DIORAMA

DIORAMA
12. Pertemuan


__ADS_3

Hujan masih turun meski tidak sederas satu jam yang lalu saat aku memasuki gerbang perpustakaan umum dan menarik napas dalam.


Setelah hampir dua jam duduk di shelter seorang diri seperti gadis yang baru patah hati, perpustakaan umum menjadi tempat yang tuju setelahnya. Alih-alih pulang ke rumah dan membuat secangkir teh panas, aku memilih untuk melangkah pelan menyusuri trotoar dekat alun-alun dan memutar menuju perpustakaan umum.


Yah, sepanjang perjalanan aku hanya membayangkan aroma buku di dalam ruang baca perpustakaan akan membuatku lebih tenang dan mungkin aku akan ada disana sampai pak Wardi mengingatkan kalau perpustakaan akan tutup dan sudah waktunya aku untuk pulang.


Terkadang aku memang bisa menjelma menjadi perempuan muda yang begitu sentimentil saat perasaanku sedang tidak menentu seperti sekarang. Benar, nyatanya aku harus menarik napas dalam berkali-kali saat aku sudah bediri di teras gedung dan menatap lurus kearah gapura alun-alun dan mendapati sebuah picanto merah terparkir disana. Bukan, itu bukan mobil Jendra sebab aku sudah hapal dengan mobil pria itu, dan aku juga tahu kalau ada puluhan picanto merah di kota ini. Hanya saja, perasaanku yang sedang melankolis menjadi semakin menjadi-jadi saat mengingat kenyataan bahwa mobil itu mungkin menyimpan kenangan yang tidak sedikit antara aku dan Jendra.


“Ah, lagi-lagi kamu bertingkah seperti gadis muda yang baru saja putus cinta, Alia.” Gumamku sendiri sembari menaiki dua anak tangga gedung perpustakaan dan melipat payung biru yang sejak tadi kugunakan. Meletakkan benda itu pada loker payung tepat disamping sebuah bangku kayu yang entah sejak kapan ada disana. Terakhir kali aku mendatangi tempat ini awal februari lalu, belum ada bangku kayu itu disana. Ah, sepertinya menyenangkan memandang pohon beringin didepan gedung perpustakaan sembari duduk di bangku kayu ini.


Tapi aku memang sedang perempuan muda yang baru saja putus cinta kan? Aku baru putus dari Jendra sebulan yang lalu dan kupikir tidak ada patah hati yang bisa pulih dalam waktu sesingkat itu. Dan lagi-lagi aku menarik napas dalam untuk menetralisir rasa sesak yang selalu saja kurasakan setiap kali kudapati diriku mengingat apa yang terjadi sebulan yang lalu.


“Bapak pikir kamu sudah lupa alamat tempat ini, nduk.” Sebuah sapaan yang luar biasa dari pak Wardi begitu aku berjalan mendekati meja resepsionis setelah meletakkan tas selempangku pada loker disudut ruangan yang lain. “Kalau sampai hari jumat besok kamu belum datang, itu artinya tepat dua bulan kamu melupakan tempat ini.” dan aku hanya mengulum senyum tipis sebelum akhirnya tertawa mendengar kalimat pak Wardi.


“Bukan melupakan, pak. Memang belum sempat kemari sejak pulang dari Jakarta.”


“Sepertinya mbak Alia jadi sibuk sekali sejak keberangkatannya ke Jakarta,” timpal bu Indah tak kalah ramah dari pak Wardi. Selain aroma buku yang tidak penah gagal membuatku menjadi tenang, keramahan dua orang inilah yang kurindukan setiap kali aku tidak datang berkunjung ke tempat ini.


“Bu Indah sehat?”


“Alhamdulillah, pelatihannya lancar to?”


“Alhamdulillah lancar, bu.”


“Banyak buku baru yang menunggu untuk dibaca, nduk. Tapi sebelumnya, boleh bapak tahu kenapa wajah kamu pucat begitu?”


Aku menaikkan sebelah alis mendengar pertanyaan tidak terduga dari pak Wardi. Apa wajahku sepucat itu sampai pak Wardi menanyakan hal itu padaku? Kupikir aku sudah memasang wajah sedatar dan sebiasa mungkin untuk menutupi kegusaranku hingga orang lain tidak harus menyadari betapa menyedihkannya Alia Pangesti sebulan belakangan ini.


“Terlalu capek mungkin, pak. Banyak pertemuan dan rapat-rapat koordinasi yang harus dihadiri selama program berlangsung.”


“Begitu. Asal jangan sampai sakit saja, nduk.” Aku hanya mengangguk mengiyakan tanpa berniat untuk memperpanjang obrolan kami. “Ini dua buku baru yang baru datang hari senin kemarin. Tapi karena sudah jam setengah empat dan perpustakaan akan tutup, kamu boleh membawanya pulang.”


Aku baru saja akan melirik jam dinding yang tergantung dibelakang meja resepsionis sebelum pak Wardi terlebih dahulu mengingatkanku akan hal itu. Membuatku tertawa kecil dan memperhatikan pak Wardi yang mulai mencatat dua buku pinjamanku sementara bu Indah mulai merapihkan meja pelayanan dan merapihkan buku presensi kehadiran pengunjung.


“Mohon maaf, mas. Perpustakaan akan tutup sepuluh menit lagi, mas bisa kembali besok jam delapan pagi.”


“Oh, maaf bu, saya tidak sadar kalau sudah jam empat. Terima kasih sudah mengingatkan.”


Samar-samar kudengar percakapan antara bu Indah dengan salah satu pengunjung perpustakaan. Percakapan yang membuatku tersenyum aneh karena teringat saat pertama kali pak Wardi mengingatkanku kalau perpustakaan akan tutup sepuluh menit lagi. Percakapan yang terjadi tiga tahun lalu, dan percakapan pertama antara aku dan pria ini.


____________


“Kok jadi deras lagi hujannya?” gumamku saat melangkah keluar pintu perpustakaan dan mendapati hujan yang kembali menderas meski sebelumnya aku yakin kalau hujannya sudah berhenti dan tinggal menyisakan gerimis.


“Kamu akan terlihat konyol kalau nekat berjalan ke halte dengan payung kecil milikmu itu, Alia.” Sambungku sembari menyampirkan tas selempangku sementara buku pinjaman dari pak Wardi kudekap didepan dada. Tersenyum aneh saat memikirkan kalau aku pasti akan basah kuyup kalau nekat menerobos hujan dengan payung kecil biruku dan dua buah buku baru ditanganku ini pasti akan bernasib menyedihkan. “Yah, tunggu sampai reda saja kalau begitu.”


Aku baru saja maju selangkah dari posisiku saat tatapanku terpaku pada seorang pria muda yang sedang duduk di bangku kayu tepat di samping loker payung. Seorang pria muda dengan kemeja lengan pendek warna coklat muda, rambut hitam pekat yang panjangnya menyentuh telinga, dan sebuah kacamata yang tidak terlalu tebal. Seorang pria muda yang pernah kulihat dan seperti tidak menyadari kehadiranku.

__ADS_1


“Ternyata itu benar kamu. Kupikir aku salah lihat.” Ucapnya sembari beranjak dan berdiri menghadapku.


Tidak, dia bukan tidak menyadari kehadiranku, tapi kupikir pria ini sedang memastikan kalau orang yang dia lihat itu memang aku.


“E.A.” gumamku yang lebih terdengar seperti desisan pelan.


E.A.


Pria ini. Pria yang beberapa bulan ini membuatku galau tidak karuan, juga pria yang membuatku penasaran saat ini berdiri dua langkah didepanku dengan seulas senyum tipis yang terlihat tulus. Benar-benar tulus sampai aku yakin kalau tidak ada orang yang mampu menolak senyuman seperti itu.


Hampir semenit penuh tidak ada suara yang mengisi celah diantara kami kecuali suara hujan yang masih saja menderas dan suara daun beringin yang bergesekan setiap kali angin berhembus.


“E.A, aku tidak punya ide apapun untuk memikirkan kepanjangan dari nama kamu.” mulaiku setelah mendapatkan kesadaranku kembali dan berhasil mengulum senyum tipis. “Tapi aku ingat kalau kita memang pernah bertemu. Tidak, maksudku pernah saling melihat.”


Ya, aku sudah mengingatnya saat aku dalam perjalanan menuju Jakarta bulan februari kemarin. Aku ingat kalau aku memang pernah melihat E.A di pelataran parkir kantor gameloft saat aku menemani Jendra menghadiri undangan wawancara. Ya, saat itu aku yang bosan setengah mati menunggu Jendra tiba-tiba saja seperti orang yang baru saja tersengat lebah saat tanpa sadar tatapanku bertemu dengan tatapan seorang pria muda berkemeja coklat dan berkacamata yang baru saja turun dari mobilnya.


Aku memang sudah mengingat tentang E.A sejak dua bulan yang lalu, hanya saja masalah yang kuhadapi dan kesibukan yang kujalani membuatku dengan mudah melupakan E.A.


“Maaf belum sempat mengatakannya pada kamu.” sambungku sembari menarik napas dalam dan menghembuskannya kembali perlahan. Seperti ada perasaan lega yang melingkupiku saat kudapati senyuman diwajah E.A kembali mengembang. Pun seperti aku baru saja memecahkan teka-teki rumit yang guru berikan padaku sebagai pekerjaan rumah saat aku berhasil mengingat kapan dan dimana aku pernah melihat E.A.


“E.A adalah kepanjangan dari Evan Adiatma. Dan terima kasih karena sudah mengingat pertemuan kita, Alia Pangesti.”


Dua detik aku mengerutkan kening karena menyadari E.A, yang baru saja memperkenalkan nama aslinya ternyata juga mengetahui namaku.


“Maaf karena aku bertingkah seperti penguntit dengan bertanya pada bu Indah tentang kamu.” sambungnya seolah mengerti apa yang kupikirkan dan membuatku tertawa kecil.


“Mau kemana?” kejar E.A saat aku baru saja meraih payungku dan hendak membukanya. Membuatku mengurungkan niat dan mengangkat wajah untuk mendapati tatapan E.A yang terlihat tajam-dan teduh- di balik kacamatanya.


“Entah aku akan basah kuyup atau tidak sampai di halte nanti, tapi kupikir hujannya akan turun sampai malam, dan bus terakhir akan lewat setengah jam lagi.” jawabku dengan nada yang kubuat setenang mungkin meski kenyataannya jantungku berdetak kencang sekali saat tatapanku dengan tatapan E.A bertemu untuk beberapa detik. Ya ampun, entah sudah berapa kali tatapan pria ini membuatku kalang kabut begini.


“Sebentar lagi. Bisakah kita tetap disini sebentar lagi?”


Dan itu adalah pertama kalinya aku mengiyakan permintaan dari seorang pria yang baru kukenal beberapa menit yang lalu.


“Panggil Alia. Rasanya aneh sekali kalau kita sudah tahu nama masing-masing tapi seperti enggan untuk menyebutkannya.” Dan aku bukannya enggan menyebut nama asli E.A, tapi aku gugup sekali meski hanya memikirkan nama Evan Adiatma. Nama yang karismatik sekali.


“Alia. Dan kamu juga bisa mulai memanggilku Evan, dan bukannya E.A.”


Beberapa menit kembali tidak ada yang bersuara diantara kami dan membiarkan suara hujan yang mulai reda mengisi celah diantara kami. Aku bukannya kehabisan bahan obrolan, hanya saja aku sedang menikmati kesunyian yang tercipta diantara aku dan Evan meski sekarang pria itu berjarak tidak lebih dari dua jengkal tangan dariku. Aku menikmati kebisuan diantara kami seolah aku sedang benar-benar menikmati suara hujan diluar gedung, gesekan daun beringin, dan desahan napas Evan yang sesekali terdengar olehku.


“Hampir dua bulan sejak terakhir kali aku melihat kamu di tempat ini.” aku menoleh saat Evan membuka suara dan menoleh kearahku dua detik berikutnya. “Kupikir kamu memang mulai berhenti datang.”


Kalau boleh kuakui, ini adalah pertama kalinya aku tidak berpaling saat tatapanku berserobok dengan seorang pria yang sebelumnya belum pernah kukenal. Tapi Evan dengan tatapan lembut dari sepasang mata almondnya yang tersembunyi dibalik kacamata membuatku tidak mampu berpaling.


“Kamu datang kesini setiap hari?”


“Tidak setiap hari.” Seperti ada kisah panjang yang ingin pria itu ceritakan padaku disetiap helaan napasnya. “Hanya saja, setiap kali aku datang ke tempat ini, seseorang yang kuharap bisa kutemui adalah kamu.”

__ADS_1


“Kenapa?”


“Karena aku mau meminta maaf untuk pesan singkat yang kutitipkan pada pak Wardi beberapa bulan yang lalu.”


Aku mengerjap pelan sebelum mengalihkan pandanganku pada buku dipangkuanku dan menarik napas pelan.


“Kamu menyesal karena sudah menitipkan pesan singkat itu pada pak Wardi untuk diberikan padaku?”


“Tidak. Tapi aku menyesal karena sudah membuat kamu bingung.” Dan memang Evan mengatakannya dengan nada menyesal seolah dia telah melakukan kesalahan besar terhadapku. “Maaf. Harusnya aku langsung menyapa kamu dengan benar. Tapi…”


“Tapi keberanianku tidak seberapa saat itu.” sambung Evan yang mungkin menyadari kalau aku masih menunggunya menyelesaikan kalimat.


“Terima kasih.”


Evan tidak bertanya untuk apa kata ‘terima kasih’ itu kuucapkan, hanya saja aku sadar jika pria itu bertanya melalui tatapan matanya yang dia berikan untukku.


“Terima kasih karena sudah menungguku selama dua bulan untuk menjelaskan semuanya, mas Evan.” Sungguh, Evan terlihat lucu saat mengerutkan keningnya seperti itu hingga membuatku tertawa. “Rasanya aneh sekali kalau aku hanya memanggil kamu dengan ‘Evan’ sementara aku yakin -entah berapa umur kamu- tapi kamu pasti lebih tua dariku.”


“Aku bukan orang yang sensitif saat membicarkan umur, dan ya, aku juga yakin kalau kamu pasti lebih muda dariku. Kutebak kamu tiga atau empat tahun lebih muda dariku, Al.”


“Dua puluh dua menjelang dua puluh tiga.”


“Tepat seperti perkiraanku. Dan aku tiga puluh kurang empat, kalau kamu butuh untuk tahu.”


“Hah?” tiga puluh kurang empat? Maksudnya usianya dua puluh sembilan tahun delapan bulan?


“26.”


“Oh,” tanpa sadar aku menggaruk kepalaku yang terbungkus jilbab abu-abu dengan salah tingkah.


“Omong-omong rumah kamu jauh dari sini?”


Aku terkesiap seperti baru saja tersengat lebah saat mendengar pertanyaan Evan, dan menyadari kalau hujan sudah berhenti turun dan tinggal menyisakan gerimis. Entah sudah berapa lama kami duduk di bangku kayu ini dan mengobrol hingga aku tidak sadar kalau sekarang sudah hampir setengah enam dan bus kota pasti sudah berhenti beroperasi.


“Sudah jam 17.25, astagah.” Gumamku sembari meraih payung dan menyelipkannya kedalam tas selempang. “Maaf, mas, aku harus segera pulang sebelum maghrib. Dan ya, rumahku lumayan jauh dari sini.” Sambungku dengan nada terburu-buru. Aku yakin bapak tidak akan suka kalau anak perempuannya pulang kerumah sampai malam hari.


“Kuantar.” Aku baru saja melangkah menuruni anak tangga teras gedung saat Evan mengejarku dan menghalangi langkahku. “Maaf, maksudku sebagai ganti karena aku menahan kami disini sampai kamu tertinggal bus.”


“Tapi,..”


“Nanti kamu bisa duduk di kursi belakang supaya orang tua kamu mengira kalau kamu sedang naik ojek online dan bukannya diantar oleh laki-laki yang baru kamu kenal.” potong Evan yang membuatku tertawa.


“Terima kasih.”


Untuk pertama kalinya setelah sekian bulan, aku merasa baik-baik saja dan merasa kalau senyum dan tawa yang kubuat adalah senyum dan tawa yang tulus. Bukan senyum dan tawa yang kubuat untuk menutupi kegusaranku. Aku sendiri bahkan tidak terlalu mengerti bagaimana bisa seorang Evan Adiatma yang baru kukenal bisa membuatku merasa nyaman dan merasa aman saat bersamanya. Tatapan matanya yang teduh dibalik kacamatanya seperti sesuatu yang baru saja kutemukan setelah sekian lama kucari.


Apa ini semua memang karena Evan Adiatma? Atau aku saja yang sedang patah hati dan butuh seseorang yang bisa membuatku tersenyum dan tertawa seperti Evan? Ah, kisah ini masih jauh dari penghujungnya, dan kupikir terlalu dini untuk memastikan rasa apa yang sebenarnya sedang kurasakan.

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2