DIORAMA

DIORAMA
22. Kurasa Cinta


__ADS_3

Sekali lagi aku menyipitkan mata pada sebuah papan nama yang tergantung pada teras rumah didepanku dan menunduk untuk memastikan aku berdiri didepan rumah yang tepat. Sebuah rumah lantai dua dengan gerbang kayu tinggi yang tidak bisa kujangkau dengan pandangan mataku saking tingginya.


Setelah hampir setengah jam duduk didalam café stasiun untuk menikmati secangkir kopi panas, akhirnya aku memutuskan untuk memesan ojek online dan bertolak menuju sebuah rumah kos yang sudah dipesankan oleh om Rudi, salah satu kerabat bapak di Bandung seminggu yang lalu. Awalnya om Rudi ingin menemaniku menemui ibu kos sekaligus membantuku membereskan kamar, hanya saja om Rudi mengatakan padaku kalau dia ada janji dengan kliennya dan membatalkan janjinya denganku.


Rumah kos muslimah ‘Baiti’


Dalam hati aku mengeja deretan huruf pada papan nama itu dan mulai memikirkan bagaiaman om Rudi bisa berpikir untuk mencarikan kos muslimah untukku. Tapi dibandingkan memikirkan alasan om Rudi, ada perasaan yang lebih membuatku tergelitik. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang aneh saat kubaca deretan huruf yang tercetak pada papan nama berwarna putih itu. Seperti perasaan bahwa aku sudah terikat dengan rumah ini meski kenyataannya ini adalah pertama kalinya aku berdiri disini. Bukan karena aku penasaran kenapa om Rudi memilihkan rumah kos muslimah untukku alih-alih memilihkan rumah kos campuran. Bukan seperti itu, tapi ini adalah perasaan yang jauh lebih kuat dari itu.


“Oh,”


Aku baru saja akan menekan tombol bel yang tertempel pada dinding tembok saat dari dalam gerbang terdengar suara kunci yang terbuka. Dan benar saja, beberapa menit kemudian pintu gerbang kayu itu terbuka membuatku bisa mengamati halaman rumah kos itu dengan sedikit lebih leluasa. Hanya sejenak sebelum perhatianku teralihkan oleh seorang perempuan yang sedang menuntun sepeda motor maticnya keluar gerbang. Seorang perempuan dengan gamis panjang warna dongker, jilbab warna senada, dan secarik kain penutup wajah berwarna gelap. Perempuan bercadar.


“Assalamu’alaikum,” sapaku ragu-ragu. Bukan karena takut kepada perempuan ini, tapi aku takut kalau aku salah melafalkan ucapan salam kepadanya.


“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” balasnya dengan salam lengkap sembari menepikan sepeda motornya dan mendekatiku. “Cari siapa, teh?” tanyanya ramah. Bahkan dari sepasang matanya yang menyipit itu, aku bisa tahu kalau perempuan ini sedang tersenyum kepadaku.


“Mau mencari ibu Hamidah, sebelumnya kenalkan, saya Alia.”


“Oh, teh Alia yang dari Jogja itu ya?” tebak perempuan ini sembari mengamatiku dan sebuah koper yang masih kubiarkan disampingku begitu saja.


“Iya, benar.”


“Saya Sofia, teh, anaknya bu Hamidah. Qadarullah hari ini ibu sedang keluar sama abah, tapi tadi sebelum keluar ibu berpesan kalau teh Alia mau datang hari ini.”


Untuk beberapa saat aku terkesima dengan tutur kata perempuan bercadar bernama Sofia ini. Juga, tanpa sadar aku menunduk dan memperhatikan pakaian yang kukenakan hari ini. Celana jeans yang meskipun tidak ketat, tapi tetap saja terlihat tidak pantas disandingkan dengan gamis panjang yang dikenakan Sofia. Kemeja flannel yang kubungkus dengan jaket coklat yang sudah usang, dan selembar kain tipis warna hitam yang kusebut ‘jilbab’ meski sebenarnya kain yang layak disebut jilbab adalah kain seperti yang dipakai oleh Sofia.


“Mari teh, saya antar ke kamar teteh.” Dengan ramah Sofia bahkan menawarkan diri untuk membawakan tas jinjing yang kubawa dengan tangan kiriku sementara tangan kananku menyeret koper. Lagi, aku terpesona oleh sikap Sofia yang begitu sopan. Dan dalam hati aku mulai menebak-nebak berapa usia Sofia, juga seperti apa wajah ayunya yang tersembunyi dibalik cadar itu.


“Rumah kami ada di lantai bawah, kalau ada apa-apa teteh panggil aku atau ibu saja.” ucap Sofia lagi sementara aku mengamati ruangan yang baru saja kumasuki. Ruangan yang kutebak lebarnya 4x5 meter dengan sebuah tempat tidur, meja dan kursi, serta sebuah lemari yang tidak terlalu lebar. Sementara sebuah pintu di sudut ruangan kutebak sebagai kamar mandi. Hampir semenit penuh aku mengamati isi ruangan itu dan menarik napas dalam beberapa kali. Meyakinkan diri bahwa mulai detik ini aku akan hidup terpisah dari ibu dan bapak, dan memulai perjuanganku sebagai anak rantau.


“Terima kasih, Sofia.”


“Mau dibantu beres-beres sekalian, teh?”


“Tidak usah. Kamarnya sudah bersih, nanti tinggal menata pakaian saja.”


Dan setelah hampir sepuluh menit meyakinkan Sofia kalau aku bisa membereskan kamarku seorang diri, akhirnya perempuan itu undur diri dan meninggalkanku sendirian diambang pintu kamar. Ya, saking penasarannya aku bahkan masih terus memperhatikan Sofia yang berjalan menjauh dari kamarku. Dan masih terus menebak tentang usia Sofia dan memperhatikan ujung gamisnya yang menyapu lantai saat menuruni anak tangga. Ya ampun, aku pasti lelah sekali sampai begitu perhatian dengan ujung gamis seorang perempuan yang menyapu lantai anak tangga.


“Baik, Alia. Saatnya menyingkirkan ego sebagai anak manja dan mulailah berpikir dewasa.” Gumamku sembari menyeret koperku dan meletakannya diujung kamar sebelum merebahkan tubuhku diatas kasur. Merogoh saku celana dan mengambil ponsel untuk mengabari bapak kalau aku sudah sampai di kos dengan selamat dan tidak kurang satu apapun. Sayangnya itu hanya pikiran sesaat sebelum perhatianku justru teralihkan oleh sebuah pesan yang kuterima setengah jam yang lalu. Sebuah pesan gambar yang kuterima dari seseorang di Jogja.


Jogja hujan deras sejak dua jam yang lalu. Bagaimana dengan Bandung?


Sebuah pesan singkat yang disertai gambar halaman gedung dengan sebatang pohon beringin. Halaman yang sudah sangat familier untukku. Membuat mataku memanas untuk beberapa saat sebelum beranjak keluar kamar dan berdiri pada balkon lantai dua. Mengarahkan kamera ponselku keatas langit dan mengambil gambar langit yang terlihat cerah sekali.


<***Alia> Bandung cerah sekali. Padahal kudengar Bandung lebih sering hujan dibanding Jogja. Apa menurut mas yang kudengar itu tidak lebih dari sekedar hoax?

__ADS_1


Tidak, kurasa karena hatiku sedang sedih, jadi hujan tidak berhenti sejak tadi.


Ada orang jahat yang menyakiti kamu?


Bukan sedih karena tersakiti, tapi sedih karena menahan rindu. Bagaimana kalau nanti malam kutelepon kamu supaya rinduku sedikit berkurang?


Besok pagi aku harus kerja jam 8 pagi.


Tidak sampai jam 10 malam. Aku janji.


Aku kangen, mas***.


Nyaris saja kutekan tanda kirim saat aku menyadari bahwa tidak seharusnya aku bertingkah terlalu jauh dengan mengatakan kalau aku merindukan pria itu sementara seminggu yang lalu aku baru saja mengaku kalau aku mulai jatuh cinta padanya. Aku tidak mengerti apa karena terlalu lelah hingga pikiranku bekerja terlalu jauh, atau karena aku memang merindukannya. Pada akhirnya aku hanya menarik napas dalam dan menghapus tiga kata itu dan menggantinya dengan kalimat yang lain.


Baiklah, kutunggu kalau begitu.


“Belum saatnya berjalan sejauh ini, Alia.” Desahku sembari merebahkan diri diatas kasur dan memejamkan mata meski aku tidak berniat untuk tidur.


Benar juga, sejak pertemuan terakhir kami lebih dari seminggu yang lalu, harus kuakui kalau ada dimensi baru yang kujejaki bersama Evan meski hingga kini kami masih sama-sama menutup mata dan berpura-pura kalau kami masihlah dua teman baik. Jelas sekali ada perbedaan besar dari sikap Evan semenjak hari itu meski aku berusaha begitu keras untuk tidak mengakuinya.


“Kamu yakin?” tanyanya singkat saat sore itu Evan mengantarku pulang selepas kami mengobrol hampir tiga jam di kedai kopi dekat perpustakaan umum dan pria itu hampir setengah jam menahanku di dalam mobilnya.


“Tentang apa? Tentang keputusanku? Atau tentang pengakuanku?”


“Tentang semuanya. Keputusan kamu untuk pergi, tentang pengakuan kamu.”


Benar, nyatanya aku butuh untuk menapakinya terlebih dahulu agar aku tahu inikah keputusan terbaik yang mampu kuambil, ataukah ini tidak lebih dari keputusan salah yang membuatku menyesal pada akhirnya. Dan untuk saat ini aku belum mampu memutuskan sebab aku baru memulainya.


* * * * *


Kupikir hari pertamaku bekerja di perusahaan ini sebagai junior staff akan menjadi hari yang mendebarkan dan membuatku gugup setengah mati hingga mungkin akan kaku saat menjawab salam dari rekan kerjaku yang baru. Tapi nyatanya semua biasa saja hingga rasanya seperti aku bukanlah seorang pegawai baru yang baru pertama kali berkantor disini. Memang benar aku merasa gugup sekali saat aku memasuki lobi kantor hingga rasanya ada saja yang salah dari penampilanku, hingga merasa ada yang kurang dari bawaanku.


“Alia, ya?” sapa seorang perempuan muda yang kutebak usianya sepantaran denganku yang terlihat cantik sekali dengan setelan kerjanyanya.


“Iya, mbak.” Jawabku canggung karena merasa aneh sendiri saat begitu serius mengamati penampilan perempuan muda dihadapanku ini. Tapi sungguh, perempuan muda ini cocok sekali dengan setelan kerja pendek hitamnya dan rambutnya yang hanya diikat ekor kuda. Dan aku? Aku harus puas dengan kemeja putih rok hitam dan jilbab hitam khas pegawai magang yang membuatku terlihat seperti seonggok pakaian lusuh dihadapan perempuan muda ini. Setelan andalanku sejak aku mengikuti ujian skripsiku hingga beberapa kali melakukan wawancara kerja.


“Aku Kartika, selama kamu dalam masa percobaan aku yang akan membimbing kamu.”


“Oh, ibu Kartika, to. Iya bu, terima kasih sebelumnya.”


“Kamu nggak harus berterima kasih untuk sesuatu yang memang harus kamu dapatkan, Alia. Tapi boleh aku minta satu hal pada kamu?” tanyanya sembari mengajakku menuju meja dekat jendela besar tidak jauh dari sebuah meja besar yang kutebak meja milik perempuan muda bernama Kartika ini.


“Untuk tidak memanggil dengan panggilan ‘ibu Kartika’?” tebakku yang disambut gelak tawa oleh perempuan muda ini. Entah ini hanya perasaanku saja atau memang seperti ini nyatanya, rasanya seperti aku merasa kalau aku berjodoh dengan tempat ini. Aku merasa kalau akan ada kisah yang nantinya akan terbentuk disini.


“Kalau ada sesuatu yang kamu butuhkan, panggil aku saja. Kalau misal aku nggak ada, panggil teman-teman juga bisa, mereka pasti mau membantu kok.”

__ADS_1


“Baik, mbak. Pasti saya akan sangat merepotkan diminggu-minggu pertama.”


Dan kulihat Kartika baru saja akan membuka mulut saat pintu masuk departemen terbuka dan seorang pria muda mengangguk singkat kearah kami berdua. Lagi-lagi aku memperhatikan pria muda dengan kemeja biru muda dan sebuah tas ransel dipunggungnya yang berjalan menuju meja didekat dinding. Berjarak tiga meja dari meja kerjaku.


‘Mungkin seusia mas Evan,’ batinku setelah beberapa saat memperhatikan pria muda itu yang kini sudah duduk dikursi kerjanya.


“Namanya Erwin, dia asisten manager.”


“Oh, iya mbak.” Sungguh, rasanya malu setengah mati saat aku sadar kalau Kartika menyadari tingkah konyolku yang terus saja memperhatikan pria muda bernama Erwin itu. “Sekedar peringatan dini, Alia.” Bisik Kartika setelah menyentuh lenganku dan memintaku untuk mendekat kearahnya. “Sebelum kamu mulai menaruh hati pada Erwin dan kamu akan patah hati pada akhirnya, kukatakan kalau Erwin sudah beristri dan baru saja dikaruniai anak keduanya.”


“Mbak,” desahku yang merasa kalau wajahku sudah semerah tomat sekarang. Sungguh, untuk apa Kartika mengatakan hal seperti itu padaku? Tapi, ayah dari dua orang anak? Sungguh, memang berapa usianya?


“Yah, biarpun aku sebenarnya yakin kalau kamu pasti sudah punya pacar dan nggak akan tertarik pada Erwin atau siapapun pria disini.”


Kali ini aku hanya tertawa kecil untuk menanggapi kalimat Kartika yang tanpa sadar membuatku kembali memikirkan Evan yang entah sedang melakukan apa diseberang kota sana.


“Tapi ini serius, Alia. Erwin itu tipikal pria yang begitu taat pada agamanya dan begitu menjaga jarak dengan perempuan-perempuan selain istrinya. Jadi ya, kamu tahu kan bagiamana harus bersikap terhadap Erwin? Tapi sejauh ini dia pegawai yang professional kok, jadi kamu nggak perlu khawatir.”


“Baik, mbak.”


“Kalau begitu kutinggal ya, kalau ada apa-apa panggil aku saja.”


Hingga Kartika menjauh dan menghilang dibalik pintu ruangan yang ada diujung departemen, aku masih berdiri disamping mejaku dan memperhatikan pintu kaca itu meski sekarang sudah tertutup. Menarik napas dalam dan tanpa sadar menoleh kearah pria muda bernama Erwin yang entah sedang melakukan apa dengan buku agenda dihadapannya.


“Seorang pria yang begitu menjaga diri dan kehormatannya.” Gumamku pada diriku sendiri saat memutuskan untuk duduk dan mulai merapikan meja kerjaku yang sebenarnya sudah rapi sejak tadi. Entah kenapa seperti ada sesuatu yang mengganjal dari ucapan Kartika mengenai Erwin. Bukan karena aku terganggu dengan kenyataan seperti Erwin yang sudah beristri dan ayah dari dua orang anak, tapi sesuatu yang lebih besar dari itu.


“Sofia,”


Benar, nyatanya sosok Erwin tiba-tiba saja mengingatkanku pada sosok Sofia si gadis bercadar anak perempuan ummi Hamidah. Tanpa sadar aku mulai membentuk bayangan tentang Sofia sebagai manifestasi dari Erwin dalam versi perempuan. Seseorang yang begitu menjaga diri dan kehormatannya. Tidak bersentuhan dengan selain mahramnya, dan begitu mentaati agamanya. Aku memang bukan perempuan yang dibesarkan dilingkungan keluarga dengan kesadaran agama yang sangat tinggi, tapi aku tahu dan paham dengan hal-hal seperti itu. Dan lagi-lagi sosok Erwin dan Sofia membuatku tertampar dan sadar kalau selama ini, begitu banyak pelanggaran yang kulakukan dalam perkara agamaku sendiri.


“Orang-orang yang begitu teguh memegang prinsip,” gumamku sendiri dan menggeser layar ponsel tanpa tujuan yang jelas.


Benar juga, kupikir selama ini aku sudah memainkan peran sebagai Alia Pangesti yang baik dan taat, hanya saja itu baru sekedar pemikiran dari gadis bodoh yang fakir ilmu sepertiku. Nyatanya begitu banyak keburukan yang kulakukan hingga mengingatnya saja sudah membuatku malu sendiri. Aku yang begitu mudah menggalau karena masalah dengan Jendra, dan aku yang begitu mudah berlari kearah Evan saat tersakiti oleh Jendra tak urung membuatku mendengus kesal dan menyalahkan diriku sendiri.


‘Untuk apa dipikirkan, Alia? Mereka hanya orang-orang yang begitu keras beragama dan begitu kaku menjalani hidup. Bukankah selama kamu menjadi orang baik semua akan baik-baik saja?’


Entah setan apa yang tiba-tiba membisikkan kalimat demi kalimat pembelaan itu tepat disamping telingaku hingga aku kembali beranggapan bahwa apa yang kulakukan selama ini adalah hal yang wajar. Mulai membentuk pemikiran bodoh bahwa orang-orang seperti Sofia dan Erwin-lah yang terlalu kaku dalam menjalani hidup. Ah, lagi-lagi itu hanya pemikiran bodoh dan seorang fakir ilmu sepertiku.


“Mereka yang begitu kaku dalam beragama atau aku saja yang masih belum tahu?”


Tepat saat aku menoleh kearah meja kerja Erwin, tatapan kami bertemu untuk beberapa detik dan pria itu mengangguk kearahku sebelum kembali menunduk pada buku agendanya. Dan aku, entah ide darimana yang membuatku menundukkan kepala dalam-dalam tanpa membalas anggukan kepala Erwin. Dalam hati aku hanya merapalkan bahwa aku harus menghormati apa yang menjadi prinsip Erwin dengan tidak memancing pria itu untuk menatap kearahku terlalu lama.


“Mungkin suatu saat kamu akan tahu dan kamu akan paham, Alia.”


Ya, mungkin suatu saat aku akan tahu dan paham. Apakah mereka yang terlalu kaku, atau aku saja yang masih begitu fakir ilmu.

__ADS_1


* * * * *


__ADS_2