
Semarang, April 2016
Alunan musik korea langsung terdengar dan memenuhi telingaku begitu pintu kayu dihadapanku terbuka dan seorang gadis berdiri di ambang pintu. Seorang gadis dengan celana pendek dan kaus oblong lusuh sementara rambutnya acak-acakan yang menandakan kalau sejak pagi gadis itu belum tersentuh air sama sekali. Butuh waktu hingga beberapa menit hingga gadis itu menyapaku setelah menarik napas dalam dan menghembuskannya kembali perlahan.
Sementara aku hanya mengulum seulas senyum yang aku sendiri tidak tahu seperti apa bentuk senyumanku saat ini. Tapi bagaimanapun, gadis dihadapanku ini tetaplah membalas senyumanku dengan senyuman yang masih terlihat sama seperti senyuman yang kukenali beberapa bulan yang lalu.
“Sebenarnya aku ingin memeluk kamu, Al. Tapi aku takut kamu pingsan.” Celetuknya tak urung juga yang membuatku tidak bisa menahan tawa. Setelah diam sepanjang perjalanan dari Yogyakarta hingga Semarang, akhirnya tawa ini menjadi suara pertama yang kukeluarkan.
Sebenarnya banyak hal yang ingin kukatakan dan kukeluarkan. Mengeluarkan perasaan yang mengganjal selama berhari-hari hingga setidaknya dadaku akan terasa lebih ringan. Tapi percuma, semua yang ada didalan kepalaku terasa seperti benang kusut hingga aku tidak mampu mengurai dan menemukan ujung pangkalnya.
'Kamu harua bicara, Al. Atau kamu akan berakhir depresi dan menjadi gadis gila karena patah hati.'
Ya, kata hati itulah yang sebenarnya membawaku hingga sampai di Semarang dan memilih untuk meninggalkan Jogja selama beberapa hari. Aku selalu berpikir kalau aku butuh menepi beberapa hari
Seminggu yang lalu, sepulang aku bertemu dengan Jendra di stasiun, aku memutuskan untuk menghubungi Mika dan menanyakan kabar gadis itu. Ah, aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali kami bertemu dan tertawa seperti ini. Yang kuingat, selepas wisuda kami sama-sama sibuk mencari pekerjaan hingga akhirnya membuat Mika terdampar di Semarang dan aku masih bertahan di Jogja.
Benar, sepulang dari stasiun minggu lalu, orang pertama yang kupikirkan adalah Mika. Aku ingin mengatakan pada gadis ini apa yang terjadi padaku selepas pulang dari stasiun. Aku ingin Mika tahu apa yang terjadi padaku selepas kepindahannya ke Semarang. Juga, aku ingin Mika tahu bahwa sahabatnya ini sedang terluka.
“Then, apa yang membawa kamu sampai ke tempat yang panas ini, Al?” tanya Mika dengan nada bergurau sembari meletakkan segelas air putih dihadapanku dan dirinya merangkak naik ke atas kasur. Kuakui kamar kos Mika tidak jauh lebih besar dari kamar pribadiku di rumah, hanya saja aku merasa Mika nyaman sekali tinggal di ruangan ini.
“Kangen.” Jawabku datar dan meletakkan gelas minumanku diatas lantai. “Bagaimana kabar kamu, Ka?”
“As you see, aku masih baik-baik saja. dan boleh aku tebak sesuatu dari kamu?”
“Apa?”
“Kamu sedang nggak baik-baik saja ‘kan?”
__ADS_1
Tiga tahun aku mengenal Mika dan mulai dekat sejak semester pertama kami kuliah, dan kupikir waktu tiga tahun cukup bagi Mika untuk memahamiku lebih dari orang lain melakukannya. Kuakui aku memang jarang sekali membicarakan masalah pribadi dengan Mika dan menceritakan apa yang kurasakan pada gadis itu. Tapi entah bagaimana awalnya, kami mulai bisa saling memahami dan mencoba mengerti apa yang kami rasakan meski kami belum mengatakannya. Seperti sekarang.
“Terlihat sejelas itu?”
“Aku hanya menebak saja.” jawab Mika dengan mengangkat bahu dan meraih ponselnya yang sejak tadi tergeletak di atas meja kecil di samping kasurnya. “Aku nggak akan memaksa kamu bercerita, Al. Aku akan menunggu kamu. Dan sementara aku menunggu, boleh kudengar kabar kamu?”
Benar-benar tipikal Mika yang gemar sekali bernarasi tidak penting. Tapi lagi-lagi narasi tidak penting Mika justru membuatku tertawa kecil meski sebenarnya aku masih sulit sekali untuk tertawa. Benar, sepulang dari stasiun banyak sekali yang kurasakan hingga rasanya aku sulit menemukan ujung dan pangkal dari perasaanku sendiri. Dan yang kubutuhkan saat itu hanya seseorang yang sudi mendengarkanku dan membiarkanku bercerita tentang apa yang kualami.
“Aku sehat, Ka. Tapi tidak, aku tidak baik-baik saja, kalau itu yang ingin kamu dengar.”
“Alia,”
“Tidak ada gunanya juga aku berbohong pada kamu kan?”
Kali ini Mika memilih untuk bangkit dari kasurnya dan meletakkan ponselnya di atas bantal. Menarik napas dalam dan menatapku lekat-lekat seolah tahu jika temannya ini memang tidak baik-baik saja.
“Apa maksud kamu? Apanya yang berhenti?”
“Aku dan Jendra, kami memutuskan untuk berhenti.” Aku memang merasa begitu berat mengatakan kenyataan bahwa saat ini aku dan Jendra sudah berhenti menjalin hubungan. Tapi semua diluar dugaanku kalau aku akan menangis meraung-raung saat menceritakannya pada gadis ini. Tidak ada air mata yang mengalir saat aku mengatakannya pada Mika. Justru, aku yakin saat ini Mika melihat seulas senyum datar diwajahku.
“Itulah kenapa kamu mengatakan kalau kamu tidak baik-baik saja?” tidak ada pelukan, tidak ada ceramah, juga tidak ada Mika yang berusaha menenangkanku karena aku juga tidak butuh hal-hal seperti itu. Sungguh, yang kubutuhkan sekarang hanya Mika yang mendengarkanku.
Sementara aku hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Mika dan menyentuh gelas dihadapanku dengan ujung jari tanganku sendiri.
“Kapan?”
“Sepulang aku dari Jakarta. Minggu lalu.”
__ADS_1
“Dan kenapa aku melihat ada keraguan dari keputusan kamu?”
“Ka,” desahku pelan dan menatap kearah Mika yang juga sedang menatapku dan mengangkat bahunya tidak acuh. “Entahlah, aku hanya merasa kalau ada yang salah pada hubungan kami. Tapi bodohnya, aku tidak tahu apa yang salah itu.”
“Ada sesuatu yang nggak kamu sukai dari Jendra?” tanya Mika setelah beberapa saat kami hanya terdiam dan aku yang sibuk mengatur pikiranku yang memang sedang kacau sekali belakangan ini. Dan nyatanya, aku memang hanya bisa terdiam tanpa bisa memikirkan jawaban untuk pertanyaan Mika.
“Adakah hal dari diri Jendra yang membuat kamu nggak bisa bertahan sebentar saja?”
Sesuatu yang tidak kusukai dari diri Jendra? Tentu saja ada. Aku tidak suka kebiasaan Jendra yang sulit sekali kuajak bicara serius. Aku benar-benar tidak menyukai Jendra yang sulit mengambil keputusan dan membiarkanku melakukannya untuk kami. Dan juga, aku tidak suka Jendra yang menyembunyikan kehidupannya dariku seolah aku bukanlah orang yang penting untuknya. Tapi sungguh, aku sudah terbiasa dengan hal itu dan aku tidak seambisi itu untuk mengubah Jendra menjadi laki-laki sesempurna sesuai gambaranku.
“Atau keputusan untuk berpisah dari Jendra adalah keputusan yang kamu ambil sambil lalu?” kejar Mika karena aku sendiri sadar kalau aku tidak kunjung menjawab pertanyaannya. “Mungkinkah keputusan itu kamu ambil karena saat ini ada seseorang yang mampu membuat kamu lebih nyaman untuk bersamanya dibandingkan saat kamu bersama Jendra?”
Cukup. Nyatanya aku memang sama sekali tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang Mika cecarkan kepadaku. Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan Mika kalau aku sendiri juga tidak mampu menjawab pertanyaan dalam kepalaku sendiri?
“Aku hanya merasa ada yang salah pada hubungan kami, Ka. Dan tidak, tidak ada orang lain atau siapapun yang sedang mencoba membuatku merasa nyaman melebihi rasa nyamanku saat bersama Jendra.”
Dan memang hanya itu yang kurasakan pada hubunganku dan Jendra. Hanya perasaan itulah yang selalu menggangguku hingga aku sendiri dibuat jendah oleh perasaan itu. Tidak ada orang lain diantara hubungan kami. Tidak ada hal seperti terhalang restu orang tua, atau hal dramatis lainnya hingga aku akan begitu mendramatisir hubungan kami. Semua berjalan normal sebelum aku menyadari ada yang salah dalam hubunganku dengan Rajendra Yudhistira.
Dan ya, memang benar ada yang salah, hanya saja aku tidak mampu melihat kesalahan itu hingga akupun tidak mampu memperbaiki hal yang salah itu.
“Maukah kamu menceritakan semuanya padaku, Al?” aku tidak tahu kapan tepatnya Mika duduk dihadapanku dan menyentuh pundakku. Memintaku menoleh dan menunjukkan padanya air mata yang selama berhari-hari kusembunyikan dan kusimpan untuk diriku sendiri.
“Semuanya. Agar aku bisa sedikit membantu kamu mencari apa yang salah itu. Setidaknya kamu tidak sendirian, Al.”
Bercerita,
Kenapa belakangan ini segala sesuatu menjelma menjadi begitu rumit untuk sanggup kupahami?
__ADS_1
* * * *