
Di rumah, David menunggu Selena pulang dengan rasa kesal dan amarah. Karena semakin hari Selena semakin susah diatur. Apalagi ditambah dengan mamanya yang selalu memarahinya karena tidak mampu mengatur sang istri. Bahkan tak menjaga Alwin.
David berjalan mondar-mandir di kamarnya dengan gelisah. Jika Selena seperti ini terus-menerus, bisa saja papanya tahu dan meminta David untuk menceraikan Selena kembali. Apalagi mengingat papanya sampai sekarang tak pernah menyukai Selena. Ia hanya mengizinkan Selena disana hanya karena sebuah janji yang pernah papanya ucapkan.
"Argh! Selena! Kenapa kamu jadi seenaknya sih? Bagaimana kalau papa tahu kalau kamu bukanlah ibunya Alwin! Argh! Sial! Padahal sudah aku peringatkan untuk dekat dengan Alwin!"
Saking kesalnya, David sampai menendang ranjang tempat tidurnya hingga kakinya kesakitan.
Malam saat itu terasa sangat panjang. Bahkan David sudah berubah-ubah posisi untuk menunggu kedatangan Selena. Hingga waktu menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Pintu kamar terbuka memperlihatkan Selena yang baru saja pulang. David menatap istrinya itu dengan tatapan kesal, marah dan kecewa. Namun, Selena dengan tubuh moleknya justru malah duduk di pangkuan sang suami.
"Nanti setelah aku bersih-bersih kita main sayang," ucapnya kemudian mengusap wajah David dengan tangannya diakhiri dengan kecupan di bibir David.
David yang memang selalu tergoda dengan bujuk rayu Selena, jadi tak bisa marah dan malah senyum-senyum sendiri. Ya, David memang sudah cinta mati pada Selena. Mau Selena membuatnya kesal dan amarah sekalipun, wanita itu selalu mampu untuk meredamnya bahkan sampai lupa akan apa yang akan dilakukan sebekumnya.
*
*
Gea pergi ke rumah Gaza karena diajak berkebun oleh Mama Hani. Ketika sudah sampai di rumah Gaza, Gaza yang baru saja bangun tidur dengan wajah bantalnya langsung terkejut ketika melihat Gea ada di hadapannya.
"Astaga! Sedang apa kamu disini Ge?" tanya Gaza.
"Aku diminta Tante untuk kesini pagi-pagi."
"Oh, begitu. Kirain mau ketemu aku," ucap Gaza kepedean.
"Nggak lah, mandi sana. Itu iler mu kemana-mana tahu," ledek Gea ke Gaza yang rambutnya masih berantakan dan wajah yang terlihat masih mengantuk.
Gaza yang diledek seperti itu langsung ngacir ke kamarnya kembali. Ia sangat malu kalau sampai benar ada iler di wajahnya. Rasanya ingin berteriak sekencang mungkin. Bagaimana bisa ia memperlihatkan sisi buruknya di depan wanita yang sangat ia cintai?
Namun, ketika Gaza mengaca di depan cermin yang ada di kamarnya. Tak ada iler di wajahnya. Ia pun jadi memanyunkan bibirnya karena sudah dibohongi Gea. Tapi karena itu juga, Gaza langsung bergegas untuk mandi dan mau menemui Gea kembali.
Mama Hani yang baru selesai menyiapkan menyiapkan tanah dan pupuk di taman pun datang dan langsung menarik tangan Gea untuk mengikutinya. Ia memberikan sarung tangan dan sekop kecil untuk Gea.
Keduanya pun menikmati kegiatan sederhana itu sambil berbincang-bincang.
"Kamu tahu Ge, Tante senang sekali ada yang bisa menemani Tante berkebun. Rasanya seperti punya anak perempuan."
__ADS_1
"Kenapa Tante tidak menyuruh Gaza untuk menikah saja? Dengan begitu Tante akan punya menantu perempuan," usul Gea.
Mama Hani yang mendengarnya agak sedikit sedih. Karena Gea mengatakannya dengan raut wajah bahagia bukan sedih. Itu artinya Gea benar-benar menganggap Gaza hanya sebagai sahabat. Tak ada celah untuk anaknya bisa masuk ke dalam hati Gea.
"Tante sudah sering memaksanya Ge. Tapi dia bilang, nanti, nanti dan nanti. Entah kapan nantinya itu. Sampai Tante meninggal baru menikah mungkin."
"Jangan bilang seperti itu Tante. Doakan saja semoga Gaza cepat menemukan jodohnya."
"Kalau kamu saja jadi jodohnya Gaza mau nggak, Ge?" tanya Mama Hani serius. Tapi Gea malah menjawabnya dengan candaan.
"Mana mungkin Tante, Gaza itu sahabat terbaik aku. Mana bisa kita jadi pasangan, mungkin rasanya akan aneh. Lagipula Gaza juga tidak mungkin menyukai aku," jawab Gea.
"Kalau misalnya Gaza menyukai kamu, gimana?" tanya Mama Hani lagi.
"Nggak mungkin Tante. Selera Gaza pasti perempuan yang berpendidikan. Aku sih apa? Cuma lulusan SMA. Udah ah, bicara Tante jadi ngawur."
Gea menjauh dari Mama Hani karena ia akan meletakkan satu tanaman yang sudah berhasil ia tanam di dalam pot.
Mama Hani menatap Gea.
Setelah berkenalan dan sering bertemu dengan Gea, Mama Hani jadi semakin menyukai sikap Gea. Ia pun menyetujui jika Gaza ingin berjuang untuk mendapatkan Gea. Namun, ternyata tidak semudah itu. Karena mungkin masih ada luka dan beban di hati Gea.
Tak lama Gaza pun datang ke taman dan melihat dua wanita yang disayanginya sedang fokus berkebun.
Mama Hani yang melihat itu langsung menyindir Gaza.
"Ck! Karena ada Gea kamu jadi mau kesini ya? Padahal mama selalu mengajak kamu untuk membantu mama, tapi kamu selalu beralasan sibuk dan sibuk. Cih! Dasar pembohong!"
Gaza hanya bisa nyengir ketika disindir mamanya.
"Kamu akan sulit meluluhkan hati Gea, Ga. Mama tadi sengaja memancing Gea. Bagaimana tanggapannya kalau tahu kamu menyukainya. Tapi Gea malah menjawab itu tidak mungkin. Kamu sih, jadi laki-laki kenapa pengecut sekali. Seharusnya kalau suka dari dulu langsung nyatakan saja," kesal Mama Hani karena anaknya bergerak sangat lambat.
"Nggak semudah itu Ma. Aku saja tidak sadar kalau aku menyukai Gea. Tau-tau saat Gea dekat dengan laki-laki lain aku jadi cemburu. Tapi, kan di saat itu aku adalah sahabatnya. Apalagi Gea selalu bilang kalau kami harus bersahabat hingga memiliki cucu masing-masing," jawab Gaza sambil mengerucutkan bibirnya.
"Huh! Ya sudahlah, intinya kamu harus berjuang sangat keras."
Gaza mengangguk. Kemudian membantu mamanya berkebun juga.
__ADS_1
Matahari semakin meninggi. Sinar yang dipancarkannya sudah terasa agak panas. Mereka pun mengakhiri kegiatan berkebun. Mama Hani menyuguhkan beberapa cemilan untuk Gea.
"Ge, mau temani Tante ke mall nggak? Tante mau beli baju tapi kalau mengajak Gaza, yang ada dia malah ngomel-ngomel terus karena Tante selalu lama kalau memilih-milih baju."
"Boleh Tante. Ayok, mau kapan?" jawab Gea.
"Sekarang sih maunya."
"Ya sudah ayo Tante."
"Sebentar ya, Tante mau siap-siap dulu."
Gea mengangguk.
Setelah Mama Hani sudah bersiap dan akan pergi, Gaza malah bertanya mamanya mau pergi kemana.
"Mau ke mall sama Gea. Kalau ajak-ajak kamu yang ada telinga mama bengkak dengerin ocehan kamu."
Gaza memanyunkan bibirnya, karena mamanya malah menceritakan hal buruk tentang dirinya apalagi itu di depan Gea.
"Ikut ma," ucap Gaza yang kali ini malah menawarkan diri.
"Nggak, nggak ada. Kamu di rumah aja, jaga rumah."
"Ih, mama. Aku malas sendirian di rumah."
"Sudah, nggak apa-apa Tante kalau Gaza mau ikut."
"Ya sudah kamu boleh ikut, tapi kamu jadi supir," ucap sang mama.
Dan benar saja, Gaza jadi supirnya. Karena kedua wanita itu duduk di bangku belakang kemudi dengan saling bercerita bahkan tertawa bersama. Gaza seolah jadi orang asing disana.
*
*
TBC
__ADS_1