
Perasaan itu…
“Aku dapat undangan wawancara di Gameloft sayang.”
Segara aku bangkit dari atas ranjang dan berjalan menuju kursi belajarku sembari memindahkan ponsel dari telinga kiri ke telinga kananku. Tidak bisa menahan senyum lebar mendengar kabar dari Jendra yang mengatakan kalau dirinya mendapat panggilan wawancara kerja di Gameloft, salah satu developer game terbesar di Indonesia.
“Wow, selamat mas. Kapan wawancaranya?” hanya berselang sebulan setelah kelulusan dan Rajendra mendapat panggilan wawancara kerja ditempat yang begitu bergengsi.
Jangan kira aku tidak iri pada pencapaian Jendra yang kupikir begitu mengagumkan. Disaat aku masih berkeliling kota menawarkan ijasahku pada perusahaan yang membutuhkan karyawan, Jendra hanya perlu mengajukan satu lamaran kerja dan langsung mendapat panggilan wawancara. Darimana aku tahu hal itu? Tentu saja karena setiap hari kami berkomunikasi dan sering kali kami membicarakan tentang pekerjaan yang sedang kami lamar.
Yah, nyatanya memang kami sangat jarang membicarakan tentang romantisme sebuah hubungan dan lebih sering membicarakan tentang pekerjaan dan terkadang isu-isu politik. Benar-benar topik yang sebenarnya tidak perlu dibicarakan oleh dua orang yang mengaku berpacaran.
“Besok jumat, mau ikut?”
“Memang boleh?”
“Mas akan senang kalau kamu mau ikut. Nanti kamu bisa jalan-jalan dikantornya kalau mas dipanggil wawancara. Bagaimana?”
“Sekalian kencan malam sabtu ya, mas.”
“As you wish, my girl.”
Dan aku memang tidak pernah bisa terlalu lama menyimpan sebuah rasa kecewa pada Jendra meski berkali-kali pria itu membuatku jengkel setengah mati. Setelah kejadian Jendra melupakan janjinya padaku dihari kelulusan kami, entah sudah berapa kali pria itu mengulangi kesalahannya. Entah melupakan janji menemaniku menghadiri wawancara kerja, atau sesederhana lupa kalau harus menemuiku di toko buku dan terlanjur pergi bersama teman-temannya.
Memang sesederhana itu kesalahannya, tapi tetap saja kesalahan-kesalahan sederhana seperti itu bisa membuatku mendiamkannya seharian penuh. Dan lagi-lagi, entah Jendra yang begitu pandai mengambil hatiku atau aku saja yang terlalu takut kehilangannya, tapi rasa marahku bisa hilang dengan bujukan atau perlakuan yang Jendra berikan padaku. Seperti sekarang.
“Jendra terlihat seperti seorang suami yang bisa diandalkan, Al.” goda Kamila kala itu. Saat kami berempat aku, Jendra, Kamila, dan Dodi memutuskan untuk melakukan hal memalukan bernama double date. Sebuah usul dari Kamila yang diiyakan dengan mudah oleh Jendra dan ditertawai habis-habisan oleh Dodi, pacar Kamila. Tapi meski Dodi menertwai usul Kamila habis-habisan tapi tetap saja pria itu mengiyakan ajakan konyol dari Kamila itu.
“Apa dia terlihat sebaik itu?” tanyaku datar sembari menmasukan sesendok penuh es krim vanilla kedalam mulutku. Dalam hati memikirkan tentang sikap Jendra padaku yang tak urung membuat Kamila berspekulasi seperti itu. Apa iya seorang Rajendra Yudhistira terlihat sebaik itu di mata orang lain?
“Well, kemungkinan besar tidak ada laki-laki jahat yang akan memperlakukan kekasihnya sebaik Jendra memperlakukan Alia.” Dan jawaban Kamila tak urung membuatku menaikkan alis dan meletakkan sendok es krimku. “Kupikir adegan seorang laki-laki memasangkan sabuk pengaman untuk gadisnya hanya ada di drama korea saja, tapi ternyata baru saja terjadi dihadapanku.” Sambung Kamila yang membuatku tersedak sisa es krim didalam mulutku.
“Itu bukan pertama kalinya, La. Kamu berlebihan.”
__ADS_1
“Dan itulah kenapa aku menyebut Jendra sebagai suami yang bisa diandalkan. Lihat bagaimana pria itu berusaha menjaga gadisnya dari bahaya.”
Entahlah, aku tidak pernah memperhatikan sikap Jendra padaku sebab sejak awal kami hanya saling memperlakukan sebagai sahabat. Status hubungan kami yang semula hanya seorang teman, kemudian menjadi sahabat, dan pada akhirnya menjadi sepasang kekasih membuatku tidak begitu mempedulikan perubahan yang terjadi pada kami berdua. Apa perubahannya memang sejelas itu atau memang sejak awal Jendra sudah memperlakukanku dengan begitu baik hingga aku tidak menyadarinya?
“Entahlah, aku tidak terlalu memperhatikannya, La.”
“Berhenti mencari sosok Wahyu didalam diri Jendra, Al.”
“Kamila,” aku nyaris berteriak saat dengan begitu santai Kamila menyebut nama itu dihadapanku. Jika saja saat ini Jendra dan Dodi ada bersama kami, sudah pasti aku akan kehilangan kata-kata dan mungkin aku akan menyiram air mineral ke wajah Kamila.
“Hampir setengah tahun kalian berpacaran, dan aku masih saja melihat kalau kamu masih sibuk mencari sosok Wahyu didalam diri Jendra. Aku tidak akan menutupinya Al karena kupikir kamu perlu sadar kalau sudah saatnya kamu melupakan sosok cinta pertama kamu itu.”
“Berhenti membahas tentang Wahyu, La. Dan asal kamu tahu saja, aku tidak pernah mencari sosok siapapun didalam diri Jendra. Aku menerimanya sebagai Rajendra, bukan sebagai Wahyu atau siapapun yang kamu maksud itu.”
Wahyu Nugroho. Bukan tanpa alasan kenapa aku terganggu sekali setiap kali mendengar seseorang menyebut nama itu dihadapanku atau setidaknya terdengar oleh telingaku. Alasannya hanya satu, sebab Wahyu adalah seseorang yang pernah menempati sudut teristimewa didalam hatiku.
Hanya saja aku tidak akan membahasnya sebab segala hal berubah, begitupun dengan aku dan perasaanku. Memang benar sebuah luka yang mengenai hati tidak akan bisa sembuh dengan mudah meski aku yakin jika luka itu akan mengering seiring berjalannya waktu. Dan teori itu berlaku untuk siapapun, tidak terkecuali aku. Aku tidak membiarkan luka itu tetap berdarah dan memilih untuk menyembuhkannya, dan kupikir Jendra adalah salah satu orang yang berperan begitu besar dalam menyembuhkan lukaku.
“Alia,”
“Dan yang perlu kamu lakukan hanya berbenti mengingatkanku tentang dia.”
“Maafkan aku,”
Pernah kubaca sebuah kutipan bahwa jika seseorang yang kau cintai sudah berdiri dhadapanmu, maka kau tidak lagi peduli pada orang lain yang berdiri dibelakangmu. Mungkin memang benar, setidaknya itu yang kurasakan saat ini, saat Rajendra Yudhistira sudah berdiri dihadapanku maka seorang Wahyu Nugroho yang berdiri dibelakangku tidak lagi terjangkau oleh pandanganku.
Dan menurutku sebuah rasa memang sesederhana itu.
* * * * *
Jam 17.21 saat untuk kesekian kalinya aku melirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kiriku sebelum menjatuhkan kepalaku diatas meja dihadapanku. Aku tidak tahu jika wawancara kerja bisa memakan waktu lebih dari empat jam dan membuatku mati kutu seperti ini. Kupikir dengan berkeliling kantor dan melihat-lihat beberapa bagian kantor akan membunuh waktuku menunggu Jendra. Tapi nyatanya aku salah sebab aku sudah berkeliling dua kali dan aku masih harus menunggunya hampir tiga jam.
“Mungkin semakin tinggi standar perusahaannya, proses interviewnya juga semakin lama.” Desisku setengah kesal sembari memperhatikan kendaraan yang keluar masuk area parkir kantor ini.
__ADS_1
“Mungkin ada 1001 pertanyaan yang harus mas Jendra jawab dan masing-masing pertanyaan mempunyai seratus poin jawaban. Yaahh, kamu hanya perlu menunggunya Al. Sampai kapan? Sampai dia keluar dan membawamu pergi dari tempat ini.” gumamku sendiri seperti gadis bodoh.
Masih memperhatikan kendaraan yang lalu lalang di area parkir sebelum mengerutkan dahi saat pandangan mataku bertemu dengan pandangan mata seorang pria yang baru saja keluar dari mobilnya. Aku tidak tahu siapa pria itu sebab ini pertama kali aku melihatnya. Hanya saja, untuk alasan yang benar-benar tidak kuketahui jantungku berdetak lebih cepat saat pandangan mata kami berserobok untuk beberapa detik. Hanya bebarapa detik, tapi beberapa detik saja cukup untuk membuatku kalang kabut menata perasaanku sendiri. Seorang pria muda berambut cepak, berkemeja lengan pendek coklat muda, dan sebuah tas ransel dibahu kirinya, juga kacamata yang membingkai wajahnya dengan sempurna. Astaga, aku bahkan hapal atribut yang melekat pada pria muda itu.
“Apa yang kamu harapkan, Al? Tentu saja dia hanya merasa aneh melihat seorang gadis duduk dan menggumam tidak jelas seperti gadis gila seperti yang kamu lakukan ini.”
“Siapa yang gila?” dan aku baru saja kembali menjatuhkan kepalaku diatas meja dan menghela napas panjang saat seseorang duduk disampingku dan mencium pelipisku dengan lembut.
“Orang-orang yang tidak waras.” Jawabku ketus saat menyadari siapa yang duduk disampingku. Membuatnya tertawa keras sembari mengusap puncak kepalaku. “Apa sih yang mereka tanyakan sampai memakan waktu 4 jam lebih?”
“Maaf, sayang. Mas nggak tahu kalau interviewnya akan selama ini. Ternyata tadi sekalian diadakan tes, jadi lama.”
“Ini apa?” tanyaku sembari membuka sebuah kotak snack yang dibawa Jendra dan mengabaikan kalimat pria itu. “Kumakan ya, mas. Lapar.” Dan terkadang harga diriku memang hanya sebatas sekotak snack berisi dua bungkus roti dan sebuah dadar gulung rasa coklat pisang.
“Astaga, maafin mas ya. Kamu sampai kelaparan begitu. Nanti kita mampir makan. Kamu mau makan apa?”
“Bakmi goreng. Bonusnya dua porsi es krim vanilla karena mas membuatku menunggu selama lebih dari 4 jam.” Aku tidak tahu apa yang lucu hingga Jendra harus tertawa sekeras itu dan membuat orang-orang menoleh kearah kami.
“Tiga porsi juga boleh kok,”
Lagi-lagi aku lalai memperhatikan tentang kenyataan bahwa terkadang beberapa perasaan bisa berubah begitu cepat. Seperti jantungku yang berdetak cepat saat melihat pria muda berkemeja coklat itu kembali normal dengan sendirinya tanpa kusadari begitu Jendra sudah berdiri disampingku. Aku juga tidak tahu entah Jendra yang bisa dengan begitu mudah mengendalikan perasaanku atau perasaanku saja yang memang sudah terpaut pada pria ini.
“Bagaimana hasil wawancaranya?”
“Mungkin dua minggu kemudian baru diumumkan siapa yang masuk tahap selanjutnya.”
Terkadang aku juga memikirkan tentang kemungkinan bahwa aku menjadikan Rajendra sebagai pelarian dari rasa sakit yang kuterima dari Wahyu. Tidak jarang pula aku merasa bersalah pada Jendra setiap kali tiba-tiba bayangan sosok Wahyu Nugroho kembali muncul didalam kepalaku tanpa bisa kutolak. Tapi, bukankah aku sudah mengatakannya kalau aku menerima pria ini sebagai Rajendra Yudhistira dan bukan yang lainnya?
Sama seperti aku yang menerima dengan lapang dada rasa sakit yang Wahyu berikan untukku beberapa tahun yang lalu. Ah, bukankah segala hal memang lebih baik jika dibiarkan berjalan dengan sendirinya?
Sama seperti perasaanku, juga perasaan Jendra.
* * * * *
__ADS_1