DIORAMA

DIORAMA
18. Luka...


__ADS_3

Dan setelah menjadi si polos diantara Evan, Jendra, Hesti, dan teman-teman kantor Evan yang lain, aku memutuskan untuk menyingkir dengan alasan ingin menemui Farhan.


“Farhan? Siapa?” tanya Evan saat kubisikkan padanya kalau aku ingin mencari Farhan karena ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padanya. Dan dari pertanyaannya itu, bisa kutebak kalau Evan Adiatma adalah tipikal pria yang begitu protektif pada pasangannya. Lihat saja ekspresi wajahnya saat kukatakan ingin menemui Farhan.


“Temanku, mas. Tadi kulihat dia disebelah sana bersama pacarnya.”


Baru setelah kukatakan ‘Farhan dan pacarnya’ ekspresi wajah Evan berubah santai dan membiarkanku undur diri. Kupikir pria ini tidak tega terus menahanku diantara teman-teman kantornya dan membiarkanku menjadi si tidak tahu apa-apa untuk setiap obrolan mereka. Pun begitu denganku yang belum siap untuk masuk kedalam lingkungan pergaulan Evan.


Tapi alih-alih bergabung dengan Farhan dan Desta yang kulihat sedang bersama dengan Andy dan yang lainnya, aku memilih untuk mengambil segelas minuman dan duduk sendirian di meja paling belakang dekat dengan jendela kayu besar. Memperhatikan keriuhan ruangan dan sesekali melirik keluar jendela meski diluar sana hanya bisa kulihat deretan mobil milik tamu yang menghadiri pernikahan Jendra dan Hesti malam ini.


“Setengah tahun yang lalu, aku sempat membayangkan kalau perempuan bergaun pengantin yang berdiri disampingku malam ini adalah kamu, Al.” dengan cepat aku menoleh hingga membuat leherku sakit saat kudengar suara seorang laki-laki tepat disampingku. “Tapi aku teringat kata-kata kamu kalau ranah kita sebagai manusia hanya merencanakan, bukan menentukan.”


Entah berapa detik aku hanya diam dan berusaha menemukan kalimat untuk kuucapkan pada pria ini. Sementara dia hanya tersenyum masam dan sesekali menarik napas dalam untuk kemudian dia hembuskan kembali perlahan.


“Hesti adalah perempuan yang paling tepat untuk berdiri disamping kamu dan mengenakan gaun pengantin itu.” dan pada akhirnya hanya kalimat itulah yang bisa kuucapkan pada Jendra yang justru membuat pria itu tertawa kecil entah untuk menertawakan apa.


“Itu karena Hesti yang menjadi istriku, kalau kamu yang menjadi istriku, sudah pasti kamu mengatakan kalau kamulah perempuan yang paling tepat untuk berdiri disampingku. Iya ‘kan?” aku tidak menemukan nada candaan dari kalimat Jendra hingga aku kembali kehilangan kata-kata. Aku tidak tahu kemana perginya Rajendra yang kukenal, dan Rajendra yang hangat dan senang sekali bercanda. Yang duduk disampingku saat ini justru Jendra yang dingin, dan Jendra yang asing untukku.


“Aku tidak tahu siapa yang sudah berbuat curang diantara kita berdua, Al.” mulai Jendra lagi meski aku belum tahu kemana arah pembicaraan pria ini. “Tiga bulan yang lalu kamu memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita dengan alasan yang sampai sekarangpun belum bisa benar-benar kupahami, dan sekarang kamu datang ke pernikahanku dan Hesti bersama atasanku di kantor.” Sambung Jendra disertai tawa kecut diujung kalimatnya. Dan aku mulai sedikit paham apa maksud Jendra dengan duduk disampingku dan berbicara padaku seperti ini.


“Sejak kapan kamu suka bertele-tele seperti ini, mas?”


“Aku tidak akan mengatakan kalau hanya kamu yang berbuat curang disini, Al. Karena akupun begitu di belakang kamu. Aku hanya ingin tahu, kenapa harus Evan? Kenapa harus atasanku, Alia?”


Seperti ada tangan tak kasatmata yang menamparku dan membuatku meringis seketika itu juga saat kudengar kalimat itu keluar dari mulut Jendra.


“Kalau kamu masih bingung, biar kusederhanakan kalimatku untuk kamu. Apa Evan Adiatma yang menjadi alasan kenapa kamu memutuskan untuk lepas dariku? Apa Evan Adiatma yang membuat kamu jengah berada disampingku dan memilih untuk berlari kepelukannya?” butuh waktu hingga semenit penuh hingga aku berhasil menemukan kata-kataku dan menyusunnya tanpa membuat emosiku tumpah saat itu juga.


“Hanya karena aku datang ke pernikahanmu bersama mas Evan, lantas kamu sebut itu kecurangan, mas?” kulihat ujung bibir Jendra berkedut yang menandakan pria itu sedang menahan emosi. “Siapa yang sebenarnya sedang kamu salahkan disini? Siapa yang sebenarnya sedang kamu tuduh berbuat curang? Aku hanya datang bersama seorang laki-laki ke pernikahan kamu, bukan mengundang kamu datang ke acara pernikahanku bersama laki-laki itu. Kita sudah saling melepaskan, mas. Jadi dengan siapa kamu menikah, dan dengan siapa aku menjalin hubungan itu bukan lagi sesuatu yang harus kita campuri ‘kan?”

__ADS_1


Lagi, hampir semenit penuh tidak ada suara diantara kami meski Jendra masih menatapku sementara aku yang sibuk memperhatikan rangkaian bunga mawar putih diatas meja dihadapan kami.


“Maaf,” kali ini Jendra tertawa kecil dan mendengus pelan. “Sebenarnya aku hanya ingin tahu sejak kapan kamu dan Evan berpacaran? Juga, bukankah miris sekali? Aku bermain-main dengan Hesti dibelakang kamu, dan kamu menjalin hubungan dengan atasanku dibelakangku. Memang benar kalau takdir itu kadang lucu sekali.”


Kali ini aku yang tertawa gusar sebelum meraih gelas minumanku dan menandaskan isinya dengan sekali teguk.


“Kenapa kamu merendahkan harga dirimu sebagai seorang pria sampai sedemikian rendah hanya untuk hal seperti ini, mas? Ini mungkin tidak penting, tapi aku bahkan baru bertemu dengan mas Evan sebulan setelah kita berpisah. Bagian mana yang bisa kamu sebut itu sebagai sebuah perselingkuhan?”


Lagi-lagi Jendra hanya terdiam tanpa membalas kalimatku dan hanya menatapku dengan tatapan yang sulit sekali kuartikan. Membuatku menghela napas dalam dan beranjak dari kursiku karena tidak ingin mengundang perhatian para tamu karena pengantin pria memilih untuk mengobrol bersama mantan pacarnya dibandingkan menyapa tamu bersama pengantin perempuan. Hanya selangkah, sebelum pergelangan tanganku tertahan oleh seseorang dan memaksaku untuk kembali menoleh.


“Aku tidak tahu kalau kamu senaif ini sampai tidak mengerti arti dari semua kalimat yang kukatakan tadi, Al. Aku masih mencintai kamu, Alia. Dan aku tidak suka kamu bersama dengan Evan. Apa sekarang sudah cukup jelas?” untuk beberapa detik hatiku mencelos dan kembali kehilangan kata-kata. Namun dua detik berikutnya aku menyadari jika kalimat Jendra tidak lebih dari sekedar fatamorgana untukku.


“Kembalilah pada Hesti, mas. Tidak pantas seorang pengantin pria mengaku masih mencintai mantan pacarnya dimalam pesta pernikahannya sendiri.”


“Alia,”


“Bukankah ijab qabul yang kamu lakukan sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa saat ini, kita sudah menapaki dimensi baru hubungan kita? Kamu bersama Hesti, dan aku bersama siapapun laki-laki yang nantinya ditakdirkan untuk bersamaku.”


‘Entah siapa laki-laki yang tertulis di buku kehidupanku dan laki-laki yang akan membersamaiku, kurasa itu bukan lagi urusanmu, mas.’


Aku baru saja akan melontarkan kalimat itu saat Hesti berjalan mendekati kami dan berdiri tepat disamping Jendra dan mengamit lengan pria itu dengan begitu protektif. Membuatku menelan rentetan kata-kata yang sudah diujung lidah dan menarik napas dalam untuk mengurangi kegusaran yang kurasakan.


“Ada apa dengan kalian berdua?” tanya Hesti dengan nada marah yang jelas sekali ia tujukan padaku. “Aku tahu kalau dimasa lalu Jendra adalah pacar kamu, Alia. Tapi malam ini Jendra sudah menjadi suamiku dan kamu nggak lagi berhak untuk menggodanya.” Sambung Hesti yang tak urung membuatku tertawa karena kalimatnya yang terdengar begitu murahan ditelingaku. Sungguh, entah kenapa rasanya seperti malam ini justru aku yang menjadi pusat perhatian oleh kedua pengantin ini.


“Apa aku memang terlihat seperti perempuan penggoda suami orang sampai kamu begitu cemas dengan suamimu, Hes?” dari sisi ruangan kulihat Evan melambaikan tangan kearahku sebelum pria itu berkata sesuatu pada seorang perempuan parubaya dan berjalan kearahku. “Kalau memang iya, biar kujelaskan sesuatu pada kamu. Aku dan mas Jendra sudah selesai dan bagiku masa lalu bukan hal yang layak untuk kucampuri lagi. Jadi kalau kamu memang mengkhawatirkan seorang perempuan penggoda, kupastikan perempuan itu bukan aku.” Dan aku tidak tahu entah Hesti marah atau tersinggung karena kalimatnya, yang jelas perempuan itu memasang wajah yang sudah benar-benar kuhapal.


“Mas Evan masih mau disini atau bagaimana? Sepertinya aku pulang sekarang saja, mas. Tidak enak sama bapak kalau pulang terlalu larut.” Susah payah kuubah ekspresi wajahku saat Evan sudah berdiri tepat disampingku.


“Kita pulang bersama tentu saja. Sudah kubilang pada ibu untuk mengantar kamu sampai depan pintu ‘kan?”

__ADS_1


“Eh_mm.”


Dan aku benar-benar tidak peduli tentang bagaimana perasaan sepasang pengantin ini saat aku dan Evan menyalami mereka berdua sebelum berlalu. Membiarkan Evan merangkul pundakku dan membuat punggungku terasa panas karena aku yakin saat ini Jendra dan Hesti sedang mentapku sebagai seorang perempuan murahan.


Ah, biar saja mereka mau mengataiku sebagai perempuan murahan atau perempuan gampangan. Untuk saat ini, aku hanya ingin membiarkan diriku bertingkah kekanakan dan membiarkan diriku mencoba menyembuhkan rasa nyeri yang kudapat dari perkataan Jendra dan Hesti.


Sepertinya memang akan jauh lebih baik kalau aku menuruti saran Kamila dan mbak Mita untuk tidak usah datang ke pernikahan Jendra malam ini. Sekarang lihat saja bagaimana aku hampir menangis dihadapan Jendra untuk semua kalimat yang pria itu ucapkan padaku.


Tapi kali, aku bertekad untuk tidak menangis dihadapan Evan dan bertingkah seperti perempuan yang baru patah hati. Biar kusembuhkan sendiri saja rasa nyeri yang kudapat dari Jendra dan istrinya. Biar kucoba sembuhkan sendiri lukaku dan berhenti melibatkan Evan terlalu jauh pada perasaanku.


“Semua baik-baik saja ‘kan?” tapi kurasa Evan cukup peka hingga harus menahanku di dalam mobilnya meski kami sudah sampai di depan pintu pagar rumahku.


“Seperti yang kamu janjikan, mas. Semua baik-baik saja.”


“Have you lied to me?”


“No, I haven’t. Terima kasih untuk malam ini.” ya, aku memang berbohong pada kamu sebab itulah satu-satunya hal yang bisa kulakukan agar berhenti bertingkah seperti perempuan melankolis setiap kali bersamamu, mas.


“Alia,” untuk kedua kalinya aku mengurungkan niat untuk membuka pintu mobil dan kembali menoleh kearah Evan. “Saat hati dan perasaan kamu sudah benar-benar pulih, maukah kamu mengatakan semuanya padaku?”


“Mas,”


“Semua yang kamu rasakan. Tentang Jendra, juga tentang aku. Setidaknya, biarkan aku tahu perasaan kamu.”


“Hati-hati dijalan.” Ucapku setelah mengangguk dan melihat seulas senyum tersungging di wajah Evan sebelum aku benar-benar menutup pintu mobilnya.


Ya, sebab jika kukatakan semuanya sekarang juga, rasanya terlalu terburu-buru dan aku yakin aku akan mengatakannya dengan kalimat yang kacau pada pria ini.


Biar kutata perasaanku sampai aku benar-benar siap untuk mengatakan semua yang kurasakan pada pria ini. Semuanya.

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2