
Yogyakarta, Penghujung September 2018
Gerimis yang sejak tadi turun sudah menjelma menjadi hujan lebat saat kubuka gorden jendela kamarku. Tersenyum tipis saat mendapati beberapa anak bermain bola dilapangan kecil diseberang rumahku seolah mereka sama sekali tidak merasa bahwa hujan sedang mengguyur. Anak-anak bermain bola, dan hujan yang menderas mengguyur mereka. benar-benar pemandangan yang sama sekali tidak asing.
‘Kenangan itu seperti jamur, Al. sekali kamu beri perangsang, maka mereka akan bermunculan tanpa terkendali.’
Benar juga, dan aku tidak bisa menyalahkan siapapun jika pada akhirnya kenangan-kenangan itu bermunculan begitu saja sebab aku sendiri yang merangsang kenangan-kenangan itu. Tentang hujan, tentang pulang, tentang diriku, juga tentang perasaan-perasaan yang masih sulit ketelaah meski sudah hampir satu bulan aku memutuskan untuk kembali. Satu bulan, dan aku belum menemukan jawaban dari keputusan yang kuambil. Tentang keputusanku untuk pulang setelah sekian lama menghilang, juga keputusan untuk menghilang yang kubuat dua tahun yang lalu.
“Surat pengunduran diri kamu? Masih ada dimejaku, Al. Kenapa?” aku bahkan masih ingat pertanyaan yang Kartika ajukan untukku 16 bulan yang lalu, saat aku menanyakan perihal surat pengunduran diriku dihari pertama aku kembali bekerja setelah mendapat cuti dua minggu selepas aku sadar dari koma.
“Boleh kuminta lagi, mbak?”
“Untuk apa? Apa ada sesuatu yang perlu kamu perbaiki?”
“Tidak. Aku tidak jadi mengundurkan diri. Atau, mbak sudah menyetujui surat pengunduran diri itu?”
Dua hari selepas Evan kembali ke Jogja bersama bapak dan mbak Mita, dokter Aslan mengijinkanku pulang karena kondisiku yang memang sudah stabil kecuali kakiku karena aku dan ibu belum mengambil keputusan untuk melakukan operasi. Dan sungguh, sekembalinya aku dari rumah sakit dan ibu yang juga pulang ke Jogja setelah kubujuk sekian hari, bukan berarti kondisiku semakin membaik. Ada sebuah beban yang tidak pernah kubagi pada siapapun yang semakin membuatku nelangsa dan membuatku menangis hampir setiap malam selepas kembalinya ibu ke Jogja.
“Ibu pulang dulu ke Jogja, nanti setelah Al menyelesaikan pekerjaan sebelum cuti, Al pasti pulang.”
“Ibu temani kamu sampai selesai masa kerja kamu ya.”
“Jangan bu. Nanti di Jogja siapa yang mengurus rumah kalau ibu di sini? Lagipula masa kerjaku masih sebulan lagi. Al baik-baik saja kok disini. Sudah terbiasa juga dengan tongkat ini.”
Bohong, nyatanya setiap kali aku melihat sebuah tongkat tergeletak disudut kamarku dan menyadari bahwa tongkat itulah yang mulai saat ini menjadi pengganti fungsi kaki kiriku, setiap kali itu pula dadaku terasa sesak dan berakhir dengan sebuah tangisan yang hanya bisa dipahami oleh diriku sendiri.
Sebuah tangisan menjadi satu-satunya saksi bahwa Alia tidaklah sekuat apa yang orang lihat. Saksi bahwa seorang Alia yang terkadang kolokan dan naif, bisa begitu hancur setiap kali mengingat apa yang terjadi pada dirinya. Ya, nyatanya akupun butuh waktu untuk bisa menerima dan berlapang dada untuk segala hal yang menimpaku.
“Al? Ummi kira kamu sudah pulang ke Jogja bersama ibu kamu.” bahkan reaksi ummi Hamidah saat itu kembali terngiang dikepalaku dan membuatku tersenyum kecut.
Aku yang selepas kepulangan ibu hampir tidak pernah keluar rumah, pada akhirnya memutuskan untuk menemui ummi Hamidah dan meminta ijin untuk pindah kamar di lantai bawah karena lantai dua benar-benar membuatku kesulitan.
“Tidak, umm. Ibu pulang ke Jogja sendirian, Al masih ada pekerjaan di Bandung.”
“Tapi,…”
__ADS_1
“Alia baik-baik saja kok, umm.”
Ya, selain Alia yang kolokan dan naif berubah menjadi Alia yang pemurung, aku juga menjelma menjadi perempuan yang begitu sensitif selepas kecelakaan itu. Aku bahkan menilai semua perhatian orang lain terhadapku sebagai bentuk rasa kasihan karena melihat seorang perempuan muda yang berjalan terseok-seok karena belum terbiasa menggunakan tongkat di tangan kirinya.
Aku yang saat itu masih begitu terpukul tidak bisa menilai perhatian dari orang-orang disekitarku tanpa merasa bahwa mereka semua melakukannya hanya karena kasihan.
Bagaimana dengan Evan selepas aku pulang dari rumah sakit? Kami masih saling menghubungi tentu saja. Beberapa jam sekali Evan meneleponku dan menanyakan kondisiku, lagi, bahkan perhatian yang Evan berikan-pun tak luput dari prasangka burukku. Benar, nyatanya hatiku menjadi selemah itu selepas kecelakaan.
“Tidak usah ke Bandung, mas. Aku baik-baik saja kok. Teman-teman banyak membantuku disini.” dan itu adalah kalimat yang selalu kuucapkan pada Evan setiap kali pria itu mengatakan padaku untuk mengunjungiku di Bandung.
Kami masih saling menghubungi, sebelum aku memutuskan untuk menjauh dan menghilang dari peredaran semua orang. Sebuah keputusan yang membuatku nyaris mati rasa dan pikiran untuk bunuh diri terbersit bukan hanya sekali.
‘Kamu hanya akan merepotkan semua orang dengan kehadiranmu ditengah-tengah mereka, Alia.’
‘Lihat dirimu yang begitu lemah dan hina. Bahkan untuk berjalan saja kamu tidak bisa. Lantas bagaimana kamu akan menjadi seseorang yang berguna untuk mereka?’
‘Kamu tahu, Alia? Sesuatu yang hancur tidak akan bisa lagi berguna untuk orang lain. begitupun dengan diri kamu.’
‘Lihat Evan, dan kemudian berkacalah. Apa kamu pikir pria sesempurna Evan pantas mempunyai istri seorang perempuan cacat seperti kamu?’
‘Pikirkan keluargamu, Alia. Apa kamu tega selamanya menjadi beban untuk keluargamu? Pikirkan tentang hidupmu.’
Dan rangkaian kalimat-kalimat terkutuk lainnya yang membuat kepalaku nyaris pecah dan aku yang nyaris meminum cairan pengusir serangga. Ya, sendirian dan putus asa nyaris membuatku berpikir untuk mengakhiri hidupku dengan sebotol cairan pengusir serangga yang ada disudut kamar kosku.
Saat itu aku hanya berpikir bahwa kematian adalah satu-satunya cara agar semua rasa sakit yang kurasakan segera menghilang. Bahwa kematian menjadi satu-satunya jalan terlihat oleh mataku tanpa bisa kulihat jalan lain yang lebih terang dari sebuah kematian. Ah, saat itu keyakinanku terhadap tuhan mulai memudar seiring dengan rasa sakit yang tak kunjung mendapat penawarnya.
“Alia, mau ikut ummi, sayang?”
Dan kalimat ajakan dari ummi Hamidah kala itu terasa seperti tangan yang menarikku dari kubangan keputus asaan. Sebuah kalimat ajakan yang menjadi awal langkahku setelahnya. Barangkali terdengar berlebihan sekali, tapi selepas ajakan pertama yang kuiyakan itu, ummi Hamidah menjadi begitu perhatian denganku dan aku yang perlahan bisa melihat ketulusan dari setiap perhatian yang ummi Hamidah berikan. Meski tetap saja kalimat ajakan ummi Hamidah tidak bisa membuatku mengubah keputusan untuk kembali bekerja, keputusan untuk tetap berada di Bandung, dan keputusan untuk menghilang dari teman-temanku di Jogja, termasuk Evan.
“Apa sebenarnya yang kamu inginkan, Al?” pertanyaan itu. Itu adalah pertanyaan yang paling kuingat dari Evan meski pria itu menanyakan pertanyaan itu satu setengah tahun lalu. saat Evan mengunjungiku di Bandung sebulan selepas kepulanganku dari rumah sakit, dan dua minggu setelah aku memutuskan untuk mengganti nomor ponsel serta mematikan pergerakan di media sosial.
“Aku tidak bisa menikah dengan kamu, mas.” Ya, aku memang tidak bisa dan tidak akan pernah bisa menjadi seorang istri yang Evan harapkan dengan kondisiku yang seperti ini. Aku hanya akan menjadi beban untuk Evan, dan sebelum hal itu benar-benar terjadi, maka aku memutuskan untuk mudur. Sebuah keputusan yang menyakiti Evan, dan membuatku tidak berhenti merasa bersalah bahkan hingga saat ini.
Ibu, jika dibandingkan semua orang, aku tahu wanita inilah yang paling terluka karena keputusan yang kuambil satu setengah tahun yang lalu. Tentang keputusanku untuk menepi, keputusan untuk menghilang dan keputusan untuk memilih tinggal di Bandung dibandingkan pulang ke Jogja selama belasan bulan.
__ADS_1
“Kalau kamu memang tidak mau pulang, maka ibu yang akan menemani kamu disini. ibu temani kamu sampai kamu merasa siap untuk pulang, sampai kamu merasa bahwa semua akan baik-baik saja.” aku bahkan masih ingat betul bagaimana ibu mendatangiku ke Bandung seminggu setelah aku memutuskan untuk membatalkan rencana pernikahanku dengan Evan.
“Alia butuh waktu untuk sendiri, bu. Tolong. Alia hanya butuh waktu untuk sendiri.” saat itu, aku bahkan kesulitan membedakan mana tangisanku dan mana tangisan milik ibu. Serasa segalanya menjadi kacau dan aku yang tidak bisa menemukan ujung dan pangkal dari semua kekacauan yang terjadi. Kekacauan yang kubuat sendiri, dan kekacauan yang kusesali.
__________
“Al,”
Sebuah ketukan pada pintu kamarku nyaris membuatku terlonjak kaget dan menyeretku dari semua lamunan yang entah sudah berapa lama menguasai pikiranku. Cukup lama hingga aku tidak menyadari hujan deras diluar sana sudah reda dan hanya menyisakan gerimis. Membuatku menarik napas dalam dan menyeka air mata yang kusadari turu begitu saja. Ah, selalu saja seperti ini setiap kali kuingat bagaimana aku menjalani kehidupanku dua tahun belakangan ini. Berjalan menuju meja rias dan menatap wajahku yang terpantul pada kaca didepan sana sebelum menarik napas dalam dan membuka pintu kamarku.
“Ya, bu?”
“Ada tamu.” Hampir semenit penuh aku memperhatikan air muka ibu saat menyampaikan bahwa ada tamu yang mencariku. Air muka yang sulit sekali kutebak apa maknanya hingga aku memilih untuk menyerah pada akhirnya.
“Siapa bu?”
“Mas Evan.” Lagi. Butuh hampir semenit penuh untuk mencerna nama yang baru saja ibu sebutkan. Nama yang kuhindari selama satu setengah tahun ini, juga nama yang kurindukan setengah mati meski aku tidak pernah mengungkapkannya.
“Alia belum siap, bu.” Mataku bahkan memanas dan merasakan pandanganku yang mulai samar karena terhalang air mata yang mulai memenuhi kedua mataku.
“Tapi, Al.”
“Tolong, bu. Al belum siap bertemu dengan mas Evan.”
Lagi-lagi butuh waktu hingga entah berapa menit sebelum ibu maju selangkah untuk memelukku tanpa berucap apapun. Tapi memang ini yang kubutuhkan dari ibu. Tanpa menghakimi, tanpa mencecari, juga tanpa tapi. Sebab yang kutahu, ibu sudah paham dengan kondisi anak perempuannya hingga wanita ini-pun tidak punya pilihan lain selain mengiyakan apa yang kuminta.
“Maaf, mas.”
Entah sudah berapa kali dalam satu setengah tahun ini aku menggumamkan kata maaf itu meski hanya untuk diriku sendiri. Sebuah kata maaf yang tidak pernah terbalas sebab aku memang tidak pernah mengatakannya. Juga sebuah kata maaf yang selalu berhasil membuatku menangis dan menyalahkan diri sendiri, seperti sekarang.
Betapa Alia terlihat begitu menyedihkan dengan keputusan yang diambilnya sendiri. Duduk didepan pintu kamarnya sendiri dan menahan isak tangis yang entah sudah berapa kali kulakukan sampai aku mahir sekali menyembunyikan isak tangisku sendiri. Menatap nanar sebuah cincin yang begitu manis melingkar di jari manisku. Sebuah cincin yang menjadi tanda bahwa aku sudah terikat dengan seseorang meski satu setengah tahun yang lalu aku memutuskan untuk melepaskan ikatan itu.
Ya, aku yang memutuskan untuk membatalkan pernikahanku dengan Evan dan menjauh dari jangkauan pria itu, tapi aku sama sekali tidak pernah berpikir untuk melepaskan cincin pertunanganku dengan Evan. Aku memilih berlari, tapi sejatinya aku hanya ingin dikejar. Aku memilih untuk pergi, tapi sejatinya aku hanya ingin dicari. Aku ingin melepaskan diri, tapi hatiku justru memilih untuk terus terikat.
* * * * *
__ADS_1