Dinikahi Gus Dingin

Dinikahi Gus Dingin
dinikahi Gus dingin S2


__ADS_3

Di pasantren ada seorang pria dewasa yang sangat tampan yang disuruh untuk menikahi seorang gadis SMA yang baru kelas satu SMA.


"Maaf, Gus kyai memanggil Gus untuk berbicara di gazebo belakang dalem," kata salah satu santri kepada Gus Azka yang saat ini sedang membimbing beberapa orang santri untuk mempersiapkan diri mengikuti lomba membaca kitab Al Qur'an tingkat nasional.



Gus Azka yang mendengar apa yang di katakan oleh Santri tersebut. hanya mengerutkan kening karena tidak biasanya sang Abi meminta hal tersebut kepada dirinya selama ini kedua orang taunya akan berbicar ketika di ruang keluarga jekas sangat berbeda mereka sedang bersantai di minta oleh sang Abi sat ini.



"ada apa? apakah ada sesuatu hang sangat penting sehingga Abi memintaku untuk menemuinya di gazebo belakang?" tanya Gus Azka untuk memastikan mengenai hal yang ingin dibicarakan oleh abinya.



"maaf Gus saya tidak tahu apa yang akan dibicarakan oleh kyai karena beliu hanya meminta saya untuk memanggil Gus gr menemui kyai dan Bu nyai di gazebo belakang dalem" ucap salah satu santri tersebut dan memang tidak mengetahui Kyai Ahmad hanya memintanya untuk memanggilkan Gus Azka saat itu juga.



"baiklah! katakan kepada Abi kalau aku akan segera menemuinya setelah menyelesaikan bimbingan para santri." ucap Gus Azka uang kemudian melihat banyak kitab Al Qur'an yang belum di tes kepada para santri yang menunggu sedikit lebih lama."



"baik Gus, saya akan menyampaikan hal tersebut kepada kyai." jawab santri itu. yang kemudian berlalu dari hadapan Gus Azka.



setelah mendapatkan perintah tersebut Gus Ilham segera meyelesaikan perkerjaan saat ini sebagai ucapanya agar sang Abi tidak menunggu terlalu lama. mungkin abunya akan memahami jika harus menunggu sedikt lebih lama, tetapi jelas Gus Azka uang tidak melakukan hal tersebut karena khawatir kalau abinya justru harus kembali menjalankan aktivitasnya yang lain.



setelah seperempat jam berlalu, Gus Azka akhirnya menyelesaikan pekerjaannya dan segera menuju ke gazebo belakang dalem, rumah keluarga kedua orang tuanya. biasanya tempat tersebut digunakan untuk nughola'ah kitab dan juga menerima tamu yang sangat penting sehingga tidak akan ada yang mengganggunya pembicaraan mereka karena terpisah dari rumah utama dan juga suasananya yang sangat asri dengan sjafa gemericik air oda kolam koi.



"assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" salam Gus Azka saat memasuki gazebo belakang dalem dan hal itu justru membuatnya sangat kaget.

__ADS_1



"wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh " jawab kyai Ahmad dan ummi Livia.



"maaf membuat Abi dan juga ummi menunggu ku terlalu lama!" ucap Gus Azka sambil duduk di hadapan kedua orang tuanya.



"bagaimana persiapan lara santri untk mengikuti lomba tersebut.?" tanya kyai Ahmad kepada putra bungsunya.



Gus Azka terdiam sesaat setelah .mendengarkan apa yang ditanyakan oleh sang Abi kepada dirinya. kali ini dia berpikir kenapa kedua orang tuanya memanggilnya untuk membicarakan mengenai hal tersebut kepadanya. hanya saja sesuatu tetap tidak membuat dia memikirkan mengenai penasaran kenapa kedua orang tuanya memanggilnya karena Gus Azka merasa masih ada hal lain yang ingin dibicarakan oleh kedua orang tuanya.



"Alhamdulillah, mereka sudah siap untuk mengikuti lomba tersebut Abi" ucap Gus Azka kepada kedua orang tuanya, " meski kalau untuk hasilnya kita tidak bisa menargetknya sama sekali."




"maaf, Abi kalau boleh tau, untuk apa Abi dan juga ummi memanggilku ke sini apa ada hal penting ?" tanya Gus Azka yang semakin penasaran dengan alasan di balik pemanggilannya saat ini dan dirinya juga merasa kalau basa basi di antara mereka sudah cukup mengingat tidak lama lagi akan masuk waktu shalat Dzuhur.



kyai Ahmad terdiam sesaat setelah mendengar apa yang ditanyakan oleh putranya tersebut. dia sedikit memikirkan kembali segala sesuatunya, termasuk tanggapan dari sang putra mengenai apa yang akan dia katakan setelah saat ini.



saat sedang terdiam memikirkan semuanya, kyai Ahmad merasakan kalau sang istri mengelus lengannya dengan begitu halus seolah olah ingin memberikan ke kuatannya dalam mengatakan apa yang akan dikatakan olehnya. ya, kali ini dia memang butuh dukungan dari sang istri untuk mengatakan apa yang ingin dia sampaikan kepada putranya.


__ADS_1


" ada apa, by ? apakah ada sesuatu yang sedang menggaggu pikiran Abi saat ini?" tanya Gus Azka yang semakin penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh kedua orang tuanya kepada dirinya. "katakan memang ada sesuatu yang Abi pikirkan dan memerlukan bantuan ku untuk menyelesaikan hal tersebut, maka aku akan berusaha untuk membantu Abi sebaik mungkin"


"Abi mau kamu harus menikahi Ning Aisyah, azka" ucap kyai amar setelah menari nafas dalam dan mengembuskan secara perlahan.


Gus Azka yang mendengarkan apa yang dikatakan oleh abinya cukup kaget dengan hal tersebut. dia tidak pernah berpikir jika abinya jmakan meminta hak tersebut kepada dirinya dalam waktu dekat ini, terlebih kepada seseorang yang dia perkirakan selama sekali.



Ning aisyah, bukan nama yang asing bagi dirnya, tetapi dia tidak ingin terlalu mengambil kesimpulan, hanya abinya dan juga umminya yang mengetahui secara pasti siapa calon istrinya.



"Ning aisyah, putri dokter Rasya/kyai Rasya ?" tanya Gus Azka untuk memastikannya kalau apa yang dikatakan abinya adalah sebuah kebenaranya



"iya nak kamu benar dia putri kyai Rasya dan Abi, sama ummi ingin kamu menikahi Ning Aisyah, awalnya ummi sama Aby kamu melamar putri dari Ning Salma dan komandan Faiz tapi putri mereka menolak maka dari itu Abi meminta kamu menikahi putri bungsu dari dokter Rasya." ucap ummi Livia.



"iya, dia cocok untukmu, azka!" ucap kyai Ahmad yang sangat yakin dengan apa yang dikatakan.


"dia baru masih kelas satu SMA, Abi, bagaimana mungkin aku bisa menikahinya? secara hukum agama memang tidak masalah, tetapi menurut hukum negara jelas hal itu sangat salah dan aku sangat yakin kalau kyai Rasya pasti menginginkan putrinya untuk sekolah tinggi" ucap Gus Azka yang secara tidak langsung menolak keinginan abinya.


"kalian menikah siri dulu, dan akan tinggal terpisah, kamu juga bisa menahan hasrat lelakimu" jawab ummi Livia yang mengatakan hal tersebut begitu mudah.


Gus Azka menatap kedua orang tuanya tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka katakan. emang dalam agama tidka ada salahnya menikah siri, tetapi hal tersebut tidak ada dalam pikirannya sama sekali karena selama ini dia ingin menikah secara resmi.


"ummi, bagaimana aku adalah lelaki dewasa, dan Ning Aisyah masih sangat muda, apakah tidak semestinya jika aku menikahi dengan perempuan lainnya?" tanya Gus Azka yang masih berusaha untuk bernegosiasi dengan kedua orang tuanya dan berharap kalau mereka akan paham dengan apa yang dikatakan oleh Gus Azka.


"tidak ada yang mengatakan kamu adalah anak kecil Azka !" ucap ummi Livia sambil menatap lembut dan tegas secara bersamaan kepada putra bungsunya itu.


"tapi, ummi bagaimana bisa kalian pikirkan kalau aku harus menikahi Ning Ais? aku sangat yakin kalau dia sendiri pasti tidak akan setuju dengan apa yang diinginkan oleh Aby dan ummi!" jawab Gus Azka hang kali ini dia benar-benar tidka laham dengan ala yang ada di dalam pikiran kedua orang tuanya.


__ADS_1


"pokoknya, ummi hanya ingin mempunyai menantu seperti Ning Ais, Azka apa kamu tidak bisa mengabulkan permintaan ummi ? apa kamu gak sayang sama ummi Azka,?? baik kalo kamu tidak sayang sama orang tua kamu silakan cari wanita yang kamu inginkan tapi jangan harap kami merestui kalian." ucap ummi Livia yang meninggalkan gazebo belakang rumah bersama sang suami.


__ADS_2