak yang tidak serakah dan harus menghargai wanita."

__ADS_1


"Iya papa tahu, pasti mama sakit hati. Tapi kita juga harus menyadarkan anak kita."


Tamara mengangguk dan memeluk suaminya dengan erat. Mencoba menerima semua kenyataan ini dan kenyataan waktunya bersama sang cucu tidak akan lama lagi.


"Papa benar membolehkan Alwin dibawa oleh Aruni?" tanya Tamara memastikan.


"Walau sebenarnya berat, tapi papa juga kasihan ke Gea. Dia sudah terlalu lama berpisah dengan anaknya Ma. Semua itu karena anak kita dan ambisinya. Biarlah Alwin bersama Gea. Papa juga ingin tahu bagaimana jika Alwin tidak ada di rumah. Apa David akan mencari atau malah tidak memperdulikannya. Papa ingin mama berpura-pura tidak tahu apapun di depan David. Biar papa yang mengurus semuanya."


Tamara mengangguk lagi.


Tak lama kemudian David pun pulang kerja dan terheran-heran melihat mamanya yang menangis di pelukan sang papa.


"Pa, itu mama kenapa?"


"Mamamu habis mendengarkan temannya curhat cerita sedih hingga membuatnya menangis," jawab Tuan Giandratama asal.


"Oh, begitu. Ya sudah, aku ke kamar ya Ma, Pa."


"Lihat sikap anak kita barusan. Ia bahkan seperti tidak pernah merasa bersalah telah menghancurkan hidup seorang wanita yang sudah melahirkan anaknya."


*


*


Malam harinya, Gea duduk di taman sendirian sambil melihat bintang-bintang yang berkelap-kelip di langit. Gaza mengamati itu lalu kemudian menghampiri Gea dan duduk di sampingnya.


"Hari ini apa yang kamu lakukan? Apa kamu sudah menceritakan semua kebenarannya?" tanya Gaza sambil sedikit menebaknya.


Gea mengangguk.


"Aku sudah mengatakan semuanya. Papanya Mas David ternyata sudah mencari tahu semuanya lebih dulu. Aku bersyukur tentang itu, karena tidak perlu banyak bicara untuk menjelaskannya. Tapi, ada sedikit rasa tidak enak juga di hatiku. Aku akan mengambil Alwin yang mereka besarkan juga dengan kasih sayang."

__ADS_1


"Kamu boleh bersikap egois untuk kebahagiaanmu, Ge. Kalau terus-terusan merasa tidak enak. Sampai Alwin besar pun, kamu pasti tidak akan mendapatkan hak asuhnya. Lagipula mereka juga mengizinkan kan? Jadi jangan terlalu memikirkan perasaan orang lain. Pikirkan kebahagiaanmu lebih dulu."


"Aku harus begitu ya?"


"Ya, supaya kamu bisa tetap kuat menghadapi semuanya. Aku yakin setelah ini pun, masalahnya pasti tidak akan berhenti. Papanya David pasti akan merencanakan sesuatu untuk anaknya. Begitu juga dengan David yang pastinya akan selalu berencana menyakitimu. Jadi, untuk sekarang dan seterusnya, kamu harus waspada dan berhati-hati."


"Makasih ya Ga. Kamu selalu meyakinkan aku dan mendukungku di saat aku mulai goyah untuk mengambil hak asuh anakku. Aku kadang sampai berpikir, harus dengan apa aku membalas semua kebaikanmu."


Gampang Ge. Cukup buka hati dan lihat aku sebagai laki-laki yang mencintaimu bukan seorang sahabat.


"Aku janji, setelah nanti Alwin jatuh ke tanganku. Aku akan mencicil semua hutangku dan membalas kebaikanmu. Meski memang aku tidak akan bisa membalas semuanya."


"Jangan pikirkan itu dulu. Aku juga tidak terlalu memperdulikannya. Mau kamu membayar atau pun tidak hutangmu. Aku ikhlas membantumu, Ge."


"Tidak jangan seperti itu. Aku merasa jadi wanita paling jahat bagimu. Yang memanfaatkan mu untuk kepentinganku."


"Ya, sudahlah. Kalau pembicaraan ini diteruskan. Tidak akan pernah ada akhirnya. Masuklah ke dalam Ge. Di luar semakin dingin, nanti kamu bisa sakit. Kamu kan harus menjaga kesehatanmu untuk mengahadapi hal-hal yang akan terjadi ke depannya."


"Iya sebentar lagi aku akan masuk. Kamu masuklah lebih dulu. Besok kamu harus kerja."


"Aku tinggal ya?"


"Iya, pergi sana."


Gaza pun masuk ke dalam rumah.


Gea yang tinggal sendiri terus menatap ke arah langit dan membayangkan dirinya akan bahagia bersama anaknya.


*


*

__ADS_1


TBC


__ADS_2