
Hari telah berganti, mentari sudah keluar untuk menampakkan dirinya. Gea membawa Alwin untuk bermain di taman dan menikmati hangatnya mentari kala itu.
Gea tersenyum bahagia, ketika Alwin memberikan sepucuk bunga padanya dengan jalan yang masih tertatih-tatih.
"Terima kasih sayang," ucap Gea sambil mengelus puncak kepala Alwin.
Alwin hanya tersenyum dan bermain lagi disana. Gea hanya duduk mengawasi saja.
Di jendela, Gaza memperhatikan interaksi keduanya. Ibu dan anak yang saling melengkapi. Saking fokusnya memperhatikan, Gaza sampai terkejut ketika sebuah tangan menepuk pundaknya.
"Astaga, Mama! Buat kaget aja."
"Jangan dibiasain perhatiin diam-diam. Maju Ga! Nyatain perasaan kamu. Kalau kamu terus diam, bagaimana bisa Gea tahu isi hatimu. Lihat, perhatianmu dan tingkahmu selama ini saja tidak disadari oleh Gea kalau kamu mencintainya. Mau sampai kapan pun Gea tidak akan tahu kalau kamu memilih untuk jadi pengecut."
"Tapi ma ... "
"Tapi apa lagi? Kamu mau keduluan sama orang lain? Kalau kejadian, emangnya kamu bakalan ikhlas?"
"Bagaimana kalau Gea menyukai orang lain ma? Atau sebenarnya dia masih mencintai mantan suaminya?"
Plak!
Mama Hani memukul lengan Gaza pelan. Anaknya ini benar-benar bodoh soal percintaan.
"Jangan pikirkan itu dulu! Yang penting nyatain dulu perasaan kamu!"
"Tapi Gea masih belum ingin menikah dan mempunyai pasangan Ma. Aku sudah sering memancingnya untuk bicara ke arah-arah sana," ucap Gaza sambil merasa sedih ketika mengutarakannya.
"Huftt!"
Mama Hani menghela napasnya. Ia benar-benar tak habis pikir dengan dua muda-mudi ini. Yang satu tidak berani mengutarakan perasaannya. Yang satu masih ingin sendiri. Padahal dirinya sudah ingin menantikan cucu.
"Ya pokoknya kamu harus jujur dulu sama Gea kalau kamu suka sama dia. Kalau sampai kamu masih jadi pengecut gini. Mama sendiri yang akan melamar Gea untuk kamu. Ingat itu!"
Mama Hani berjalan pergi dari hadapan Gaza. Sementara Gaza hanya bisa menghela napasnya saja. Rasanya semua kepintarannya di saat ini tidak bisa ia andalkan. Percuma saja pintar bisnis, buat strategi pemasaran kalau ia saja tidak bisa menggunakan itu untuk meraih cintanya.
__ADS_1
Gaza melangkah maju ke tempat dimana Gea berada. Duduk di sebelah Gea dan menatap ke arah depan.
"Alwin sudah semakin besar ya? Aku terkadang sampai heran sendiri. Padahal kemarin saat dibawa kesini, ia masih kecil."
"Ya, pertumbuhan anak memang sangat cepat. Aku juga tidak menyangka. Aku cuma bisa berharap dia jangan tumbuh terlalu cepat. Aku masih ingin menjaganya seperti ini. Kalau cepat tumbuh, nantinya ia bisa melakukan apapun sendirian."
Gaza mengangguk. Lalu keduanya terdiam dengan pikirannya masing-masing.
"Ge?"
"Ya?"
"Kalau suatu hari nanti ... " Gaza menjeda ucapannya. "Ah, nggak jadi. Kapan-kapan aja ngomongnya."
"Aneh kamu mah."
"Heheh, kalau gitu aku masuk ke dalam lagi ya? Kalau nanti perlu sesuatu, panggil aku aja."
Gea mengangguk.
"Dasar bodoh! Kemana nyali besar mu ketika berhadapan dengan saingan tender! Huh! Kalau begini terus, bisa jadi aku akan terluka untuk kedua kalinya."
*
*
Alwin sudah berhasil Gea tidurkan di kasur empuk yang ada di ruang keluarga. Gea menatap wajah damai anak laki-lakinya itu.
"Semoga kamu tumbuh jadi anak yang kuat dan baik hati."
"Tentu saja, ia pasti akan tumbuh seperti itu karena memiliki ibu yang kuat dan baik hati juga," sahut Mama Hani yang sudah ada di ruangan.
"Ah, Tante."
Mama Hani ikut duduk di sebelah Gea. Mengusap kepala Alwin dengan sayang.
__ADS_1
"Kamu tidak berniat mencari pasangan lagi?"
"Belum kepikiran Tante."
"Kalau semisal Tante carikan, mau? Tante punya kenalan anak muda banyak. Mau yang seperti apa? Mau yang pekerjaannya CEO, dokter atau pilot?"
"Nggak usah Tante. Lagipula aku nggak pernah muluk-muluk soal pasangan. Yang penting dia menyayangi aku dan anakku nantinya juga bertanggungjawab. Kalau pekerjaannya seperti yang Tante sebutkan tadi. Itu sangat kontras sekali perbedaannya denganku. Sangat tidak cocok Tante. Sekarang kan aku mau fokus saja dengan tumbuh kembangnya Alwin."
"Jangan selalu merendah Ge. Kalau sudah cinta perbedaan apapun pasti bisa disatukan. Kalau kamu ingin terus fokus ada tumbuh kembang Alwin, tentunya kamu harus punya pendamping untuk menafkahi mu. Kalau kamu terus mencari uang, kamu pasti akan kehilangan satu dua momennya. Seperti yang dulu Tante lakukan ke Gaza. Jadi, mau kan kalau Tante kenalkan?"
Gea tampak bimbang. Jujur ia masih belum kepikiran. Tapi melihat antusiasnya Mama Hani ingin mengenalkan seseorang padanya membuatnya jadi mengangguk.
"Tenang saja, kalau kamu tidak suka. Tak perlu ragu untuk menolak. Lagian kan masih tahap perkenalan saja."
"Iya Tante."
"Oh, iya. Kemarin Tante mendengarkan curhatan dari teman Tante. Katanya anaknya itu suka sama temannya sejak dulu. Sudah lama sekali. Sampai si wanita yang disukainya menikah dan sudah bercerai juga memiliki anak dari mantan suaminya. Si anak teman Tante masih saja menyukainya. Tapi dia nggak berani mengungkapkan isi hatinya. Bodoh kan? Terus katanya lagi, si wanitanya juga belum mau menikah. Ya alasannya seperti kamu ini Ge. Menurut kamu gimana Ge? Si cowoknya harus tetap nyembunyiin perasaannya atau ungkapkan saja?"
Gea terdiam, ia tampak berpikir dulu untuk menjawabnya. Ia memposisikan dirinya yang jadi si cowok anak teman Mama Hani.
"Kalau aku jadi cowok itu. Aku pasti akan menyatakan perasaanku. Meski belum tahu bagaimana jawaban yang akan diberikan nantinya. Karena memendam rasa suka selama itu tidak mudah Tante. Pasti si cowok merasa terus terluka apalagi si wanita pernah menikah. Aku salut sih, dia bisa mencintai wanita itu selama itu. Tapi, ya namanya juga mereka sahabatan. Pasti nantinya ada rasa canggung dan aneh setelah si cowok menyatakannya perasaannya. Tapi, aku yakin, kalau keduanya berjodoh. Pasti ada jalannya, ada titik temunya untuk mereka bersatu. Allah pasti menggerakkan hati keduanya. Si cowok mampu mengutarakan perasaannya dan si cewek mampu memudarkan keras hatinya yang belum mau menikah lagi."
"Kalau kamu yang ada di posisi cewek itu? Kamu akan bagiamana Ge? Apa jawaban kamu barusan juga berlaku untukmu juga? Apa hatimu akan terketuk?"
"Sepertinya kejadian itu tak akan terjadi padaku Tante. Sahabat terdekatku kan cuma Gaza seorang. Mana mungkin dia menyukai aku yang seperti ini. Apalagi Gaza kan seorang CEO pasti banyak yang menyukainya Tante. Pastinya anak-anak pebisnis juga. Aku sadar diri saja tante."
Mama Hani terdiam sejenak. Ia terus mengamati raut wajah Gea ketika menjawab pertanyaannya. Entah kenapa ia merasa ada harapan untuk anaknya. Gea terlihat muram ketika menjawabnya.
Apakah dia tidak rela? Atau sebenarnya Gea sudah menyukai Gaza juga? Hanya saja dia takut karena statusnya sosialnya berbeda? Ya Tuhan, ketuklah hati Gea supaya bisa jadi menantuku.
*
*
TBC
__ADS_1