DIORAMA

DIORAMA
Prolog


__ADS_3

Pernah kubaca sebuah kutipan naif yang entah dibuat oleh siapa, katanya seseorang bisa berubah karena dua hal. Pertama karena seseorang yang sangat berarti hadir dalam hidupnya, dan yang kedua adalah karena seseorang yang sangat berarti pergi dari kehidupannya.


Dan jika aku memang harus mengakuinya, dia datang tepat saat seseorang baru saja memutuskan untuk pergi. Lantas, siapa dan apa yang sebenarnya membuatku berubah? Apakah dia yang baru saja datang atau dia yang memutuskan untuk pergi?


Entahlah, ada satu sisi hatiku yang membenarkan kutipan itu. Satu sisi hati melankolis dari seorang perempuan muda yang sedang patah hati. Tapi sisi hati yang kutanami logika enggan sekali barang mengiyakan kutipan itu sedikit saja. Logika yang menolak kenyataan bahwa perkara seseorang, bisa sewaktu waktu berubah tanpa harus ada pengaruhnya dari orang lain.


"Seseorang memutuskan untuk berubah, itu hanya bisa dikendalikan oleh dirinya sendiri, bukan oranh lain."


Begitu katanya

__ADS_1


Tapi bukankah segala hal memang seharusnya bisa menjadi lebih sederhana? Sesederhana seseorang bisa berubah karena apa saja, dan tidak harus karena orang lain. Ah, memangnya hidup ini selalu saja berkaitan antara satu orang dengan orang lain? Biarlah, bukankah semua orang memang punya segala hal yang cukup dia bagi dengan dirinya sendiri? Dan aku adalah salah satunya.


Dan hingga detik ini aku tidak tahu apa dan siapa yang sebenarnya membuatku berubah. Yang kutahu, aku ingin berubah. Aku ingin menjadi ‘aku’ yang lebih baik. Dan aku masih terus berusaha menjadi ‘aku’.


________


Dariku yang mereka namai sebagai sebuah kisah. Aku tidak mengerti bagaimana seseorang tiba-tiba saja memutuskan untuk menuliskan sebuah kisah. Aku tidak memahami tentang bagaimana seseorang memutuskan untuk mengakhiri kisah yang telah mereka bentuk dengan susah payah. Aku tidak paham sebab telah lama kisahku telah berakhir dan berdebu bersamaan dengan hatiku yang barangkali mulai berkarat. Semakin usang dan kusam hingga tidak bisa lahi dikenali hingga hanya kubiarkan teronggok disalah satu sudut ruangan.


Dialah yang membuka lembaran baru dari buku kisahku dan menuliskan sesuatu.

__ADS_1


Cinta


Begitu dia menuliskannya, sebuah kata asing yang butuh kutelaah agar aku mampu memberinya makna. Sebuah kata yang dia bilang ingin dijadikannya frasa meski kami tidak mengerti darimana kami harus memulainya. Sebuah kata yang menurutnya mampu kami jadikan rangkaian kisah.


"Aku ingin menuliskan kisah seperti Peter Pan"


Begitu ucapnya. Membuatku bertanya kenapa dia tidak menuliskan kisah Cinderella dan pangeran saja? atau Paris dan Hellen pada perang Troya? Oh tidak, barangkali kisah Romeo dan Juliet akan menjadi sesuatu yang indah.


Tapi, bukankah pada akhirnya akan sama saja? Entah kisah siapa yang akan kami tuliskan, pada akhirnya kami sendiri yang akan menjalaninya. Hanya kami yang akan memahami bagaimana rasanya saat kami saling jatuh cinta. Saat kami sedang terluka. Saat kami bersitatap. Bahkan saat kami mengatakan kami ingin menyerah saja.

__ADS_1


"Kita tuliskan saja kisah kita, perkara nama, nanti saja kita memikirkannya"


__ADS_2