DIORAMA

DIORAMA
20. Rindu


__ADS_3

Untuk kesekian kali, rasanya seperti aku sudah lama sekali tidak menapaki tempat ini hingga rasanya aku nyaris lupa suasana tempat ini. Aku baru sadar kalau rindu bisa menjadi semenyebalkan ini. Ya, aku rindu sekali dengan aroma buku dan bercampur debu yang langsung menyeruak setiap kali aku membuka pintu dan meletakkan tasku pada loker.


Tapi kalau diingat-ingat, aku memang sudah cukup lama tidak datang ke perpustakaan umum dan menghabiskan waktu berjam-jam disana. Terakhir aku datang kemari sekitar sebulan yang lalu sebelum aku dan Evan menghadiri pernikahan Jendra dan Hesti.


Sebulan yang lalu, dan rasanya waktu berjalan begitu cepat dan sangat teratur hingga terkadang aku tisak menyadari perubahannya. Sebulan sudah berlalu dan rasanya seperti baru kemarin aku dilema untuk memutuskan apakah aku akan datang ke pernikahan Jendra dan Hesti atau tidak. Juga, rasanya seperti baru kemarin Evan menggandeng tanganku di hadapan Jendra dan istrinya. Bahkan aku masih bisa merasakan geleyar hangat yang pria itu kirimkan di tangan kananku.


Ya, semua berjalan dengan begitu cepat dan teratur hingga aku tidak menyadari bahwa sebulan telah berlalu. Kecuali rasa rindu yang semakin menggebu seiring berlalunya waktu.


“Pasti sekarang sudah sibuk sekali ya nduk sampai tidak sempat datang kemari?” tanya pak Wardi dengan nada tersinggung yang ia buat-buat dan membuatku tertawa kecil.


“Tidak kok, pak. Kemarin memang sedang ndak ingin kemana-mana.”


Aku tidak berbohong karena kenyataannya memang begitu. Aku tidak datang ke perpustakaan umum bukan karena terlalu sibuk karena pekerjaanku sudah selesai dan aku hanya ingin beristirahat di rumah. Memikirkan akan kemana aku setelah ini, juga memikirkan Evan dan perasaanku. Ah, pria itu. Semenjak kami menghadiri pernikahan Jendra dan Hesti bulan lalu, kami belum bertemu lagi meski sesekali kami masih bertukar kabar meski juga tidak terlalu sering.


Terakhir kali Evan mengabariku adalah tiga hari yang lalu saat pria itu sedang berada di Surabaya untuk mengurus proyek di salah satu perusahaan game yang bekerjasama dengan gameloft. Sebenarnya aku ingin bertanya lebih banyak, hanya saja keinginan itu kupendam saat mengingat aku bukanlah siapa-siapa dan tidak bisa bertanya terlalu jauh tentang kehidupan seorang Evan Adiatma.


Itulah kenapa aku mengatakan bahwa tidak ada hal yang benar-benar mampu kurasakan kecuali rindu yang semakin menggebu.


“Mas Evan masih sering datang biarpun tidak sesering dulu, nduk. Mungkin sibuk juga.” kalimat pak Wardi kembali menyela lamunanku dan membuatku menoleh untuk memperhatikan pria itu yang sedang menata buku pada rak tak jauh dariku.


“Tidak ada ketua tim perencanaan yang tidak sibuk, pak.” Timpalku sebelum beranjak dari kursiku dan berjalan menuju rak deretan buku biologi. Meraih buku tentang mutasi genetik terbitan California yang telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Aku suka biologi meski tidak segila Evan, dan sebenarnya aku bukan tipikal orang yang akan menghabiskan waktuku di perpustakaan umum untuk membaca buku biologi.

__ADS_1


Lalu kenapa aku mengambil buku biologi? Jawabannya jelas hanya satu. Karena aku merindukan Evan.


“Bagaimana kabar kamu, mas?” gumamku sembari duduk di atas lantai dan menyandarkan tubuhku pada dinding tepat di samping pembatas kaca perpustakaan dengan balkon gedung. Membuatku bisa mengamati alun-alun dengan leluasa dan membayangkan betapa panasnya alun-alun kota dijam seperti sekarang.


“Apa kamu sudah pulang dari Surabaya?” gumamku sembari menghela napas dalam dan menghembuskanya kembali perlahan. Mengabaikan buku mutasi genetik ditanganku dan justru terus mengamati alun-alun disamping perpustakaan. Bulan juli sudah mencapai pertengahan dan hujan sudah berhenti turun. Dan kupikir hujan akan kembali turun bulan November nanti. Ah, aku sadar kalau aku merindukan dua hal, aku merindukan Evan dan hujan.


Benar, tanpa tahu malu sekarang aku berani mengakui kalau aku merindukan pria itu. Aku merindukan Evan dan cara pria itu menatapku. Aku merindukan tatapan lembut yang tersebunyi dibalik kacamata itu. Juga, aku merindukan aroma parfumnya setiap kali pria itu duduk disampingku.


“Saat hati dan perasaan kamu sudah benar-benar pulih, maukah kamu mengatakan semuanya padaku?”


Aku tidak tahu kapan aku tertidur sambil duduk di lantai perpustakaan dan memeluk buku biologi yang bahkan tidak kubuka sama sekali. Yang kuingat, terakhir kali aku sedang memikirkan Evan dan kalimat terakhir pria itu saat kami pulang dari pesta pernikahan Jendra dan Hesti. Saat itu Evan memintaku untuk mengatakan semuanya pada pria itu saat perasaan dan hatiku sudah benar-benar pulih. Dan, apa sekarang sudah saatnya aku mengatakan pada Evan tentang perasaanku yang sebenarnya pada pria itu?


Samar-samar kudengar suara seseorang tepat didepanku saat kubuka mata dan mengerjap pelan. Dan saat mataku sempurna terbuka, senyum itulah yang kulihat didepanku. Seulas senyum tipis yang sudah kukenal. Seulas senyum tipis yang kurindukan. Aku lupa apa aku berdoa sebelum benar-benar tertidur untuk membuatku bertemu dengan pria ini. Sepertinya tidak sebab seingatku, aku hanya bergumam kalau aku merindukannya dan ingin bertemu dengannya.


“Sepi pengunjung, sore hari, dan tempat sepi. Bukankah itu perpaduan yang pas sekali untuk tidur?”


Benar, pria yang duduk didepanku saat ini tidak lain adalah Evan Adiatma yang kupikirkan beberapa saat yang lalu. Sebulan aku tidak melihatnya, dan kenapa rasanya sudah lama sekali aku tidak melihat Evan? Bahkan mataku terasa panas saat pria itu menatap lurus kearahku dan tatapan kami bertemu untuk beberapa saat.


“Dan aku juga tidak tahu kalau selera bacaan kamu sudah berubah dari fiksi kontemporer ke sains. Mutasi genetik, huh?” lagi-lagi perhatianku tercuri saat Evan meraih buku dipangkuanku dan mengamatinya beberapa saat. Tidak ada yang berubah dari pria ini.


“Ini mungkin terdengar memalukan, mas. Tapi selama sebulan tidak bertemu aku sadar kalau aku kangen kamu, jadi kupikir membaca buku biologi akan sedikit mengobati rasa kangenku. Tapi aku bahkan belum….” Napasku tercekat dan kalimatku buyar seketika saat tiba-tiba Evan menarik lenganku dan memelukku erat. Aku bahkan tidak tahu kapan pria ini bergerak dan aku sudah ada didalam pelukannya saat aku sadar.

__ADS_1


“Bukannya sudah kubilang kalau kamu rindu, bilang padaku. Dengan begitu aku bisa segera datang dan mengobati rasa rindu kamu itu.” bisiknya tepat disamping telingaku dan membuatku membalas pelukannya saat kurasakan pelukannya semakin erat. “Kamu pura-pura lupa atau bagaimana, hm?”


Dua detik aku memejamkan mata dan menarik napas dalam untuk merasakan aroma parfum Evan hingga memenuhi indra penciumanku dan mengobati rasa rinduku pada pria ini.


Jika saja saat ini kami tidak sedang berada di dalam perpustakaan umum, mungkin aku akan menahan pelukan Evan sedikit lebih lama lagi. Tapi sungguh, kami sedang berada di tempat yang disebut sebagai rumah ilmu, dan dua orang yang berpelukan ditempat seperti ini tidak layak disebut ‘dewasa dan beradab. Itulah kenapa aku memilih untuk memberi isyarat pada Evan untuk melepaskanku dari pelukannya.


“Bukan aku pura-pura lupa, mas. Tapi kamu memang tidak pernah mengatakannya.” Sekuat tenaga kusamarkan degub jantungku yang masih tidak karuan.


“Aku pernah mengatakannya. Kamu saja yang pelupa.” Aku tidak berhasil menahan tawa saat menyadari Evan mencebik karena kalimat pembelaanku.


“Iya, mas memang pernah mengatakannya, tapi bukan saat aku rindu, tapi saat aku mulai jatuh cinta pada kamu.”


“Apa rasa rindu kamu itu bukan pertanda kalau kamu mulai jatuh cinta padaku, Al?”


Tanya Evan setelah beberapa saat kami hanya terdiam dan saling bertukar tatapan tanpa mengucapkan apapun. Dan aku berusaha keras untuk merangkai kalimat dalam kepalaku untuk kuucapkan pada Evan, sebab rangkaian kalimat yang telah kususun sejak tadi berantakan tidak karuan saat Evan menanyakan hal itu padaku. Hingga setarikan napas kemudian aku sadar satu hal, mungkin inilah saat yang tepat untuk mengatakan pada Evan tentang perasaanku.


“Kalau mas mau tahu, aku bahkan sudah jatuh cinta pada seorang Evan Adiatma sejak pertemuan pertama kita di perpustakaan umum ini.”


Ya, entah bagaimana Evan akan menanggapi pengakuan tentang perasaanku dan pengakuanku setelahnya, aku akan tetap mengatakannya. Dan dalam hati kecilku, ada satu bagian yang mengatakan kalau setelah ini, akan ada kehidupan baru yang akan kutapaki meski hingga saat ini, aku belum tahu siapa yang akan membersamaiku menapaki sisa kehidupanku.


* * * * *

__ADS_1


__ADS_2