
Yogyakarta, September 2018
Kutarik napas dalam sekali lagi dan menoleh kearah kanan dan kiriku seolah aku memang sedang mencari keberadaan seseorang meski sebenarnya tidak ada seorangpun yang sedang kucari ataupun sedang kutunggu kedatangannya. Hanya saja, rasanya aku perlu untuk bertanya meski aku sendiri tidak tahu kepada siapa aku harus bertanya. Dan menarik napas untuk kesekian kalinya menjadi pilihan yang kulakukan untuk menekan kekecewaan yang sejak lima belas menit lalu kurasakan.
“Dua tahun aku tidak mengunjungi tempat ini, dan kenapa banyak sekali perubahan yang tidak kuketahui?” tanyaku pada diri sendiri sebab tidak ada orang lain yang menyertaiku saat ini. Memilih untuk memutar tubuh dan berjalan menuju beton pembatas taman tepat disamping gapura alun-alun. Meluruskan kakiku yang terasa pegal dan meletakkan tongkat kruk yang sejak tadi kupakai tepat disampingku.
Dua tahun, dan aku tidak tahu jika dalam waktu dua tahun banyak sekali hal yang berubah dari Jogja. Serasa aku baru saja menginjakkan kaki di kota asing yang sebelumnya belum pernah kukunjungi. Dan mengingat tentang begitu banyak perubahan yang terjadi hingga membuatku merasa asing dikota kelahiranku sendiri membuat mataku memanas dan rasa panas itu memang menjelma menjadi tangis meski aku masih bisa menahan isaknya.
Sekarang aku mulai bertanya-tanya, apakah keputusan untuk kembali ke Jogja adalah keputusan terbaik atau ini adalah keputusan yang salah?
“Kapanpun kamu ingin kembali, aku akan selalu siap menemani kamu, Al.” dan ucapan Kamila satu setengah tahun yang lalu kembali terputar di dalam kepalaku seolah dengan kalimat itu Kamila ingin mengingatkanku bahwa akan banyak sekali perubahan yang kurasakan begitu aku memutuskan untuk kembali ke Jogja setelah menepi di Bandung hampir dua tahun lamanya. Ah, aku bahkan mengingat kalimat yang Kamila ucapkan setengah tahun lalu meski kenyataannya gadis itu bahkan tidak tahu kalau aku sudah kembali ke Jogja sejak seminggu yang lalu. Dan alih-alih mengabarkan pada Kamila tentang kepulanganku, aku justru meminta pada seluruh anggota keluargaku untuk merahasiakan kepulanganku.
“Ternyata banyak sekali yang berubah, La.” gumamku lagi. Menarik napas dalam sekali lagi dan mencoba menekan rasa sesak didalam dadaku. Rasa sesak yang membuat mataku memanas dan rasa panas yang selalu saja menjelma menjadi tangis setiap kali aku mengingat bahwa sudah lama sekali aku tidak pulang kerumahku di Jogja.
Ya, selama hampir dua tahun aku memilih untuk menepi di Bandung dan mengabaikan segala hal tentang Jogja hingga mengabaikan perubahan yang terjadi di kota kelahiranku. Terlalu banyak yang berubah hingga aku merasa asing dengan kota kelahiranku sendiri. Bahkan perpustakaan umum tempat yang begitu banyak menyimpan kenangan untukku ikut berubah dan membuatku tidak sanggup mengenalinya.
Benar, gedung perpustakaan didepanku saat ini nyatanya bukan lagi sebuah perpustakaan kota. Gedung tua dihadapanku saat ini tidak lebih dari sebuah gedung kosong dimana rumput liar yang mulai meninggi memenuhi halamannya. Bahkan pohon beringin yang dulu menjadi pohon kesukaanku sekarang terlihat begitu menyeramkan dan membuatku enggan menatapnya.
“Bukan kotanya yang berubah, Al. Tapi kamu. Satu-satunya hal yang berubah disini adalah kamu.” dan itu adalah kalimat yang entah sudah berapa kali kugumamkan hingga aku sendiri merasa muak pada diriku sendiri. Yah, dan satu-satunya orang yang bersalah disini adalah aku. Aku lalai memikirkan bahwa dengan ada dan tidaknya aku, segala hal akan tetap berjalan dengan semestinya. Dengan ada dan tidaknya aku, segala hal memang akan tetap berjalan maju.
“Kamu yang memutuskan untuk pergi dan menghilang, Al. Lantas kenapa sekarang kamu justru merasa mereka harus mencari dan menemukanmu?”
Lagi-lagi aku bahkan tidak mampu menahan air mata yang sejak tadi kutahan. Bukan, aku bahkan sudah menahan air mataku agar tidak menjelma menjadi tangis sejak seminggu yang lalu. Sejak aku kembali ke kota kelahiranku setelah menepi selama hampir dua tahun. Sejak aku merasa bahwa segala hal menjadi asing, dan sejak aku merasa bahwa segala keputusan yang kuambil selama hampir dua tahun ini adalah sebuah kesalahan. Entah kedunguan macam apa yang begitu mempengaruhiku selama ini.
* * * * *
Bandung, 1 Januari 2017
“Liburnya sudah selesai, mas. Seorang manajer tidak boleh mangkir kerja terlalu lama, lho.” Ucapku dengan nada yakin dengan harapan Evan berhenti bertingkah kekanakan dan mau beranjak dari pangkuanku. Mengurungkan niatnya untuk tinggal di Bandung sehari lagi dan mengambil cuti meski sebab aku tahu kalau pria ini sudah mengambil cuti dihari kepulanganku kemarin.
“Bagaimana kalau kamu resign saja, Al? Kita pulang ke Jogja sama-sama. Hm?”
“Iya, aku akan resign sebulan sebelum tanggal pernikahan kita. Itu janjiku pada mama ‘kan?”
Ya, meski dua hari sebelumnya aku dan Evan sempat terlibat percakapan yang sebenarnya benar-benar tidak kuinginkan, tapi segalanya berjalan begitu sempurna dua hari setelahnya. Hari dimana Evan berkata akan mengajak serta keluarganya menemui keluargaku untuk melamarku. Meski aku sempat berpikir bahwa obrolan kami didalam mobil dua hari sebelumnya bisa saja mengubah keputusan Evan, tapi nyatanya pria itu tetap teguh pada keputusannya untuk melamarku. Pria itu datang bersama dua orang tuanya, dua adiknya dan dua kerabat Evan yang aku sendiri lupa mereka siapa.
“Sekarang saja. Toh pernikahannya tinggal lima bulan lagi, sayang.”
“Manajer tidak akan semudah itu menandatangi surat pengajuan resign ‘kan, mas?” tanyaku yang membuat Evan mencebik tidak suka dan reaksi yang membuatku tertawa kecil.
__ADS_1
Dan malam itu, aku bahkan tidak sanggup mendefinisikan perasaan yang kurasakan hingga aku hanya terdiam sepanjang acara pertemuan antara keluargaku dan keluarga Evan. Dia, Evan Adiatma yang tanpa sengaja kulihat di pelataran parkir sore itu malam ini telah duduk dihadapanku dan disamping kedua orang tuanya untuk melamarku. Dia, Evan Adiatma yang mencuri perhatianku di perpustakaan umum tempo hari, malam ini menjadi pria yang mengikatku dengan sebuah cincin berlian perak yang ia pasangkan dijari manisku. Dia, Evan Adiatma yang membantuku menyembuhkan luka karena Rajendra, malam ini menjadi pria yang begitu yakin mencium keningku dan berganti status menjadi calon suamiku. Kami akan menikah. Alia dan Evan akan berganti menjadi kita.
Bagaimana perasaanku malam itu? Aku bahkan sempat tidak percaya dengan apa yang terjadi malam itu hingga rasanya aku butuh seseorang yang senantiasa mengingatkanku bahwa apa yang terjadi malam itu adalah nyata. Bahwa pria yang duduk dihadapanku malam itu dan berbicara dengan begitu yakin dihadapan bapak, ibu, mbak Mita, mas Raka dan mas Ardi benar-benar Evan Adiatma. Bahwa kehadiran Evan malam itu memang menjadi tanda bahwa hubungan yang kami jalani bukanlah sesuatu yang layak untuk dipermainkan.
Dan alih-alih hanya mengantarku sampai stasiun untuk kemudian membiarkanku pulang ke Bandung seorang diri, Evan dengan segala alasan tidak masuk akal yang dimilikinya justru ikut ke Bandung bersamaku meski pria itu hanya mempunyai libur satu hari saja.
“Nanti kalau kamu kenapa-kenapa bagaimana? Kalau digodain penumpang pria bagaimana?” tanyanya kala itu yang membuatku mendengus karena berpikir perjalanan Jogja-Bandung tidaklah sebentar dan Evan pasti akan lelah sekali jika harus kembali ke Jogja dini hari. Tapi Evan tetaplah Evan yang ternyata lebih keras kepala dariku dan Evan dengan segala keinginannya yang sulit sekali kutolak. Membuatku hanya bisa menghela napas dan membiarkan Evan menyertaiku ke Bandung.
___________
“Harusnya mas yang mengantar kamu ke kos. Bukan kamu yang mengantar mas.” dan setelah ‘lagi-lagi’ beradu pendapat tentang rencana resign, akhirnya Evan mengalah juga dan mengikuti keinginanku untuk pulang dengan mengambil jadwal keberangkatan dini hari dengan kereta api. Membuat pria itu menggerutu semenjak keluar dari kamar hotel hingga loby meski pada akhirnya Evan menurut juga.
“Mas hati-hati, ya.” Jam sudah menunjuk angka 2 lewat 10 menit saat aku duduk disalah satu kursi tunggu tepat disamping Evan yang sudah duduk terlebih dahulu. Aku tidak tahu apa karena suasana stasiun yang sepi atau karena aku harus membiarkan Evan kembali ke Jogja tanpaku. Rasanya mataku memanas dan ingin sekali menangis meski aku tidak berani mengatakannya pada Evan dan memilih menyembunyikan wajahku dilengan pria itu. “Nanti kalau sudah sampai stasiun Wates minta Fian untuk jemput.” Sambungku dengan suara yang mulai terdengar aneh.
“Tuh kan, diajak pulang bareng ndak mau, tapi ditinggal pulang malah nangis.”
“Siapa bilang aku nangis gara-gara ditinggal pulang sama mas?”
“Bukan ya? Terus kenapa dong nangis begitu?” goda Evan sembari membuka tangan kanannya dan memelukku. Tertawa kecil meski lagi-lagi aku merasa bahwa tawa Evan justru terasa menyakitkan dan aku tidak menyukai tawanya itu.
“Omong-omong kamu tidak ngantuk, Al? Sudah jam dua pagi lho ini.” Aku tahu betul kalau pertanyaan yang Evan berikan padaku hanya untuk mengubah suasana yang menjadi canggung karena ulahku yang tiba-tiba saja menangis tanpa alasan.
“Hmm…”
“You and I, we don’t wanna be like them…” seketika aku membuka mata meski tidak berniat melepaskan pelukan Evan saat tiba-tiba pria itu bergumam. “We can make it ‘till the end. Nothing can come between, you and I.”
Meski butuh hampir semenit penuh, akhirnya aku sadar juga kalau apa yang digumamkan oleh Evan adalah potongan lirik lagu milik one direction. Sebuah lagu yang dulu sempat kusukai dan aku bahkan hapal dengan liriknya.
“Sudah hampir tiga puluh, mas. Seleranya masih boyband?” sungguh, tidak ada alasan yang membuatku tidak terharu dengan penggalan lirik lagu yang digumamkan oleh Evan. Perempuan mana yang tidak akan terharu jika calon suaminya bergumam sebuah lirik dengan penuh makna seperti itu? Tapi aku sedang tidak ingin menambah suasana melankolis dengan menangis tersedu-sedu didalam pelukan Evan karena saking terharunya. Itulah kenapa aku memilih selorohan seperti itu dibandingkan menimpalinya dengan kalimat-kalimat romantis lainnya.
“Tapi romantis ‘kan?” dan Evan tertawa juga pada akhirnya. “Dan omong-omong mas tiga puluhnya masih tiga tahun lagi, sayang.”
“Tetap saja menjelang tiga puluh, mas.”
“Umur boleh tiga puluh, tapi selera masih tetap muda dong.”
Dan perdebatan kami tentang usia dan selera musik baru berhenti saat suara seorang perempuan terdegar dan mengumumkan bahwa kereta api dengan tujuan Surabaya yang akan ditumpangi oleh Evan akan segera tiba dan penumpang diminta untuk melakukan check in tiket. Membuat Evan lagi-lagi menghela napas berat sebelum beranjak dari kursinya dan menatapku lama.
“Masuk gih sana.”
__ADS_1
“Mas pulang ya.”
Lagi-lagi suasana melankolis kembali melingkupi kami hingga tanpa sadar aku sudah memeluk Evan.
“Hati-hati dijalan.”
“Iya. See you soon, sayang.”
Apa rasanya memang seperti ini saat aku harus melihat punggung Evan menjauh dan pria itu melambaikan tangan kanannya padaku sebelum benar-benar menghilang dibalik pintu peron? Apa rasanya memang seperti itu saat aku harus merelakan Evan kembali ke Jogja tanpaku meski tidak lebih dari lima bulan lagi kami akan kembali bertemu? Ah, barangkali memang suasana hatiku saja yang sedang begitu mendayu hingga suara peluit tanda kereta siap diberangkatkan-pun terdengar begitu menyayat hati.
* * * * *
Suara tilawah al-quran yang biasa diperdengarkan menjelang subuh sudah terdengar dari masjid dekat kos-ku saat taksi yang kunaiki berhenti tepat di depan pintu gerbang kos. Membuatku seketika menyingkap ujung lengan bajuku dan melihat bahwa jam sudah menunjukkan pukul 3 lebih 40 menit. Membuatku mengerutkan kening sebelum meraih tas pakaian yang kubiarkan tergeletak disamping kakiku dan membiarkan taksi yang kutumpangi berlalu dan meninggalkanku.
Bukan, aku mengerutkan kening bukan karena menyadari bahwa sejak keberangkatanku dari Jogja hari minggu sore kemarin dan hingga sekarang hari selasa dini hari aku hanya tidur sekali didalam kereta. Bukan karena itu, tapi suasana rumah kos yang berbeda inilah yang membuatku mengerutkan kening.
“Sepertinya banyak cerita yang kulewatkan selama di Jogja kemarin.” Seketika seulas senyum terkembang saat aku menyadari bahwa suasana berbeda yang ada di rumah kos pasti ada kaitannya dengan Sofia. Aku ingat betul beberapa minggu sebelum kepulanganku ke Jogja, Sofia dan keluarganya disibukkan dengan lamaran seorang pria pada gadis itu, dan suasana rumah ummi Hamidah pagi ini seolah menjadi pertanda baik dan jawaban yang Sofia berikan untukku. Gadis itu akan menikah.
Aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya seperti ada sebuah perasaan lega saat aku membuka pintu pagar rumah kos dan mendapati suasana memang berlainan seperti saat aku meninggalkan kos seminggu yang lalu. Sebuah tenda yang sudah terpasang dan beberapa tumpuk kursi yang barangkali baru tiba dan beberapa orang terlihat keluar masuk rumah ummi Hamidah. Membuatku sesekali mengangguk demi sopan santun sebelum melangkah menaiki anak tangga menuju kamarku. Meski aku penasaran sekali dengan cerita Sofia, tapi aku akan menunggu hingga besok pagi untuk menemui Sofia dirumahnya.
“Baiklah, besok kamu harus menceritakan semuanya padaku, Sof.” Gumamku setelah melipat mukena yang baru saja kupakai. Menarik napas dalam dan menyalakan ponsel dan mendapati jam sudah menunjukkan pukul 4 lebih 37 menit. Dan tidak harus menunggu hingga jam berganti menjadi pukul 5 untuk membuatku tertidur setelah menguap dua kali. Membuatku mengurungkan niat untuk menelepon Evan dan memilih untuk meletakkan kembali ponselku disamping bantal. Tapi aku ingat, sebelum aku benar-benar tertidur aku sempat memikirkan tentang konsep takdir yang sempat aku dan Sofia bicarakan. Sebuah pembicaraan sambil lalu yang aku dan Sofia lakukan tapi entah kenapa sekarang justru kembali tengiang didalam kepalaku seolah itu adalah pembicaraan paling penting yang pernah kulakukan.
“Takdir? Pemahamanku tentang takdir hanya sebatas sebuah ketentuan, Sof.” Jawabku kala itu saat Sofia tiba-tiba bertanya apa pendapatku tentang takdir seorang manusia. “Maksudku, takdir itu adalah sebuah ketentuan yang Allah tetapkan pada hamba-Nya.”
Memang benar. Meski kuakui jika pemahaman tentang agama yang kumiliki masih jauh dari pemahaman milik Sofia, tapi jauh didalam hatiku sudah tertanam bahwa konsep takdir itu sederhana. Sesederhana aku yang percaya pada sang pencipta bahwa apa yang Allah takdirkan tidak akan melewatkan kita walau hanya sejengkal langkah. Sesederhana aku yang percaya bahwa segala hal yang telah terjadi padaku adalah takdir yang Allah tetapkan untukku. Sebab takdir adalah sebuah ketentuan.
Dan kupikir, segala sesuatu yang memang telah Allah takdirkan akan tetap berjalan dengan sempurna bagaimanapun alurnya. Meski seringkali tidak disangka-sangka atau bahkan datang dari arah yang tidak terduga-duga, takdir Allah akan tetap menghampiri hambaNya. Sama seperti Sofia dan Aditya, sebab keduanya telah ditakdirnya, itulah kenapa mereka berdua tetap bersatu meski sebelumnya belum pernah bertemu.
“Ah, nyatanya takdir Allah memang seindah ini.” gumamku tanpa sadar saat kulihat Sofia keluar dari kamarnya didampingi oleh ummi Hamidah dan seorang perempuan yang tidak kukenal dan belum pernah kutemui sebelumnya. Sosok seorang pengantin perempuan yang begitu yakin dengan langkah yang dipilihnya. Sosok seorang gadis muda dengan balutan baju pengantin putih lengkap dengan selembar kain yang menutupi sebagian wajahnya. Sosok seorang gadis muda yang entah sejak kapan, mulai membuka pandanganku tentang bebagai hal yang sebelumnya tidak kutahu.
“Barakallah, Sof.” Hanya itu. Hanya sebuah doa itu yang mampu kuucapkan dan kuberikan untuk Sofia hari ini. Hari dimana gadis muda itu resmi menjadi istri dari seorang pria bernama Aditya yang aku sendiri belum pernah melihatnya dan Sofia baru sekali berjumpa dengannya.
“Terima kasih, teh.”
Awalnya aku sempat ragu, bagiamana bisa dua orang yang belum saling mengenal sebelumnya bisa bersama dalam sebuah ikatan bernama pernikahan? Hanya pertanyaan sesaat sebelum kudapati sudut mata Sofia yang menyipit dan menandakan bahwa gadis itu sedang tersenyum. Senyum dengan penuh keyakinan bahwa hari ini, dirinya telah membuat sebuah keputusan yang tepat. Sebab dua orang tidak harus mengenal untuk waktu yang sangat lama agar bisa menikah.
Ah, bukankah konsep jodoh sama dengan maut? Saat aku bertanya tentang bagaimana bisa dua orang yang belum saling mengenal bisa bersatu dalam sebuah pernikahan, seharusnya aku juga bertanya tentang bagaimana seseorang yang masih muda dan sehat tiba-tiba saja sudah berjumpa dengan kematian? Otakku masih penuh dengan retorika ternyata. Hingga menjabarkan hal sesederhana itu butuh waktu yang begitu lama.
‘Dua orang tidak butuh saling mengenal untuk waktu yang begitu lama agar bisa menikah. Begitu pula dengan kematian, seseorang tidak harus menjadi sakit dan tua untuk berjumpa dengan ajalnya.’
__ADS_1
Jodoh dan ajal, ah keduanya punya konsep yang sama rupanya. Rahasia, datang dari arah yang tidak disangka-sangka, dan telah tertulis di lauh mahfudz sana.
* * * * *