DIORAMA

DIORAMA
2. Nost_al(g)ia


__ADS_3

Yogyakarta, Oktober 2015


“Daannn, selamat untuk wisudawati terbaik kita tahun ini, Alia Pangesti.”


Aku nyaris tersedak minuman didalam mulutku dan menatap kearah sebuah pengeras suara yang tepasang disudut kantin saat namaku disebutkan oleh penyiar radio yang sedang melakukan on air. Susah payah kutelan cairan bening didalam mulutku itu sembari melirik beberapa pengunjung kantin siang itu yang terlihat tidak peduli dengan suara khas milik Bayu, salah satu penyiar radio kampus yang entah kenapa suka sekali merekayasa materi siaran.


“Yaah, kamu hanya Alia, memang siapa yang akan peduli dengan pencapain yang kamu dapatkan?” gumamku sembari kembali memainkan botol air mineral ditanganku dan menyalakan power ponselku dan mematikannya kembali dua detik kemudian.


Terlahir menjadi si biasa saja memang bukan pilihan semua orang didunia ini, termasuk aku. Dan aku memang hanya Alia, si biasa saja yang kerap sekali diabaikan meski telah mendapatkan pencapaian yang menurutnya membanggakan. Dan aku memang hanya Alia, perempuan biasa saja yang terkadang menjadi sangat menalkolis hanya karena tidak mendapat pesan dari seseorang yang sedang ditunggunya. Seperti sekarang. Entah sudah berapa kali aku menarik napas dalam dan menghembuskannya kembali dengan kasar sejak satu jam yang lalu.


“Kenapa semua orang sibuk sekali dihari wisuda seperti ini?” gumamku sembari memperhatikan beberapa orang yang sedang berfoto-foto dengan seorang wisudawati yang masih mengenakan topi toga lengkap dengan buket bunga ditangannya. Dan lagi-lagi aku memang hanya Alia yang bahkan tidak mendapatkan sebuket bunga-pun dihari kelulusannya.


“Yah, tentu saja semua orang sibuk dihari yang membahagiakan ini Al, kecuali kamu yang malah sibuk bermain-main dengan botol air mineral.” Kali ini tatapanku teralihkan pada sebuah kotak merah tua yang tergeletak disamping topi toga serta selempang ‘kebanggaanku’. Sebuah kotak merah tua yang hanya diberikan kepada satu orang dari tiap fakultas di universitas ini sebagai simbol bahwa dialah lulusan terbaik di fakultasnya hari ini. Dan aku salah satunya.


“Selamat untuk kelulusan kamu sayang, bapak dan ibu bangga sama kamu.” hanya itu, hanya ucapan itu dan sebuah pelukan hangat yang kudapatkan dari ibu sebagai hadiah untuk pencapaianku hari ini. Bahkan bapak hanya memberiku tatapan datar dan menolak untuk berfoto bersama selepas acara formal selesai. Yah, itulah kenapa aku mengatakan kalau akulah satu-satunya wisudawati yang terlihat seperti orang bodoh dihari kelulusannya.


“Ini bukan pertama kalinya Al, bahkan sejak SD bapak memang tidak pernah bertanya tentang pencapaianmu.” Gerutuku sembari bangkit dari kursi dan berjalan menuju meja kantin dan mengambil beberapa makanan ringan.


Alia yang malang dan tidak diperhatikan. Aku bahkan sempat memberi julukan itu untuk diriku sendiri saat aku masih SD. Julukan aneh yang kutertawakan hingga detik ini. Aku tahu seperti apa karakter bapak dan seperti apa pria itu mengekspresikan kebahagiannya. Bukan dengan pelukan atau ucapan selamat, tidak, bapak bukan tipikal ayah yang mau berdrama-drama seperti itu dengan anak perempuannya.


Ya, bapak memang tidak pernah memujiku langsung dihadapanku, tapi bapak akan begitu bersemangat saat menceritakan anak perempuannya dan membanggakan putri kecilnya yang sudah beranjak dewasa dengan segala prestasi yang dicapainya. Bapak akan menceritakan semuanya pada orang lain tanpa sepengetahuanku. Dan itu cukup untuk membuatku mengerti kalau bapak bangga pada pencapaianku.


“Kenapa aku ndak kepikiran untuk membawakan kamu sandal jepit ya, Al?” tepat saat aku memutar badan, seorang pria muda dengan kemeja putih dan celana kain hitam berdiri tidak jauh dariku. Ditangan kanannya sebuah kamera saku dan topi toga sama seperti milikku yang masih tergeletak diatas meja. Untuk sesaat aku mengamati wajahnya yang sedang memasang ekspresi mengejek dengan senyum jahilnya itu.


“Memangnya siapa yang mau repot-repot pakai sepatu hak tinggi kalau cuma untuk jalan dari meja kantin ke konter makanan, mas?”


“Bukan karena kamu yang memang nggak bakat pakai sepatu hak tinggi?” pria itu bahkan tertawa diujung kalimatnya sembari mengikutiku menuju meja dan duduk diseberangku. “Aku memperhatikan cara jalan kamu tadi lho, Al.”


“Benar-benar tipikal mas Jendra yang suka melakukan hal tidak penting.”

__ADS_1


Rajendra Yudhistira, teman satu kampus beda jurusan yang entah bagaimana bisa menjadi begitu dekat denganku sejak setahun yang lalu. Rajendra Yudhistira, pria muda yang terkenal, tampan dan tentu saja punya banyak sekali penggemar dikampus ini. Dan sungguh, entah sudah berapa kali aku melihat pria ini bersama-sama dengan perempuan-perempuan cantik yang aku sendiri bahkan tidak tahu meraka kuliah difakultas apa. Dan yang lebih membuatku tidak mengerti bagaimana bisa mahasiswi dari lain fakultas dan lintas semester bisa begitu akrab dengan Jendra?


‘Yah, tentu saja karena Rajendra adalah tipikal mahasiswa tampan, terkenal dan mudah sekali akrab dengan orang lain, Alia.’


“Tapi bagaimanapun, aku bangga sama kamu hari ini.” entah ini karena aku tidak mendapatkan ucapan selamat dari siapapun dihari kelulusanku, atau memang Jendra yang begitu memaknai kalimatnya. Sungguh, aku terharu dengan kalimatnya. “Bukan hanya hari ini, aku bangga pada kamu atas semua pencapaian kamu. Congratulation, my best lovely girl.”


Dan ya, pria muda yang begitu terkenal dikampus ini nyatanya adalah pacarku. Kapan tepatnya kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan tidak jelas kami menjadi sepasang kekasih? Entahlah, aku dan Jendra tidak terlalu memikirkannya. Kami hanya menjalaninya saja hingga tanpa kami sadari sesuatu telah mengikat kami berdua. Aku membutuhkan Jendra dan begitu pula sebaliknya.


“Apa kamu yang terlalu mendalami kalimat kamu atau karena kamu satu-satunya orang yang mengucapkan selamat untukku, mas. Kok aku terharu ya?”


Tapi bukan berarti berpacaran dengan Jendra si flamboyan kampus membuat kehidupan kampusku menjadi begitu menyenangkan. Dan jawabannya adalah tidak. bukan hanya sekali aku mendapat tatapan yang membuatku tidak nyaman dari beberapa mahasiswi saat mereka tahu kalau aku dan Jendra lebih dari sekedar teman. Bahkan Andy, salah satu teman Jendra yang entah aku lupa mengambil jurusan apa mengatakan padaku kalau aku harus bersiap-siap dengan segala kemungkinan karena berpacaran dengan Jendra.


“Kemungkinan-kemungkinan konyol seperti itu hanya ada di drama-drama televisi, mas. Tidak ada dikehidupan nyata. Memangnya siapa yang sudi menghabiskan waktunya untuk mengurusi kehidupan orang lain?” Alia yang naif dan tidak begitu peduli pada kehidupannya sendiri. Aku bahkan ingat saat mas Andy tertawa mendengar pembelaanku.


“Mereka peduli, Al. Gadis-gadis cantik yang pernah menjadi korban rayuan Rajendra peduli pada hubungan kalian dan kehidupan kalian. Dan juga, aku berani bertaruh kalau mereka dengan senang hati mendoakan kamu dan Jendra segera putus.”


“Sayang?” dan aku baru tersadar kalau aku sudah melamun sejak beberapa menit yang lalu saat Jendra melambaikan tangannya tepat didepan wajahku. “Semua baik-baik saja?” tanyanya sembari terus mengamati wajahku.


“Good, sampai mana tadi?”


“Sampai kapan kamu mau melamun begitu didepan pacar kamu sendiri, hm?”


“Bukan melamun, mas. Hanya tiba-tiba kepikiran sesuatu.” Dusta. Sebab sebenarnya aku sudah memikirkan hal-hal tentang hubunganku dengan Jendra bahkan sebelum kami memutuskan untuk memulainya. Tentang bagaimana nantinya aku menjalani peran sebagai kekasih yang baik untuk Jendra meski pria itu sama sekali tidak menuntutku untuk menjadi seperti apa yang dia inginkan. Juga tentang banyak hal yang sebenarnya tidak perlu kupikirkan.


“Tentang apa?” dan aku selalu tidak menyukai setiap kali Jendra sudah memasang wajah serius seperti itu dan menuntut penjelasan dariku. Membuatku hanya bisa menarik napas dalam dan mengangkat bahu tidak peduli.


“Bukan apa-apa. Oh ya, nanti sore jadi main?” tanyaku untuk mengalihkan perhatian Jendra dari lamunan tidak pentingku.


“Main?”

__ADS_1


“Dua hari yang lalu kita sempat membuat kesepakatan tentang pergi ke pantai selepas acara kelulusan. Aku sedang mencoba mengingatkan kalau-kalau mas lupa.” Jawabku dengan nada sesantai mungkin meski sebenarnya aku sudah mulai marah pada ekspresi wajah Jendra. Aku tahu wajah itu. itu adalah wajah saat Jendara melupakan janjinya padaku.


“Astaga,” dan tepat seperti apa yang kupikirkan. Jendra lupa dengan janji yang dia buat untuku. Lagi. “Sayang maaf, aku beneran lupa kalau janji pergi ke pantai nanti sore.”


“Mas,”


“Teman-teman merencanakan untuk merayakan kelulusan nanti sore, dan aku terlanjur mengiyakan ajakan mereka. Ndak enak kalau dibatalin.” Dan Jendra begitu merasa bersalah jika harus membatalkan janjinya bersama teman-temannya, namun sama sekali tidak merasa bersalah sedikitpun saat membatalkan janjinya bersamaku.


“Iya, tidak apa-apa kok. Pantai akan selalu ada setiap hari.”


Memang benar pantai akan selalu ada ditempat yang sama setiap hari, setiap saat. Hanya saja, aku lupa pada kenyataan kalau perasaan manusia bisa saja berubah setiap saat. Bahkan dua detik kemudian aku tidak akan tahu perasaan apa yang kurasakan pada Jendra.


“Kamu nggak marah ‘kan?”


“Eh-mmm,”


“Nanti kuantar pulang.”


“Bro, ayuk lah. Yang lain udah nunggu di studio foto.” Dan baru saja aku akan mengangguk mengiyakan ajakan Jendra saat sebuah suara lebih dulu membuatku mengurungkan niat untuk membuka suara. Ah, ternyata dihari kelulusankupun aku masih saja dikecewakan oleh pria ini.


“Pergilah mas, nanti aku minta jemput mbak Mita.”


“Sayang,”


“Ini bukan pertama kalinya, mas. Aku baik-baik saja.”


Bohong. Nyatanya aku masihlah gadis muda yang mudah sekali merasa sakit dan kecewa karena orang yang kuharapkan bisa bersamaku ternyata lebih memilih untuk bersama orang lain. Tapi, tentu saja aku tidak bisa marah karena Jendra lebih memilih bersama teman-temannya dibandingkan bersama denganku. Aku sadar betul posisiku untuk pria itu. Semua orang tahu jika Jendra adalah teman semua orang, dan hanya beberapa orang saja yang tahu kalau pria itu adalah pacar dari gadis biasa bernama Alia ini.


* * * * *

__ADS_1


__ADS_2