Dibuang Setelah Melahirkan

Dibuang Setelah Melahirkan
Bab 39 - Mama Hani tahu tentang Gea


__ADS_3

Sesampainya di mall, Gaza seperti jadi penjaga dua wanita berbeda usia itu. Ia berjalan di belakang keduanya yang tengah asik mengobrol seolah dirinya tak terlihat sama sekali.


"Huh! Mama ini menyebalkan sekali sih! Kenapa tidak beri aku kesempatan untuk berdua dengan Gea? Padahal dia tahu aku suka Gea," gerutu Gaza pelan.


Dua wanita itu masuk ke toko pakaian. Mama Hani memilih-milih pakaian yang akan ia beli. Namun, melihat Gea, ia juga ingin membelikan pakaian untuk wanita itu. Hingga ia pun mengambil sebuah gaun cantik berwarna lavender untuk Gea.


Mama Hani mendekatkan gaun itu mencoba mencocokkan dengan Gea.


"Pas sekali. Cocok sama warna kulit kamu dan sepertinya ukurannya juga sesuai."


"Eh, tapi aku tidak mau beli pakaian Tante. Aku kan cuma mau menemani Tante saja," ucap Gea.


"Ini hadiah untuk kamu karena sudah menemani Tante. Sana coba dulu. Tante mau lihat."


"Tidak perlu Tante."


"Sudah, sana! Sana!" perintah Mama Hani sedikit mendorong Gea ke ruang ganti. Ia tidak menerima penolakan. Lagipula ia juga sangat ingin punya anak perempuan agar bisa menemaninya belanja, berkebun, memasak dan kegiatan lainnya. Anaknya yang laki-laki mana bisa. Kebanyakan menggerutu yang ada.


Gea pun keluar dari sana dengan malu-malu.


"Wah, cantik sekali. Pilihan Tante memang tidak salah. Kamu mau pakaian yang model apa lagi?" tanya Mama Hani yang membuat Gea terkejut.


"Tidak Tante, aku tidak ingin apa-apa."


"Ah, kamu ini. Sana ganti lagi!" perintah Mama Hani lagi.


Setelah Gea selesai mengganti bajunya lagi, Mama Hani membawa dua model pakaian lagi untuk Gea. Bahkan sudah dibayar. Ia pun memberikannya ke Gea.


"Jangan ditolak. Tante tidak menerima penolakan," ucap Mama Hani sambil menyerahkan paper bag itu sambil menaruh gaun yang masih ada di tangan Gea.


Gea hanya bisa pasrah. Kalau menolak, yang ada Mama Hani nanti kecewa. Tapi, menerima membuatnya tidak enak. Apalagi ia melihat harga pakaiannya yang sangat fantastis.


Gaza yang sedari tadi duduk menunggu di depan toko pun, langsung berdiri ketika kedua wanita itu keluar dengan membawa beberapa paper bag di tangan.


"Mama belanjanya banyak sekali. Nanti kalau ketahuan papa dimarahin loh."

__ADS_1


"Papamu cari uang buat siapa? Buat keluarga kan? Daripada menumpuk menggunung-gunung lebih baik mama pakai lah. Lagipula mama juga beli pakaian untuk papa," jawab Mama Hani.


"Untuk aku?" tanya Gaza sambil menunjuk dirinya.


"Tidak ada," jawab Mama Hani.


"Pilih kasih." Gaza agak sedikit cemberut.


Mama Hani tidak peduli. Ia langsung mengambil paper bag miliknya dan Gea dijadikan satu lalu menyuruh Gaza untuk membawakannya. Lalu mereka berjalan saling bergandengan.


"Nah, ini nih yang bikin aku suka malas menemani belanja. Mama yang belanja, kenapa jadi aku yang bawa? Huh!"


Gaza pun menerima dengan berat hati harus membawa belanjaan wanita yang ia sayangi.


Setelah belanja pakaian, Mama Hani mengajak Gea ke toko tas, disana lagi-lagi Gea dibelikan tas mahal. Sudah menolak, tapi tetap saja Mama Hani tidak mau menerima penolakan. Hingga akhirnya mereka pun selesai belanja dan mampir ke restoran disana untuk makan siang.


Ternyata Tamara ada disana sedang berkumpul dengan teman-temannya dan membawa Alwin dan suster Alwin. Tamara melayangkan senyuman ke Gea dari jauh. Begitu pun dengan Gea. Mama Hani yang melihat itu dibuat keheranan.


"Kamu senyum-senyum sama siapa Ge?" tanya Mama Hani.


Mama Hani pun melihat ke arah tunjukkan tangan Gea.


"Yang mana orang yang kamu kenal?" tanya Mama Hani lagi, karena ia tahu bahwa orang-orang disana adalah kumpulan ibu-ibu sosialita. Dulu Mama Hani pernah diajak masuk ke kumpulan itu. Namun, karena ada Tamara, ia tidak jadi ikutan. Karena perusahaan suaminya dan suami Tamara adalah saingan. Begitu juga dengan Mama Hani yang tak pernah akur dengan Tamara.


"Yang lagi gendong bayi Tante."


"Oh." Mama Hani hanya ber-oh saja. Ia malah dibuat penasaran, kenapa Gea bisa mengenal Tamara. Padahal Gea baru di Jakarta. Ia pun menatap Gea dengan penuh selidik.


Gaza yang memang sedari tadi mendengar obrolan keduanya lalu menyenggol siku mamanya dan sedikit berbisik ke mamanya.


"Ma, bayi itu adalah anaknya Gea," bisik Gaza.


"Hah?" Mama Hani langsung terkejut bukan main. Ia menatap ke arah Gaza seolah tidak percaya. Karena ia tahu suami Tamara tidak mungkin menerima menantu dari kelas rendahan. Ya, meskipun Tamara mungkin bisa menerimanya.


"Tante kenapa?" tanya Gea yang ikut terkejut juga karena Mama Hani berteriak.

__ADS_1


"Ah, tidak apa-apa Ge," jawab Mama Hani.


"Beneran?" tanya Gea lagi memastikan.


Mama Hani mengangguk. Ia kemudian menatap Gaza untuk meminta penjelasan nantinya. Gaza pun mengiyakan dengan simbol ok menggunakan jemari tangannya.


Setelah perut sudah kenyang mereka pun keluar dari sana dan menunggu Gaza datang membawa mobilnya. Lalu ketika Gaza datang, kedua wanita itu langsung masuk ke dalam mobil. Posisinya sama seperti mereka berangkat tadi. Gaza menjadi supirnya.


Di perjalanan, Mama Hani terus memandang ke arah Gea. Karena ia cuma tahu kalau Gea ingin mengambil hak asuh anaknya saja. Tanpa tahu siapa suaminya dan bagaimana masalah Gea yang lainnya. Tapi melihat kalau Tamara adalah mantan mama mertua Gea, membuat Mama Hani dibuat penasaran.


Sebenarnya kehidupan seperti apa yang kamu jalani sebelumnya Ge? Rasanya Tante merasa aneh.


"Tante kenapa terus memandangi aku sejak tadi?" tanya Gea yang menyadari tengah diamati oleh Mama Hani.


"Ah, itu. Tante lihat pemandangan di luar sana," alibinya.


Gea pun mengangguk tak bertanya apapun lagi.


Mereka sudah sampai di rumah Gaza. Gea langsung saja berpamitan karena ia harus membuat kue. Mama Hani pun mengizinkan.


"Kapan-kapan kesini lagi ya Ge. Hati-hati di jalan."


"Iya Tante."


Gea pun mengendarai motornya keluar dari area rumah Gaza. Sepeninggalnya Gea dari sana. Mama Hani langsung melayangkan banyak pertanyaan ke Gaza. Ia ingin tahu semua tentang Gea. Dengan berat hati, Gaza menceritakan semua yang ia tahu pada sang mama. Mama Hani tampak terkejut, marah, kesal dan bahkan sampai mengepalkan tangannya ketika mendengar cerita tentang Gea dari anaknya.


"Malang sekali wanita itu. Pasti dia sangat menderita selama ini. Untunglah, dia punya kamu sebagai sahabatnya. Mama agak sedikit lega. Bagaimana jika tidak ada kamu yang membantunya, mungkin Gea bisa depresi berat. Menemukan orang itu tidaklah mudah apalagi Malang dan Jakarta itu jauh jaraknya. Pokoknya mulai sekarang kamu harus terus menjaga Gea dan melindungi Gea jangan sampai ia menderita lagi."


"Iya mama, sebelum mama minta pun aku akan melakukannya."


"Iya, kamu kan mencintainya. Cuma pengecut tidak bisa mengatakannya," sindir sang mama membuat Gaza sedikit cemberut.


*


*

__ADS_1


TBC


__ADS_2