Dibuang Setelah Melahirkan

Dibuang Setelah Melahirkan
Bab 43 - Bakti Sosial


__ADS_3

Lagi-lagi David dibuat kecewa oleh anak buahnya.


"Kamu itu kerjanya gimana sih? Aku sudah bayar mahal-mahal! Untuk menculiknya saja tidak bisa!"


"Sebenarnya tadi hampir saja berhasil Bos! Tapi ada orang yang menolongnya. Sepertinya dia juga bukan orang biasa. Teknik bela dirinya sangat bagus. Kalau cuma orang lewat saja rasanya tidak mungkin. Apa wanita itu ada seseorang yang menjaganya, Bos?" ucap orang suruhan David.


David terdiam, memikirkan ucapan dari orang suruhannya itu. Lalu teringat sesuatu. Ia mengepalkan tangannya.


Pasti ini semua karena Gaza. Pasti laki-laki itu menyuruh orang untuk melindungi Gea. Sial! Kenapa sih dia harus ikut campur urusanku!


"Pokoknya aku tidak mau tahu. Kau harus mencoba cari cara lain untuk menculik Gea dan bawa dia ke tempat yang sudah aku persiapkan."


"Baik Bos. Akan saya usahakan lagi. Saya tidak akan mengecewakan anda lagi."


David memukul meja kerjanya kemudian memperlihatkan raut wajah penuh amarah.


"Harusnya dulu aku membunuhmu saja Gea."


*


*


Gea telah sampai di kontrakannya. Niatnya sih mau memberikan minum ke Ken, tapi laki-laki itu rupanya sudah tak terlihat lagi.


"Cepat sekali menghilangnya."


Gea pun masuk ke dalam rumahnya kemudian menutup pintunya lagi. Ia menuangkan air minum untuk dirinya. Lalu duduk di pinggiran kasur.


Ingin menelpon Gaza, tapi ia urungkan karena ini masih jam kerja kantor. Jadilah, Gea menelpon ibunya di kampung.


Sambungan telepon telah terhubung. Suara wanita yang dirindukan Gea mulai terdengar begitu lembutnya.


"Gimana kabarmu, Nak?" tanya sang ibu.


"Alhamdulillah sehat Bu. Ibu dan bapa gimana di kampung sehat-sehat juga, kan?" Gea bertanya baik.


"Iya, kami baik-baik saja. Bapak malah lagi semangat-semangatnya berkebun. Apalagi harga hasil pertanian dan perkebunan saat ini lagi mahal. Makanya bapak jadi semangat banget."

__ADS_1


"Alhamdulilah kalau seperti itu, Bu."


"Iya Nak. Gimana sudah bertemu anakmu? Sudah bicara dengan mantan suamimu?" tanya Ibu.


Gea menghela napasnya sejenak sebelum menjawab pertanyaan sang ibu.


"Aku udah bertemu dengan anakku Bu. Dia tampan, pipinya gembul, badannya berisi dan lagi aktif-aktifnya bergerak. Pasti ibu kalau melihatnya juga gemas sendiri. Tapi, sepertinya untuk mengambilnya tidak akan mudah Bu. Bahkan Mas David saja pura-pura tidak mengenalku di hadapan mamanya."


"Ibu jadi ingin kesana lagi dan bertemu cucu ibu. Yakinlah, pasti kamu bisa mendapatkannya Ge. Kebaikan itu selalu menang."


"Nanti ibu kesini nya lagi kalau aku sudah mendapatkan hak asuh dari anakku. Aamiin, semoga begitu ya Bu."


"Iya Nak. Aamiin. Ngomong-ngomong gimana hubungan kamu sama Gaza, Ge?" tanya ibu tiba-tiba hingga membuat Gea terheran-heran.


"Kok, tiba-tiba tanya Gaza sih Bu? Aku sama Gaza ya, kita kan sahabatan," jawab Gea.


"Ah, begitu ya. Ge dengarkan ibu baik-baik. Kalau suatu saat nanti ada yang suka sama kamu dan mengajak kamu untuk menikah, amati dulu bagaimana karakternya. Pengalaman pernikahanmu yang sebelumnya, harus kamu jadikan pelajaran untuk keputusan kamu di masa depan. Ibu tidak meminta kamu untuk buru-buru menikah lagi, tapi itu pesan ibu untuk kamu."


"Ah, ibu apaan sih, Gea belum kepikiran sampai sana. Yang Gea pikirkan sekarang cuma Alwin. Masalah nanti ada orang yang suka sama Gea, Gea nggak tahu harus gimana. Gea masih belum siap. Gea takut dikecewakan lagi, Bu. Luka yang ini saja, rasanya masih sakit sekali."


"Iya, makasih ya Bu. Kalau begitu sudah dulu ya Bu, Gea mau nyuci baju dulu."


Sambungan telepon pun berhenti. Gea meletakkan ponselnya di atas meja. Ia pun pergi ke kamar mandi untuk mencuci bajunya yang sudah ia rendam dengan deterjen.


Setengah jam kemudian, Gea telah selesai mencuci dan langsung menjemurnya di belakang kontrakan. Lalu setelahnya, Gea pergi dari rumah menuju ke rumah Gaza. Karena Mama Hani meminta Gea untuk menemani wanita itu pergi ke acara bakti sosial yang akan dihadiri oleh para istri-istri dari pemimpin perusahaan ternama.


*


*


Gea dan Mama Hani telah tiba di acara. Mama Hani datang dengan menggandeng tangan Gea kesana. Semua orang menatap ke Gea dan Mama Hani. Karena mereka semua tahu, kalau anak Mama Hani belum menikah. Seharusnya ia datang kesana sendirian. Berbeda dengan uang lain, mereka datang dengan menantu perempuan atau anak perempuan mereka.


"Kenapa kita ditatap seperti itu, Tante? Apa pakaian yang aku kenakan sangat lusuh?" tanya Gea yang merasa tidak nyaman.


"Tidak, mereka paling iri sama kecantikan kamu dan Tante. Sudah, abaikan saja," ucap Mama Hani.


"Iya Tante."

__ADS_1


Keduanya pun kini sudah berkumpul dengan ibu-ibu yang lain di kursi yang sudah disediakan. Rupanya disana ada Tamara dan juga Selena.


Selena menatap Gea dengan tatapan tidak suka. Namun, ia tidak bisa terang-terangan mengatakan tidak suka itu ke Gea. Karena nantinya mama mertuanya bisa curiga.


"Akhirnya kamu datang juga Han. Sayang sekali, kamu tidak ikut perkumpulan kita. Tapi, untungnya kamu selalu ikut acara bakti sosial ini."


Mama Hani hanya tersenyum menanggapinya. Lalu ia memperkenalkan seseorang yang ia bawa.


"Kenalkan ini sahabatnya anakku, namanya Aruni."


Mama Hani sengaja memperkenalkan Gea sebagai Aruni, karena Mama Hani tahu, Tamara tahunya Gea adalah Aruni.


"Wah, aku kira, dia ini calon menantumu, Han."


"Ya, doakan saja," ucap Mama Hani.


Tamara disana hanya diam tak mengatakan apapun, karena ia malas karena kedatangan Hani. Tapi, kalau terus-terusan diam juga, ia jadi orang yang tidak dianggap disana. Karena ketika ada Hani, semua pusat perhatian orang tertuju padanya.


Acara bakti sosial berjalan dengan lancar. Ucapan terima kasih pun terus terucapkan oleh orang-orang yang mendapatkan bantuan. Ketika waktunya untuk beristirahat, Gea pun pergi ke tempat makan dan mengambilkan satu nasi kotak untuk Mama Hani. Rupanya, disana ada Selena juga yang sedang mengambil nasi kotak juga.


Wanita itu mendekat ke Gea dan sengaja menyenggol bahu Gea.


"Dengar ya, kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan Alwin, karena Alwin adalah anak aku dan Mas David. Bahkan di kartu keluarga pun, aku dan Mas David lah orangtuanya. Aku memperingatkan mu untuk tidak melakukan hal yang tidak perlu."


Gea tersenyum sinis.


"Apa kamu sekarang merasa terancam, dan ketakutan karena ada aku disini? Tetap saja aku adalah ibu kandungnya, kamu hanya seorang ibu yang memanfaatkan kehadirannya. Tunggu saja, cepat atau lambat. Aku akan mengambil anakku. Kuharap kau siap menghadapi badai yang akan aku berikan," ucap Gea kemudian pergi dari sana.


Selena menghentakkan kakinya karena kesal. Ia tidak menyangka Gea yang dulu hanya bisa menangis dan tak bisa melakukan apapun, sekarang jadi pintar mengancam begini.


"Awas saja! Aku juga tidak akan tinggal diam kalau sampai kau mengganggu semua yang aku miliki sekarang!"


*


*


TBC

__ADS_1


__ADS_2