Dibuang Setelah Melahirkan

Dibuang Setelah Melahirkan
Bab 70 - Aku cinta kamu


__ADS_3

Acara ijab kabul akan dimulai sebentar lagi. Semua keluarga dan kerabat sudah berkumpul dan akan menjadi saksi pernikahan Gea dan Gaza.


Wajah gugup terlihat sangat jelas dari wajah Gaza. Bahkan laki-laki itu tak mampu lagi memandang semua orang yang melihatnya. Rasanya ini lebih menakutkan daripada ia harus menghadapi klien. Rasanya campur aduk. Apalagi ketika melihat ke samping, terlihat wajah Gea yang cantik mempesona bak seorang bidadari. Jadi tambah campur aduk dan gugup saja dirinya.


Tangannya dan tangan bapak Gea sudah saling berjabat, bapak Gea mulai mengucapkan apa yang diajarkan oleh sang penghulu. Kemudian harus dijawab oleh Gaza.


Ketika giliran Gaza, laki-laki itu seketika panik dan langsung mengucapkannya dengan cepat dan lantang.


"Gimana ara saksi? Sah?"


"SAH!" sorak semua orang.


"Alhamdulillah. Silahkan untuk mempelai wanita mencium tangan suaminya."


Untuk pertama kalinya, Gaza merasakan seperti ada yang meledak di dalam hatinya. Ia benar-benar masih tidak menyangka akhirnya penantian panjangnya terbayarkan dan tidak sia-sia. Ia berhasil mendapatkan tambatan hatinya.


Selesai ijab kabul, mereka pun melakukan sesi foto bersama dengan keluarga Gaza dan Gea begitu juga dengan para tamu undangan yang hadir.


Sebagai orang tua, ibu dan bapak Gaza memberikan sebuah wejangan untuk putra putrinya.


"Nduk, semoga ini adalah pernikahan terakhir kamu. Ibu berharap kamu sama Gaza bisa menua bersama. Ibu titip pesan, kamu jangan pernah membantah apapun yang dikatakan suami kamu, kecuali kalau dia menyuruh kamu untuk hal yang buuk. Kamu berhak menolak dan menyadarkannya."


"Iya Bu, terima kasih. Gea akan selalu ingat ucapan ibu."


Ibu langsung memeluk Gea dengan sayang. Ia berharap anaknya bisa bahagia dan tidak terluka lagi.


"Bapa cuma mau bilang, kalau di setiap pernikahan pasti ada kendalanya masing-masing. Tapi, gimana caranya bertahan, itu juga cuma kamu yang tahu. Intinya kalau nanti ada masalah selesaikan baik-baik, jangan emosi dan malah menghindar. Ingat ya nak!"


Gea mengangguk lagi. Lalu memeluk bapaknya.


Ibu meraih tangan Gaza dan mulai bicara," Titip anak ibu, jaga dia dengan baik. Ibu percaya kamu bisa membahagiakannya. Tapi kalau suatu saat ada kejadian yang tak terduga dan kamu sudah tidak lagi mencintainya. Kembalikan Gea lagi ke ibu dan bapa. Itu lebih baik, daripada kamu menjadi David kedua."


"Aku akan berusaha yang terbaik. Aku akan menjaga kepercayaan ibu dan bapa."


Setelah ibu dan bapa Gea sudah memberikan wejangan, kini giliran Mama Hani dan Papa Geovani.


"Selamat untuk pernikahan kalian, mama dan papa hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Dan kamu sebagai suami harus bis membimbing istri kamu, menafkahi istri kamu lahir dan batinnya. Kamu juga, sebagai istri harus mau mendengarkan suami, melayani suami juga melakukan hal dan kewajiban kalian masing-masing."

__ADS_1


Kemudian Mama Hani memeluk Gea yang sudah resmi jadi menantunya. Begitu juga dengan Papa Geovani.


"Cucu-cucu nenek, akhirnya kalian berdua sudah sah menjadi suami istri. Nenek berharap kalian bisa terus saling mencintai sampai tua nantinya. Jangan lupa untuk segera berikan nenek cucuk. Nenek sudah tidak sabar ingin menggendongnya," ucap nenek yang memang gilirannya.


Baik Gaza dan Gea hanya saling pandang kemudian tersenyum dan memeluk nenek.


Setelahnya, datangnya Tamara dan Giandratama.


"Selamat atas pernikahan kalian. Tante dan Om ikut bahagia menyaksikannya. Semoga kalian bisa cepat diberikan momongan lagi."


"Aamiin, terima kasih doanya."


Acara pernikahan pun terus berlangsung hingga sore menjelang. Gea mulai lelah karena harus bersalaman dan berdiri untuk menyambut tamu yang datang begitu lama. Akhirnya ia bisa bernapas lega karena acara sudah selesai.


"Pasti capek ya?" tanya Gaza.


Gea mengangguk.


"Ayo masuk ke dalam, lagipula acaranya pun sudah selesai."


Gea mengangguk lagi. Keduanya berjalan saling bergandengan untuk masuk ke rumah Gea.


Gaza hanya duduk sambil melihatnya. Setelah menunggu beberapa menit, Gea masuk ke dalam kamar hendak mengganti gaun dengan pakaian biasanya. Namun, resletingnya susah untuk diturunkan. Akhirnya ia pun meminta tolong ke Gaza dengan memanggil Gaza.


Untuk pertama kalinya, Gaza membuka resleting gaun yang Gea kenakan. Di kepalanya malah tersiarkan adegan yang tidak-tidak setelah ini. Karena kebanyakan film romantis yang ia tonton selalu seperti itu.


"Sudah selesai," ucap Gaza.


Namun, ketika Gea akan berbalik, Gaza malah memeluknya dari belakang dan menaruh dagunya di bahu Gea.


"Kamu tidak marah kan aku melakukan ini?"


Gea menggeleng. Gimana mau marah? Gaza kan sudah jadi suaminya dan memang berhak melakukan apapun padanya. Ia sudah paham itu.


"Ge, aku cinta kamu," ucapnya sambil mencuri ciuman di pipi Gea. Setelahnya ia malah kabur keluar, membiarkan Gea mengganti gaunnya.


Gea yang diperlakukan seperti itu, pipinya langsung bersemu merah dan dadanya berdegup dengan kencang. Kemudian mengganti gaunnya dengan pakaian biasa.

__ADS_1


*


*


Malam harinya, Gaza sudah bersanding status sebagai suami dari Gea dan juga ayah sambung untuk Alwin. Di saat Gea menyiapkan makan malam, Gaza dan bapa mengobrol berdua di ruang tamu.


"Nak, kapan rencana kembali ke kota nya?"


"Rencananya 4 hari lagi Pa. Soalnya aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan ku terlalu lama."


"Oh, begitu. Ya sudah tidak apa-apa. Bapa titip Gea ya, meskipun kamu sudah hapal gimana kelakuannya karena kalian tumbuh bersama, tetap saja pasti ada perilaku Gea yang mungkin tidak kamu sukai. Tapi, kamu harus ingat satu hal, pernikahan yang awet itu adalah pernikahan yang di dalamnya mampu menerima kekurangan masing-masing dan saling melengkapinya."


"Iya Pak, Gaza ingat kok."


"Em, mengenai masalah momongan, bapak tidak akan memaksakan kalian mau cepat atau menundanya. Karena mengingat Alwin pun masih kecil usianya. Tapi bapak dan ibu akan senang kalau bisa cepat memiliki cucu lagi."


"Tenang saja Pak, aku tidak berniat menundanya. Lagipula kalau Alwin punya adik di usianya yang masih kecil akan lebih baik, karena usia mereka tak beda jauh."


"Iya memang benar sih. Pokoknya urusan itu mah terserah kalian saja."


Tak lama kemudian, Gea dan ibu memanggil suaminya masing-masing untuk berkumpul di meja makan. Suasana makan malam terjadi begitu hangat. Bahkan Gaza merasa jadi suami paling bahagia, karena untuk pertama kalinya ia dilayani seperti raja.


"Tambah lagi itu lauknya Ge. Biar Gaza makannya banyak. Kalian berdua pasti nanti butuh tenaga untuk malam pertama."


Kedua wajah sepasang pengantin baru itu langsung bersemu merah.


"Iya Bu," jawab Gea.


"Aduh, si ibu ini, jangan terlalu frontal bilangnya. Lihat itu mereka jadi malu-malu kucing begitu."


Si ibu malah terkekeh dan merasa lucu sendiri. Ia malah jadi fokus ke Alwin yang makan dengan lahap.


"Malam ini Alwin tidur sama ibu dan bapa. Kalian nikmatilah malam kalian berdua," ucap si ibu lagi.


Bertambah lah lagi rona merah di keduanya.


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2