DIORAMA

DIORAMA
27. Pengakuan


__ADS_3

Sah. Alhamdulillah


Kutarik napas lega saat seorang kyai yang duduk disamping penghulu memanjatkan doa setelah menyatakan bahwa ijab qabul antara mas Ardi dan penghulu dinyatakan sah. Menjadikan mas Ardi dan mbak Mita resmi menjadi sepasang suami istri yang sah dimata agama dan pemerintah. Seulas senyum terkembang diwajahku saat kuperhatikan mbak Mita sebelum bergantian memperhatikan bapak yang duduk diantara mas Ardi dan mbak Mita.


Kuperhatikan lamat-lamat wajah bapak dan mencoba menebak apa yang sedang lelaki itu rasakan saat menyadari jika anak perempuannya telah sah menjadi seorang istri, dan dirinya telah melepaskan tanggung jawab atas mbak Mita kepada mas Ardi. Ah, bagaimanapun aku memperhatikan dan mencoba menebak bagaimana perasaan bapak saat ini, tetap aku tidak akan tahu karena bapak memang tipikal ayah yang begitu lihai menyembunyikan perasaannya.


“Selamat, mbak.” Gumamku tanpa sadar saat memperhatikan mbak Mita dan mas Ardi bersamaan memeluk ibu dan membuat ibu menangis haru. Kali ini aku bahkan tidak sanggup menahan air mataku saat memperhatikan ibu yang bergantian memeluk dan mencium mbak Mita dan mas Ardi.


“Kalau besok saat menikah kamu menangis seperti ini, tukang riasnya pasti mengamuk pada kamu, Al.” dan aku baru ingat kalau sejak tadi Evan duduk tepat disampingku saat pria itu mengulurkan sapu tangan miliknya padaku. “Kamu tahu kan kalau riasan pengantin itu disebut ‘mahakarya’ oleh para periasnya?”


Awalnya kupikir Evan tidak akan datang karena sampai penghulu tiba dirumahku dan akad nikah siapa dilangsungkan, pria itu belum juga menampakkan dirinya. Tapi, aku bahkan nyaris memekik saat tiba-tiba Evan muncul tepat saat ijab qabul akan dimulai dan tiba-tiba saja pria itu sudah duduk disampingku. Mengatakan kalau dirinya pulang terlambat dan tidak bisa datang tepat waktu, hingga beralasan kalau dirinya bahkan tidak punya cukup banyak waktu untuk memilih pakaian terbaik. Alasan yang membuatku tertawa dan memperhatikan pria itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sudah kukatakan ‘kan kalau Evan Adiatma itu masuk kedalam golongan pria tampan yang cocok mengenakan pakaian apapun, jadi alasan seperti itu benar-benar terdengar sangat dibuat-buat ditelingaku.


Sungguh, Evan terlihat tampan sekali dengan kemeja batik hitam dengan corak kuning yang entah kenapa senada dengan gamis yang kupakai. Lengkap dengan kacamata yang selalu membuatku berpikir ‘dialah Evan-ku’. Astagah, sekarang aku bahkan berani mengakui Evan sebagai milikku.


“Kalau memang tidak bisa ditahan bagaimana? Semua pengantin pasti terharu dihari pernikahannya sendiri, mas.”


“Tetap tidak akan kubiarkan kamu menangis dihari pernikahan kita nanti. Kamu harusnya tertawa, bukannya menangis.” Ucap Evan yang tak urung membuat hatiku menghangat seketika dan tidak berani menoleh kearahnya hingga aku memilih untuk memalingkan pandanganku kearah lain. Pernikahan kita, rasanya masih terlalu dini mendengar Evan mengatakan ‘pernikahan kita’ seolah kami memang benar-benar akan menikah meski aku belum memberinya jawaban dan Evan belum memberikan kepastian.


“Kadang seseorang itu bisa manangis kalau terlalu bahagia, mas.” Gumamku tak urung juga. Mengajak Evan menghampiri mas Ardi dan mbak Mita yang terlihat sedang bercakap-cakap dengan mbak Zaira, salah satu kerabatku. Dan salah satu yang membuat penilaianku terhadap Evan selalu naik adalah pria itu terlihat begitu mudah akrab dengan orang-orang disekitarku. Bahkan dengan mbak Mita, Evan terlihat seolah dirinya sedang berjumpa dengan teman lama meski kenyataannya Evan baru bertemu dengan mbak Mita satu kali.


“Selamat untuk mbak Mita karena sudah menjadi istri, dan mas Ardi yang sudah menjadi seorang suami.”


Bahkan sekarang, Evan begitu alami menyalami mbak Mita dan memeluk mas Ardi seorang dialah adik dari kedua pasangan pengantin baru yang bahagia ini, dan aku berperan sebagai gadis beruntung yang Evan bawa untuk kemudian dia perkenalkan pada keluarganya. Sungguh, pria ini cepat sekali akrab bahkan dengan mas Ardi yang baru pertama kali ditemuinya.

__ADS_1


“Jadi, kapan rencana kalian akan menyusul kami?” tanya mas Ardi yang membuatku nyaris tersedak air liurku sendiri, sementara Evan hanya tertawa kecil.


“Kalau aku sih maunya secepatnya, mas. Kalau Alia, nanti kubujuk supaya mau menikah denganku tahun depan.”


“Alia itu punya kepala yang keras, Van. Susah kalau mau membujuk dia.” Timpal mbak Mita tepat saat aku hendak menyela.


“Aku punya cara yang jitu kok, mbak. Sekarang yang terpenting mas Ardi dan mbak Mita restui kita berdua dulu. Nanti soal Alia, biar aku yang urus.”


“Mas,”


Memang benar kalau Evan mengatakan hal seserius lamaran dan pernikahan begitu santai seolah pria itu sedang membicarakan tentang pinkik akhir pekan. Tapi tidak sekalipun kulihat kilat candaan disana meski terkadang Evan mengatakannya disertai tawa kecil. Dan hal seperti itu justru membuat hatiku mencelos dan mulai membuat spekulasi tentang diriku sendiri. Tentang aku yang belum siap dengan hubungan seserius pernikahan atau aku yang masih belum yakin dengan perasaan Evan padaku?


‘Kamu sudah mengenalnya berbulan-bulan dan kalian berdua selalu berkomunikasi setiap saat, Alia. Apalagi yang membuat kamu ragu?’


‘Bagian mana lagi yang membuat kamu urung yakin kalau Evan-lah laki-laki yang akan membersamai kamu hingga ujung cerita kamu ini, Alia?’


Barangkali, aku memang masih butuh waktu sedikit lagi hingga aku benar-benar yakin. Hingga aku benar-benar yakin dengan perasaanku, juga benar-benar yakin dengan perasaan Evan.


* * * * *


Pukul 11 lewat 3 menit saat ojek online yang kutumpangi berhenti tepat didepan pintu gerbang sebuah gedung yang terlihat mencolok dibandingkan gedung-gedung disekitarnya. Gedung yang pernah kudatangi delapan bulan yang lalu, dan gedung yang menjadi permulaan ceritaku hingga sampai pada detik ini. Gameloft. Gedung yang menjadi tempat pertama pertemuanku dengan Evan, juga gedung yang tak urung membuatku menarik napas dalam untuk mengusir kegugupanku begitu aku melangkah memasuki pelataran parkir dan terus maju hingga aku sampai diambang pintu masuk.


Yah, tentu saja bukan tanpa alasan aku tiba-tiba saja memesan ojek online dan melaju dari rumahku menuju kantor gameloft meski sebenarnya badanku masih terasa lelah karena acara pernikahan mbak Mita dan mas Ardi kemarin sore. Sebenarnya aku sudah berencana akan tidur hingga dhuhur sebelum tepat pukul 10 tadi aku ingat kalau kemarin malam Evan memintaku untuk menemuinya hari ini karena pria itu butuh untuk membicarakan beberapa hal denganku dan dia terlalu sibuk untuk menemuiku di kedai kopi.

__ADS_1


“Kita bicara besok saja.” awalnya aku berniat mengatakan pada Evan perihal persetujuan ibu dan bapak tentang lamaran pria itu selepas acara pernikahan mbak Mita dan mas Ardi. Tapi kenyataannya, aku bahkan tidak punya waktu dan juga keberanian yang cukup untuk membicarakan hal itu dengan Evan sementara tamu terus datang silih berganti dan membuatku menjadi tuan rumah yang sibuk sekali.


“Tapi mas,”


“Bukan karena aku tidak mau mendengarkan kamu, Al. Tapi kita butuh waktu dan ruang untuk berbicara. Dan kita tidak akan mendapatkannya saat ini.”


“Aku hanya punya waktu dua hari di Jogja dan hari minggu sore aku harus sudah kembali ke Bandung, mas Evan.”


“Iya, aku tahu. Besok siang kamu bisa datang ke kantor? Aku tidak bisa pergi karena ada rapat dan aku tidak tahu kapan rapat berakhir.”


“Ke kantor?” tanyaku ragu-ragu. Dan tentu saja aku tidak lupa kalau Evan bekerja di gameloft dan gameloft bukanlah tempat yang ingin kudatangi karena tempat itu benar-benar memberiku pengaruh buruk. Ya, apalagi kalau bukan kenyataan jika Rajendra Yudhistira juga bekerja di tempat itu?


“Kamu takut bertemu Jendra kalau datang ke kantor?”


“Apa aku punya alasan lain?” dan alih-alih tersinggung, Evan justru tertawa dan mencubit pipi kiriku.


“Begini saja, besok kamu tanya pada resepsionis dimana ruanganku, lalu minta Sena untuk mengantar kamu ke ruanganku. Kamu tunggu saja disana sampai aku datang.”


Sungguh, bukannya aku tidak mau menemui Evan dan menuntut pria itu untuk selalu menemuiku. Aku sams sekali tidak keberatan menemui pria itu dimanapun asal tidak di kantornya. Bagaimanapun Jendra bekerja di tempat yang sama dengan Evan dan kemungkinan aku bertemu dengan pria itu akan selalu ada. Bukan pula karena aku belum bisa melupakan Jendra hingga aku harus setakut ini hanya karena akan memasuki gedung gameloft.


Ya, bagaimanapun rasa sakit itu masih tetap ada dan bisa saja terasa perih meski hanya dengan sedikit goresan dan sentuhan.


* * * * *

__ADS_1


__ADS_2