
Seperti déjà vu, saat aku berhenti di selasar dekat pintu keluar dan duduk disalah satu kursi beton disamping selasar.
Seperti déjà vu, saat aku menoleh kearah pintu masuk stasiun kereta api dan menunggu seseorang muncul dan menghampiriku.
Tapi bukan, ini bukan déjà vu sebab aku memang pernah melakukan hal ini beberapa bulan yang lalu. Awal maret 2016, saat aku baru kembali dari Jakarta dan menunggu Jendra datang menjemputku. Aku bahkan duduk dikursi beton yang sama seperti saat aku menunggu Jendra. Yang membedakan adalah perasaanku. Saat aku menunggu Jendra, perasaanku benar-benar kacau hingga rasanya air liurkupun terasa pahit saat aku mencoba untuk menelannya. Tapi saat ini, entah kenapa rasanya ringan sekali seolah aku benar-benar yakin jika dia yang kutunggu memang akan datang.
Tapi dia memang datang, tepat jam 06.00 saat aku melirik jam tanganku dan sebuah outlander hitam memasuki area parkir dan seorang pria keluar dari pintu kemudi. Pria yang semenjak keberangkatanku beberapa bulan yang lalu tidak pernah berhenti kupikirkan, dan dia yang saat ini berlari kecil kearahku dan melambaikan tangan kanannya.
Dua detik aku sempat memikirkan bahwa kenapa aku merasa bahwa pria yang saat ini berlari kecil kearahku dan melambaikan tangan kanannya kearahku itu adalah Jendra? Hanya dua detik, sebelum pada detik ketiga aku benar-benar sadar jika pria itu bukanlah Jendra melainkan Evan. Ya, pria yang entah kapan menarikku kedalam pelukannya dan nyaris membuatku menangis ini memang bukan Jendra melainkan Evan.
“Miss you so bad,”
Dan setarikan napas kemudian aku benar-benar menangis hingga ingus mulai memenuhi hidungku. Membalas pelukan Evan dan tidak peduli kalau nantinya kaus polo yang dipakai pria itu akan kotor karena ulahku itu.
“Kok menangis? Katanya kangen, tapi begitu ketemu malah menangis.” Ledek Evan setelah melepaskan pelukannya dan menyeka wajahku dengan ibu jarinya. Membuatku mencebik meski tetap tertawa kecil pada akhirnya. Benar juga, apa aku memang se-rindu itu pada Evan hingga harus menangis saat pria itu memelukku?
“Terlalu kangen mungkin.” Timpalku yang membuat Evan tergelak hingga beberapa orang menoleh kearah kami. Membuatku mencubit pinggang Evan dan pria itu yang justru kembali tertawa sebelum mengajakku menuju mobilnya.
______________
“Aku baru pergi kurang dari enam bulan, tapi kenapa rasanya seperti sudah lama sekali aku meninggalkan Jogja?” tanyaku asal sembari mengedarkan pandanganku kearah seluruh penjuru alun-alun yang mampu kujangkau dengan pandanganku. Meraih gelas teh hangatku dan menyesapnya sedikit sebelum mengamati Evan yang terlihat begitu menikmati lontong sayur dihadapannya.
Benar, alih-alih mengantarku pulang untuk istirahat karena baru saja menempuh perjalanan jauh, Evan justru membawaku menjauh dari stasiun dengan alasan untuk mencari sarapan. Menolak alasan ‘aku sudah sarapan di kereta api’ dan tetap melajukan mobilnya kearah alun-alun dimana ada banyak sekali penjual makanan dipagi hari.
“Tentu saja karena di Jogja kamu meninggalkan orang-orang yang kamu sayangi.” Timpal Evan yang tanpa sadar membuatku mengulum senyum tipis dan kembali memperhatikan pria itu yang telah menyelesaikan sarapannya dan menandaskan isi gelas teh manisnya. “Itulah kenapa rasanya kamu ingin segera pulang.”
“Begitu,” gumamku yang sebenarnya kutujukan untuk diriku sendiri. Menghela napas pendek dan kembali memperhatikan sekitar alun-alun sebelum pandanganku tertuju pada seorang perempuan yang duduk tidak jauh dariku dan seorang pria muda duduk disampingnya. Perempuan bercadar.
“Sofia,” gumamku lagi, kali ini mungkin sedikit lebih keras hingga Evan menoleh kearahku dan mengikuti pandanganku. Benar, perempuan yang kulihat saat ini memang telah mengingatkanku pada sosok Sofia anak perempuan ummi Hamidah.
“Kamu kenal?” tanya Evan yang sepertinya sadar siapa yang sedang kuperhatikan.
“Siapa?”
“Perempuan bercadar itu.”
“Oh, tidak kok, mas. Hanya teringat teman di Bandung.”
__ADS_1
“Ada teman kamu yang bercadar?” tanya Evan lagi. Hanya saja kali ini seperti ada sebuah nada suara yang tidak kusukai keluar dari mulut Evan. Sebuah nada suara yang mungkin biasa saja munurut pria itu, tapi entah kenapa terdengar seperti begitu meremehkan ditelingaku.
“Ya, anak pemilik kos-ku bercadar, mas. Usianya baru 19 tahun, dan kalau manjanya sudah keluar dia pasti bertingkah seperti adik perempuanku.” Jelasku yang disertai tawa kecil diujung kalimatku sendiri. Tapi aku memang sedang tidak membual sebab seperti itulah keadaan antara aku dan Sofia. Anak itu bahkan sempat menahan kepulanganku dan mengatakan kalau aku tidak boleh pulang ke Jogja lebih dari tiga hari. Permintaan yang membuatku tertawa kecil dan mencubit kedua pipinya.
“Kalian sedekat itu?”
“Iya, bahkan kemarin saat Sofia bertemu dengan guru ngajinya untuk membicarakan lamaran, dia mengajakku lho.”
“Lamaran?” aku tidak tahu apa yang salah dari kalimatku hingga membuat Evan terlihat begitu kaget.
“Ada seorang laki-laki yang mengajukan lamaran ta’aruf dengannya dan Sofia mendiskusikannya dengan guru ngajinya. Begitulah.” Jawabku tidak acuh karena merasa tidak nyaman dengan topik obrolan yang kumulai sendiri.
“Apa menurut kamu sebuah hubungan seserius pernikahan bisa berjalan dengan baik kalau kedua pasangan baru saling mengenal beberapa minggu, dan kemudian mereka menikah?” tanya Evan setelah beberapa saat kami terdiam dan membiarkan keriuhan alun-alun menjadi pengisi celah diantara kami. Aku yang sibuk memperhatikan perempuan bercadar itu bersama laki-laki disampingnya dan Evan yang entah sedang memperhatikan apa.
“Bukankah setelah menikah mereka berdua punya banyak sekali waktu untuk saling mengenal satu sama lain?”
Benar juga, akupun tidak tahu sejak kapan pandanganku terhadap sebuah hubungan tidak lagi sesempit dulu. Dulu, kupikir semakin lama pasangan saling mengenal maka pernikahan mereka juga akan semakin membahagiakan. Hanya saja, aku lalai pada kenyataan bahwa terkadang ada beberapa hal yang seseorang sembunyikan dan mereka simpan untuk diri mereka sendiri dan tidak berkenan membaginya pada orang lain meskipun pada kekasih mereka sendiri.
“Jadi, kalau kita menikah dalam waktu dekat tidak akan menjadi masalah buat kamu?”
“Hah?” dan kali ini aku benar-benar tesedak air liurku sendiri mendengar pertanyaan Evan.
“Kamu bicara apa sih, mas?” yang kukhawatirkan adalah Evan yang bisa saja sedang mempunyai masalah atau sedang menghadapi masalah besar di kantor yang berdampak begitu besar pada kejiwaannya.
“Aku sedang membicarakan tentang kita, Al. Kalau memang kamu setuju, aku dan keluargaku bisa segera datang kerumah untuk melamar kamu.”
“Seriouslly, mas? Tidak ada laki-laki yang sesantai itu membicarakan tentang rencana ‘lamaran’ dengan seorang perempuan.”
“Karena aku sudah yakin dengan apa yang kubicarakan, sayang. Jadi untuk apa aku ragu?”
Dan kali ini, aku bahkan kehilangan kalimat yang sebenarnya sudah ada diujung lidahku. Memilih untuk menelan kembali kalimat-kalimat itu dan membalas tatapan Evan yang entah kenapa terasa asing untukku. Tidak, sebenarnya bukan tatapan Evan yang terasa asing, hanya saja aku yang belum siap jika harus membicarakan hal sepenting itu meski sebenarnya aku juga tidak yakin jika apa yang Evan bicarakan bukanlah sebuah candaan. Tapi sungguh, membicarakan tentang lamaran bukan sesuatu yang ingin kubicarakan dipagi hari setelah sebelumnya aku baru saja melakukan perjalanan jauh.
* * * * *
Tapi meski topik obrolanku dengan Evan benar-benar membuatku kehilangan kata-kata, dengan begitu mudah dan alami Evan menghilangkan kecanggungan itu dan membuat suasana kembali menyenangkan dengan ceritanya selama aku ada di Bandung. Yah, meski sebenarnya perasaanku masih tidak karuan, tapi setidaknya aku bisa sedikit menarik napas lega. Diakhir pertemuan kami aku bahkan sempat meminta Evan untuk datang pada acara pernikahan mbak Mita hari ini, dan tentu saja diiyakan dengan senang hati oleh Evan.
“Aku serius dengan apa yang kubicarkan di alun-alun tadi, Al.” aku bahkan masih ingat betul bagaimana wajah Evan saat mengatakan hal itu padaku tepat saat aku hendak menyeret koperku masuk kedalam rumah. Membuatku mengurungkan niat dan kembali menatap Evan setelah sebelumnya menarik napas pelan.
__ADS_1
Aku sendiri tidak tahu apakah Evan memang bersungguh-sungguh mengucapkan hal itu atau pria itu hanya bergurau karena begitu kesulitan memulai sebuah topik obrolan denganku. Meski sebenarnya tidak pernah kudapati Evan yang terlihat kesulitan memulai obrolan denganku dan kami memang selalu mempunyai banyak hal untuk dibicarakan.
“Mas,”
“Apa kamu ragu karena selama ini aku tidak pernah menyatakan diri sebagai seorang pria yang berstatus sebagai pacar kamu?” dan pertanyaan itulah yang membuatku menelan semua kalimat yang sebenarnya sudah ada diujung lidah hingga aku kesulitan untuk menelan ludahku sendiri. Bagaimana Evan bisa tahu apa yang sepanjang jalan tadi memenuhi pikiranku?
“Tidak, mas. Bukan itu yang kupikirkan.”
“Lalu?”
“Kamu tahu aku orang yang terkadang ragu pada dirinya sendiri, jadi, bisa tolong mas beri aku waktu untuk berpikir?”
“Sampaikan juga niatku pada bapak dan ibu.” Ucap Evan lagi sembari menyentuh puncak kepalaku dan menarik napas dalam. Jika pria ini sudah berani membawa nama bapak dan ibu, lantas apa aku masih layak meragukan niat baiknya untuk melamarku? Tapi, apakah hal seserius lamaran memang bisa dibicarakan dengan begitu santai seperti Evan yang terlihat begitu santai dan yakin saat mengutarakan niatnya padaku?
“Namanya Aditya, teh. Abah dan ummi sudah melihat cv yang dia kirimkan dan abah sudah setuju. Kalau ummi menyerahkan semua urusan pada abah dan kemudian menanyakannya padaku. kalau aku setuju, maka akan berlanjut, kalau aku tidak berkenan dengan Aditya, maka semua selesai sampai disini, teh.”
Bahkan potongan obrolanku dengan Sofia tempo hari selepas kami kembali dari Dago dan mampir di salah satu kedai es krim kembali terputar dikepalaku. Membuaku menarik napas dalam dan mengamati pantulan diriku sendiri pada kaca besar dihadapanku. Mengamati seorang perempuan muda bergamis panjang berwarna kuning keemasan yang terlihat cantik sore ini.
“Bukankah lamaran adalah hal yang begitu besar dan menyangkut kehidupan kamu setelah ini, Sof? Lantas, kenapa kamu begitu yakin dengan lamaran dari seorang pria yang bahkan kamu sendiri belum pernah melihatnya?” tanyaku kala itu. Bahkan pemikiranku sebagai perempuan 23 tahun kalah dengan pemikiran gadis muda seperti Sofia.
Entahlah, barangkali pemahamanku saja yang masih begitu sempit dengan konsep kuno bahwa seorang pria hanya boleh melamar seorang perempuan yang telah lama dipacarinya. Sebuah pemikiran bodoh yang membuatku tersenyum kecut dan menertawakan diri sendiri.
“Nantinya kita punya banyak sekali waktu untuk saling mengenal satu sama lain, teh. Yang terpenting adalah tidak berlama-lama terlarut dalam hubungan yang Allah haramkan.”
Lagi-lagi jawaban Sofia membuatku sadar jika selama ini akulah yang masih begitu kuno dengan pemikiran-pemikiran seperti itu.
“Kalau memang itu niat baik mas Evan, kenapa tidak kamu terima, Al? Atau kamu memilih untuk berlama-lama terlibat dalam hubungan tidak jelas sementara kamu juga tahu kalau kalian sudah sama-sama dewasa?” dan jawaban ibu dua hari yang lalu semakin membuatku tertampat. Sudah sama-sama dewasa, dan kenapa aku menyadarinya begitu lama hingga ibu harus mengingatkanku dan membuat hatiku mencelos karena malu. Seorang perempuan 23 tahun dan pria 27 tahun tidak lagi pantas menjalin hubungan yang dinamakan ‘pacaran’.
“Ibu tidak keberatan kalau dalam beberapa hari ini mas Evan dan keluarganya datang kerumah?” tanyaku ragu.
“Tentu saja tidak, nduk. Orang tua mana yang akan keberatan jika ada laki-laki yang begitu tulus melamar anak perempuannya?”
Tepat saat aku membuka mata, pintu kamarku diketuk oleh seseorang dan kulihat ibu sudah rapi dengan gamis yang senada denganku dan berdiri diambang pintu. Mengatakan padaku kalau aku harus segera turun karena acara akan segera dimulai dan aku harus menyertai mbak Mita.
“Bismillah, semoga jawaban yang kuberikan pada kamu nanti bukanlah jawaban yang akan membuat kamu kecewa, mas.”
Sungguh, hari ini mbak Mita yang akan menikah. Lantas kenapa aku yang merasa gugup tidak karuan begini, sih?
__ADS_1
* * * * *