Dibuang Setelah Melahirkan

Dibuang Setelah Melahirkan
Bab 37 - Biarlah mereka bahagia


__ADS_3

Setelah pertemuan pertama Gea dan Tamara waktu itu di mall, Tamara jadi sering mengajak Gea untuk bertemu. Gea pun tak menolaknya. Karena Tamara selalu membawa Alwin ketika wanita itu keluar.


Kini mereka pun mengadakan piknik di sebuah taman agar Alwin bisa tahu tentang alam. Supaya Alwin bisa bebas bergerak di atas untuk melatih motorik bayi itu karena kini sudah bisa merangkak.


Gea jadi merasa senang, meski tak sering bertemu dengan sang anak, tapi ketika bertemu, Alwin selalu ingin bersamanya. Bahkan lebih memilih digendong oleh Gea daripada omanya. Hal itu membuat Tamara heran sendiri. Tapi, ya sudahlah, daripada Alwin terus menangis.


Alwin sedang aktif-aktif nya merangkak. Gea tersenyum bisa melihat perkembangan anaknya itu. Setelah Alwin merasa cape, bayi itu berhenti merangkak dan duduk dengan sendirinya. Ketika melihat di depannya ada makanan, ia mengambil makanan itu dan langsung memakannya.


"Kemana mamanya Tante? Kenapa sepertinya, selalu Tante yang menjaganya?" tanya Gea.


Padahal di dalam hatinya, ia sulit sekali menanyakan itu karena dirinyalah ibu kandungnya.


Wajah Tamara berubah yang tadi ceria jadi kesal. Ia seolah menemukan tempat untuknya bercerita.


"Mamanya Alwin seorang model. Dia terlalu sibuk mementingkan pekerjaan. Jadi, Alwin tidak terurus olehnya. Bahkan mamanya selalu mempercayakan Alwin ke susternya. Makanya, karena tidak mau Alwin terus bergantung pada suster yang bukan siapa-siapa itu, Tante memilih untuk mengurus cucu sendiri, suster tugasnya cuma bantu aja."


"Eum begitu ya Tante, pantesan saja. Dimakan Tante kuenya. Itu buatan aku sendiri," ucap Gea.


Tamara pun mengambil kue yang dihidangkan Gea. Ia melahapnya dan menikmati rasa yang ada di kue itu.


"Eum, enak sekali Run. Kamu tidak buat toko kue? Pasti ini akan laris manis."


"Masih belum ada modal Tante. Sekarang yang aku bisa cuma nitip dari warung satu ke warung yang lain. Tapi, alhamdulillah selalu laris manis," jawab Gea.


"Kalau Tante yang modalin mau?" tawar Tamara.


Gea menggeleng.


"Tidak usah Tante. Nanti juga pasti akan ada modalnya. Tante cukup jadi penikmat kue ku saja, itu sudah cukup."

__ADS_1


"Andai saja, kamu yang jadi menantuku Run. Pasti di rumah akan seru sekali. Aku tidak akan marah dan kesal tiap harinya. Aku tidak akan terus bertengkar dengan anakku."


Andai Tante tahu, aku adalah mantan menantu Tante juga. Tapi, aku tidak bisa mengatakannya sekali. Ini terlalu cepat, aku takut Tante tidak akan percaya.


"Ya manusia memang hanya bisa berandai-andai Tante. Sama seperti aku yang dulunya berandai-andai memiliki pernikahan yang bahagia, keluarga kecil yang utuh dan selalu bersama. Namun, semuanya sirna begitu saja," ucap Gea dengan raut wajah sorot mata sedihnya.


"Coba ceritakan apa yang kamu alami. Tante ingin mendengarnya. Tante lihat kamu ini wanita yang kuat padahal kamu mengalami masalah yang begitu berat. Jauh dari anak itu sangat menyakitkan."


Gea pun akhirnya menceritakan semuanya pada Tamara. Di mulai dari pernikahan yang terjadi setelah beberapa bulan berkenalan. Kemudian menikah hingga ia hamil lalu datang wanita yang katanya adik dari suaminya. Lalu lambat laun, sedikit demi sedikit tabir kenyataan mulai terungkap. Bahwa wanita yang dianggapnya adik ipar ternyata adalah istri pertama suaminya, dan mereka memanfaatkan Gea untuk mendapatkan bayi yang ada di dalam kandungan Gea.


Sampai akhirnya Gea shock dan dilarikan ke rumah sakit lalu melahirkan. Setelahnya Gea dikurung dan tidak boleh pergi kemana pun, bertemu dengan anaknya saja hanya ketika anaknya haus dan rewel. Lalu setelah satu bulan berlalu, ia mendapati sebuah surat cerai dan anaknya dibawa pergi oleh sang suami dan istri pertamanya.


Gea menceritakan semuanya tanpa ada yang dilebih-lebihkan atau dikurangi. Ia hanya tidak menyebutkan nama mereka saja.


Tamara yang mendengar semua itu jadi merasa sesak di dadanya. Mungkin kalau dia jadi Gea, bisa saja sudah depresi atau mungkin sudah hilang akal dan membunuh mantan suaminya.


"Kamu kuat sekali menghadapi ini semua, Nak. Mereka jahat sekali padamu. Tante yakin, suatu saat mereka akan mendapatkan ganjarannya. Ngomong-ngomong siapa nama mereka?" tanya Tamara.


"Em begitu, teruslah berjuang Run. Tante yakin kamu bisa mendapatkan hak asuh itu. Lalu apa kamu sudah tahu dimana mereka tinggal?" tanya Tamara lagi.


Gea mengangguk.


"Aku bahkan hampir mengawasi rumahnya setiap hari dari kejauhan Tante. Cuma karena ingin melihat anakku dan melihat seberapa bahagia nya mereka di atas penderitaanku. Biarlah mereka bahagia dulu sekarang, sebelum aku menghunuskan pedang beracun perlahan-lahan."


"Tante suka cara kamu, semua masalah memang tidak harus diselesaikan dengan kekerasan atau pun amarah. Kita harus memiliki cara elegan untuk menghancurkannya. Diam-diam tapi menghanyutkan. Terlihat lemah tapi nyatanya orang yang kuat. Itu bagus untuk membuat mereka ketar-ketir. Kalau butuh bantuan, bilang ke Tante. Tante akan bantu kamu, Run."


Apa jika nanti aku sudah mau mengatakan siapa orang yang aku ceritakan ke Tante tadi, Tante akan membantuku? Yang artinya Tante akan berpisah dengan cucu Tante sendiri. Apa Tante bisa?


Pertanyaan itu hanya Gea ucapkan di dalam hatinya.

__ADS_1


Gea mengangguk dan mengucapkan terima kasih atas tawaran bantuan dari Tamara. Hari semakin siang, cuaca di taman sudah semakin panas. Sangat tidak bagus untuk kulit. Mereka pun akhirnya berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.


*


*


David terus merasa gelisah di kantornya. Entah kenapa ia sangat yakin kalau wanita yang dilihatnya malam itu adalah Gea. Ia jadi susah untuk tidur karena terus kepikiran, bahkan ketika Selena mengajaknya untuk bercinta pun, David jadi tidak fokus karena rasa gelisah nya.


"Argh!!!! Sial! Cuma karena melihat Gea saja aku sudah kalang kabut begini. Bagaimana jadinya kalau Gea benar-benar ada disini? Semuanya bisa gawat. Apalagi kalau papa dan mama sampai mengetahuinya. Entah apa jadinya aku nanti."


Akhirnya daripada terus merasa gelisah, David memerintahkan orang untuk mencari Gea di Jakarta sampai ketemu. Ia tidak bisa tinggal diam karena Gea sudah mengganggu ketenangan hidupnya yang kini sudah punya segalanya.


Di kegelisahan itu, Selena menelpon David. David pun langsung mengangkatnya.


"Mas, aku izin pemotretan sampai malam lagi ya. Aku tidak bisa menolak karena kliennya menginginkan aku sebagai modelnya."


David menghela napasnya kasar.


"Apa kamu tidak bisa menolaknya? Kamu tidak memikirkan aku atau Alwin gitu? Lagipula apa yang kamu cari, Sel? Uang? Kita udah punya uang banyak sekarang. Apa kamu tidak bisa mengundurkan diri saja?" ucap David.


"Mas! Kenapa sekarang jadi ngatur-ngatur aku gini sih? Bukannya dulu mas sendiri yang bilang akan terus dukung apapun keinginanku! Kenapa sekarang malah berubah pikiran?"


"Sudahlah aku tidak mau berdebat di telpon. Aku tidak mengizinkanmu untuk pulang malam hari ini."


"Aku akan tetap pulang malam."


Setelah itu, Selena langsung memutuskan teleponnya secara sepihak. David langsung memukul meja kerjanya dengan keras.


*

__ADS_1


*


TBC


__ADS_2