Dibuang Setelah Melahirkan

Dibuang Setelah Melahirkan
Bab 53 - Pergi dari rumah


__ADS_3

Gea sampai di rumah Gaza dengan membawa Alwin di gendongannya. Ia tak bisa berhenti tersenyum dan mencium bayi gembul itu. Sudah lama ia menantikan hal ini. Tuhan mengabulkannya begitu cepat dan mudah. Ia juga bersyukur mama dan papa David percaya padanya.


"Setelah ini kita akan bersama terus selamanya sayang," ucap Gea sebelum memasuki rumah Gaza.


Ketika membuka pintu rumah Gaza, ia sudah disambut dengan deretan senyum dari keluarga Gaza terutama mamanya Gaza yang langsung menyambutnya dengan sebuah pelukan. Hingga beberapa menit kemudian, pelukan itu pun terlepas.


"Selamat ya Ge, akhirnya kamu bisa membawa Alwin juga tanpa harus repot-repot mengurus hak asuh anak. Tante yakin, kalau Giandratama dan istrinya pasti memberikan hak asuh padamu. Apalagi mereka sudah mengetahui semua kebusukan anaknya. Pasti cepat atau lambat, anaknya bisa saja ditendang dari rumah itu. Dulu Tante sempat mendengar simpang siur beritanya tentang pernikahan anak mereka yang tidak direstui."


"Semoga ya Tante. Aku juga sangat berharap begitu. Aku masih tidak menyangka saja, aku bisa mendapatkan Alwin dengan mudah tanpa harus melakukan persidangan di pengadilan."


Gea masih merasa semuanya mimpi dan tidak nyata, tapi melihat Alwin yang ada di gendongannya dengan tenang, membuatnya sadar kalau ini memanglah nyata.


"Mungkin ini semua adalah hadiah dari kesabaran kamu Ge. Tuhan itu tidak pernah tidur. Dia memberi kamu cobaan karena yakin, kamu bisa melalui semuanya."


"Iya Tante, aku juga banyak belajar dari kejadian di masa lalu. Tak semuanya memberikan efek buruk, ada juga yang memberikan efek baiknya."


Mama Hani mengangguk, ia pun membawa Gea untuk duduk di sofa. Sementara dua laki-laki itu hanya duduk diam saja sambil memperhatikan dua wanita di hadapannya.


"Tapi, kalau dilihat-lihat wajahnya memang mirip sekali dengan David, hanya saja bagian matanya mirip denganmu, Ge. Semoga saja sifat dan karakternya nanti menurun dari kamu semua."


"Aamiin, aku akan berusaha jadi ibu yang baik untuknya Tante. Pembentukan karakter anak sejak dini itu bagus. Supaya dia tahu mana perbuatan baik dan buruk."


"Sini, Tante mau gendong. Menunggu cucu sendiri lama sekali. Gaza tak kunjung nikah-nikah. Sana coba kamu nasehatin Ge. Siapa tahu dia jadi berani dan tidak jadi pengecut, supaya bisa mengatakan cintanya ke wanita yang disukainya."


Mendengar hal itu Gaza jadi merengut dan memalingkan wajah ke arah lain. Sementara Gea jadi melihat ke arah Gaza sejenak lalu fokus kembali ke Alwin.


"Kalau sudah waktunya, Gaza juga pasti akan menikah Tante. Aku belajar dari pengalamanku kemarin, menikah itu bukan tentang waktunya yang cepat atau lambat. Bukan dari usia yang sudah menginjak angka standar orang-orang, bukan juga dari kita sudah mapan atau tidak. Tapi, menikah itu lebih baik di saat kita sudah siap dan menemukan orang yang tepat. Walau begitu juga, tetap saja kemungkinan terburuk pasti ada. Tapi, dengan mental kita sudah siap, segalanya akan bisa diselesaikan dengan baik. Kalau Gaza belum mau menikah, mungkin dia masih menunggu waktu yang tepat, atau mungkin saja ada sesuatu yang membuatnya ragu."


Jawaban Gea membuat Mama Hani jadi terdiam. Benar apa yang dikatakan oleh Gea. Ia pun jadi menatap ke arah Gaza lama lalu melihat ke Gea.


Mama hanya bisa berdoa. Semoga Allah menyatukan hati kalian berdua. Meski saat ini belum terlihat cinta, setidaknya, ada rasa sayang yang kamu punya untuk Gaza.

__ADS_1


*


*


Selena sudah sampai di rumah, ia dibuat terheran-heran dengan kopernya yang sudah berada di depan pintu keluar. Dibuat heran lagi ketika melihat David yang terlihat lusuh dan frustasi.


"Kenapa semua barang-barang ini ada di luar Mas?" tanya Selena.


"Bawa saja, kita harus pergi dari sini!" ucap David.


"Hah?! Apa aku tidak salah mendengar Mas! Bagaimana dengan Alwin kalau kita pergi Mas?"


"Alwin sudah mama berikan ke Gea," jawab David.


"Mas! Kenapa kamu memberikannya sih? Dia kan satu-satunya jalan kita untuk kesini!"


"Sudahlah, jangan banyak bicara. Percuma saja kita melakukan sesuatu sekarang. Papa kalau sudah memberikan perintah, tidak bisa diganggu gugat. Lebih baik sekarang kita turuti saja maunya. Baru setelah amarahnya reda, aku akan mulai bicara lagi dengan papa."


Ucapan Selena terpotong ketika Tamara tiba-tiba datang dan meminta kunci mobil dari David.


"Kamu datang hanya membawa tubuh dan pakaianmu. Jadi pergi dari sini pun juga harus begitu. Semua fasilitas yang diberikan oleh papa harus kamu kembalikan."


"Ma! Tidak bisa begitu lah," bantah David.


"Jangan membantah ucapan orang tua. Lebih baik kalian cepat pergi dari rumah, karena sebentar lagi papa akan datang. Kalau sampai dia masih melihat kalian. Mama tidak tahu apa yang akan dilakukannya."


David dan Selena pun pergi dari rumah karena terpaksa. Mereka mendorong koper masing-masing sambil terus menatap ke belakang. Rasa kesal, sedih, dan amarah bercampur menjadi satu.


Ketika sudah di depan gerbang, keduanya berdiri sambil menunggu taksi yang lewat. Lalu memberhentikan salah satu taksi yang lewat dan naik ke dalamnya.


Di dalam taksi, Selena terus memperlihatkan wajah murungnya. Ia bahkan tak mau menatap ke arah David. Berbeda dengan David yang terus memikirkan cara agar bisa kembali ke rumah itu. Apalagi kebusukannya telah diketahui oleh orang tuanya. Ia memikirkan cara sambil terus melihat jalanan.

__ADS_1


"Mas kita mau kemana sekarang?"


"Cari apartemen terdekat," jawab David.


"Emangnya Mas ada uang? Semua kartu kredit dan debit kita kan diblokir oleh papa."


"Tenang saja, aku masih punya satu rekening lain yang tidak papa ketahui. Kita bisa menggunakan uang itu untuk kebutuhan sehari-hari dan sewa apartemen."


"Baiklah," jawab Selena kemudian memalingkan wajahnya untuk melihat jalanan.


Tiga puluh menit pun berlalu, David dan Selena sudah menemukan apartemen dengan harga sewa yang sedikit lebih murah. Selena terus menggerutu karena apartemennya sangat kecil, bahkan lebih kecil daripada rumahnya yang di Malang dulu.


"Mas, apa kita tidak bisa sewa apartemen yang lebih besar sedikit? Ini terlalu sumpek dan sempit mas. Bahkan jarak antar ruangan pun terlalu dekat. Seperti tidak ada udara yang bertukar disini," protes Selena.


"Sudah terima saja. Lagian kalau kita membatalkan sewa apartemen ini, memangnya kamu mau tinggal di kontrakan kecil dan kumuh? Tidak kan? Jadi lebih baik diam dan terima dengan lapang dada."


Selena hanya bisa menggerutu pelan dan terus menghela napasnya. Ia merasa seperti tak diistimewakan lagi oleh David.


Karena kesal, Selena mendorong kopernya ke kamar lalu meletakkannya sembarang dan langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia bahkan seperti tidak ingat memiliki suami karena menguasai semua lahan kasurnya.


"Aku tidak bisa terima ini semua. Lihat saja! Aku pasti akan mendapatkan sesuatu yang dulu adalah milikku jadi milikku kembali."


*


*


TBC


Hai, hai, hai.


Kangen sama cerita ini nggak?

__ADS_1


__ADS_2