DIORAMA

DIORAMA
4. Tentang Luka


__ADS_3

“Mas Jendra?” aku baru saja hendak memasukkan bakmi yang kusendok dari piring kedalam mulutku saat sebuah suara mengalihkan perhatianku dan mengurungkan niat untuk memasukkan bakmi itu. Menyipitkan mata dan mendongak untuk mencari tahu siapa pemilik suara lembut dan anggun yang baru saja memanggil Jendra dengan suara yang terdengar begitu dibuat-buat. “Hai, nggak nyangka kalau bisa bertemu dengan mas disini.”


Tapi meski aku tidak terlalu menyukai gaya bicara gadis ini, diam-diam aku mengaguminya juga. Lihat betapa cantiknya dia dengan rambuk sebahu yang ia buat mengikal diujungnya dan juga riasan wajahnya. Oh, tiba-tiba saja aku teringat betapa menyedihkannya seorang Alia yang sama sekali asing dengan dunia per-make up-an. Tapi diluar itu semua, aku memang mengagumi kalau gadis ini cantik.


“Hai, Tya.”


Dan ya, gadis cantik yang diam-diam kukagumi ini adalah Hesti Prasetya, salah satu teman kuliahku denhan Jendra meski kami bertiga berada di jurusan yang berbeda. Dan juga, aku tidak tahu mereka bedua seakrab itu hingga Jendra lebih memilih memanggil gadis itu dengan nama Tya dibandingkan dengan memanggilnya Hesti.


Tapi itu tidak penting sebab aku tidak peduli. Yang terpenting adalah apa yang Hesti lakukan disini dan untuk apa dia menyapa Jendra dengan cara yang benar-benar menyebalkan. Aku tidak tahu banyak tentang gadis ini sebab sejak awal aku sudah mengatakan kalau kehidupan kampusku bukanlah kehidupan kampus yang dipenuhi dengan unsur kepopuleran.


“Oh, aku sampai tidak sadar kalau mas Jendra sedang bersama seseorang.” Dan aku semakin tidak mengerti kenapa gadis cantik ini harus menatapku dengan tatapan sinis begitu.


“Halo,” sapaku enggan. Menusuk potongan ayam dari piring bakmiku dan memasukkannya kedalam mulut dengan malas. Beberapa detik berikutnya aku mulai mengutuk diriku sendiri yang begitu mudah mengagumi kecantikan seseorang. Lihat bagaimana gadis ini menatapku seperti seorang tuan putri yang sedang menatap seekor lipan menjijikan.


“Kamu ngapain disini? bersama siapa?”


“Baru pulang kerja, kebetulan lewat dan merasa tidak asing dengan mobil itu. dan aku memutuskan untuk mampir.” jawabnya sembari menunjuk mobil Jendra yang terparkir diluar kedai dengan dagunya. Sungguh, siapa yang sudi memperhatikan mobil yang parkir dipelataran parkir kedai bakmi malam hari seperti ini?


“Oh ya? Sudah kerja to kamu? kerja dimana?”


“Tidak jauh dari sini.” Jawabnya singkat sebelum kembali melirik kearahku dengan ekor matanya yang tajam itu. “Sebaiknya aku cari kursi lain saja, mas. Maaf sudah mengganggu kalian.”


Entah karena saking penasarannya dengan gadis cantik yang Jendra panggil dengan nama Tya itu atau aku memang penasaran dengan sosoknya, aku bahkan mengikuti Hesti dengan pandanganku hingga gadis itu duduk disalah satu kursi dan melambaikan tangannya untuk memanggil pelayan. Lalai memperhatikan air muka Jendra yang berubah, dan lagi-lagi aku tidak tahu karena apa.


“Dia salah satu teman satu kampus kita kan, mas?”


“Ya?”


“Hesti.”


“Oh, Tya? Iya, dari jurusan akuntansi yang diwisuda bareng kita.”

__ADS_1


“Begitu,”


Ada satu ekspresi yang luput kuperhatikan dari Jendra saat menyebutkan nama Tya dihadapanku. Dan entah karena aku yang terlalu tidak acuh atau Jendra saja yang begitu pandai menyembunyikan raut wajahnya. Butuh beberapa menit hingga aku mulai menyadari jika Jendra terganggu dengan keberadaan Hesti di kedai ini. Sungguh, aku bukannya sok tahu atau ingin berspekulasi terlalu jauh tentang Jendra dan keberadaan Hesti, hanya saja raut wajah Jendra memaksaku untuk memikirkannya.


“Kalian kenal akrab?” tanyaku ragu-ragu. Ya, nyatanya aku memang sudah memikirkan kemungkinan itu meski aku sendiri masih ragu. Aku tidak ingin menebak-nebak dan kuputuskan untuk bertanya langsung.


“Siapa?”


“Mas dan Hesti. Kalian kenal akrab semasa kuliah?” ulangku masih dengan nada yang sama. Datar.


“Ehm, bagaimana mas mengatakannya, ya?” aku tahu itu bukan pertanyaan. Itulah kenapa aku memilih untuk diam dan menunggu hingga Jendra melanjutkan sendiri kalimatnya yang masih menggantung. Dan astaga, kenapa jantungku berdetak kencang begini sih?


“Sebenarnya mas dan Tya sempat berpacaran sebelum akhirnya kami putus dan kita mulai pacaran.”


Seperti ada sebuah duri ikan yang tercecer dijalan yang kulalui dan tanpa sengaja kuinjak dan membuatku meringis. Tidak sampai berdarah memang, tapi tetap saja luka karena duri itu membuatku mengumpat kesal meski hanya didalam hati. Membuatku kehilangan kalimat sebab kata-kata yang telah kususun diujung lidahku kembali kutelan untuk kemudian kuolah lagi di dalam otak sederhanaku ini.


“Oh, jadi Hesti mantan pacar kamu.”


Tentu saja ada banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang berjejalan didalam kepalaku saat mengetahui kalau Jendra dan Hesti adalah mantan sepasang kekasih. Dan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang ada didalam otakku tiba-tiba saja menjadi sebuah rangkaian pertanyaan yang membuat hatiku mencelos.


“Boleh tahu kapan kalian putus?” tanyaku sembari menoleh kearah Hesti yang kini terlihat sibuk dengan ponsel ditangannya.


“Alia,”


“Jawab saja, mas. Aku hanya ingin tahu.”


“Sebulan sebelum kita pacaran.” Jawab Jendra setengah enggan setelah menarik napas dalam dan meghembuskannya kembali dengan gusar. Lagi-lagi butuh waktu lama bagi otakku untuk mencerna jawaban Jendra.


“Mantan pacarnya Jendra? Mana kutahu ada berapa. Bahkan di jurusan kamu saja mungkin ada beberapa yang pernah pacaran dengan Jendra, Al.” dan kalimat tidak penting mas Andy tiba-tiba saja kembali terngiang dikepalaku. Juga tawanya yang mungkin ia keluarkan untuk membuat suasana tidak terlalu kaku karena tanpa sadar pria itu baru saja membuatku kecewa.


“Rajendra bukan pria baik-baik meski kenyataannya dia juga bukan pria yang jahat, Al. Bagaimana aku mengatakannya, ya? Kubilang Jendra itu mirip dengan koin, punya dua sisi yang bertolak belakang, dan hanya orang yang memiliki koin itu yang bisa menempatkan sisi yang mana yang menurutnya lebih baik, begitulah. Jadi sekarang terserah kamu mau melihat sisi baik Jenda atau fokus pada sisi buruknya, Al.”

__ADS_1


Jelas kalimat mas Andy seperti tamparan untukku. Aku lalai memikirkan hal sepenting itu hingga aku hanya terpaku pada satu sisi dari kehidupan seorang Rajendra Yudhistira. Dimataku Jendra adalah pria baik hati yang dengan lapang dada mau menerima gadis biasa saja dan menyebalkan sepertiku. Dan akupun lalai memikirkan kenyataan bahwa aku tidak bisa hanya melihat seseorang hanya dari satu sisi saja.


“Sebulan sebelum kita pacaran?” gumamku pelan. Tanpa sadar tersenyum getir dan meraih gelas minumanku untuk menyamarkan kegusaranku sendiri.


“Itu hanya masa lalu, Al. Sekarang hanya ada kita, kamu dan aku.”


“Tidak, bukan begitu, mas. Aku hanya sedang berpikir…ah tidak, bukan apa-apa.” Ah, nyatanya aku bahkan kesulitan untuk menyampaikan apa yang sedang berjejalan didalam kepalaku. Dan dari sekian banyak spekulasi tentang hubunganku dengan Jendra, aku hanya bisa menarik kesimpulan bahwa Jendra menjadikanku pelarian setelah putus dari Hesti.


Kenapa aku bisa begitu kejam mengambil kesimpulan seperti itu? Sebab aku dan Jendra bahkan sudah dekat hampir setahun sebelum kami memutuskan untuk berpacaran, dan beberapa menit yang lalu Jendra mengaku kalau dia baru putus dari Hesti sebulan sebelum kami berpacaran.


“Aku sudah selesai. Ayo pulang. Bapak akan marah kalau aku pulang terlambat. Es krimnya lain kali saja.” Ucapku tak urung juga. Benar-benar tidak tahan dengan spekulasi-spekulasi tidak beraturan yang tiba-tiba saja muncul karena kehadiran satu orang. Satu orang dari masa lalu Jendra, dan satu orang saja sudah cukup untuk membuatku kalang kabut dan kesulitan mengendalikan diri.


“Maaf mengacaukan makan malam kita, Al.”


‘Selama ini aku selalu merasa bersalah karena kupikir aku menjadikanmu pelarian dari Wahyu, mas. Tapi nyatanya kamu yang menjadikanku pelarian dari Hesti.’


Jika saja. Jika saja aku tidak memikirkan perasaan Rajendra, sudah paasti aku akan meneriakkan kalimat itu dan serentetan kalimat lain yang entah akan menjadikan hubungan kami seperti apa. Hanya karena aku terlalu takut akan menyakiti perasaan Jendra, maka aku memilih untuk menelannya kembali.


‘Sebab terkadang ada beberapa hal yang cukup orang lain simpan untuk diri mereka sendiri, Al. Dan aturan itu juga berlaku untuk Jendra.’


Benar juga, pasti ada alasan kenapa Jendra tidak mengatakan padaku tentang kenyataan bahwa sebelum berpacaran denganku pria itu pernah menjalin hubungan dengan Hesti. Juga pasti Jendra punya alasan kenapa dia mendekatiku seolah dirinya adalah pria lajang yang tidak terikat oleh siapapun sementara disaat yang sama dia sedang berpacaran dengan Hesti.


“Kamu yakin menerima Jendra jadi pacar kamu, Al?” bahkan pertanyaan Mika yang dia tanyakan padaku setengah tahun lalu kembali terngiang dikepalaku. Enam bulan yang lalu, saat aku mengatakan pada gadis itu kalau aku sudah resmi berpacaran dengan Jendra.


“Dan kenapa kamu terlihat ragu begitu, Ka?”


“Jelas aku ragu, Al. Semua orang tahu siapa itu Rajendra Yudhistira. Si flamboyan yang entah sudah berapa gadis dikampus kita yang menjadi mantan pacarnya. Dan sekarang, kamu….”


“Aku nyaman saat bersamanya, Ka.”


“Kamu tahu kemana kamu harus datang saat Jendra mulai memberi kamu luka, Al.” dan itulah Mika. Dia tidak pernah melarangku ataupun menentang keputusan yang kuambil. Tapi gadis itu juga selalu menyediakan bahunya setiap kali aku ingin menangis dan selalu menyediakan telinganya setiap kali aku ingin mengadu.

__ADS_1


Dan sekarang, satu-satunya hal yang ingin kulakukan adalah berlari kearah Mika dan mengatakan padanya tentang nyeri yang kudapat malam ini. Ah, benarkah malam ini Jendra telah memberiku luka? Atau aku saja yang sengaja menyiram goresan kecil dihatiku ini dengan air garam hingga membuatnya menganga dan menjadi luka yang parah?


* * * * *


__ADS_2