DIORAMA

DIORAMA
11. Rasa sakit itu…


__ADS_3

Yogyakarta, April 2016


“Kamu mau kita seperti apa?”


“Aku mau berhenti, mas. Aku baru sadar kalau aku sudah terlalu lelah selama ini.”


__________


Kuhela napas dalam sekali lagi dan memperhatikan kendaraan yang lalu lalang dihadapanku. Satu menit, dua menit, aku lupa kapan tepatnya aku turun dari bis dan memutuskan untuk duduk di tempat ini. Hanya duduk dan tidak melakukan apapun seolah aku memang tidak mempunyai kegiatan apapun untuk dilakukan.


"Setidaknya lakukanlah sesuatu untuk mengalihkan perhatianmu, Al" aku bahkan masih ingat betul nasehat yang Mika berikan padaku dua malam yang lalu. Tapi meski aku sudah memikirkannya, nyatanya aku tetap tidak menemukan ide apapun tentang sesuatu yang harus kulakukan.


Lagi-lagi aku hanya menghela napas dalam dan menghembuskannya kembali perlahan sembari mulai menghitung kendaraan yang lewat dan mengelompokannya berdasarkan warna seperti orang bodoh. Ya, tentu saja aku akan terlihat sangat bodoh dan konyol dengan duduk seorang diri di shelter sejak sejam yang lalu tanpa melakukan apapun.


Mengabaikan mendung yang mulai terlihat semakin pekat dari arah utara dan angin yang sesekali bertiup dengan kencang. Hampir satu bulan sekembalinya aku dari Jakarta dan berakhirnya hubunganku dengan Jendra. Dan semua masih berjalan senormal sebelumnya kecuali perasaanku yang masih saja sulit kutata meski aku sudah berusaha keras untuk melakukannya.


Ya, satu hal yang kupahamu tentang patah hati, tidak peduli sehancur apa perasaanmu, dunia akan tetap berjalan seperti seharusnya. Jadi, kupikir mengeluhpun tidak ada gunanya sama sekali.


“Kalau itu sudah menjadi keinginan kamu, lantas apa aku masih pantas meminta kesempatan kedua dari kamu, Al?”


Aku bahkan masih ingat betul wajah gusar Jendra saat kami duduk berhadapan di kedai kopi di dalam stasiun sekembalinya aku dari Jakarta.


“Kamu tidak bisa menyentuh air yang sama pada sungai yang mengalir, mas.”

__ADS_1


“Katakan seperti apa laki-laki itu.!”


Aku benar-benar tidak menyangka jika pada akhirnya pertanyaan itulah yang akan Jendra berikan padaku dipenghujung pembicaraan kami sore itu. Pertanyaan tentang seorang laki-laki. Pertanyaan yang bahkan tidak pernah terbersit didalam kepalaku sendiri sekalipun.


Bertahun-tahun aku mengenal Rajendra Yudhistira, dan aku sama sekali tidak menyangka bahwa pria itu akan bertanya hal seperti itu padaku. Sebuah pertanyaan yang sama sekali tidak pernah kupikirkan, dan sebuah pertanyaan yang pria itu tuduhkan bahwa aku telah melakukan sebuah kecurangan.


'Siapa yang menyangka bahwa seorang Rajendra Yudhistira sekalipun akan mampu berpikir sejauh itu, Alia? kamu lihat betapa hebatnya efek dari patah hati?'


Jendra patah hati? Entahlah, aku sama sekali tidak mampu menebak tentang bagaimana perasaan pria itu saat ini. Hanya wajah gusar yang nampak begitu kentara disana dan wajah gusar yang Jendra tunjukkan bahwa harga dirinya sedang terluka.


“Tidak ada siapapun, dan tidak ada laki-laki manapun, mas.”


“Apa dia teman peserta pelatihan kamu?”


“Saat aku mengatakan tidak ada laki-laki manapun, tidakkah kamu bisa menerima kalau memang tidak ada laki-laki manapun, mas? Tidakkah kamu bisa mengerti saat aku mengatakan aku sudah lelah dengan semua ini?”


Meski sekeras itu aku berusaha untuk menyembunyikan kegusaranku dari Jendra, tapi aku tetap tidak bisa menyembunyikan air mataku di hadapan pria itu. Air mata yang membuatku terlihat bodoh dan naif meski cepat-cepat kuhapus air mata itu.


“Maafkan aku, mas. Mungkin memang ada yang salah dengan hatiku dan biar aku sembuhkan hatiku terlebih dahulu. Mulai sekarang aku melepaskan kamu mas Jendra. Kita berteman.”


Dan aku mengatakannya juga meski sebenarnya kalimat itu hanyalah seujung kuku dari seluruh perasaan yang sebenarnya ingin kusampaikan pada pria itu. Menyeka air mataku sekali lagi sebelum beranjak dan membiarkan Jendra membisu ditempatnya.


Bahkan hingga aku melangkah dan menyeret koperku menjauh, aku yakin jika Jendra masih bergeming dikursinya dan membiarkanku berlalu. Tidak ada teriakan, tidak ada caci maki, juga tidak ada pembelaan yang Jendra berikan untuk mempertahankan hubungan kami.

__ADS_1


Ah, bukankah itu yang kuinginkan? Lantas kenapa justru sekarang aku yang merasa bahwa pria itu harus berusaha keras untuk mempertahankan hubungan kami?


“Kenapa rasanya masih sesakit ini?” gumamku sembari menyentuh dadaku sendiri dengan tangan kiri. Memejamkan mata dan merasakan rintik gerimis mulai turun sore itu. Rintik gerimis yang dengan cepat berubah menjadi hujan dan membuat orang-orang disekitar shelter berlarian mencari tempat berteduh.


“Sebenarnya apa yang salah dengan hatiku?”


lagi, untuk kesekian kalinya aku menangis seperti perempuan bodoh setiap kali mengingat kejadian sebulan yang lalu. Seperti sekarang, alih-alih beranjak dari shelter dan mencari tempat yang lebih aman dari air hujan, aku justru bergeming dikursi kayu itu dan membiarkan cipratan air hujan mulai membuat pakainku basah.


“Harusnya tidak sesakit ini.”


Sebenarnya tanpa bertanya berulang kali seperti ini-pun aku sudah tahu jika memang ada yang salah diantara kami berdua. Aku dan Jendra memang bersalah meski kami sama-sama tidak mau mengakui kesalahan kami karena ego kami sebagai manusia tidak bisa begitu saja kami ajak kompromi.


Akupun sadar jika selama kami mulai dekat hingga akhirnya berpacaran, tidak sekalipun kami berdua beradu argumen atau berdebat hebat hingga kami saling berteriak atau saling mendiamkan. Tidak pernah sekalipun Jendra mencoba mendebat argumenku atau pria itu yang mencoba mempertahankan pendapatnya. Pun begitu denganku yang terlalu malas untuk berdebat hingga akhirnya hanya menurut saja apa yang Jendra katakan.


“Perdebatan kecil itu kadang juga perlu, Al. Bukan untuk membuktikan siapa yang benar diantara kalian, tapi justru untuk memperkuat ikatan batin diantara kalian, yah begitulah.” Bahkan ucapan mbak Mita beberapa bulan yang lalu seolah ikut menghakimiku hari ini.


Benar, nyatanya kesalahan yang aku dan Jendra buat adalah kesalahan besar yang kami anggap bukan sebuah masalah. Kami pikir dengan saling mengalah untuk pasangan kami adalah sesuatu yangbaik hingga tanpa kami sadari sebuah celah muncul dari pemikiran kolot kami itu. Sebuah celah yang juga tanpa kami sadari semakin melebar setiap detiknya hingga menelan kami berdua kedalamnya.


“Seharusnya ini keputusan yang benar. Yah, kamu hanya belum terbiasa tanpa Jendra, Al.”


Benarkah seperti itu? Benarkah kegusaran yang kurasakan saat ini hanya sisa-sisa dari sebuah perasaan nyaman yang selama ini kudapat dari Jendra? Entahlah, jika memang ini hanya sisa-sisa dari sebuah rasa, bukankah rasanya tidak harus seperti ini? Bagaimana mungkin aku bisa mendefinisikan kegusaran yang kurasakan ini sebagai ‘sisa dari sebuah rasa’ jika setiap satu jam sekali aku bahkan mengecek ponselku dan berharap Jendra mengirim pesan padaku?


‘Kamu yang memutuskan untuk berlari dari Jendra, Al. Lalu kenapa sekarang kamu justru berharap Jendra kembali berpaling dan mengejarmu? Untuk apa kamu berlari kalau pada akhirnya kamu berharap untuk kembali dikejar?’

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2