DIORAMA

DIORAMA
19. Mengeja Rasa


__ADS_3

“…aku masih mencintai kamu, Alia. Dan aku tidak suka kamu bersama dengan Evan. Apa sekarang sudah cukup jelas?”


Untuk kesekian kalinya kuhela napas dalam dan menghembuskannya kembali perlahan sembari terus memandangi langit yang terlihat masih biru meski jam sudah menunjukkan pukul tujuh belas lebih tiga menit. Sesekali memejamkan mata dan merasakan embusan angin sore hari menyusup melalui sela-sela sweater putih gading yang kukenakan dan menerbangkan ujung jilbab hitamku.


Setelah menolak untuk menemui Kamila di kedai masakan Jepang langganan kami, disinilah aku berakhir. Berbaring di atas rumput paku di halaman belakang rumahku sendiri seperti orang malas dan memenuhi kepalaku dengan hal-hal tidak penting yang seharusnya tidak kupikirkan. Yah, tentu saja hal-hal tidak penting itu lagi-lagi tentang Rajendra dan semua yang pria itu katakan padaku dimalam pesta pernikahannya dua hari yang lalu.


Tapi kupikir tidak ada seorang perempuan yang tidak memikirkan apa yang kupikirkan kalau saja mereka ada diposisiku. Sungguh, aku benar-benar tidak menyangka kalau Jendra mau merendahkan dirinya dihadapanku hanya untuk mengatakan kalau pria itu masih mencintaiku meski dia sendiri sudah beristri.


Kalau Jendra memang masih mencintaiku, lantas untuk apa dia menikah dengan Hesti? Ah, nyatanya aku memang tidak sanggup memikirkan tentang jalan takdir yang tertulis pada buku kehidupanku sendiri. Dan yang bisa kulakukan tentu saja hanya diam dan jalani saja seolah Jendra tidak pernah mengatakan hal itu padaku.


“Kamu benar-benar keterlaluan, Alia.” Aku menoleh dan menyungging senyum lebar saat kudapati suara seseorang yang sudah sangat kukenal. Semakin melebarkan senyumanku saat orang itu justru berkacak pinggang dan menatapku dengan tatapan ingin menerkam. “Kamu tahu aku sibuk sekali dan kamu memaksaku untuk datang kerumah kamu? Astaga, teman macam apa kamu sebenarnya?” kali ini aku bahkan tertawa keras alih-alih tersinggung dengan kalimat yang orang itu ucapkan.


“Duduk dulu, tadi aku dan mamanya Lily membuat cake labu, sengaja kusisakan untuk kamu.”


“Kamu mau menyogokku dengan sepotong cake labu?”


“Bukan sepotong, satu loyang sengaja kusisakan untuk kamu bawa pulang. Bagaimana?”


“Kalau begitu kuberi kamu satu porsi batagor dan segelas jus semangka kesukaan kamu. Kubeli tadi sepulang dari kantor.”


Dan dua detik berikutnya aku dan orang itu, yang tidak lain adalah Kamila sama-sama tertawa sebelum anak itu duduk tepat disampingku dan mengeluarkan dua bungkus batagor dan dua gelas jus semangka. Aku tahu kalau Kamila bukan tipikal perempuan penggosip yang rela menempuh perjalanan dari kantornya kerumahku hanya untuk mendengar kabar tentang pernikahan Jendra. Tapi Kamila juga bukan tipikal teman yang rela menahan diri untuk tidak mendengar ceritaku tentang apa yang terjadi pada pesta pernikahan Jendra dua hari yang lalu.


“Jadi, kisah apa saja yang kulewatkan dari ‘kamu yang menghadiri pernikahan mantan pacar kamu’ Alia?” mulai Kamila setelah kami sibuk menikmati seporsi batagor yang dibawanya sembari aku yang mendengar gadis itu berceloteh tentang hubungannya dengan Dodi.


“Kamu membuatnya terdengar dramatis, La.”


“Dengan siapa kamu datang?” tanya Kamila mengabaikan kalimatku dan mengibaskan tangan kanannya sembarangan.


“Dengan temanku.”


“Farhan?”


“Bukan. Maksudku aku memang bertemu dengan Farhan disana, tapi aku tidak datang berasamanya.”


“Mika?”


“Bukan teman kampus, Kamila. Lagipula Mika tidak diundang ke pernikahan Jendra. Mungkin dia tahu kalau Mika sudah bekerja di Semarang.”


“No offense, Al. Tapi aku nggak peduli dimana Mika kerja dan aku hanya ingin tahu dengan siapa kamu datang ker penikahan Jendra kemarin?” benar-benar tipikal Kamila yang entah kenapa seperti benar-benar tidak menyukai Mika sedikitpun meskipun aku yakin tidak ada masalah diantara mereka berdua.


“Ehm,” meski ragu, rasanya tidak pantas kalau kusembunyikan tentang Evan dari Kamila. “Dengan Evan,”


“Evan? Kamu nggak pernah cerita tentang teman kamu yang bernama Evan.”


“Evan Adiatma,” mulaiku sembari meletakkan gelas jus semangka yang isinya sudah kutandaskan. “Dia teman kantor Jendra.”


“What?”


“Bagaimana ya? Aku pertama kali melihat Evan saat mengantar Jendra tes kerja di gameloft, tapi kami, maksudku aku dan Evan baru benar-benar saling menyapa sebulan setelah aku putus dari Jendra.”

__ADS_1


“Kenapa bisa kebetulan seperti itu, Al?”


Kali ini aku mengangkat bahu tidak acuh dan menarik napas pendek.


“Kurasa bukan kebetulan, La. Aku tidak tahu kalau Evan itu atasannya Jendra di kantor sebelum kami benar-benar dekat, jadi kalau kamu berpikir aku sengaja mengajak teman kantor Jendra untuk membuatnya cemburu, kamu salah.”


“Bukan begitu, aku tahu kamu bukan perempuan seperti itu, Alia.” sergah Kamila saat menyadari emosiku yang mulai naik. “Aku justru memikirkan cara pertemuan kalian, kamu pernah melihatnya di suatu tempat, lalu kalian kembali dipertemukan dan akhirnya menjadi dekat. Kupikir semua pertemuan manusia di jaman sekarang selalu diawali oleh sosial media, Al. Tapi ternyata masih ada tipikal pertemuan klasik seperti itu.” tapi tak urung aku tertawa juga mendengar kalimat Kamila.


“Pertemuan klasik?”


“Aku tahu otakku nggak secemerlang kamu, nak. Jadi tolong jangan permalukan aku hanya karena sebuah kata yang salah.”


“Entahlah, La. Aku hanya menyebutnya takdir yang Allah tuliskan untukku. Menjadikan Evan Adiatma salah satu orang yang bersinggungan denganku.”


“Seperti apa orangnya?” desak Kamila tidak lupa dengan kedipan mata yang benar-benar menyebalkan.


“Siapa?”


“Evan. Kalau Farhan, Andy, atau Jendra aku sudah pernah bertemu mereka semua.”


“Ehm, sejauh ini Evan orang yang baik dan sopan.”


“Berjanjilah kamu akan membawanya padaku dalam waktu dekat.!”


“Sayangnya Evan bukan pengangguran sepertiku yang bisa diajak bertemu kapanpun kamu mau.” Dan Kamila baru saja akan menghabiskan sisa jus digelasnya saat gadis itu justru menatapku dan mengabaikan sisa jusnya. Membuatku mengangkat alis dan menunggu pertanyaan apalagi yang akan anak ini ajukan sebab aku sudah menduga kalau rasa penasaran seorang Kamila tidak semudah itu bisa dipuaskan.


“Omong-omong kalian sedekat itu?”


“Beberapa menit yang lalu kamu bilang ‘sebelum kami benar-benar dekat’ dan aku menyimpulkan kalau kalian itu benar-benar dekat. Sebenarnya berapa banyak hal yang kamu sembunyikan dariku, Alia?”


“Tidak banyak yang kusembunyikan dari kamu, La. Dan ya, aku dan Evan pertama kali bertemu di perpustakaan umum bulan April kemarin, dan setelahnya kami sering bertemu, begitulah.” Sengaja kupotong bagian dimana Evan menitipkan pesan singkat padaku melalui pak Wardi. Sungguh, itu hanya akan membuatku terdengar sangat melodramatis dihadapan Kamila. Biar bagian itu menjadi sepenggal kisah kami berdua dan menjadi bagian yang kami simpan dalam kompartemen ingatan kami berdua.


“Beberapa kali Evan mengajakku makan bersama, dan terakhir kami datang ke pernikahan Jendra bersama-sama.”


“Kamu menyukai Evan?” tanya Kamila tanpa tedeng aling-aling yang membuatku nyaris tersedak air liurku sendiri. Hanya saja dengan cepat aku mengendalikan diri hingga tidak harus salah tingkah dihadapan gadis itu.


“Evan orang baik, La. Kamu tahu aku selalu menyukai orang baik.”


“Kamu tahu maksudku dan nggak perlu kuulangi kalimatku, Alia.”


Kutarik napas dalam dan menghembuskannya kembali perlahan tanpa memalingkan wajahku dari tatapan Kamila. Benar juga, percuma membuat Kamila terdistraksi dan membuatnya mengabaikan rasa ingin tahunya itu.


“Aku nyaman setiap kali bersamanya, La. Apa perasaan semacam itu bisa kuartikan sebagai rasa suka?” benar, aku tidak membual saat mengatakan kalau keberadaan Evan disampingku selalu membuatku merasa nyaman dan aman.


Bukan berarti saat bersama Jendra aku tidak merasa seperti itu, hanya saja Evan membuatku merasa bahwa pria itu mencurahkan seluruh perhatiannya untukku setiap kali kami sedang bersama-sama. Aku bahkan tidak ingat Evan pernah memegang ponsel setiap kali kami sedang makan siang bersama atau sedang membaca buku bersama di perpustakaan umum.


“Rasa nyaman yang kamu maksud itu, apa rasa nyaman yang kamu dapatkan dari seorang pria karena Jendra sudah nggak lagi memberikannya untuk kamu?”


“La,”

__ADS_1


“Begini, Alia. Kamu baru saja putus dari Jendra dan dua hari yang lalu kamu menghadiri pernikahannya. Aku nggak tahu bagaimana perasaan kamu karena kita ada diposisi yang berbeda. Tapi kupikir hati kamu pasti terluka dan kamu butuh seseorang untuk membantu kamu menyembuhkannya, dan disaat yang bersamaan Evan datang dan membuat perhatian kamu teralihkan.” Aku tidak tahu darimana Kamila belajar cara bertele-tele seperti ini hingga membuatku terpesona pada kalimatnya untuk beberapa saat.


“Kamu mau bertanya apa aku sedang menjadikan Evan pelarian atau bukan?”


“Aku sedang mencari kalimat yang lebih halus untuk kutanyakan pada kamu.”


Lagi-lagi aku menarik napas dalam dan menghembuskannya kembali perlahan. Tanpa sadar pertanyaan Kamila seperti tamparan untukku yang dalam sekejap membuat pikiranku penuh dengan spekulasi tentang Evan Adiatma. Apa pria itu juga mempunyai pemikiran yang sama dengan Kamila?


“Itu yang kutakutkan, La.” mulaiku sembari mencabut sehelai rumput tepat disampingku dan memainkannya dengan asal. “Aku takut kalau tanpa sadar aku sudah menjadikan Evan sebagai pelarianku dari Jendra. Aku takut kalau tanpa kusadari aku sudah memanfaatkan keberadaan Evan sebagai penyembuh luka yang kudapat dari Jendra.”


“Memang benar kalau terlalu dini untuk menyimpulkan apa kamu menjadikan Evan sebagai pelarian kamu dari Jendra atau bukan, Al. Tapi kupikir pasti ada beberapa hal yang bisa membuat kamu yakin apa kamu memang menjadikannya pelarian atau nggak.”


“Beberapa hal?” kuakui kalau pengalaman kehidupan romantismeku selama ini tidak sebanyak Kamila, itulah kenapa aku hanya menatap Kamila lekat-lekat dan menunggu gadis itu untuk menjelaskannya padaku.


“Apa yang kalian bicarakan setiap kali bertemu?”


Untuk beberapa detik aku mengerutkan kening dan memikirkan kenapa Kamila harus menanyakan hal se-tidak penting itu?


“Banyak hal, La. Dan kenapa kamu harus bertanya seperti itu?”


“Banyak hal seperti apa contohnya?”


“Biologi dan sains. Evan itu programmer teraneh yang pernah kutemui karena begitu menggilai biologi dan sains meskipuin dia sendiri bekerja di perusahaan game. Bukankah itu aneh? Terkahir bahkan dia begitu menggebu-gebu saat menjelaskan padaku tentang transplantasi gen pada binatang yang cacat untuk kemudian dibuat menjadi tidak cacat. Kupikir Evan itu tipikal gamer berkacamata yang begitu menggilai game pada ponsel hingga memutuskan untuk bekerja sebagai perancang game, tapi yah begitu…” jelasku panjang tanpa kusadari hingga tatapan Kamila-lah yang membuatku sadar kalau aku terlalu banyak berbicara tetang Evan seolah aku sedang menjelaskan pada Kamila tentang seorang pria yang kusukai.


“Lalu apalagi?”


“Apanya?”


“Kamu sendiri? Gimana perasaan kamu setiap kali kalian bersama-sama seperti itu?” tanya Kamila lagi yang tak urung membuatku kembali berpikir. Dan hingga hampir semenit penuh, satu-satunya hal yang mampu kupikirkan justru tatapan Evan. Ya, pertanyaan Kamila tanpa sadar membuatku kembali memikirkan tentang cara Evan Adiatma menatapku setiap kali kami sedang bersama-sama. Dan memikirkan tentang aku yang bahkan sudah beberapa kali mendapati pria itu memperhatikanku membuat pipiku terasa panas.


“Aku suka caranya melihatku, La.”


“Pernah kalian membicarakan masa lalu kalian? Dalam kasusmu ini, pernah kamu membicarakan Jendra bersama Evan?”


“Eh-mm,” kali ini aku mengangguk dan menggulung sebatang rumput paku ditanganku dengan asal. “Sehari sebelum kami menghadiri pernikahan Jendra dan Hesti, aku mengatakan semuanya pada Evan kalau Jendra adalah mantan pacarku yang tidak lain adalah anak buahnya sendiri di kantor.”


“Meski begitu, aku tetap nggak bisa menilai apa kamu memang menjadikan Evan sebagai pelarian atau bukan, Al. Pada akhirnya memang hanya kamu yang bisa menentukan dan memberi definisi untuk apa yang kamu rasakan terhadap Evan.”


“Bagaimana kalau aku memang hanya menjadikan Evan pelarian, La?”


“Kamu tetap bisa mengubahnya, sayang. Seiring waktu kamu akan benar-benar mengerti perasaan apa yang sebenarnya kamu rasakan pada Evan.”


“Tapi, La,”


“Segala hal memang butuh waktu, Al. Apalagi masalah perasaan. Nggak benar kalau kamu memutuskan sekarang saat kamu sendiri bahkan masih ragu dengan perasaan apa yang sebenarnya kamu rasakan terhadap Evan.”


Dan kenapa setelah sekian bulan kami bersama-sama dan sering menghabiskan waktu bersama, baru sekarang aku memikirkan tentang kemungkinan seperti itu? Aku memang sama sekali tidak berpikir untuk menjadikan Evan pelarian sebab aku sendiri tidak merasa sedang melarikan diri dari apapun. Tapi tetap saja sebuah pemikiran muncul dan pemikiran seperti itu membuatku takut.


Ya, aku takut melukai perasaan Evan jika kenyataan memang mengatakan kalau aku menerima uluran tangannya hanya karena seseorang baru saja melepaskan tanganku.

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2