DIORAMA

DIORAMA
15. One Step


__ADS_3

Yogyakarta, Juni 2016


“Selama kamu belum berhadapan dengan Jendra dan istrinya di pelaminan mereka, masih ada waktu untuk mengambil keputusan lain, Alia.”


Sudah tiga kali sejak kupanggil Kamila untuk datang kerumahku dan kami hanya mendekam di dalam kamarku dua jam yang lalu. Awalnya aku tidak ingin mengatakan pada Kamila tentang undangan pernikahan Jendra yang kuterima dari Farhan empat hari yang lalu, tapi kupikir Kamila pasti akan marah kalau kusembunyikan hal sepenting ini darinya. Hal penting? Ah, aku tidak tahu sejak kapan aku menganggap penting hal yang berkaitan dengan masa laluku.


“Keputusan seperti apa?”


Dan sudah kuduga kalau gadis ini pasti akan memicingkan sebelah matanya dan memberi tatapan menghakimi padaku. Memberiku kultum panjang lebar tentang kenapa aku tidak mengatakan apapun padanya hingga sekian lama. Juga tentang kenapa aku tidak menceritakan pada Kamila tentang hubunganku dengan Jendra yang sudah kacau selama berbulan-bulan sebelum kami memutuskan untuk berpisah. Ya, tebakannku terhadap gadis ini selalu benar sebab aku seperti bisa membaca setiap langkah Kamila. Tentu saja aku sudah siap dengan semua ceramahnya itu.


“Aku tahu kamu tidak bodoh dan bukan hal yang sulit untuk mengartikan kalimatku, Al.”


“Apa menurut kamu perasaanku akan jauh lebih baik kalau aku memilih untuk tidak datang?” tentu saja aku tahu maksud dari kalimat Kamila tanpa gadis itu harus mengulangnya untukku.


Lagi, aku seperti bisa menebak langkah Kamila setelah memberi ceramah panjang lebar padaku. Saat ini Kamila bahkan susah payah menentang keputusanku untuk tidak datang untuk memenuhi undangan Jendra. Gadis ini bahkan nyaris menyobek kartu undangan itu saat ia melihatnya di atas meja kerjaku.


Tapi, sebenarnya Kamila bukan orang pertama yang mengatakan pada untuk tidak usah datang dan memenuhi undangan Hesti. Bahkan ibu dan mbak Mita sempat menyumpah serapahi Jendra saat tanpa sengaja mbak Mita masuk kedalam kamarku dan menemukan undangan pernikahan Jendra tergeletak diatas mejaku.


“Bagaimana bisa seorang laki-laki yang baru saja putus dari pacarnya kemudian merencanakan pernikahan dengan perempuan lain yang tidak lain tidak bukan adalah mantan pacarnya dimasa lalu? katakan pada mbak, Al, kesalahan apa yang kamu lakukan sampai Jendra melakukan hal seperti ini pada kamu?”


“Itu pilihan Jendra, mbak. Dan aku tidak butuh untuk tahu kenapa dia melakukan hal itu padaku ‘kan?”


“Jangan datang, Al. kamu hanya menunjukkan betapa bodohnya kamu pada mereka berdua kalau kamu sampai datang.”

__ADS_1


“Jendra punya pilihan untuk melakukan ini padaku, mbak. Dan aku juga punya pilihan untuk datang atau tidak pada pernikahannya minggu depan.”


Benar, nyatanya aku hanya perlu menerima kalau inilah keputusan yang Jendra ambil dalam hidupnya. Dia melepaskanku dan memilih untuk kembali mengikat Hesti dengan ikatan yang jauh lebih mulia dari sekedar mengikat Hesti sebagai kekasihnya seperti yang pria itu lakukan terhadapku . Jendra berpaling dari Hesti dan memilih untuk berlari kearahku, dan sekarang pria itu kembali pada Hesti dan meninggalkanku. Kurasa begitulah semesta mengatur persinggungan antara kami bertiga. Dan lagi-lagi aku hanya perlu menerimanya dengan lapang dada.


Meski jika diminta jujur, aku sama sekali belum paham dengan alur kehidupanku dengan Jendra selama ini. Aku tidak paham dengan persinggungan yang terjadi diantara kami, dan aku sama sekali tidak mengerti dengan cara kerja semesta mengatur hubungan kami. Aku tahu tidak seharusnya aku memikirkan tentang kenapa Jendra bisa secepat itu memutuskan untuk menikahi Hesti. Aku tidak mengerti dengan cara Jendra yang bisa begitu singkat melupakanku dan mengambil keputusan sebesar ini.


'Kamu hanya perlu menjalaninya, dengan begitu kamu akan mengerti seiring berjalannya waktu'


Entah, aku bahkan belum bisa memberi definisi untuk perasaanku sendiri semenjak aku memutuskan untuk melepaskan Jendra. Apakah aku kecewa karena Jendra begitu cepat melupakanku, atau aku belum rela karena Jendra akan menikah dengan Hesti hanya berselang dua bulan setelah kami putus? Aku tidak tahu.


“Kamu bicara soal perasaan disaat yang nggak tepat, Al.” Desah Kamila setelah sekian menit kami hanya saling terdiam sementara aku sibuk mengamati langit-lagit kamarku. Aku yang begitu sibuk memikirkan alur kehidupanku beberapa bulan belakangan ini, dan Kamila yang juga menatapku dengan tatapan kasihan.


“Apa kamu sama sekali tidak berpikir kalau aku perlu memastikan perasaanku pada Jendra, La?”


“Aku belum mengerti.”


“Kupikir dengan aku datang ke pernikahan mereka, aku bisa memastikan apa aku sudah mampu menerima keputusan Jendra atau perasaanku masih terpaut padanya. Aku ingin memastikan kalau aku sudah benar-benar melepaskan Jendra, La.” Aku sadar kalau ada dua bening yang meluncur begitu saja dari sepasang mataku. Hanya saja aku tidak berniat untuk segera menghapusnya sebab aku tahu kalau aku menghapusnya sekarang, maka bening lain akan mengikuti dan membuatku kesal. “Aku ingin memastikan kalau semua akan baik-baik saja meski aku menghadiri pernikahan mereka, Kamila.”


Aku tidak tahu kapan Kamila mengakak naik ke atas kasur dan duduk bersila disampingku. Menyentuh leganku tanpa mengucapkan apapun meski aku tahu banyak sekali yang ingin Kamila katakan padaku.


“Ini keputusannya, La. Pada akhirnya Hestilah yang Jendra pilih. Bukankah yang bisa kulakukan hanya menerimanya saja? Lagipula aku yang melepaskan Jendra, bukan dia yang meninggalkanku.”


“Sebenarnya dari apa hati kamu terbuat, Al?”

__ADS_1


“Aku baik-baik saja, La.” Kali ini aku memilih untuk beranjak dan menyeka air mata dari sisa-sisa diwajahku. Bersila di hadapan Kamila dan menyentuh punggung tangan gadis itu. Benar juga, nyatanya semua yang kualami hari ini akan berlalu dan aku yakin semua akan baik-baik saja.


“Aku baik-baik saja saat melepaskannya, jadi kupikir aku juga akan baik-baik saja saat menghadiri pernikahannya.”


“Dengan siapa kamu akan datang?” tanya Kamila setelah beberapa saat. Pertanyaan yang membuatku mengerutkan kening dan benar-benar berpikir kalau aku memang butuh teman untuk menghadiri pernikahan Jendra agar semua orang berhenti khawatir.


“Farhan menawarkan diri untuk datang ke pesta pernikahan Jendra dan Hesti bersama-sama. Tapi kupikir aku akan terlihat sangat putus asa saat datang ke pesta pernikahan mantan pacarku bersama laki-laki yang sudah punya pacar.” Kali ini Kamila tertawa kecil mendengar jawabanku meski ada sisa ingus yang harus ia bersihkan dari hidungnya.


“Kamu akan jauh lebih terlihat putus asa kalau datang bersamaku.”


“Aku tahu betapa berharganya waktu yang kamu miliku, tuan putri. Jadi aku tidak akan mengajakmu.”


“Lalu? Siapa yang akan kamu ajak?”


“Hemm, mungkin dia bersedia meluangkan satu atau dua jam berharganya di akhir pekan ini untuk menemaniku.” Benar juga, mungkin kalau aku datang ke pesta pernikahan Jendra dan Hesti bersamanya, suasana hatiku bisa menjadi lebih baik.


“Dia?”


“Seseorang. Seseorang yang keren.” Jawabku dengan yakin yang justru membuat Kamila semakin mengerutkan kening.


Dan kenapa hanya memikirkannya saja hatiku sudah terasa lebih ringan dari sebelumnya?


* * * * *

__ADS_1


__ADS_2